
Geladak kapal Silphi menjadi tempat yang paling tepat bagi Apel untuk mengajari Regis cara bertarung dan menggunakan sihir. Geladak kapal itu juga kini menjadi tempat favorit Fedrick, Calix, Peta dan juga para awak kapal. Selama dua hari kapal ini berlayar, mereka semua berkumpul di geladak kapal untuk menonton Apel melatih Regis.
"Angkat pedangmu lebih tinggi lagi. Incar titik kelemahan lawanmu." Perintah Apel sambil menghindari serangan Regis. Mereka menggunakan pedang kayu yang dipinjam dari awak kapal untuk latihan.
"Percepat gerakanmu dan manfaatkan kesempatan yang ada."
Regis menuruti apa yang dikatakan Apel dengan segenap kemampuannya. Mempercepat gerakannya, dia mengayun pedang kayu di tangan ke arah kaki lawannya. Namun, Apel dengan mudah menghindar.
"Jangan memberikan celah kepada musuh untuk menyerangmu." Apel bergerak dengan cepat ke hadapan Regis. Dengan pedang kayu di tangannya, dia memukul pedang kayu yang digenggam Regis sehingga terlepas. Pedang kayu itu terlempar tinggi ke atas dan jatuh tepat di depan Calix dan Fedrick yang sedang menonton.
Apel mengangkat pedang kayu di tangan dan menempelkannya ke leher Regis "Jika aku adalah musuhmu, maka, kepalamu sudah putus."
Fedrick, Calix, Peta dan para awak kapal menelan ludah mereka mendengar ucapan Apel pada Regis. Suaranya yang datar tanpa emosi benar membuat siapapun yang mendengarnya merinding. Dalam latihan mereka, semua orang bisa melihat bahwa Apel bukanlah seorang pelatih yang lembut, dia adalah seorang pelatih yang sangat keras meskipun yang dilatihnya adalah seorang anak kecil. Dia tidak segan-segan menyerang Regis dalam latihan mereka.
"Hari ini cukup sampai di sini." Ujar Apel sambil menurunkan pedang kayu tersebut dari leher Regis.
Regis mengangguk kepala. Meski latihan dari Apel sangat keras dan menyakitkan, dia sekalipun tidak pernah membantah atau mengeluh. Banyak awak kapal yang merasa takjud dan kagum pada anak laki-laki tersebut, sebab mereka yakin, mereka pasti tidak mampu mengikuti latihan yang dijalankannya.
"Bagaimana kalau kita bertanding sebentar, Apel," ujar Calix tiba-tiba sambil memungut pedang kayu Regis yang berada di depannya. Kedua mata birunya menatap Apel penuh tantangan. "Kau dan aku—siapa yang lebih kuat dalam menggunakan pedang?"
Mendengar ucapan Calix, para awak kapal yang ada di geladak kapal menjadi sangat bersemangat. Semua yang ada tahu, Calix, sang Pangeran Kerajaan Arthorn terkenal dengan kemampuan berpedangnya yang hebat, dan Apel yang berhasil mengalahkan Komandan musuh dalam perang di Kota Cirrion pasti juga merupakan seorang ahli pedang yang tak kalah hebatnya. Pertarungan mereka adalah pertarungan yang pasti sangat menarik untuk disaksikan.
Apel tidak mempedulikan tantangan Calix, membalikkan badannya, dia berjalan menjauh.
Calix tersenyum menyeringai melihat reaksi Apel yang sudah dipredeksinya. Bergerak maju, tanpa ragu, dia mengayunkan pedang kayu di tangan untuk menyerang pemuda tersebut, "Jangan kabur, Apel. Pertarungan kita waktu itu terhenti, sekarang saat untuk menentukan siapa pemenangnya." Tawanya keras mengingat pertarungan pada pertemuan pertama mereka.
Apel membalikkan badan dan menangkis pedang kayu Calix dengan pedang kayu di tangannya. "Aku tidak punya waktu untuk meladenimu."
"Jika kau berhasil mengalahkanku, aku tidak akan mengganggumu lagi. Namun, jika aku berhasil mengalahkanmu, panggil aku 'Kakak' dengan benar." Senyum Calix menatap Apel yang masih saja terlihat tenang seperti biasanya.
"Baiklah." Menerima tantangan Calix, Apel mengumpulkan tenaganya dan mendorong Calix ke belakang dengan pedang di tangan. Dia sebenarnya tidak berniat meladeni Calix. Namun, dia juga tahu, pria itu adalah tipe pria yang tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai.
