Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 33



DUAR!


DUAR!


DUAR!


Suara keras petir yang bergema di langit malam dalam hutan membuat Rue kecil menangis. Badannya yang kecil gemetar karena ketakutan dan kedinginan. Duduk sendirian dalam sebuah gua, dia menutup telingannya dengan kedua tangannya. Suara keras petir maupun kegelapan yang sedang menyelimutinya sekarang membuatnya sangat putus asa. "Apel, Apel, K-kau di mana?" ujarnya sambil terisak-isak.


Tiba-tiba telinga Rue menangkap suara seseorang berjalan memasuki gua. Mengangkat kepala melihat ke arah pintu gua, cahaya kilat membuat dia dapat melihat siapa orang itu, yakni, seorang anak laki-laki berambut hitam seusianya. Kain putih menutupi mata anak laki-laki tersebut, dan baju yang dikenakannya basah akibat air hujan.


Rue segera berdiri dan berlari mendekati anak laki-laki itu. Membuka lebar kedua tangannya, dia memeluk erat anak laki-laki tersebut, "Apel!" panggilnya pelan sambil mengehela napas lega.


"Lepaskan aku, bodoh," perintah Apel, anak laki-laki itu dengan suaranya yang datar tanpa emosi. "Badanku basah."


Rue mempererat pelukannya, dia tidak mempedulikan bajunya akan basah jika dia terus memeluk Apel seperti itu, "Apel, k-kau ke mana? Aku takut sekali. Jangan tinggalkan aku sendirian seperti ini lagi..." ujarnya sambil terisak-isak.


Apel bisa merasakan badan yang memeluknya gemetar. Menghela napas, dia menggerakkan kedua tangannya untuk melepaskan dirinya dari pelukan Rue dengan pelan "Badanku basah. Biarkan aku mengeringkan diriku dulu."


Apel menatap kayu kering yang berada tidak jauh darinya, tiba-tiba muncul api membakar kayu kering dan menerangkan gua tersebut.


Berjalan mendekati api tersebut sambil menggengam tangan Rue, Apel memaksa gadis kecil itu duduk. "Duduk dan hangatkan dirimu."


Rue mengangguk kepala dan menuruti apa yang diperintahkan Apel. Tidak bergerak sedikitpun, mata hijaunya menatap sosok Apel yang ikut duduk di sampingnya.


Apel membuka pakaiannya yang basah dan berusaha mengeringkannya. Mata Rue yang duduk di sampingnya membesar karena terkejut begitu menatap punggung anak laki-laki tersebut. Di atas punggungnya sebuah tanda berbentuk sepasang sayap yang mengelilingi sebuah lingkaran sihir, dan dalam lingkaran sihir tersebut terdapat sebuah simbol aneh—tanda yang sangat mirip dengan tanda dipunggungnya. Namun, yang paling penting, tanda di punggung Apel tidak asing baginya.


Berusaha mengingat, Rue tersadar bahwa tanda itu mirip sekali dengan tanda yang ada di punggungnya—tanda yang dilihatnya saat bayangan punggungnya terpantul di air danau saat sedang mandi. Bedanya, tanda di punggung Apel berwarna hitam, sedangkan miliknya berwarna kemerahan, lalu simbol di tengah lingkaran sihir milik Apel terbalik.


Karena penasaran, Rue mendekati Apel dan mengangkat tangan menyentuh punggung anak laki-laki tersebut. Apel yang menyadari tangan di punggungnya segera memalingkan wajah menatapn Rue.


"Apa ini Apel?" tanya Rue pelan. Mata hijaunya masuh tertuju pada tanda di punggung Apel.


Apel tidak menjawab pertanyaan tersebut.


"Apel?" panggil Rue. Perlahan, dia mengangkat tangan dan melepaskan kain putih yang menutup mata Apel yang sewarna dengan merahnya darah.


Tanpa emosi baik di wajah maupun matanya, Apel menatap Rue dalam diam.


"Apel?" panggil Rue lagi, bingung dengan diamnya Apel.


