
"Baiklah, sudah saatnya kita berpisah. Kuharap kita bertemu lagi." Senyum Calix kepada Peta dan semua murid Perguruan Sihir Erfin di depan pintu gerbang perguruan itu sendiri.
"Sampai jumpa lagi, Peta dan semuanya." Tambah Fedrick sambil tersenyum, sedangkan Apel yang ada di sampingnya hanya diam membisu tidak peduli.
"Iya, sampai jumpa lagi." Balas Peta sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi!" teriak para murid Perguruan Sihir Erfin begitu melihat Apel, Fedrick dan Calix berjalan menjauh. Mereka semua berkumpul untuk mengantar penolong yang telah membantu mereka mempertahankan tempat tinggal mereka dari serangan naga.
Senyum di wajah Peta menghilang saat melihat sosok Apel, Fedrick dan Calix menjauh. Pertemuan mereka sangat singkat, dan dia tidak tahu kapan mereka dapat bertemu lagi.
"Kau ingin ikut dengan mereka, Peta?" tanya Lily yang ada di samping Peta tiba-tiba.
Peta segera menoleh menatap Lily terkejut. "T-tidak, aku hanya..."
"Tidak, ya?" tanya Lily sambil tersenyum. Pandangan matanya masih terarah pada Apel, Fedrick dan Calix di depan. "Sayang sekali, Nona Ellisia menyuruhku memilih salah satu dari murid perguruan untuk membantu mereka mencari teman mereka di Gunung Bold. Padahal aku ingin memilihmu, tapi sepertinya kau tida—"
"Aku bersedia! Aku bersedia!" potong Peta cepat dengan wajah penuh kegembiraan.
Lily tersenyum dan menoleh menatap Peta. "Baiklah. Kau saja yang pergi dengan mereka. Kau akan dianggap cuti dari sekolah sampai kau kembali ke perguruan ini."
Senyum Peta bertambah lebar begitu mendengar ucapan. "Terima kasih, Kak Lily."
"Ketua, ini barang keperluan sehari-harimu," ujar Aisha menyerahkan sebuah tas kepada Peta. "Aku dan Iana sudah memasukkan barang keperluan sehari-harimu di dalamnya."
Peta menatap Aisha dan Iana terkejut. "Kalian sudah tahu, ya?"
Aisha dan Iana engangguk kepala mereka sambil tersenyum.
"Ketua, bantu penolong kita dengan benar, ya?" ujar salah satu murid perguruan sambil tersenyum dan menepuk pundak Peta.
"Jangan lupa pulang, ya?"
"Hati-hati dalam perjalanan."
"Jangan merepotkan mereka, ya?"
Ucapan demi ucapan yang diucapkan para murid Pergurun Sihir Erfin membuat Peta sangat terharu. "Iya, aku tahu—terima kasih.."
Iana tertawa dan memukul punggung Peta. "Cepat kejar mereka, Ketua. Kau akan ketinggalan."
Peta segera mengambil tas yang ada dintangan Aisha dan segera berlari mengejar Apel, Fedrick serta Calix. Namun, baru beberapa metel dia melangkah, dia berhenti dan membalikkan badannya ke belakang menatap para murid Perguruan Sihir Erfin penuh tawa. "Aku berangkat! Kalian semua jaga diri sampai aku pulang!"
......................
Di dalam Gunung Bold, Fedrick membacakan sebuah mantra sihir dengan sebuah lingkaran sihir berwarna keemasan di depannya. Beberapa ekor burung yang ada dalam hutan segera terbang mendekatinya. Dia menatap burung tersebut dan berkata pelan. "Tunjukkan padaku jalan menuju tempat persembunyian para perampok yang berada di dalam gunung ini."
Salah seekor burung tersebut tiba-tiba berkicau dan mengelilingi Fedrick seakan menjawab perintah tersebut. "Ketemu! Ayo, kita pergi!" ujar Fedrick senang karena sihirnya berkerja.
