Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 29



"Kau mengenal mereka, Peta?" tanya Calix tidak percaya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Peta yang merupakan orang yang baik hati dan hidup di jalan yang lurus ini mengenal perampok.


Peta mengangguk kepalanya. "Mereka adalah teman semasa kecilku dan juga merupakan mantan murid Perguruan Sihir Erfin. Hanya saja mereka... Ehm.. bagaimana menjelaskannya, ya?"


Melihat Peta yang kebingungan menjelaskan, Fedrick menepuk pundaknya pelan. "Pelan-pelan saja, Peta. Kau tidak perlu bingung seperti itu."


"Terima kasih, Fedrick," Senyum Peta dan mulai menjelaskan. "Mire dan yang lainnya merupakan murid Perguruan Sihir Erfin sampai dua tahun yanf lalu. Tapi, karena jiwa mereka yang bebas dan juga sikap mereka yang menyukai tantangan serta barang-barang berharga, mereka memutuskan meninggalkan Perguruan Sihir Erfin dan menjadi perampok spesialis merampok perampok. Mereka mengatakan ini adalah perkerjaan yang bisa menwujudkan apa yang paling mereka inginkan."


"Perampok spesialis merampok perampok? Pekerjaan yang bisa menwujudkan apa yang mereka inginkan?" tanya Fedrick kebingungan.


Peta mengangguk kepala dengan cepat dan tersenyum. "Jika teman kalian berada di tangan mereka, maka kalian bisa tenang—teman kalian pasti baik-baik saja. Mire dan yang lainnya sering membantu dan membebaskan orang-orang yang tertangkap perampok. Kalian ingat Aisha?—dia adalah salah satu orang yang diselamatkan Mire dari perampok."


"Dari segala macam pekerjaan yang ada, mereka memilih menjadi perampok spesialis merampok perampok? Sepertinya mereka merupakan orang-orang yang berpemikiran unik." Ujar Calix sambil menggeleng kepalanya bingung sekaligus takjud. Dia tidak pernah menyangka ada pekerjaan seperti ini di dunia ini.


Peta yang mendengar ucapan Calix hanya bisa tersenyum gugup. Sebenarnya dia sendiri juga sangat bingung dan tidak pernah mengerti. Dengan kemampuan sihir yang ada, Mire dan yang lainnya tidak mengalami kesulitan untuk menemukan perkerjaan yang menjanjikan apa yang mereka inginkan. Tapi, mengapa teman-temannya itu memilih menjadi perampok spesialis merampok perampok?—baginya itu adalah misteri.


Peta kemudian menatap sosok Apel yang berjalan di depannya. Mantel coklat tua yang dikenakannya, meski sudah dibersihkan tetap saja penuh dengan noda merah bercak darah. Kain putih telah kembali menutup mata merah darahnya, dan dia terlihat seperti pemuda pendiam seperti biasanya. Namun, Peta tetap saja merasa takut saat mengingat kejadian semalam saat pemuda tersebut menyerang para perampok.


Apel yang mendengar penjelasan Peta tidak memberikan reaksi sedikitpun. Fedrick, Calix dan Peta tidak bertanya apapun pada dirinya meski telah melihat apa yang terjadi semalam, walau dia juga bisa merasa jelas—mereka takut padanya. Tapi, setidaknya semua masih baik-baik saja, dan dia berharap kondisi seperti ini bisa bertahan sampai mereka menemukan Rue.


Berjalan keluar dari Gunung Bold, mereka berempat menuju Desa Sangrath yang memang terletak tidak jauh dari gunung. Mereka memerlukan informasi mengenai keberadaan perampok yang menculik Rue serta Lara sekarang, dan Peta mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan informasi itu di desa tersebut.