"Itu tanda lahir..." Jawab Apel kemudian.


"Tanda lahir?"


"Iya."


"Aku juga punya tanda lahir itu di punggungku,Apel," tertawa gembira, Rue mengangkat kedua tangan menyentuh punggungnya sendiri. "Bedanya hanyalah warna dan bentuk symbol di tengah lingkaran itu."


Apel tidak mengatakan apa-apa, dia hanya diam menatap Rue. Namun, tiba-tiba saja, dia mengangkat kedua tangannya dan memeluk erat tubuh mungil gadis kecil di sampingnya tersebut.


"Apel?" panggil Rue terkejut sekaligus bingung dengan sikap Apel yang tiba-tiba tersebut.


Apel tidak menjawab, dia hanya terus memeluk Rue dan baru melepaskannya setelah beberapa waktu. Menatap Rue kembali, wajahnya tanpa datar tanpa ekspresi.


Rue membalas tatapan Apel, tidak ada yang berubah di wajah anak laki-laki itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi, namun, tidak untuk mata merah darahnya—mata itu terlihat sangat; sedih.


"Ada apa Apel? Kenapa kau kelihatan sedih sekali?" tanya Rue pelan. Dia kembali mengangkat kedua tangan menyentuh wajah di depannya.


"Aku tidak apa-apa."


"Benarkah? Ka—hatchii!!" Balas Rue. Namun, kalimatnya terputus karena dia tiba-tiba bersin.


Melihat Rue yang bersin, Apel menarik gadis kecil itu untuk duduk tepat di depannya. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Rue, dia mengangkat dagu dan meletakkannya tepat di atas kepala gadis kecil tersebut.


"A-apel!" panggil Rue dengan wajah memerah dan berusaha untuk berdiri.


"Jangan bergerak, Rue. " Perintah Apel dan mempererat pelukannya pada pinggang Rue.


"Eh?"


"Jangan bergerak lagi."


"B-baiklah..." Balas Rue pelan dan membiarkan Apel memeluknya. Dia sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Apel. Namun, pelukan yang ada membuatnya sangat nyaman. Perasaan aman, hangat dan damai di dalam pelukan Apel memenuhinya, dia tidak takut lagi dengan suara petir maupun kegelapan yang ada. Mengerakkan kedua tangan, Rue memegang kedua lengan Apel yang memeluk pinggangnya.


"Tidurlah, Rue," bisik Apel pelan. "Tidak perlu takut, aku ada di sampingmu..."


Rue tersenyum mendengar bisikan Apel.


"Tidurlah, Rue..."


"Tidurlah..."


"Rue, bangun!" teriakkan keras Lara mengagetkan Rue yang sedang tidur. Membuka kedua kelopak matanya, dia tiba-tiba merasakan badannnya bergoyang ke kiri dan kanan.


"Apa yang terjadi Lara?" tanya Rue panik sambil menatap Lara yang berdiri di depan pintu kabin kapal tempatnya tidur.


"Keluar dari kabin ini, bodoh! Kapal ini terjebak dalam badai. Aku khawatir kapal ini tidak akan bisa bertahan untuk menghadapi badai ini." Jelas Lara sambil berteriak kencang karena suara petir yang memekakkan telinga.


Menuruti perintah Lara, Rue segera berlari keluar dari kabin kapal mengikuti Lara. Mata hijaunya terbelalak karena terkejut saat dia tiba di geladak kapal. Ombak tinggi terus menghantam kapal dan membuat keseimbangan kapal tidk stabil, ditambah lagi dengan angin kuat yang bertiup memperparah keadaan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia bisa mendengar dengan jelas teriakan Mire, Vin, Van dan yang lainnya berusaha mengendalikan keadaan.


Rue mengangkat kepalanya menatap langit gelap penuh kilat dan suara petir di atasnya. Selama tiga hari mereka berlayar dari kota pelabuhan Denethor, cuaca baik-baik saja, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan adanya badai. Bagaimana bisa ada badai?


