
Apel dan Calix berjalan menyusuri gunung Bold. Mata merah darah Apel melihat sekeliling mereka, berusaha untuk mencari jejak perampok yang menculik Rue dan Lara.
Selama ini, gunung bold bukanlah gunung yang rawan dengan perampok. Tapi, akhir-akhir ini tiba-tiba muncul perampok yang sering merampok para pedagang maupun pejalan kaki yang melewati gunung. Menurut informasi yang ada, markas perampok tersebut juga berada di dalam gunung ini, hanya saja tidak ada yang mengetahui dengan pasti letak markas mereka itu.
Calix menatap Apel yang berjalan di depannya tanpa mengatakan apapun. Calix merasa sangat bersalah, dia merasa gara-gara dirinyalah Rue dan Lara diculik oleh perampok. Jika saja dia tidak menahan Apel di kota Radiata, mungkin hal ini tidak akan terjadi.
Menghela napasbdan menatap langit biru di atasnya, Calix memikirkan Esthel yang sudah menuju Cardolan, ibukota kerajaan Arthorn sekarang.
"Esthel, aku akan membantu Apel mencari Rue dan Lara. Karena itu, bisakah kau membantuku menyampaikan apa yang terjadi sekarang ini kepada ibuku di ibukota Cardolan?" ujar Calix kepada Esthel.
Esthel menatap wajah Calix tanpa mengatakan apapun. Dia tahu, Calix merasa bersalah terhadap Apel akan apa yang terjadi, apalagi situasi mereka sekarang tidak memungkinkan mereka melakukan pencarian besar-besaran dan mengirimkan para prajurit.
"Aku harus membantu Apel mencari Rue, aku berhutang terlalu banyak padanya. Bantuan dari kota Cirrion telah tiba, dan juga kurasa, kerajaan Ormund tidak akan menyerang lagi dalam waktu dekat ini."
Esthel mengerti maksud ucapan Calix, dan sejujurnya, dia sendiri juga merasa sangat bersalah. Saat Apel bersedia kembali ke kota Radiata untuk membantu Calix, dia mengatakan dia akan menjaga Rue. Namun, dia gagal. Rue diculik tepat di depan matanya, dan dia sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa.
"Aku mengerti. Apapun yang terjadi kau harus menemukan mereka berdua." Ujar Esthel kemudian.
"Pasti!" Balas Calix singkat.
"Apakah kau yakin informasi yang kau dapatkan itu benar?" tanya Apel tiba-tiba.
Calix cukup terkejut dengan pertanyaan Apel yang tiba-tiba itu, sebab, pemuda itu selalu diam membisu selama perjalanan mereka. Namun begitu, dia segera menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh keyakinan "Iya, aku yakin informasi itu benar."
Mendengar jawaban Calix, Apel kembali diam membisu dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Calix kembali menatap Apel, dan di matanya pemuda itu tidak kelihatan seperti biasanya. Dirinya memang baru tidak lama mengenal pemuda itu, tapi dia tahu, Apel adalah orang yang sangat tenang dan bisa mengontrol emosinya. Namun untuk Apel yang berada di depannya sekarang, meski terlihat sangat tenang, aura di sekelilingnya jelas tidak berkata begitu—kemarahan terasa sangat jelas di sekelilingnya.
Apel yang berjalan di depan Calix tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, Apel?" tanya Calix bingung.
Apel tidak menjawab pertanyaan Calix, pemuda itu tiba-tiba melesat dengan cepat menuju semak-semak yang berada tidak jauh di depan mereka. Calix sangat terkejut melihat aksi Apel, dan tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera berlari mengejarnya.
Saat Calix tiba di balik semak-semak tersebut, dia melihat Apel sedang mencekik leher seorang pria seusianya. Pria itu memiliki rambut serta mata berwarna coklat dan menggunakan sebuah kacamata. Wajahnya pucat pasi, kelihatan jelas dia sangat terkejut dengan kehadiran Apel yang tiba-tiba ini.
"S-siapa kau?" tanya pria itu terbata-bata penuh ketakutan.
"Apel, hentikan! Lepaskan dia! Dia bukan perampok." Ujar Calix panik. Pria dihadapan mereka jelas bukan perampok. Dilihat dari pakaiannya yang berupa jubah hitam dengan lambang sebuah lingkaran sihir di punggung, dia tahu, pria ini adalah seorang penyihir dari perguruan sihir Erfin.
"S-siapa k-kalian?" tanya pria itu lagi. Pria itu sangat ketakutan saat melihat mata merah darah Apel menatap tajam mata coklatnya.
Calix berjalan mendekati mereka berdua. Mengangkat tangannya menyentuh tangan Apel yang mencekik leher pria tersebut, dia berusaha melepaskannya. "Maaf, kami telah menakutimu."
Pria itu terbatuk-batuk saat Apel melepaskan tangannya yang mencekik leher pria tersebut.
"Maaf, kau baik-baik saja?" tanya Calix khawatir.
Pria itu mengangguk kepalanya dan menatap wajah Apel dan Calix, walau ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya.
"Syukurlah" Senyum Calix.
"Apakah kau melihat dua orang gadis ataupun perampok di dalam gunung ini?" tanya Apel tiba-tiba, mata merahnya tetap menatap tajam pria tersebut.
"T-tidak, aku sama sekali tidak bertemu dengan dua orang gadis maupun perampok di gunung ini. Aku hanya datang ke gunung ini untuk memetik tumbuh-tumbuhan untuk membuat ramuan." Jelas pria itu cepat. Ketakutan luar biasa kembali memenuhi hatinya saat mata mereka bertemu.
"Begitu ya. Baiklah, terima kasih dan maaf mengejutkanmu." Calix merasa sangat khawatir dengan pria di depan mereka sekarang. Tapi, dia bisa memakluminya, siapa yang tahan jika ditatap Apel seperti itu? Karena itu, setelah memastikan pria tersebut baik-baik saja, dia dan Apel pun berjalan menjauh. Namun, baru beberapa langkah diambil mereka, pria tersebut tiba-tiba berteriak menghentikan mereka. "Tunggu! Apakah kalian kenal seorang pria berambut pirang dan bermata biru langit?"
Mendengar pertanyaan pria tersebut, Apel dan Calix menghentikan langkah kaki mereka dan membalikkan badan menatapnya.
"Kemarin, aku menolong seorang pria berambut pirang dan bermata biru di dalam gunung ini. Dia kelelahan dan sampai sekarang masih belum sadar di perguruan sihir Erfin."
......................