
Kapal silphi adalah kapal yang besar dan indah. Berwarna hitam dan memiliki tiga tiang layar yang besar, fasilitas di dalam kapal juga sangat memandai, meskipun kapal tersebut sebenarnya merupakan kapal perang. Mulai berlayar dari Kota Pelabuhan Denethor menuju Kerajaan Catax, para awak kapal berjalan ke sana-kemari untuk membuka layar kapal dan mengangat jangkar kapal.
Apel dan Regis yang berada di geladak kapal tidak mempedulikan sekeliling mereka. Duduk mendongak kepala menatap langit, Apel berusaha mengontrol dirinya. Perasaan khawatir, gelisah dn ketakutan yang tiba-tiba menyerangnya dua hari yang lalu memang tidak terasa lagi. Namun, dia tetap saja tidak bisa menghapus semua perasaan khawatir dan gelisah yang ada dihatinya semenjak dia terpisah dari Rue.
Regis yang dari tadi menatap laut dengan wajah tanpa ekspresi membalikkan wajah menatap Apel. Kelihatannya, pemuda itu sudah kembali seperti biasanya, dia tidak kelihatan marah dan menitimidasi orang yang berada di sekelilingnya lagi.
"Kak Apel, siapa Rue itu?" tanya Regis tiba-tiba. Dia sangat penasaran dengan gadis bernama Rue yang sering disebutkan Apel. Meski baru mengikuti mereka tidak lama, dia tahu, tujuan mereka semua melakukan perjalanan ke Kerajaan Catax terburu-buru adalah untuk mencari gadis bernama Rue dan temannya. Sepertinya, kedua gadis itu ditangkap oleh perampok dan akan di bawa ke Kerajaan Catax.
"Dia—" jawab Apel pelan. "Dia adalah seorang gadis bodoh."
"Bodoh?"
"Iya," Apel mengangguk kepala pelan. Seulas senyum yang sangat kecil memenuhi wajahnya. "Dia adalah seorang gadis paling bodoh di dunia."
Bertahun-tahun hidup bersama di dalam hutan terlarang, gadis itu sudah melihat hal yang sesungguhnya paling ingin disembunyikan Apel. Tapi, meski begitu, dia tidak pernah meningglkannya. Tidak pernah takut maupun jijik padanya yang begitu menyedihkan, karena itulah—Rue adalah gadis paling bodoh di dunia
Regis tidak mengerti jawaban Apel. Jika Rue adalah gadis paling bodoh di dunia, kenapa Apel mencarinya? Dengan sifat dan cara pikir Apel, seorang gadis bodoh pasti merupakan tipe manusia yang akan dihindarinya jika bertemu. "Aku tidak mengerti maksudmu, Kak Apel?"
"Jika kau bertemu dengannya, kau akan mengerti dengan sendirinya maksudku." Balas Apel datar tanpa menoleh ke arah Regis.
Regis tidak bertanya tentang Rue lagi, sebab, bertanyapun semuanya akan sia-sia—dia tidak akan mengetahui siapa Rue itu. Dia akan menantikan pertemuannya dengan gadis itu dan menilai sendiri seperti apa sebenarnya gadis yang dikatakan sebagai gadis terbodoh di dunia oleh Apel.
"Kak Apel," panggil Regis lagi. Mengepal kedua tangannya, dia menatap lurus Apel yang ada di sampingnya. "Kau sangat kuat. Bisakah kau mengajariku cara bertarung?"
Apel menolehkan kepalanya ke arah Regis begitu mendengar permintaan anak laki-laki tersebut. "Kenapa? Apakah karena kau ingin membalas perlakuan orang-orang yang selama ini menindasmu?"
Regis menggeleng kepala. "Karena aku ingin menjadi kuat supaya bisa melindungi diriku sendiri—dan juga, aku tidak mau merepotkanmu terus, Kak Apel."
"Apakah kau tidak membenci mereka?"
Regis kembali menggeleng kepala. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku membenci mereka, sebab yang aku tahu selama ini hanyalah membenci diriku sendiri."
Apel tidak mengatakan apapun, dia hanya diam mendengar jawaban Regis.
"Kak Apel," panggil Regis pelan. Dia sedikit ragu, tapi dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Apel yang telah menerimanya. "Aku tidak bisa mengutuk mati seseorang seperti yang dikatakan penduduk desa. Aku memiliki suatu kemampuan aneh. Aku bisa melihat waktu kematian seseorang lewat mimpi. Namun, setiap kematian yang ku lihat dalam mimpi terbukti, semua orang akan menganggab akulah pelakunya, dan juga, kesialan yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi membuat semua orang membenci dan menjauhiku."
Apel tetap diam meski mendengar penjelasan Regis. Dia tidak memberikan reaksi sedikitpun, namun, dia mengerti sekali maksudnya—karena seperti itu jugalah dirinya.
"Kak Apel, setelah mengetahui ini semua, apa kau akan membenci dan menjauhiku?" tanya Regis pelan sedikit takut.
Apel tersenyum kecil dan menepuk kepala Regis, "Aku tidak membencimu dan juga, aku tidak akan menjauhimu," jawabnya pelan. "Aku akan mengajarimu cara bertarung, dan juga, aku akan mengajarimu menggunakan sihir."
"Sihir?"
"Ya. Kau memiliki bakat sihir yang luar biasa, Regis."
Regis tersenyum begitu mendengar ucapan Apel. Dia sangat senang mendengar jawaban Apel "Terima kasih, Kak Apel."
"Ternyata kalian di sini, ya?" suara Fedrick tiba-tiba menyela pembicaraan Apel dan Regis. Menatap sumber suara, mereka melihat Pangeran Crussader tersebut berjalan kearah mereka sambil tersenyum. "Sebaiknya kalian makan dulu, Apel, Regis. Makanan sudah di siapkan."