"Lipat layar kapalnya, Vin!! Van, kau kendalikan kapal ini!!" teriak Mire yang berusaha memimpin dan mengendalikan keadaan.


Mendengar teriakan Mire, Rue dan Lara berlari untuk membantu mereka melipat layar kapal. Namun, hembusan angin yang kuat membuat mereka kesulitan untuk melipat layar kapal. Kapal itu terus terombang-ambing di dalam badai.


"Semuanya!! Berpeganglag pada sesuatu erat-erat!!!" Teriak Mire tiba-tiba begitu melihat ombak tinggi yang meluncur ke arah kapal mereka.


Semua yang mendengar teriakan Mire segera berpegang erat pada tiang ataupun benda-benda di samping mereka yang bisa menahan mereka terlempar keluar dari ombak kapal. Namun, Rue yang berdiri di ujung geladak kapal sama sekali tidak memiliki kesempatan seperti itu. Ombak tinggi yang menghamtam kapal kuat dengan sukses melempar tubuh mungilnya keluar dari kapal.


"Rue!" teriak Lara dan Mire begitu melihat apa yang terjadi. Berlari secepat mungkin, mereka berdua menuju geladak kapal tempat Rue tadi berdiri barusan.


"Rue!" panggil mereka berdua dengan wajah pucat. Melihat sekeliling, mereka berusaha untuk mencari keberadaan Rue.


"L-lara.. Mire.. T-tolong.." teriak Rue terputus-putus. Suara teriakannya tidak terdengar jelas karena air laut yang terus menerus menerjangnya. Dia berusaha keras untuk berenang ke arah kapal, namun semuanya sia-sia, sebab jarak yang ada justru semakin menjauh.


"Rue!" Panggil Lara dan Mire lagi penuh kepanikan. Tiba-tiba mata Mire menemukan Rue yang berusaha berenang ke arah mereka, "Itu dia! Dia di sana!!" teriak Mire gembira sambil menunjuknya. "Berikan aku pelampung bertali! Aku akan menolongnya!"


Namun, sebelum Mire sempat melakukan apapun, ombak besar kembali menghamtam kapal mereka dan Rue. Saat dia dan Lara mengangkat kepala menatap laut di depan mereka, Rue telah menghilang dari pandangan.


"Tidak!! Tidak!! Rue!"


"Apel! Apel! Tolong!"


......................


"Rue..." Apel tiba-tiba memanggil nama Rue dan berdiri.


Fedrick, Calix dan Regis mengangkat kepala menatap Apel bingung. Mereka masih berada di dalam kereta kuda yang melaju menuju kota Pelabuhan Denethor.


"Ada apa Apel?" tanya Fedrick.


Apel tidak menjawab pertanyaan Fedrick.


"Rue, Rue, Rue..." Panggil Apel terus. Namun, suara yang biasanya sangat tenang dan datar itu terdengar sangat khawatir sekarang.


Mengangkat kedua tangan menyusuri rambutnya, Apel menundukkan kepala ke bawah. Perasaan tidak menyenangkan tiba-tiba memenuhinya—perasaan khawatir, gelisah dan ketakutan yang bercampur aduk menjadi satu. Dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, dan dia tidak mengerti; kenapa wajah Rue yang tersenyum dan tertawa terus muncul di dalam pikirannya?


"Ada apa Apel?" tanya Calix khawatir, begitu juga dengan Fedrick dan Regis. Mereka tidak pernah melihat Apel seperti ini. Pemuda itu biasanya sangat tenang, penuh kepercayaan diri, dan tidak berekspresi. Namun, Apel yang ada di depan mereka sekarang kelihatannya sangat gelisah dan ketakutan.


"Ada apa, Kak Apel?" tanya Regis sambil menatap wajah Apel.


Apel tidak mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya. Pikirannya sekarang penuh dengan Rue membuat dia sadar, telah terjadi sesuatu terhadap gadis itu. Ketakutan yang luar biasa memenuhi dirinya, badannya bergetar hebat. Dia tidak berani membayangkannya; apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia tidak pernah bertemu lagi dengan Rue?—Apa yang akan dilakukannya jika dia kehilangan Rue?