Saat mereka akan mencapai Desa Sangrath, tiba-tiba dari balik semak-semak di depan mereka seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berlari keluar dan mengejutkan mereka semua kecuali Apel. Anak laki-laki itu berambut pirang dengan sepasang mata berwarna hijau, badan kurusnya mengenakan pakaian yang sangat kotor dan kumuh. Berdiri diam menatap Apel dan yang lainnya, wajah anak laki-laki tersebut datar tanpa ekspresi.


"Adik kecil, ada apa denganmu?" tanya Peta kepada anak kecil itu sambil tersenyum. Dia berusaha terlihat bersahabat sebisa mungkin karena tidak ingin mengejutkan ataupun menakuti anak tersebut.


Anak kecil itu tidak menjawab pertanyaan Peta. Menatap Apel dan yang lainnya datar beberapa saat, dia kemudian membalikkan badan dan berlari meninggalkan mereka.


"Apa itu?" tanya Calix kebingungan melihat apa yang terjadi. Mata datar anak laki-laki barusan yang menatap mereka tidaklah terlihat seperti mata anak-anak ada umumnya.


Fedrick dan Peta juga sama bingungnya seperti Calix. Namun, belum sempat mereka mengatakan sepatah katapun, Apel yang dari semalam telah diam membisu tiba-tiba bersuara. "Sampai kapan kalian mau berdiri di sana?"


Terkejut, baik Fedrick, Calix dan Peta segera mengarahkan pandangan mereka pada Apel.


"Eh! Maaf, Maaf! Ayo kita jalan." Tawa Calix cepat, walau tawanya jelas terlihat sangat gugup.


Tidak ada lagi yang mengucapkan sepatah katapun hingga mereka mencapai Desa Sangrath. Desa Sangrath merupakan desa yang cukup besar dengan penduduk yang cukup banyak. Namun, saat mereka memasuki desa, mereka tahu desa ini sedang mengalami kesulitan. Mata penduduk desa ini kelihatan sangat suram dan tidak bersemangat.


Beberapa penduduk desa yang melihat Apel, Fedrick, Calix dan Peta segera menjauh. Ada ketakutan di wajah mereka, dan Fedrick, Calix serta Peta juga tahu alasannya tanpa perlu menjawab, yakni; Apel. Pemuda itu sangat mencolok dengan jubah coklat tuanya yang penuh noda darah.


Memasuki Desa Sangrath lebih dalam, Peta tidak dapat menyembunyikan kesedihannya saat melihat penduduk desa yang tidak berdaya. "Desa ini mengalami gagal panen."


Calix menghela napas, sebagai Pangeran dari Kerajaan Arthon, dia tidak mendapatkan kabar bahwa desa ini mengalami gagal panen karena perang yang telah pecah. Perasaan bersalah memenuhi hatinya. "Aku akan menulis surat dan meminta bantuan pada Kota Cirrion untuk desa ini."


Peta tersenyum begitu mendengar perkataan Calix. Jika Calix sebagai Pangeran menulis surat secara langsung meminta bantuan, maka desa ini pasti akan tertolong. Penuh semangat, dia kemudian menunjuk sebuah penginapan tidak jauh dari tempat mereka berada. "Sebaiknya kalian menginap saja dulu di penginapan itu. Apel bisa membersihkan badannya di sana dan aku akan mencari informasi mengenai keberadaan Mire dan yang lainnya."


Fedrick dan Calix sangat setuju dengan apa yang dikatakan Peta. Berjalan di desa ini dengan kondisi Apel sekarang ini sama sekali bukanlah ide yang bagus, memang jubah yang dikenakannya sekarang cukup bersih, tapi noda darah yang ada jelas tetap saja sangat mencolok.


"Baiklah, Peta," senyum Fedrick pada Peta. "Kami mengandalkanmu."


"Serahkan saja padaku." Balas Peta sambil tertawa dan berlari menjauh.


Penginapan desa yang ditunjukkan Peta merupakan satu-satunya penginapan yang ada di desa ini. Penginapan ini cukup bersih dan bagus, hanya saja Fedrick dan Calix mengalami kesulitan karena pemilik penginapan tidak bersedia menyewakan kamar untuk mereka begitu melihat Apel. Namun, akhirnya mereka berhasil juga mendapatkan sebuah kamar setelah mereka bersedia membayar tiga kali lipat dari harga sewa biasanya.