Apel, Fedrick dan Peta mengangguk kepala mereka. Bersamaan, mereka berempat berjalan mengikuti burung yang terbang membimbing mereka memasuki gunung lebih dalam.
"Hebat sekali! Aku sama sekali tidak tahu sihir mengendalikan inatang keluarga Kerajaan Crussader bisa digunakan seperti ini." Puji Peta sambil menatap burung yang terbang di depannya penuh kekaguman.
"Iya, kau hebat Fedrick." Setuju Calix sambil tersenyum. Dengan sihir ini, mereka pasti dapat menemukan Rue dan Lara dengan cepat.
Wajah Fedrick memerah begitu mendengar pujian Calix dan Peta. Dia senang, karena akhirnya dia bisa berguna.
"Apakah sihir ini bisa mengendalikan Makhluk sihir juga?" tanya Peta kepada Fedrick. Matanya berbinar gembira dan dia tidak dapat menyembunyikan perasaan ingin tahu di wajahnya.
"Oh, begitu, ya?" gumam Peta pelan. "Ya, binatang dan makhluk sihir memang merupakan dua mkhluk hidup yang berbeda."
"Makhluk sihir," ujar Calix yang berada di samping Peta sambil memikirkan sesuatu. "Aku sering mendengar tentang makhluk sihir dan juga pernah melihatnya beberapa kali sebelumnya. Tapi, aku sampai sekarang tidak tahu; apa sebenarnya makhluk sihir itu?"
Mendengar pertanyaan Calix, Fedrick berpikir kembali. Keberadaan makhluk sihir di dunia ini memang bukanlah sesuatu yang aneh. Makhluk sihir biasanya dianggap berbahaya dan dihindari oleh semua orang. Namun, selama ini, dia hanya pernah dua kali berhadapan dengan makhluk sihir yang benar-benar berbahaya, yakni; laba-laba raksasa di hutan terlarang dan naga di Perguruan Sihir Erfin.
"Makhluk sihir adalah makhluk yang bisa menggunakan sihir sebagaimana kita." Ujar Peta tiba-tiba dan membuat Fedrick serta Calix menoleh menatapnya.
Peta tersenyum malu-malu membalas tatapan Fedrick dan Calix. "Aku pernah membaca sebuah buku tentang makhluk sihir di pepustakaan perguruan sihir ernil."
"Buku tentang makhluk sihir? Setahuku sama sekali tidak ada buku seperti itu?" tanya Calix binggung.
"Buku itu merupakan buku yang sudah lama sekali dan juga buku itu ditulis oleh murid Perguruan Sihir Erfin. Jadi kurasa buku itu sama sekali tidak pernah dipublikasikan." Jelas Peta sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Begitu ya?" gumam Calix pelan.
"Di buku itu tertulis, makhluk sihir adalah makhluk yang bisa menggunakan sihir sebagaimana kita, manusia. Namun, makhluk sihir sama sekali tidak memerlukan bakat sihir dalam menggunakan sihir seperti kita. Itu disebabkan karena keberadaan mereka sendiri sudah merupakan sihir. Memang tidak diketahui dengan pasti dari mana asalnya makhluk sihir itu, dan menurut buku itu, makhluk sihir dilahirkan oleh alam ini sendiri."
"Oleh alam? Maksudmu mereka sama sekali tidak memiliki orang tua seperti manusia dan makhluk hidup lainnya?" tanya Calix penuh semangat, sebab dia cukup tertarik dengan pembahasan tentang makhluk sihir.
Peta mengangguk kepala. "Iya. Buku itu menuliskan bahwa makhluk sihir itu berasal dari sihir yang berasal dari alam, karena itulah mereka tidak bisa berkembang biak sebagaimana mestinya makhluk hidup lainnya."
Fedrick dan Calix berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Peta, sedangkan Apel yang berjalan di depan mereka sama sekali tidak memberikan reaksi sedikitpun sejak tadi, seakan dia tidak mendengar apapun.
