
"K-akak, apa m-maksud semua ini?" tanya Mirthy pada Arthur terbata-bata. Mata birunya menatap tidak mengerti kakak kandung yang terpaut delapan tahun darinya.
"Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu, Mirthy." Jawab Arthur tenang. Terus menggerakkan pena di tangannya menulis sesuatu pada dokumen di depannya, dia tidak menatap sedikitpun Mirthy.
"M-mereka temanku, Kak," balas Mirthy cepat meski dia cukup takut pada kakaknya yang selalu tegas tersebut. "T-terlebih lagi, ada Pangeran dan Putri dari kerajaan tetangga."
Berhenti menulis, Arthur mengangkat wajah menatap Mirthy dan tersenyum. "Aku tahu. Karena itulah, aku menangkap mereka."
Mirthy sangat terkejut mendengar ucapan Arthur, dengan wajah pucat dan suara terbata-bata dia bertanya. "A-apa maksudmu, Kak?"
......................
"Apa yang kau bicarakan pada Raja Hirrim, Apel? Mengapa dia menahan kita di penjara bawah tanah ini?" tanya Calix sambil menatap Apel.
Apel tidak menjawab pertanyaan Calix. Duduk di atas lantai penjara, dia hanya diam membisu.
Melihat Apel yang tidak menjawab pertanyaannya, Calix hanya bisa menghela napas dan ikut duduk di samping Fedrick. "Sepertinya Dewi kesialan terus tersenyum kepada kita belakangan ini."
Mereka semua kini berada di dalam penjara bawah tanah istana Kerajaan Hirrim yang gelap. Tidak ada yang bisa menggunakan sihir di dalam penjara ini, karena dinding penjara telah di lengkapi dengan mantra yang membuat siapapun yang berada di dalamnya tidak bisa menggunakan sihir. Namun, yang paling penting, tidak ada seorangpun yang mengetahui alasan mereka berada di dalam penjara bawah tanah ini sekarang.
"Apa yang dibicarakan Raja Hirrim kepadamu?" tanya Lara tiba-tiba sambil menatap tajam Apel.
Apel tetap diam tidak menjawab.
"Apakah kau bisu? Apakah kau tidak bisa menjawab pertanyaanku?" tanya Lara kesal. Dia berpikir dirinya dapat beristirahat dengan tenang malam ini setelah sekian lama, tapi ternyata, di dalam penjara bawah tanah inilah dirinya sekarang.
"Lara, tenanglah! Mungkin alasan kita berada di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Apel." Sela Fedrick membela Apel.
"Kalau benar tidak ada hubungannya dengan cowok buta dan bisu itu, bisakah kau memberikan jawabannya?" balas Lara sambil menatap Fedrick semakin kesal.
Fedrick tidak bisa menjawab pertanyaan Lara. Sejujurnya, dia juga sangat bingung. Apa alasan Raja Hirrim mengurung mereka di dalam penjara bawah tanah ini? Dia yakin, Raja Hirrim pasti telah mengetahui siapa mereka sebenarnya, dan jika dia telah mengetahui siapa mereka sebenarnya, mengapa dia masih mengurung mereka di sini?
Apel yang dari tadi diam tidak mempedulikan Fedrick, Lara maupun Calix. Memikirkan cara meloloskan diri dari penjara yang paling aman, dia tidak peduli dengan apapun yang direncanakan Arthur terhadap mereka.
"Kita tidak bisa menggunakan sihir untuk menghancurkan dinding penjara sihir ini. Sepertinya kita harus menghabiskan waktu kita di dalam penjara lagi." Ujar Calix pelan begitu teringat bahwa dia, Fedrick dan Lara juga pernah menghabiskan waktu mereka di dalam penjara sihir Kerajaan Ormund.
Apel tetap tidak mengatakan apapun. Sesungguhnya, dia bisa menghancurkan dinding penjara sihir ini dengan mudah. Penjara sihir ini tidak bisa menghentikannya sihirnya jika dia mau. Namun, dia juga tahu, belum saatnya. Dia bisa merasakan aura prajurit-prajurit yang berada di atas penjara mereka sekarang. Apel yakin dia bisa melawan mereka semua, tapi dia tidak mau membahayakan Rue maupun Regis.
"Apel, kau tidak apa-apa?" tanya Rue tiba-tiba sambil menyentuh tangan Apel.
"Aku tidak apa-apa," jawab Apel sambil menolehkan wajah menatap Rue. Dia memang tidak bisa melihat ekspresi gadis itu karena kain putih yang menutup matanya. Tapi, dia bisa menangkap kekhawatiran dalam suara baruan. "Kau tidak apa-apa, bukannya kau paling takut dengan tempat gelap?"
Rue menggeleng kepala sambil tersenyum "Tidak, Apel. Aku sama sekali tidak takut apa-apa karena kau ada di sini bersamaku."
Apel tersenyum kecil mendengar jawaban Rue.
Penjara.
Penjara yang gelap dan dingin sesungguhnya merupakan tempat yang paling dibenci Apel. Dulu, berapa malam dilaluinya dengan meringkuk badannya dalam penjara? Berapa waktu yang dilaluinya dalam kurungan dengan segala keputusasaan dan perasaan bersalah?—karena itulah, betapa luar biasa Rue yang bisa membuatnya tersenyum dalam tempat seperti ini lagi.