"Ini pakaian baru untukmu, Apel." Fedrick menyerahkan pakaian baru yang dimintanya dari pemilik penginapan kepada Apel.


Apel menerima baju yang diberikan Fedrick dalam diam. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya, dia meninggalkan Fedrick dan Calix beristirahat di dalam kamar yang mereka sewa menunggu kepulangan Peta.


"Fedrick." Panggil Calix tiba-tiba sambil menatap mata biru langit Fedrick serius. Tidak ada senyum atau tawa yang biasanya memenuhi wajahnya.


"Ada apa, Kak Calix?" tanya Fedrick bingung.


"Katakan padaku," suara Calix sangat pelan seakan tidak ingin orang lain mendengar apa yang ingin ditanyakannya pada Fedrick. "Siapa sebenarnya Apel?"


Fedrick tertegun begitu mendengar pertanyaan Calix.


"Kekuatanya, kemampuan sihirnya, dan juga—perubahan tangannya.." lanjut Calix dengan ekspesi wajah yang sangat sulit untuk dijelaskan. "Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan seorang manusia biasa. Siapa dia sebenarnya, Fedrick?"


"Aku juga tidak tahu, Kak Calix," jawab Fedrick setelah beberapa saat. "Aku baru bertemu dengannya tidak lama. Dia menolongku dan Lara saat kami hampir tertangkap Aaron."


"Di mana kalian bertemu, Fedrick? Dengan kemampuannya yang begitu luar biasa seharusnya dia sangat terkenal. Tapi, mengapa tidak ada orang yang mengenalnya?" tanya Calix lagi, walaubsejenak kemudian ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi bingung dan kesulitan. "Ya—walau kadang dia agak aneh dan kelihatan sangat kejam serta tidak berperasaan... "


Fedrick diam membisu. Dia mengerti maksud ucapan Calix, sosok Apel saat melawan naga di Perguruan Sihir Erfin dan juga perampok di Gunung Bold tidak mungkin dapat mereka lupakan begitu saja. Menghela napas, Fedrick hanya dapat menjawab sebisa mungkin pertanyaan Calix. "Dia selama ini hidup di hutan dan tidak pernah keluar dari hutan itu. Jadi, mungkin karena itulah tidak ada orang yang mengenalnya."


Fedrick merasa bersyukur karena Calix tidak bertanya padanya hutan apa tempat dirinya bertemu dengan Apel. Dia tidak dapat membayangkan reaksi Pangeran Arthorn tersebut jika tahu bahwa hutan tersebut adalah—hutan terlarang.


Fedrick tidak bisa mengatakan kepada Calix akan apa saja yang diketahuinya tentang Apel. Dia merasa takut, bagaimana jika apa yang diterkanya itu salah? Bagaimana jika Apel bukanlah makhluk sihir seperti apa yang diduganya? Penampilan Apel tidak berbeda dengan manusia pada umumnya. Namun, warna mata, kekuatan, kemampuan menggunakan sihir tanpa mantra dan lingkaran sihir, perubahan tangannya yang tiba-tiba, serta sikapnya yang kadang-kadang sangat sadis dan kejam—mau tidak mau, itu semua membuat dirinya sangat bimbang. Apakah Apel benar-benar merupakan makhluk sihir? Dan bagaimana dengan Rue yang tinggal bersamanya di dalam Hutan terlarang selama ini?


Dalam keheningan, Calix yang kemudian melihat ekspresi kesusahan di wajah Fedrick hanya dapat menghela napas dan merubah topik pembicaraan—tidak ada gunanya mereka memikirkan jawaban yang tidak dapat mereka jawab, "Peta masih belum kembali, ya? Hari sudah mulai gelap. Kurasa malam ini kita harus menginap di desa ini." Ujarnya sambil melihat langit yang sudah mulai gelap dari jendela kamar mereka.