"Rue, Rue, Rue..."


......................


Lara dan Mire yang berada di dalam kapal terus saja berusaha mencari Rue. Mereka terus melihat ke laut yang sedang mengamuk di depan mereka, berharap akan menemukan sosok Rue.


"Rue!!"


"Rue!!"


Di dalam lautan yang gelap, Rue mulai kehilangan napas dan tenaganya. Kaki serta tangannya mulai melemah, rasa dingin yang menyakitkan menyerang seluruh tubuhnya. Dia tidak memiliki tenaga untuk menentang ombak lagi, kedua kelopak matanya terasa sangat berat.


"Rue..."


"Rue..."


Di antara kesadarannya yang mulai menipis, Rue yakin sekali, dia mendengar suara Apel yang memanggilnya—suara yang sangat dirindukannya.


"Apel..." panggil Rue pelan. Rasa sakit yang ada membuatnya tidak ingin melawan lagi, menutup mata, dia menyerahkan dirinya pada kegelapan.


Badan Rue yang sudah kehilangan kesadaran, tenggelam semakin dalam ke dasar laut. Semakin dalam dan dalam, secercah cahaya tiba-tiba muncul dari tubuhnya. Berhenti tenggelam, seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang semakin lama semakin kuat. Cahaya itu memenuhi gelapnya laut hingga memancar keluar ke permukaan.


Lara, Mire dan yang lainya sangat terkejut begitu melihat cahaya yang tiba-tiba muncul dari dalam laut gelap di depan. Cahaya itu sangat kuat dan terang hingga menyilaukan mata. Mengangkat tangan untuk melindungi mata dari cahaya yang ada, mereka semua tahu cahaya ini tidak normal.


"Apa ini?!" teriak Mire terkejut.


Lara tidak menjawab pertanyaan Mire itu. Tapi, dia tahu, cahaya putih ini mirip sekali dengan cahaya putih yang muncul saat Rue melindungi dirinya dari serangan sihir laba-laba raksasa di hutan terlarang. Dia yakin, cahaya ini pasti bersumber dari Rue.


Cahaya putih semakin kuat dan terang sehingga Lara, Mire dan yang lainnya tidak bisa melakukan apapun, dan tiba-tiba, mereka merasakan hembusan angin yang sangat kuat dari dalam laut.


Berpegangan pada sesuatu untuk menjaga diri tidak terlempar keluar dari kapal, mereka semua kemudian menyadari sesuatu yang aneh. Membuka mata, mereka sangat terkejut sekaligus tidak percaya. Cahaya putih yang membutakan mata itu telah menghilang, begitu juga dengan badai yang menerjang kapal mereka. Laut tidak lagi mengamuk seperti tadi, laut yang ada di depan mereka sekarang sangat tenang seakan tidak terjadi apa-apa.


"Apa yang terjadi?" ujar Mire bingung dan menatap laut dengan wajah tidak percaya.


"Cahaya apa tadi itu?" tambah Vin yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.


Lara tidak mempedulikan apa yang dikatakan Mire dan Vin. Dia berlari ke sekeliling geladak sambil menatap laut yang telah tenang untuk mencari Rue. Namun, sejauh matanya memandang sosok gadis itu sama sekali tidak terlihat.


"Rue!!!"


......................


"Aku sama sekali tidak percaya!! Kita benar-benar berhasil!!" Tawa Calix senang saat melihat pintu gerbang Kota Pelabuhan Denethor. Mereka telah berhasil mencapai Kota Pelabuhan Denethor hanya dalam jangka waktu tiga hari, sesuatu yang menurutnya sangat mustahil, namun ternyata tidak.


"Benar sekali, Kak Calix. Kurasa kita telah berhasil memecahkan rekor." Tambah Fedrick sambil tersenyum, begitu juga dengan Peta.


"Kita harus segera mencari kapal menuju Kerajaan Catax." Ujar Apel tiba-tiba menyela dan berjalan memasuki kota diikuti Regis.


