
Kantor kepala sekolah perguruan sihir Erfin sama sekali tidak seperti yang dibayangkan Fedrick dan Calix. Ruangannya sangat luas, namun tidak memiliki perabot sebagaimana sebuah ruang kantor kecuali sebuah meja dan kursi kerja.
Kepala sekolah perguruan sihir Erfin duduk dengan santai menatap Apel, Fedrick dan Calix. Kepala sekolah Ernil adalah seorang wanita cantik berambut hitam panjang gelombang dengan mata berwarna hijau. Usianya terlihat masih sangat muda, yakni sekitar awal tiga puluh, dan dia mengenakan jubah sebagaimana mestinya penghuni perguruan sihir Erfin, bedanya hanyalah jubahnya berwarna putih bukan hitam.
"Aku sudah membawa mereka sesuai perintah andas, Nona Ellesia." ujar Lily pelan dengan penuh hormat pada kepala sekolah perguruan sihir Erfin.
Baik Apel, Fedrick dan Calix menatap wanita di depan mereka tanpa mengatakan sepatah katapun.
Tersenyum, kepala sekolah perguruan sihir Erfin memeperkenalkan dirinya. "Aku adalah kepala sekolah perguruan sihir Erfin, namaku Ellesia, dan aku mengucapkan terima kasih karena kalian telah membantu kami mengalahkan naga yang mengamuk di rumah kami."
Apel tetap diam tidak mengatakan apa-apa, begitu juga dengan Fedrick dan Calix. Mereka berdua tidak mengatakan apapun karena merasa mereka sama sekali tidak membantu banyak dalam menghentikan naga tersebut. Yang mengalahkan naga itu adalah Apel, jadi—bagaimana mereka membalas ucapan terima kasih Ellesia?
Ellesia tetap tersenyum. Dia tidak merasa
"Anda Pangeran Calix dari Arthorn, bukan?" tanya Ellessia tiba-tiba sambil menatap Calix.
"I-iya.." Jawab Calix terbata-bata karena pertanyaan yang tiba-tiba, dan juga, dia tidak menyangka Ellesia mengenalinya.
"Aku sudah mendengar berita perang yang kini telah terjadi. Aku menerima surat dari Ratu Lapina, ibu anda yang meminta bantuan pada perguruan sihir Erfin," ujar Ellisia tenang. "Dan dengan sangat menyesal, aku tidak bisa membantu kalian."
Calix sangat terkejut mendengar ucapan Ellisia, sebab dia sama sekali tidak mengetahui ibunya telah meminta bantuan pada perguruan sihir Erfin untuk perang yang sedang berlangsung ini. Memang, para murid di perguruan ini adalah penyihir, yang akan menjadi bantuan yang sangat besar jika mereka bersedia membantu. Namun, posisi Kerajaan Arthorn dengan segala kekuatan militernya jelas lebih kuat dari Kerajaan Ormund, kenapa ibunya masih meminta bantuan Perguruan Sihir Erfin?—dan juga, bagaimana Ellisia bisa menolak dengan tenang seperti itu?
"Apakah kau tahu selogan dari perguruan ini?" tanya Ellisia tersenyum, mata hijaunya menatap lekat Calix seakan bisa membaca pikirannya.
"Eh?" terkejut sekali lagi, Calix segera menjawab. "Kalau tidak salah 'Tiada batas usia dalam mempelajari sihir' kan?
"Benar," Ellisia mengangguk kepala dengan senyum yang masih ada di wajahnya. "Tapi, masih ada satu lagi, yaitu; 'Tidak pernah ikut campur dengan masalah politik'. Karena itu, kami menolak membantu."
Calix terdiam dan tidak bisa membalas ucapan Ellisia. Dia memang tidak mengenal Ellisia, tapi, senyum di wajah itu membuatnya tahu, wanita itu tidak akan mengubah keputusannya tidak peduli apa yang dikatakannya, "Baiklah, aku mengerti." Ujar Calix pelan sambil menghela napas.
