Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 47



Arthur berlari di dalam taman belakang istana Hirrim tanpa menoleh ke belakang. Cahaya bulan di atas langit malam membuatnya dapat melihat sekelilingnya dengan baik. Berapa lama para pengawalnya bisa menghentikan Apel? Dia tidak tahu. Sosok yang dilihatnya barusan bukanlah manusia lagi. Kegilaan dalam mata merah darah itu sungguh menakutkan. Satu-satunya yang ada dipikiran Raja Hirrim sekarang adalah menjauh dan mengumpulkan para prajurit dalam istana.


Tiba-tiba, Arthur melihat seseorang melompat tinggi melewatinya. Mendarat tidak jauh di depan, orang itu membalikkan badan menghadapnya. Ketakutan menyelimuti Arthur saat dia melihat siapa itu. Badan yang penuh dengan darah, tangan besar dengan kuku panjang yang seperti cakar, wajah yang penuh tato hitam, mata merah darah dan senyum penuh kegilaan—Apel.


"Apel..." Arthur menatap Apel dengan wajah pucat pasi.


Senyum Apel bertambah lebar saat menatap Arthur. Perlahan, dengan darah merah yang terus menetes dari tanganya, dia berjalan mendekati pria di depannya.


Arthur yang melihat senyum Apel berjalan mundur beberapa langkah ke belakang. Senyum itu sangat menakutkan dan penuh kegilaan. Dia tahu, dia harus melawan pemuda itu, karena pemuda itu pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.


Mengangkat tangannya dan membacakan sebuah mantra sihir. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru kehijuan besar muncul dia depannya. Beribu-ribu jarum es besar melesat keluar dari lingkatan sihir itu ke arah Apel.


Apel tidak membalas serangan itu dengan sihir, dia hanya bergerak menghindarinya. Namun, jarum es tersebut bergerak mengejarnya. Mengangkat tangan kanannya, sebuah pilar api muncul melindungi dirinya.


Sihir jarum es tersebut hancur saat bertabrakan dengan sihir pilar api. Arthur tidak membuang kesempatan yang ada, saat perhatian Apel tertuju pada sihirnya, dia berlari dan meloncat dari samping pemuda itu. Menghunus pedang di tangan, dia mengincar leher lawannya.


Apel secara reflek menangkap pedang Arthur, dan Arthur tersenyum melihatnya. Dia sudah mempredeksi pemuda itu akan menangkap pedangnya. Karena itu, mengangkat tangan kirinya, dia membuat lingkaran sihir dan membacakan sebuah mantra tepat di atas kepala Apel.


Apel cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Arthur. Melepaskan tangannya yang menangkap pedang Arthur, dia meloncat ke belakang. Namun, semuanya terlambat. Dia tidak berhasil menghindari sihir Arthur lagi. Tegangan listrik yang sangat kuat muncul dari dalam lingkaran sihir dan dengan tepat mengenai Apel. Badan pemuda itu terpental kuat hingga jatuh jauh ke belakang.


Apel yang terpental ke belakang tidak bergerak, namun Arthur juga tidak berani mendekatinya. Dia tahu, sihirnya itu mengenai Apel dengan tepat, dan dia ragu ada manusia yang bisa selamat jika menerima serangan sihir dari jarak sedekat itu. Hanya saja, setelah melihat sosok pemuda itu, dia tidak yakin lagi apakah Apel adalah—manusia.


Apel yang tidak bergerak tiba-tiba bangkit. Mengangkat wajahnya, dia menatap lekat Arthur yang tidak bergerak sedikitpun. Darah merah mengalir dari kepalanya, namun, senyum penuh kegilaan di wajahnya tidak kunjung menghilang.


Arthur mengeratkan tangannya yang megenggam pedang. Dia yakin sekarang, pemuda di depannya memang bukanlah manusia. Makhluk apa itu, di tidk tahu, hanya saja makhluk itu adalah makhluk yang terkutuk dan tidak boleh ada di dunia ini.