"Eh! Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar Apel? Apa kau tidak lelah?" tanya Calix terkejut. Mereka telah melakukan perjalanan selama tiga hari tanpa henti. Meski mereka melewati beberapa desa dn kota, mereka hanya singgah untuk mengganti kuda mereka yang kelelahan dan menyuplai makanan.


"Aku tidak peduli," jawab Apel datar dan menoleh pada Calix. "Kita akan melanjutkan perjalanan sekarang juga."


Fedrick, Calix dan juga Peta hanya diam membisu mendengar jawaban Apel. Mereka tidak berani membantah apa yang dikatakan Apel, sebab, ada ketakutan dalam hati mereka saat melihat pemuda itu sekarang. Apel terlihat sangat berbeda dan aneh, dia seakan memancarkan aura yang menakutkan dan menitimidasi siapapun yang melihatnya.


Baik Fedrick, Calix dan Peta tidak tahu apa yang terjadi. Pada hari kedua perjalanan mereka menuju Kota pelabuhan Denethor , Apel tiba-tiba bersikap aneh. Pemuda itu terlihat sangat gelisah, khawatir serta ketakutan. Dia terus memanggil nama Rue dan tidak menjawab pertanyaan mereka yang menanyakan apa yang terjadi. Setelah kejadian itu, dia berubah, dia kelihatan sangat marah dan tidak bisa diajak berkompromi.


"Sebaiknya kalian langsung ke pelabuhan saja. Aku akan mencari walikota ini. Aku akan memintanya meminjamkan Silphi." Ujar Calix sambil menghela napas putus asa.


"Silphi?" tanya Peta bingung.


"Itu adalah nama kapal tercepat yang dimiliki kerajaan Arathorn." Jelas Fedrick cepat.


"Oo..." Gumam Peta begitu mendengar penjelasan Fedrick. Menatap Fedrick dan Calix, dia baru bisa merasakan bahwa yang ada di sampingnya adalah Pangeran dari sebuah kerajaan sekarang, sikap dan sifat mereka yang bersahabat mau tidak mau selalu membuatnya lupa akan perbedaan status diantara mereka.


"Kalian tunggu aku di pelabuhan. Aku akan segera menyusul kalian di sana." Ujar Calix tersenyum. Berlari cepat, dia segera memasuki pintu gerbang Kota Denethor melewati Apel dan Regis.


"Sebaiknya kita turuti saja apa yang dikatakan Kak Calix." Ujar Fedrick kemudian.


Peta mengangguk setuju sedangkan Apel sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam saja dan berjalan masuk ke dalam kota diikuti Fedrick, Peta dan Regis.


......................


Seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun berjalan menikmati angin laut. Rambut hitam ikal panjangnya terbang dimainkan angin. Matanya yang berwarna biru menatap pasir putih di bawahnya.


"Putri." Panggil seseorang dari belakang.


Gadis itu berhenti berjalan dan menoleh ke belakang menatap sumber suara. Seorang wanita berjalan mendekatinya dan memberi hormat. "Putri, sebaiknya anda segera pulang ke istana."


"B-bolehkah aku menikmati laut ini sebentar lagi, bibi?" balas gadis berambut hitam itu terbata-bata. Penuh harap, dia menatap wanita yang merupakan dayang pengasuhnya sejak kecil.


Wanita itu menghela napas mendengar permintaan putri yang dibesarkannya. "Baiklah. Tapi, hanya sebentar saja."


Gadis itu mengangguk kepala cepat dan berjalan meninggalkan wanita itu. Mengangkat kepala menatap sekeliling, tiba-tiba mata birunya menangkap bayangan seseorang wanita yang diseret ombak laut. Rasa terkejut memenuhi hatinya, dan tanpa disadari, dia telah berlari ke laut untuk menolong wanita tersebut. Dia tidak mempedulikan teriakan ketakutan dayang pengasuh di belakang yang terus menyuruhnya berhenti sedikitpun.


......................