"Kau makan saja Regis," menurunkan tangannya yang ada di atas kepala Regis, Apel berkata pelan. "Aku tidak lapar. Temui aku setelah kau siap makan, aku akan mulai mengajarimu cara bertarung dan juga sihir."
Regis mengangguk kepala. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia segera berdiri dan berlari meninggalkan geladak kapal menuju kantin kapal.
Apel menatap sosok Regis yang berlari meninggalkannya. Anak itu benar-benar mirip sekali dengannya, baik itu dari segi cara berpikir, sikap maupun jalan hidup. Namun, dia juga tahu. Regis berbeda dengannya. Dia bukanlah makhluk terkutuk sepertinya, dan juga, dia tidak memiliki dosa serta takdir menyakitkan yang harus ditanggung selamanya.
"Apel, kau ingin mengajari Regis cara bertarung dan sihir?" tanya Fedrick yang telah berada di samping Apel sambil menatapnya.
Apel mengangguk kepala sebagai jawaban.
Fedrick tersenyum dan mendongak kepala menatap langit biru di atas. "Aku iri padamu, Apel. Kau sangat kuat, sedangkan aku begitu lemah. Bahkan, meski aku sudah berhasil menguasai sihir mengendalikan binatang kebanggaan keluargaku, aku tetap saja tidak bisa membantu banyak—aku sungguh tidak berguna."
Dalam perjalanan mereka sejak awal hingga sekarang, Fedrick tahu, dia tidak membantu banyak. Terlebih lagi, ini semua terjadi karena dia terlalu lemah dan tidak bisa menepati janjinya untuk menjaga Rue dengan baik.
"Kekuatanku hanyalah untuk menghancurkan, sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan," balas Apel tiba-tiba mengejutkan Fedrick. "Kekuatanmu lebih bagus, Fedrick. Kekuatanmu itu lembut, namun, juga sangat kuat. Kau tidak perlu khawatir, sebab kau bukan orang yang tidak berguna—kita tidak akan bisa menemukan para perampok itu tanpamu."
Fedrick menatap tidak percaya Apel. Ini adalah kedua kalinya pemuda itu menyebut namanya, lalu, ucapan panjangnya barusan—apakah dia sedang memujinya?
Seulas senyum lebar kemudian memenuhi wajah tampan Fedrick, dia tidak menyangka Apel akan berpikir demikian. Tapi, yang paling penting; bolehkah dia menganggap hubungan antara mereka berdua telah mengalami kemajuan pesat?
Apel tidak mempedulikan kegembiraan Fedrick, dia mendongak kepala menatap langit, walaudia tidak bisa melihat apa-apa karena kain putih yang menutup matanya. "—dan juga, tidak ada yang perlu kau irikan dari diriku yang seperti ini, Fedrick."
Fedrick terdiam begitu mendengar ucapan Apel. Dia tidak mengerti maksud dari ucapan Apel. Namun sejenak kemudian, apa yang terjadi di Perguruan Sihir Erfin dan Gunung Bold melintas dalam kepalanya.
"Apel," panggil Fedrick lagi. Dia memberanikan dirinya untuk bertanya pada Apel, walau dia juga sangat ragu dan juga—takut. "Siapa kau sebenarnya? Kau manusia, kan?"
Apel tidak menjawab pertanyaan Fedrick. Pertanyaan barusan sama sekali tidak mengagetkannya, sebab dia sudah tahu, pemuda tersebut telah menyadari dan meragukan identitas dirinya sebenarnya. "Menurutmu?" tanyanya kemudian tanpa menurunkan kepala yang mendongak menatap langit.
"Eh?? I-itu.. menurutku.. itu.." terbata-bata dan terputus-putus, Fedrick kebingungan menjawab pertanyaan Apel. Dia tidak menyangka Apel akan bertanya balik seperti itu.
Apel tersenyum kecil mendengar jawaban Fedrick. Sikap Fedrick sekarang membuat dia teringat dengan Rue. Dia menyadari dalam perjalanan mereka ini, diantara Rue dan Fedrick ada suatu kemiripan, yaitu; sikap dan sifat—mereka yang hidup dalam dunia cahaya.
Fedrick tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apel tersenyum, ini adalah pertama kalinya dia melihat Apel tersenyum kepadanya.
Melihat senyum Apel, Fedrick tidak dapat menahan tawa gembiranya. Apel adalah orang yang sangat tertutup. Namun, sepertinya dia sudah mulai membuka diri untuknya. Dia merasa sangat senang,ndan pertanyaan yang barusan ditanyakannya pun terasa tidak penting lagi. Apel adalah temannya, siapapun dia atau makhluk apapun dia—itu tidak penting lagi.
"Baiklah, Apel. Lupakan saja pertanyaanku barusan. Aku tahu kau tidak lapar, tapi kau tetap harus makan. Aku akan membawakan makanan kemari—kita makan bersama saja di sini." Senyum Fedrick sambil menatap Apel dan berjalan meninggalkannya.
Apel tidak menghentikan Fedrick ataupun menolak tawarannya. Menurunkan wajahnya, mata merah darahnya yang tertutup kain tertuju pada punggung Fedrick yang berjalan menjauh.
Iri.
Fedrick iri kepadanya? Jika Fedrick tahu siapa dia sebenarnya dan apa arti dari kekutatannya itu, dia ragu Fedrick masih akan merasa iri kepadanya. Kekuatannya bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, sesungguhnya, dia sangat membenci kekuatannya.
"Tidak ada yang perlu kau irikan dari diriku ini, Fedrick.."
......................