Menoleh menatap Regis yang berada di sampingnya, Rue tersenyum pada anak laki-laki tersebut ceria. "Kau tidak takut dengan tempat gelap kan, Regis?"
Regis mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pertanyaan Rue. Dia tidak mengerti gadis ini, mengapa gadis ini masih saja bisa tersenyum? Apakah dia tidak sadar dengan keadaan mereka sekarang ini?
"Bodoh." Ujar Regis singkat.
......................
Mirthy menatap langit biru dari jendela di dalam kamarnya. Menghela napas, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak bisa membiarkan kakaknya berbuat seenaknya seperti itu. Tapi, dia tidak bisa melawan Arthur, kakaknya yang merupakan Raja Kerajaan Hirrim ini. Sudah dua hari, Arthur menahan Rue dan yang lainnya di dalam penjara bawah tanah, dan tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang.
Menutup mata, Mirthy berusaha keras memikirkan cara untuk mengeluarkan Rue dan yang lainnya.
Tok-tok-tok.
"Masuklah." Mirthy tidak melihat siapa yang datang saat mendengar suara ketuk pintu. Tapi dia tahu, itu pasti para dayang yang biasa mengurusnya. "Ada perlu apa?"
"Kami memerlukan bantuanmu, Putri." Jawab seorang wanita tiba-tiba.
Mirthy sangat terkejut mendengar suara tersebut, sebab, suara itu bukanlah suara dayangnya. Membalikkan badan, dia menatap sang pemilik suara. Berdiri di depannya, wanita bermata hijau dengan berambut hitam, dan meskipun memakai pakaian dayang istana, Mirthy tahu wanita itu bukanlah dayang istana. Dia kenal wanita ini, wanita ini adalah teman Rue dan yang lainnya. "Mire…."
......................
"Apakah ada yang tahu sudah berapa lama kita berada di sini?" tanya Calix. Mata birunya menatap bosan dinding penjara tanpa berkedip.
"Aku tidak tahu, Kak Calix," jawab Fedrick yang ada di sampingnya sambil menghela napas. "Tapi menurutku mungkin sudah sekitar dua hari."
"Sekitar dua hari? Ahhhh, aku bahkan sudah tidak tahu sekarang ini pagi, siang atau malam lagi," ujar Calix ikut menghela napas. Matanya masih menatap dinding penjara yang tidak memiliki jendela. "Apa yang sebenaranya dipikirkan Raja Hirrim menahan kita di sini?"
Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya. Perlahan, Calix menatap semua yang ada di dalam penjara bawah tanah. Fedrick dan Lara duduk sambil memikirkan sesuatu, sedangkan Rue dan Regis tertidur dengan tenang di samping Apel yang tidak bergerak sedikitpun. Dengan matanya yang tertutup kain, Calix sama sekali tidak tahu Apel itu sedang tertidur atau tidak.
"Jika cowok buta dan bisu itu sama sekali bukan penyebab kita berada di sini. Berarti, jawabannya hanya ada satu." Ujar Lara tiba-tiba membuat Calix dan Fedrick menatapnya.
"Apa maksudmu, Lara?" tanya Fedrick bingung.
"Raja Arthur berkerja sama dengan Kerajaan Ormund." Jawab Lara dengan wajah tanpa ekspresi.
Fedrick dan Calix sangat terkejut mendengar ucapan Lara.
"Itu tidak mungkin, Lara!" Ujar Calix tidak sependapat dengan Lara.
"Benar, Lara itu tidak mungkin!" Setuju Fedrick.
"Kalau bukan begitu," balas Lara tidka peduli. Kedua mata hitamnya menatap tajam Fedrick dan Calix. "Apa ada alasan yang lebih masuk akal lagi?"
Fedrick dan Calix terdiam tidak bisa membalas ucapan Lara. Apa yang dikatakan Lara barusan memang masuk akal. Jika Raja Arthur berkerja sama dengan Raja Ormund, maka tidak akan aneh lagi mengapa mereka bisa berada di dalam penjara bawah tanah ini.
Apel yang mendengar pembicaraan Fedrick, Lara dan Calix tdak mengatakan apapun. Dia tahu, tebakan Lara mungkin benar, dirinya bukanlah alasan utama mengapa mereka berada di sini. Raja Arthur sepertinya tidak tahu keseluruhan siapa dirinya sebenarnya, sebab jika dia tahu siapa dirinya sebenarnya, dia tidak akan mungkin mengurungnya di dalam penjara bawah tanah ini. Namun, secara keseluruhan, itu sangat menguntungkannya.
Hanya saja, Apel juga tahu, teman Raja Arthur yang mememinta bantuan untuk mencarinya tidak salah lagi pasti adalah orang yang selama ini dihindarinya. Dirinya harus melakukan sesuatu sebelum segalanya lepas dari kendalinya.
Larut dalam pikirannya, Apel tiba-tiba merasakan aura yang dikenalnya mendekati penjara bawah tanah. Tahu siapa yang datang, tanpa membuang waktu, dia membangunkan Rue serta Regis yang tertidur di sampingnya.
"Ada apa, Apel?" tanya Rue pelan dengan wajah ngantuk.
"Jangan tidur lagi, bodoh. Ayo, kita keluar dari sini." Ujar Apel pelan.
......................