"Makhluk sihir berbeda dengan kita, mereka bisa hidup sangat lama, contohnya naga yang kita hadapi di Perguruan Sihir Erfin, dia bisa hidup sampai ribuan tahun."
"Apakah buku itu juga menuliskan sesuatu tentang naga?" tanya Calix cepat.
"Iya," Peta mengangguk kepala sambil tersenyum. "Karena itulah aku bisa mengetahui tentang kelemahan naga tersebut."
"Bisakah kau menjelaskan lebih banyak lagi mengenai naga?" Pinta Calix dengan mata penuh semangat.
"Baiklah," senyum di wajah Peta semakin melebar. Dia sangat senang berbagi informasi akan makhluk sihir yang selalu ditelitinya selama ini. "Menurut buku yang kubaca, naga adalah salah satu makhluk sihir yang sangat buas dan berbahaya. Naga akan menyerang dan menghancurkan apapun jika mereka marah. Namun, naga biasanya tidak akan sembarangan menyerang tanpa sebab, karena itu memancing kemarahan seekor naga merupakan suatu tindakan bodoh."
Fedrick dan Calix diam mendengar penjelasan Peta. "Naga adalah makhluk yang suka mengklaim daerah kekuasaannya. Jika dia merasa ada makhluk sihir lain yang membahayakan daerah kekuasaannya, mereka akan menyerang makhluk sihir itu. Boleh dikatakan naga itu makhluk yang haus kekuasaan. Tapi, aku tidak mengerti, kenapa naga itu menyerang Perguruan Sihir Erfin? Apakah ada yang memancing kemarahan naga itu?"
"Mungkin naga itu sudah tidak waras lagi, karena itulah dia sembarangan menyerang," tawa Calix dan menoleh menatap Apel di depannya. "—dan sialnya adalah kau; Apel. Sepertinya naga gila itu menanggap kau ini makhluk sihir, karena itulah dia hanya mengejarmu sejak melihatmu."
Apel tetap saja diam tidak mengatakan apapun, sedangkan Ruka dan Yuu hanya bisa tersenyum mendengar canda Calix.
"Makhluk sihir memang penuh misteri dan sama sekali tidak pernah ada yang bisa menjawab semua pertanyaan yang menyelimuti mereka. Keberadaan mereka sendiri yang sudah merupakan sihir menyebabkan mereka satu-satunya makhluk di dunia ini yang bisa menggunakan sihir tanpa mantra dan juga lingkaran sihir." Lanjut Peta lagi.
Mendengar penjelasan Peta tersebut, senyum di wajah Fedrick menghilang.
"Jika mereka menggunakan sihir yang kuat mereka akan memerlukan lingkaran sihir. Namun, mereka tetap saja tidak memerlukan mantra. Seperti naga itu, saat dia menyemburkan api dari mulutnya dia sama sekali tidak memerlukan lingkaran sihir. Namun, saat dia menyerang dengan sihir api biru dia menggunakan lingkaran..."
Fedrick tidak mendengar penjelasan Peta lagi. Perlahan, dia mengalihkan mata menatap punggung Apel. Dia menyadari sesuatu, dia pernah melihat Apel menggunakan sihir tanpa mantra dan lingkaran sihir, dia juga pernah melihat pemuda itu menggunakan sihir yang sangat kuat dan menakutkan saat melawan laba-laba raksasa di hutan terlarang hanya dengan lingkaran sihir, lalu, yang paling penting—naga yang hanya menyerangnya seorang diri sejak melihatnya di Perguruan Sihir Erfin.
Fedrick tidak berani berpikir lebih jauh, ketakutan memenuhi hatinya, begitu juga dengan perasaan tidak percaya. Apel yang dikenalnya tidak mungkin adalah—makhluk sihir?
Apel menyadari mata Fedrick yang terus menatapnya, dia juga dapat merasakan perubahan reaksinya. Namun, dia tetap diam tidak mengatakan apapun.
......................