Senyum di wajah Ellisia semakin melebar. Perlahan, pandangan matanya teralih pada Fedrick. "Dan, anda adalah Pangeran Fedrick dari Crussader, bukan?"
"Iya..." Jawab Fedrick berusaha tersenyum menjawab pertanyaan Ellisia. Sebagi Pangeran Crussader, dia telah bertemu banyak orang, dari Pemimpin, Jendral, Mentri hingga Raja, karena itu, dia bisa merasakan jelas dan Ellisia yang ada di depannya sekarang bukanlah orang biasa—dia memiliki aura dan karisma yang tidak biasa.
"Sepertinya anda telah berhasil menguasai sihir mengendalikan binatang kebanggan keluarga Kerajaan Crussader—selamat." Tawa Ellisia kecil. Kedua mata hijaunya bersinar penuh kegembiraan.
"T-terima kasih." Terbata-bata, Fedrick hanya dapat mengucapkan terima kasih. Di
"Kalian mencari orang di dalam Gunung Bold, bukan? " lanjut Ellisia, dia sama sekali tidak mempedulikan ekspresi bingung di wajah Fedrick. "Dengan sihirmu itu kalian pasti bisa menemukan mereka."
Fedrick dan Calix sangat terkejut mendengar ucapan Ellisia, mereka tidak mengerti, bagaimana dia bisa tahu mereka mencari orang di dalam Gunung Bold?
"Kalian tidak perlu terkejut," tawa Ellisia lagi melihat reaksi Fedrick dan Calix. "Aku memiliki sumber informasi tersendiri."
Fedrick dan Calix hanya dapat kembali diam membisu mendengar ucapan Ellisia. Kepala sekolah Perguruan Sihir Erfin di depan mereka ini sungguh penuh teka-teki.
Ellisia tiba-tiba berhenti tertawa. Tidak peduli pandangan mata Fedrick dan Calix, dia menoleh menatap Apel yang sedari tadi diam membisu. Senyum tawa di wajahnya menghilang digantikan datar tanpa ekspresi. "Kau—" ujarnya pelan."Ku dengar, naga itu hanya menyerangmu seorang saja sejak melihatmu, kan?"
Apel tidak memberikan reaksi sedikitpun, dia diam membisu tidak menjawab pertanyaan Ellisia.
Seulas senyum memenuhi wajah Ellisia, tapi itu bukanlah senyum hangat seperti yang ditunjukkannya pada Fedrick dan Calix, senyum itu adalah senyum penuh makna yang tidak diketahui. Matanya terarah pada pedang sihir Shire di pinggang Apel. "Dan kau—kau berhasil mencabut pedang sihir Shire dan menggunakannya untuk mengalahkan naga itu, kan?"
Apel tetap diam membisu tidak menjawab pertanyaan Ellisia.
"Kau bukan pemilik asli pedang itu. Tapi, kau berhasil mencabut pedang itu," lanjut Ellisia tidak peduli dengan sikap Apel yang tidak mempedulikannya. "Kuharap kau mau mengembalikan pedang itu pada pemilik aslinya saat kalian bertemu, meskipun itu akan menjadi hal yang aneh sekali."
Fedrick, Calix dan juga Lily yang berada dalam ruangn smaa sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Ellisia, sedangkan untuk Apel, dia tetap saj diam membisu tanpa reaksi sedikitpun.
"Aku akan menganggap diammu itu sebagai, ya." Tawa Ellisia kemudian, walau semua yang melihat juga tahu itu bukanlah sebuah tawa yang sesungguhnya.
Apel yang tidak peduli kemudian membalikkm badannya. Tanpa memberitahu Fedrick dan Calix, dia melangkah menuju pintu keluar.
"Aku tidak bisa mempungkiri, bahwa kami, Perguruan Sihir Ernil ini berhutang padamu," ujar Ellisia lagi menatap punggung Apel yang menjauh. "Kelak, jika kau membutuhkan bantuan, kami akan membantumu."
Apel membuka pintu ruangan dan berjalan keluar, dari awal hingga akhir, dia tidak mempedulikan Ellisia yang terus menatapnya sedikitpun.