Menatap Arthur terus, Apel kemudian tertawa. Menengadagkan kepala ke atas, dia tertawa sangat keras penuh kegilaan. Perlahan, rambut hitamnya memanjang dan berubah warna menjadi putih perak. Garis-garis hitam yang memenuhi wajahnya kembali bergerak dan memenuhi sekujur tubuhnya.


Arthur tidak begitu terkejut lagi melihat perubahan sososk Apel. Berusaha menenangkan dirinya, dia hanya menfokuskan dirinya mencari cara menghadapi ataupun meloloskan diri dari makhluk terkutuk di depannya.


Berhenti tertawa, Apel menurunkan kepala dan kembali menatap Arthur. Sedetik kemudian, dengan kecepatan yang luar biasa, dia bergerak ke arahnya. Mengangkat tangan kanan yang seperti cakar, dia menyerang Arthur.


Arthur dengan cepat mengangkat pedang di tangan untuk menahan serangan Apel. Namun, Apel tidak membiarkannya. Mengangkat kakinya, dia menendang Raja Hirrim kuat.


Badan Arthur terpental jauh dan jatuh ke dalam sebuah kolam. Rasa sakit luar biasa dirasakannya. Tulang rusuknya pasti patah. Mengabaikan itu semua, dia berusaha bangkit. Namun, Apel telah berada di depannya. Menggunakan tangan kirinya, pemuda itu menekan badannya kembali ke dalam kolam.


Arthur berusaha melepaskan dirinya. Namun, Apel telalu kuat. Tidak peduli apapun yang dilakukannya, pemuda itu tidak bergeming sedikitpun. Napasnya mulai habis, dan dia merasa tenaganya mulai menghilang.


Apel melihat ketidak berdayaan Arthur di bawahnya penuh suka cita. Mata merah darahnya berbinar penuh kegembiraan. Tertawa keras, dia mengangkat tangan kanannya. Dia ingin membunuh lagi, ingin melihat warna merah—ingin menarik keluar dan merasakan detak jantung manusia di tangannya.


Namun, saat tangan kanan Apel hampir menusuk jantung Arthur, dia berhenti. Cahaya bulan membuat dia bisa melihat dirinya yang terpantul di dalam air kolam dengan baik. Rambut berwarna perak dengan mata berwarna merah darah yang bersinal penuh kegilaan, tangan yang berbentuk seperti cakar binatang, wajah dan badan yang penuh tato serta darah—makhluk terkutuk yang tidak seharusnya ada.


Melepaskan tangannya yang menekan Arthur, Apel meloncat menjauh ke belakang.


Arthur yang telah terbebas dari Apel, segera bangkit dari dalam kolam itu sambil terbatuk-batuk. Dengan napas yang teregah-engah, dia menatap Apel penuh kebingungan. Makhluk di depannya jelas bermaksud membunuhnya tadi, jadi, kenapa dia tiba-tiba berhenti dan melepaskannya?


Apel tidak mempedulikan Arthur, dia mengangkat kedua tangannya yang seperti cakar binatang itu dan menatapnya. Ketakutan memenuhi dirinya, dia telah kehilangan kendali akan dirinya lagi, tangannya berlumuran darah lagi—dia telah membunuh lagi.


"Jangan mendekat, Mirthy! Pergi dari sini sekarang!" perintah Arthur begitu melihat Mirthy tiba di sampingnya. Kepanikan memenuhi hatinya karena takut Apel akan menyerang adik perempuannya tersebut.


Mirthy tidak mempedulikan perintah Arthur. Menatap kacaunya sosok kakaknya sekarang, dia menoleh menatap Apel penuh ketakutan. Mirthy tahu, makhluk yang berada di depannya itu Apel. Wujudnya memang telah sangat berbeda. Namun, mata merah darahnya sama sekali tidak berubah "A-apel, ku mohon l-lepaskanlah kakakku."


