Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 28



Seorang pria berusia awal dua puluh tahun berdiri menatap Aaron yang berada di hadapannya. Rambutnya berwarna hitam, wajahnya tidak terlihat jelas karena dia menggunakan sebuah topeng putih menutup matanya. "Apakah kau yakin?" tanyanya pelan.


"Aku yakin sekali itu dia. Berambut hitam dan bermata merah seperti darah—memangnya siapa lagi kalau bukan makhluk terkutuk itu." Jawab Aaron sambil mendengus tidak suka.


Pria itu di hadapan Aaron hanya tersenyum begitu mendengar jawaban yang didapatkannya.


"Dia bersembunyi di hutan terlarang. Kurasa dia tidak pernah menginjak kakinya keluar dari sana selama sepuluh tahun ini." Tambah Aaron lagi.


"Hutan terlarang?"


"Benar."


"Hm, aku sama sekali tidak menyangka dia akan bersembunyi di hutan itu. Dia yang terus menyangkal siapa dirinya sebenarnya, akhirnya bersembunyi di hutan itu?" Tawa pria itu pelan.


"Dia menolong Fedrick dan Lara. Kurasa dia bersama dengan mereka sekarang." Melipat kedua tangan di dadanya, Aaron merasa informasi yang diberikannya cukup sampai di sini. Dia teringat akan gadis cantik berambut emas yang berada di samping makhluk terkutuk tersebut, tapi dia segera mengabaikannya—gadis itu tidak ada hubungannya dengan semua ini.


"Temukan dia," perintah pria tersebut kemudian. "Apapun yang terjadi, temukan dan bawa dia ke hadapanku."


Aaron menatap datar pria dihadapannya yang memerintahnya. Tapi, kedua matanya bersinar penuh kemarahan—memangnya siapa dia, beraninya memerintah dirinya seperti ini? Membalikkan badan tidak peduli, Aaron kemudian menjawab dengan kasar. "Tidak kau perintah, aku juga tahu."


Pria itu hanya tersenyum menatap sosok Aaron yang menghilang dari pandangan. Menutup mata, senyum di wajahnya semakin melebar, "Kucing hitam," gumamnya pelan. "Yang mulia pasti akan sangat senang sekali jika bertemu lagi dengan kucing peliharaannya yang kabur..."


......................


"Sampai kapan kau akan ling lung seperti itu, bodoh?" tanya Lara sambil memukul kepala Rue yang dari tadi tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Aduh! Jangan pukul aku, Lara." Balas Rue kesal sambil memegang kepalanya yng dipukul Lara.


"Ada apa?" tanya Lara lagi tidak peduli. Dia tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis berambut emas di sampingnya ini. Rue bukanlah orang yang bisa menyembunyikan sesuatu, dia terlalu mudah dibaca seperti sebuah buku yang terbuka.


Rue menoleh pandangan matanya menatap Larabbegitu mendengar pertanyaan tersebut "Aku tidak tahu, Lara," jawabnya pelan seakan berbisik. "Setiap kali merasakan perasaan itu, aku merasa sangat takut..."


Mendengar jawaban Rue, Lara tahu apa yang dimaksud gadis itu, walau dia sama sekali tidak mengerti sepenuhnya "Lupakan saja. Itu hanya mimpi buruk."


"Itu bukan mimpi buruk, Lara," balas Rue cepat. Kedua matanya penuh ketakutan. "Aku tahu, itu bukan mimpi buruk!"


Lara menghela napas melihat reaksi Rue. Mau tidak mau, dia teringat lagi dengan kejadian semalam saat gadis itu tiba-tiba bangun dan berteriak memanggil Apel histeris.


Lara duduk menatap langit malam. Saat malam tiba, para perampok itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka besok pagi. Mereka berkemah di sebuah hutan tidak jauh dari kota tujuan mereka. Sebagian besar perampok sudah terlelap dalam tidur mereka, demikian juga dengan Rue yang berada di sampingnya.