"Apel, tunggu!" panggil Fedrick dan berlari keluar dari ruangan mengejar Apel diikuti Calix dari belakang. Mereka yang tidak mengerti sedikitpun arah pembicaraan Apel dan Ellisia hanya dapat mengikuti pemuda tersebut sekarang.
"Baiklah, Nona Ellisia." Menerima perintah Ellisia, Lily segera berjalan keluar meninggalkan ruangan.
Ruang kerja Kepala Sekolah Pergurun Sihir Erfin kembali hening. Ellisia yang tinggal sendirian menoleh pandangannya keluar pada langit sore dari jendela, "Ironis sekali," ujarnya pelan. "—dari semua yang ada, justru dia yang berhasil mencabut pedang itu."
......................
Kamar yang ditunjukkan Lily untuk Apel, Fedrick serta Calix cukup besar dan nyaman. Dengan tiga tempat tidur, lengkap dengan kursi dan meja sofa, serta perabotan lainnya, kamar ini sepertinya adalah kamar termewah yang ada dalam Perguruan Sihir Erfin.
Apel, Fedrick dan Calix memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka besok pagi karena hari sudah mulai gelap, dan juga, mereka perlu beristirahat, sebab hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi mereka.
Fedrick dan Calix berbaring di atas tempat tidur, sedangkan Apel berdiri di samping jendela menatap langit yang mulai gelap tanpa ekpresi. Namun, di dalam pikirannya, dia terus memikirkan apa yang terjadi hari ini dan perkataan Ellisia. Dia yakin, Ellisia tahu jati dirinya yang sebenarnya, karena itu, dia tidak boleh bertindak gegabah lagi sekarang. Namun yang paling penting, dia tidak boleh kehilangan kendali akan dirinya—tidak selama Rue tidak berada di sampingnya.
Apel sadar, dia beruntung bisa sadar dari kegilaannya tadi. Suara Rue yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya itu berhasil menyadarkannya. Dia tidak berani membayangkan apa yang terjadi akan jika suara Rue tadi tidak berhasil menyadarkannya.
Menghela napas, Apel merasa sangat merindukan Rue. Senyum, tawa, pelukan dan kehangatannya—dia sungguh ingin bertemu dengannya. Jika saja memungkinkan, Apel ingin sekali segera meninggalkan perguruan sihir ini dan mencarinya. Namun, dia memerlukan Fedrick untuk mencari Rue, dan melihat kondisi Fedrick yang masih lemah sekarang, itu tidak memungkinkan mereka melanjutkan pencarian.
Tok-tok-tok.
"Masuk." Ujar Calix begitu mendengar suara ketukan pintu. Bangkit dari posisi berbaring, matanya menatap ke arah pintu yang tertutup.
Perlahan, pintu terbuka, dan Peta masuk sambil membawakan mapan berisi makanan untuk mereka bertiga. Seulas senyum menghiasi wajahnya."Hamba membawakan makanan untuk anda sekalian, Pangeran Calix, Pangeran Fedrick dan Tuan Apel."
Fedrick dan Calix tersenyum melihat Peta. Bangkit dari tempat tidurnya, Calix berjalan mendekati Pria itu. "Terima kasih. Maaf merepotkanmu."
Peta mengeleng kepala. "Tidak. Justru kami yang seharusnya berterima kasih pada anda sekalian."
"Apa yang kau bawakan untuk kami, Peta?" tanya Calix senang. Dia sudah sangat lapar, sebab dia sama sekali tidak memakan apapun semenjak tadi pagi.
"Ini adalah steak dan sup jamur masakan koki Perguruan Sihir Erfin. Memang tidak mewah. Semoga anda kalian menyukainya." Jelas Peta sambil tersenyum dan meletakkan makanan di tangannya di atas meja dalam kamar.
"Baiklah, terima kasih, Peta," senyum Calix dan duduk di atas kursi sofa. Matanya kemudian menatap Peta bersahabat. "Dan, jangan menggunakan bahasa formal seperti itu, Peta. Panggil aku Calix seperti biasa."