Apel tidak mengatakan apa-apa, dia hanya diam membisu.


"R-rue tidak apa-apa, k-karena itu kumohon, l-lepaskanlah kakakku..."


Mendengar nama Rue, Apel tiba-tiba tersadar. Wajah tersenyum Rue terbayang dengan jelas di benaknya. Ketakutan luar biasa memenuhi dirinya. Dia tidak mau Rue melihat wujudnya yang seperti ini lagi. Bagaimana jika Rue meninggalkannya? Bagaimana jika Rue merasa takut, jijik dan membencinya jika melihat sosoknya sekarang?


Mirthy dan Arthur hanya menatap Apel dengan pandangan tidak percaya, rambut Apel tiba-tiba memendek dan kembali berwarna hitam, begitu juga dengan tangan serta tato yang memenuhi seluruh wajah dan tubuhnya. Dia kembali nampak normal seperti biasanya.


"Mirthy, tunggu!!" teriak suara Calix tiba-tiba


Apel menolehkan kepalanya menatap sumber suara. Dia bisa melihat dengan jelas Calix dan Fedrick berlari mendekat. Pandangannya kemudian jatuh pada sosok, Lara, Regis, Mire dan Vin di belakang mereka, serta Rue yang ada di punggung Vin.


Rue.


Tidak mempedulikan apapun, dengan kepanikan dan ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya, Apel segera berlari medekati Rue. Mengangkat kedua tangannya, dia ingin menyentuh dan memastikan gadis itu baik-baik saja. Namun, tangannya berhenti saat melihat darah merah yang melumuri dirinya.


"Dia tidak apa-apa, Apel. Aku telah menyembuhkan lukanya. Kau tidak perlu khawatir lagi." Jelas Vin cepat.


Apel diam membisu tidak membalas ucapan Vin. Dia hanya terus menatap wajah Rue. Dia tidak boleh menyentuhnya. Tangannya yang kotor dan penuh darah tidak pernah pantas menyentuhnya—bagaimana bisa dia yang terkutuk berani menyentuhnya?


Keheningan memenuhi taman belakang istana Hirrim. Semua pandangan mata tertuju pada Apel yang menatap Rue dengan pandangan tidak terjelaskan, hingga tiba-tiba dari belakang mereka terdengar derap suara langkah kaki yang berlari mendekati.


Saat Fedrick dan yang lainnya menoleh ke belakang menatap sumber suara, mereka melihat para prajurit di dalam istana ini telah berkumpul dan berlari ke arah mereka.


"Cepat kalian pergi dari sini!" ujar Mirthy begitu melihat prajurit tersebut.


Fedrick, Lara dan yang lainnya segera tersadar. Mereka sangat bingung dan memiliki banyak pertanyaan. Tapi, sekarang bukan waktunya untuk bertanya, mereka harus meninggalkan istana ini secepat mungkin.


"Ikuti aku! Aku tahu rute untuk keluar dari istana ini!" Ujar Mire dan berlari ke depan diikuti yang lainnya.


Apel tetap diam membisu tidak mengatakan apa-apa. Dia berlari mengikuti dari belakang, dan sepasang mata merah darahnya tidak pernah lepas dari sosok Rue yang tidak sadarkan diri di punggung Vin.


"Mirthy, apa yang kau lakukan?" tanya Arthur penuh kemarahan. Mata birunya menatap adiknya tajam.


"M-maaf, Kak. Tapi, a-aku tidak mau mereka tertangkap.." Balas Mirthy. Meninggalkan Arthur, dia bergerak maju menghadap para prajurit yang mendekat.


Mengangkat kedua tangan, Mirthy membuat lingkaran sihir berwarna putih kebiruan dan membacakan sebuah mantra sihir. Suhu udara tiba-tiba menurun dengan dratis, dan seketika, badai salju muncul menyerang semua yang ada.


......................