"Sepertinya kau benar-benar sial harus berurusan dengan cewek bodoh seperti dia." Ujar Mire yang berjalan mendekat tiba-tiba.


Lara tidak mengatakan apapun, wajahnya tetap tanpa ekspresi.


Mire melemparkan sehelai selimut kepada Lara. "Pakaikanlah padanya. Malam ini sangat dingin, si bodoh itu bisa masuk angin."


Lara menerima selimut itu dan menatap Mire "Carikan satu lagi untukku. Kau tidak mau aku yang merupakan sanderamu yang berharga ini mati karena kedinginan kan?"


Mendengar ucapan Lara, Mire hanya bisa menggerutu dan berjalan menjauh untuk mencarikan sehelai selimut lagi untuknya.


Lara membuka selimut itu dan menyelimuti Rue. Matanya menatap Rue yang terlelap dalam diam. Gadis ini benar-benar aneh, tidak tahu mengapa, dia sama sekali tidak bisa dibenci oleh siapapun. Dengan sikapnya yang ceria, optimis dan juga bodoh, dia menarik siapapun yang berada di sampingnya untuk menyukainya. Lara bisa melihat dengan jelas semua itu. Selama perjalanan mereka, para perampok yang menyandera mereka sama sekali tidak memperlakukannya sebagai seorang sandera. Mereka kelihatan bagaikan teman lama yang sering bercanda dan beradu mulut, walau selalu Rue yang kalah. Sikap Mire yang tadi mengkhawatirkannya kedinginan, jelas sekali memperlihatkan betapa dia menyukai gadis ini.


Rue yang sedang tertidur lelap tiba-tiba begerak, Lara yang sedang menatap wajahnya bisa melihat dengan jelas perubahan wajahnya. Wajah cantik itu sekarang kelihatan sangat gelisah dan ketakutan, air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya. "Apel, Apel, Apek..."


Lara mengguncangkan badan Rue dan berusaha membangunkannya. "Rue, bangun!"


"Jangan Apel!! Kembali!! Kembali!!" teriak Rue keras sambil membuka kedua bola matanya yang tertutup.


"Rue! Sadarlah" Panggil Lara. Namun, Rue yang belum sadar sepenuhnya sama sekali tidak mendengar panggilan Lara. Dia terus berteriak memanggil Apel dengan mata yang terbuka lebar dan badan gemetar.


Lara mengangkat tangannya dan menampar pipi Rue untuk menyadarkannya "Tenanglah, Rue! Kau hanya bermimpi buruk!"


Begitu merasakan tamparan Lara, Rue berhenti berteriak dan memegang pipinya, kesadarannyapun kembali.


"Kau hanya bermimpi buruk. Tenanglah.." Ulang Lara sambil memeluk Rue. Dia mengangkat tangan kanannya mengelus punggung gadis itu berusaha menenangkannya.


"Bukan," balas Rue dengan air mata yang terus mengalir turun membasahi pipinya. "Bukan, Lara. Itu bukan mimpi buruk.. Perasan itu... Apel...


"Kau bermimpi apa sebenarnya semalam?" tanya Lara sambil mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya dari sinar matahari siang di atas.


"Sudah aku katakan," jawab Rue cepat penuh kesal. Kenapa Lara tidak percaya dengan apa yang dikatakannya?—dia harus menjelaskannya padanya hari ini tentang apa yang terjadi. "Itu bukan mimpi, Lara. Aku pernah mengalami perasaan itu sebelumnya. Itu adalah perasaan saat Apel beru—"


"Tidak," jawab Rue sambil menggeleng kepala. "Tidak lama setelah aku bangun, aku tidak lagi merasakan perasan itu lagi."


"Artinya itu hanya mimpi buruk, bodoh."