"Eh?" tertegun, Peta kebingungan mendengar ucapan Calix.
"Benar, Peta. Cukup panggil kami dengan nama saja. Kau adalah teman kami sekaligus penolongku, kau tidak perlu bersikap formal seperti itu." Tambah Fedrick yang juga ikut duduk di atas kursi sofa sambil tersenyum.
Peta masih kebingungan, tapi melihat senyum di wajah Fedrick dan Calix, dia kemudian ikut tersenyum dan menyanggupinya. "Baiklah."
Calix tertawa senang mendengar ucapan Peta, begitu juga dengan Fedrick. Hanya Apel seorang yang tidak memberikan reaksi sedikitpun seakan dia tidak berada dalam yang sama dengan mereka.
"Kalian semua besok akan meninggalkan Perguruan ini kan?" tanya Peta kemudian.
Fedrick dan Calix mengangguk kepala, sedangkan Apel tetap saja diam membisu menatap keluar jendela. Dia sama sekali tidak mempedulikan Peta.
"Iya. Kami sedang mencari teman kami." Jawab Calix.
"Begitu ya.." ujar Peta sambil menatap mereka dengan sedih. Dia memang baru mengenal mereka, tapi dia sangat tertarik dengan mereka, terutama; Natsume. Rasa penasarannya terhadap pemuda itu sangat tinggi. Kekuatannya, kemampuan sihirnya, terlebih lagi dia berhasil mencabut pedang sihir shire yang sama sekali tidak bisa dicabut siapapun selama ini. Sebagai seorang murid perguruan Sihir Erfin yang terobsesi dengan sihir, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakannya kepada Apel, dan juga, dia ingin sekali meneliti pedang sihir shire yang berada di pinggangnya sekarang.
Namun, meski begitu, Peta tahu, dia tidak mungkin menghentikan mereka. "Baiklah," senyumnya kecil. "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu istirahat kalian lagi. Kalian pasti sudah lelah, selamat malam."
"Selamat malam juga, Peta." Balas Fedrick dan Calix bersamaan sedangkan Apel tetap saja cuek tidak peduli.
Sepeninggalan Peta, Fedrick dan Calix mulai menyantap makanan mereka. Apel sama sekali tidak menyentuh makanannya, dia baru memakannya setelah Calix memaksanya. Selesai makan mereka memutuskan untuk tidur secepatnya, hari telah menjelang malam, mereka perlu menyimpan tenaga untuk melanjutkan perjalanan mereka besok.
"Selamat malam, Fedrick, Apel. Aku tidur dulu.." Ujar Calix sambil menarik selimut menutup wajahnya.
"Selamat malam, Kak Calix." Balas Fedrick sambil menatap Calix dari atas tempat tidurnya. Perlahan, dia menoleh menatap Apel yang juga sedang berbaring di atas tempat tidur di sampingnya, Dia tidak tahu apakah pemuda itu sudah tidur atau belum, Apel memang telah melepaskan kain yang menutup matanya. Namun, matanya tertutup dengan rapat "Selamat malam, Apel..."
Tidak ada balasan.
Fedrick tersenyum. Apel adalah orang paling dingin dan introvert yang pernah ditemuinya, meski mereka telah melewati beberapa hal bersama, dia masih saja belum membuka diri. Fedrick hanya dapat berharap hari mereka benar-benar bisa menjadi teman sebagaimana mestinya segera tiba. Menarik selimut menyelimuti badannya, Fedrick menutup kedua kelopak matanya untuk tidur.
Saat Fedrick dan Calix telah tertidur, Apel membuka matanya dan bangkit dari posisi berbaring. Menoleh menatap Fedrick, dia kemudian kembali menutup matanya. Sikap bersahabat yang ditunjukkan Fedrick dan Calix, dia sadar, tapi, dia tidak memerlukannya. Dia harus segera menemukan Rue dan berpisah dengan mereka—sebelum semuanya lepas dari kendalinya.
......................