"Kau benar, Kak Calix," balas Fedrick cepat. Dia tersenyum, karena tahu Calix bermaksud merubah topik pembicaraan mereka barusan. "Peta juga perlu beristirahat. Dia terluka, meski dia mengatakan tidak apa-apa, aku khawatir dia akan kelelahan."


Tok-Tok-tok.


Pintu kamar mereka tiba-tiba diketuk. "Siapa?" tanya Fedrick.


"Ini aku," balas seseorang dari luar. "Peta."


"Masuklah, Peta." Balas Calix cepat.


Pintu kamar itu terbuka dan Peta berjalan masuk sambil tersenyum. "Maaf membuat kalian menunggu lama, aku sudah berhasil mendapatkan informasi yang kalian inginkan."


"Di mana para perampok itu sekarang?" tanya Apel yang tidak tahu kapan telah berdiri di depan pintu kamar tiba-tiba dan mengagetkan Fedrick, Calix dan Peta. Apel sudah membersihkan mengganti pakaiannya yang penuh darah itu dengan pakaian yang bersih, dan matanya masih ditutup dengan kain putih seperti biasan.


"Mereka menuju Kerajaan Catax," jawab Peta cepat akan informasi yang didapatkannya. "—dan kemungkinan besar mereka menggunakan jalur darat untuk mencapai kerajaan Catax."


"Kerajaan Catax?" ujar Fedrick terkejut dan sekaligus bingung.


"Iya," Peta menganguk kepala dan menjelaskan. "Dari informasi yang kudapatkan, mereka mengatakan mereka berhasil mendapatkan permata paling berharga milik Kerajaan Catax, dan mereka ingin menukar permata tersebut dengan uang serta barang berharga lainnya. "


"Permata?" gumam Calix sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memang benar, Lara yang merupakan putri satu-satunya Raja dan Ratu Catax bisa diibaratkan sebagai permata paling berharga milik Kerajaan Catax. Tapi, tetap saja aku tidak bisa berpikir seperti itu..."


Fedrick diam membisu tidak mengatakan apapun. Tapi, dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan Calix. Lara dengan sikapnya yang cuek, dingin, dan tidak berekspresi itu diibaratkan sebagai permata?—dia sungguh sulit untuk menerimanya.


"Putri? Maksud kalian teman yang kalian cari itu adalah Putri Lara dari Kerajaan Catax?" tanya Peta terkejut.


Fedrick mengangguk kepala. "Benar."


"Apa?! Jadi permata yang ingin ditukar oleh Mire dan yang lainnya adalah Putri Lara? Artinya, mereka sekarang sedang menyandera dan bermaksud meminta tebusan pada Raja dan Ratu Catax?!" tanya Peta penuh kepanikan.


"Itu satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal sekarang, Peta." Jawab Calix berusaha tersenyum. Dia tidak mengerti kenapa keadaan bisa berubah menjadi seperti ini.


Peta diam membisu tidak dapat mengatakan apapun lagib dengan wajah pucat pasi. Dari awal, dia sudah merasa aneh—kenapa Mire dan yang lainnya tidak mengantal teman Apel, Fedrick dan Calix ke desa terdekat seperti biasanya? tapi, dalam mimpipun dia tidak bisa membayangkan teman-teman semasa kecilnya itu berani melakukan hal gila seperti ini— menyandera seorang putri raja dan meminta tebusan? Walau dia tahu mereka menyukai tantangan, apa mereka sama sekali tidak pernah memikirkan akibat yang mereka dapatkan jika apa yang mereka rencanakan itu gagal?