"Lara, itu bukan mimpi buruk!" teriak Rue. Dia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan pada Lara supaya mempercayai apa yang dikatakannya.


"Baiklah, kalaupun itu bukan mimpi buruk. Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Lara kemudian. Dia menatap lurus Rue di sampingnya.


Rue terdiam. Pertama kali dia sadar, dia tidak dapat melakukan apapun untuk Apel sekarang. Mereka terpisah jauh, dan dirinya bahkan tidak tahu di mana pemuda itu sekarang. Menundukkan kepala ke bawah, dia merasa ingin menangis dan sangat putus asa.


Lara menghela napas melihat Rue. Dia tidak mengerti dan juga tidak mau mengerti, tapi setidaknya dia tidak ingin melihat Rue sedih. "Kalau kau sudah tidak merasakan perasaan itu lagi. Artinya, cowok buta itu baik-baik saja. Bukannya kau mengatakan dia sangat kuat, pintar dan penuh perhitungan?—jadi, tidak perlu kau khawatir."


Rue berpikir sejenak begitu mendengar ucapan Lara. Dia merasa apa yang dikatakannya benar, Apel pasti tidak baik-baik saja. Dirinya tidak lagi merasakan perasaan itu, dan yang terpenting, Apel tidaklah seperti dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa—Apel pasti bisa menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya dengan baik."Kurasa kau benar sekali, Lara."


Lara mengangguk kepala melihat Rue yang telah kembali tenang. Mengangkat tangannya, dia menyentil pelan dahi gadis berambut emas tersebut. "Sampai kapan kau mau berwajah seperti itu?Bukankah sudah kukatakan wajahmu itu lebih cocok tersenyum?"


Rue tersenyum begitu mendengar ucapan Lara. Menyentu dahinya, dia kemudian tertawa dan memeluk temannya tersebut. "Terima kasih, Lara."


Lara tersenyum kecil, baginya Rue memang lebih pantas tersenyum dan tertawa seperti ini.


"Sepertinya kau sudah kembali ke alam ini, cewek bodoh." Ujar Mire tiba-tiba dari belakang mereka. Dia berjalan mendekati Rue dan Lara bersama Vin yang tersenyum lebar.


"Jangan panggil aku cewek bodoh, Bibi." Balas Rue kesal.


"Tidak ada waktu untuk meladeni kebodohanmu. Kapal akan segera berangkat, kita harus cepat menaiki kapal, jika tidak mau ketinggalan." Jelas Mire tanpa mempedulikan Rue.


"Kapal? Berangkat?" tanya Rue bingung sambil melihat sekelilngnya. Dia sangat terkejut, karena mereka tidak lagi berada di dalam hutan. Mereka sekarang telah berada di dalam kota atau lebih tepatnya berada di pelabuhan "Eh!! Sejak kapan kita sudah berada di sini?"


Mendengar pertanyaan Rue, semua yang ada di sana menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Gadis ini benar-benar tenggelam dalam pikirannya sendiri, dia sama sekali tidak sadar mereka telah memasuki Kota Pelabuhan Denethor sejak tadi pagi dan tidak di ragukan lagi, dia pasti juga tidak mendengar penjelasan mengenai rute perjalanan yang akan mereka tempuh.


"Biarkan saja si bodoh itu." Ujar Mire kesal dan berjalan menjauh diikuti yang lainnya, termasuk Lara. Seumur hidupnya, pertama kali dia melihat gadis aneh seperti Rue.


"Tunggu! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!" teriak Rue panik dan berlari mengikuti mereka.


Kota Pelabuhan Denethor merupakan kota yang sangat besar dan makmur, semua itu dapat dilihat dari bangunan-bangunan kota ini yang megah. Kota ini juga merupakan kota yang sangat ramai karena kota ini adalah satu-satunya kota di kerajaan Arthorn yang memiliki jalur pelayaran langsung menuju Kerajaan Catax


"Cantik sekali!" terpesona, Rue menatap kagum kota Pelabuhan Denethor dari geladak kapal yang sedang berlayar meninggalkan kota.