"Sebaiknya kau beristirahat, Peta," ujar Calix sambil menepuk pundak Peta yang pucat pasi. Dia bisa membayangkan betapa shock pria ini sekarang akan sikap diluar dugaan temannya. "Aku akan meminta pemilik penginapan untuk menyiapkan kuda terbaik dan tercepat di desa ini untuk melanjutkan perjalanan kita besok, begitu juga dengan kalian berdua," lanjutnya lagi sambil menatap Apel dan Fedrick.


Fedrick membalas dengan anggukan kepala, sedangkan untuk Apel—pemuda itu hanya diam membisu dan kemudian membalikkan badan berjalan menjauh.


"Mau ke mana kau, Apel? Kau perlu beristirahat tahu?" teriak Calix begitu melihat Apel yang berjalan menjauh.


"Aku akan bermalam di luar," balas Apel datar tanpa menoleh ke belakang. "Jangan ikuti aku."


Calix terdiam. Ini adalah pertama kali Apel mengeluarkan suaranya setelah kejadian semalam, hanya saja, dia tidak menyangka inilah yang akan dikatakannya. Menghela napas putus asa, Calux hanya dapat menggaruk kepala dan berdesah putus asa. "Dasar bocah sialan."


Apel berjalan keluar dari penginapan dan menyusuri desa mencari tempat untuk menyendiri. Dia memerlukan tempat yang bisa menenangkan dirinya. Dia telah kehilangan kendali akan dirinya semalam. Semuanya gelap, dan kemarahan luar biasa memenuhi pikirannya saat mendengar para perampok itu telah menyakiti Rue. Di depan Fedrick, Calix dan Peta, dia telah membiarkan sisi tergelap dari dirinya untuk mengambil alih badannya. Jika saja saat itu, Fedrick dan Calix tidak menghentikannya—dia sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi.


Setelah apa yang terjadi, Apel tahu, Fedrick sepertinya mulai menyadari siapa dirinya sebenarnya, walau dia tidak menceritakan itu pada yang lainnya ataupun bertanya padanya. Itu semua mungkin karena Fedrick sendiri masih ragu akan kebenaran yang ada atau karena dia menganggap Apel sebagai—teman.


Teman.


Benar. Apel sadar, Fedrick menanggapnya sebagai teman. Tapi, itu karena pemuda itu masih belum mengetahui secara keseluruhan siapa sesungguhnya Apel itu. Dia yakin, Fedrick pasti akan sangat ketakutan dan menjauhinya jika dia mengetahui dan melihat sosok asli dirinya yang sebenarnya. Semua makhluk hidup yang mengetahui dan melihat sosok aslinya pasti akan merasa jijik, takut, benci dan menjauhinya. Hanya Rue seorang saja yang tidak pernah jijik, takut, benci dan menjauhinya meskipun telah melihat sosok aslinya.


Rue.


Pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab terus memenuhi pikiran Apel. Apakah Rue baik-baik saja? Apakah dia merasa ketakutan? Apakah dia bisa makan dengan benar? Apakah dia bisa tidur dengan baik? Apakah dia merasa kedinginan? Apakah dia merasa kesepian?—apakah dia merindukannya?


Apel sangat merindukan Rue. Dia terus merasakan kegelisahan semenjak berpisah dengan Rue. Mimpi buruk yang terus menghantuinya setiap malam membuatnya semakin gelisah dan juga—takut. Hanya dengan keberadaan Rue di sampingnyalah dia bisa menghilangkan kegelisahan dan ketakutan tersebut, sebab Rue adalah cahaya dalam kelam hidupnya.


"Dasar pembawa kesialan!" teriak seorang wanita menyadarkan Apel dari lamunannya.


Meskipun Apel menutup matanya, dia bisa merasakan sekelilingnya dengan sempurna. Dengan indra penciuman, pendengarannya serta caranya membaca aura semua makhluk hidup, dia bisa menyadari apa yang terjadi. Tidak jauh dari tempatnya, beberapa orang penduduk desa sedang mengelilingi seorang anak kecil. Dari bau dan auranya, Apel tahu, anak itu adalah anak yang di temuinya tadi saat menuju desa ini.


......................