"Aku tidak menyangka kalian bisa berhasil menyusup ke dalam kota ini dan berlayar dengan mudahnya menuju kerajaan Catax tanpa ketahuan." Ujar Lara sambil menatap Mire yang berada di sampingnya. Dia tahu, Kota Denethor bukanlah kota dengan penjagaan yang lemah, penjagaan kota ini boleh dikatakan lumayan ketat. Namun, melihat para perampok ini dapat dengan mudah berkeliaran di dalam kota ini dan berlayar menuju Kerajaan Catax tanpa ketahuan para penjaga, dia mulai meragukannya.


Mire tersenyum menyeringai mendengarnya. "Kami memiliki cara kami tersendiri untuk mengelabui para penjaga di kota ini."


"Aku tidak tertarik untuk mengetahui cara kalian." Balas Lara dan kembali menoleh matanya menatap laut biru di depan.


"Lara! Bibi! Lihat ada ikan!" teriak Rue penuh semangat dan kegembiraan sambil menunjuk ikan dalam laut yang di lihatnya. Tidak tahu sejak kapan, dia telah berlari ke belakang geladak kapal. "Ikannya besar sekali!! Warnanya juga sangat cantik—menurut kalian, bagaimana kalau aku menangkapnya?"


Lara dan Mire yang mendengar teriakan Rue hanya diam tidak mengatakan apapun.


"Aku tidak mau meladeni cewek berisik dan bodoh itu. Aku jadi merasa akan lebih baik jika keadaanya tetap seperti tadi pagi saja untuk sementara ini." Ujar Mire sambil menggeleng kepala dan berjalan memasuki kabin kapal.


Lara mengikuti Mire dari belakang. Meski tidak mengatakan apapun, dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan wanita perampok tersebut barusan.


Melihat dirinya yang tidak dipedulikan Lara dan Mire, Rue hanya bisa memasang wajah cemberut dan kembali menatap kota Pelabuhan Denethor yang semakin mengecil. Seketika, dirinya menjadi tenang, dia akan segera meninggalkan kerajaan Arthorn—dia akan terpisah semakin jauh lagi dengan Apel.


Pertanyaan bertubi-tubi melintas dalam pikirannya. Apakah Apel baik-baik saja? Apakah dia masih berada di Kota Radiata? Atau dia sudah tiba di Kota Cirrion? Apa dia sudah tahu kalau dirinya diculik perampok? Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Dan yang terpenting; apakah dia merindukannya?—karena dirinya sangat merindukan pemuda itu sekarang.


Apakah kau mencintainya?


Rue teringat lagi dengan pertanyaaan Lara. Apel adalah orang yang paling disayanginya. Tapi, apakah dia mencintai Apel?—sejujurnya, dia sama sekali tidak tahu apa artinya cinta. Apakah sayang dan cinta itu berbeda? Dia merasakan kepalanya sangat pusing saat memikirkan jawaban pertanyaan tersebut.


Bagi cowok buta itu, kau apa?


Satu lagi pertanyaan yang tidak bisa di jawab Rue. Bagi Apel, dia ini apa? Apakah bagi Apel, dia juga merupakan orang yang paling disayanginya? Selama ini, dia selalu tergantung dan merepotkan Apel. Bagaimana jika Apel yang terpisah darinya sekarang menyadari dan menanggap dirinya sangat merepotkan dan mengganggu?


Rue mengigit bibit bawahnya. Dia tidak berani memikirkan lebih jauh lagi, sebab dia merasa sangat takut. Bagaimana jika Apel membencinya? Bagaimana jika Apel tidak mau menemuinya lagi? Bagaimana jika Apel mau meninggalkannya?


"Apel," gumam Rue pelan dan menutup mata hijaunya. "Bagimu, aku ini apa?"


......................