"Aku tidak akan segan-segan melawanmu, Apel." Melompat ke belakang, Calix tertawa keras. Sesungguhnya, dia tidak tahu seberapa hebat kemampuan Apel dalam menggunakan pedang. Dia hanya pernah melihat pemuda itu bertarung menggunakan tangan kosong serta sihir, dan dia tahu dengan pasti, dirinya bukan lawan Apel dalam kedua bidang itu.
Melesat maju dengan cepat ke arah Apel, Calix kembali menyerangnya dengan pedang kayu di tangan. Namun, kali ini, Apel tidak menahannya, dia dengan gesit menghindar dan balik menyerang.
Fedrick, Peta dan para awak kapal menatap dengan penuh kagum pertarungan yang ada di depan mereka. Kemampuan mereka berdua benar-benar luar biasa, gerakan mereka sangat cepat, rapi dan tidak memberikan celah kepada lawan.
"Kau tidak tertarik untuk menonton petarungan itu, Regis?" tanya Fedrick kepada Regis yang berada di sampingnya dan Peta. Dia merasa heran karena Regis sibuk menghapal mantra sihir yang diajarkan Apel, anak laki-laki itu tidak terlihat tertarik sedikitpun dengan pertarungan di depan.
"Aku tidak tertarik melihat suatu pertarungan yang sudah jelas siapa pemenangnya. Tidak mungkin Kak Apel kalah dengan orang seperti itu, Kak Fedrick." Jawab Regis datar tanpa menoleh kepada Fedrick.
Fedrick dan Peta yang mendengar jawaban Regis hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan apa-apa. Anak ini benar-benar mirip sekali dengan Apel, bahkan cara dia memandang Calix pun mirip—tidak tahukah dia bahwa Calix adalah Raja masa depan Kerajaan Arthorn ini?
Di sisi lain, serangan Apel yang terus menerus terarah padanya membuat Calix mulai kewalahan menangkis dan menghindar. Dia sungguh tidka menyangka bahwa Apel juga sangat hebat dalam menggunakan pedang.
Melompat menjauh membuat jarak di antara mereka, Calix mulai merasa kelelahan. Keringat mengalir dari dahinya dan napasnya sudah mulai terengah-engah. Namun, tidak dengan Apel. Pemuda itu berdiri dengan kondisinya yang sangat prima tanpa menunjukkan sedikitpun tanda kelelahan.
Mengigit bibir bawahnya, Calix tahu, jika pertarungan terus dilanjutkan seperti ini, maka, dia pasti akan kalah. Karena itu, dia memutuskan untuk melancarkan serangan terakhir pada Apel dengan mengumpulkan segenap tenaga dan kemampuannya. Menggengam pedang di tangannya erat, dia kembali melesat dengan cepat ke arah Apel.
Apel yang melihat Calix melesat ke arahnya juga tahu, serangan ini adalah serangan terakhir dari lawannya yang akan menentukan siapa pemenang dalam pertarungan mereka. Tidak menghindar serangan yang ada, dia menerima tantangan tersebut dan melesat maju. Pedang di tangannya terangkat—dia tidak bermaksud membiarkan Calix menang.
Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu menahan napas saat melihat mereka melancarkan serangan terakhir.
Saat serangan terakhir telah dilancarkan, baik Apel maupun Calix tidak bergerak dari tempat. Mereka berdua berdiri saling membelakangi tanpa mengucapkan apapun.
Tidak ada seorangpun yang tahu siapa pemenang dalm pertarungan yang mereka saksikan barusan. Namun, pedang kayu yang berada di tangan Calix tiba-tiba patahenjadi dua.
"Aku kalah." Calix mengaku kalah. Dia telah kalah telak dalam melawan Apel. Dia sudah mengerahkan segenap kemampuannya, namun Apel terlihat jelas belum mengerahkan segenap kemampuannya.
Menbalikkan badannya, Calix menghela napas menatap Apel. Keinginannya untuk memiliki Apel di dalam pasukannya menjadi semakin kuat. Semenjak pertemuan pertama mereka, dia telah sangat tertarik kepadanya. Kekuatan dan sihir Apel sungguh luar biasa, dia akan menjadi sekutu yang luar biasa dalam perang yang tengah berlangsung. Karena itulah, dia berani menawarkan kekayaan, kehormatan dan juga kedudukan padanya saat meminta bantuannya pada perang di kota Radiata. Dia tidak mungkin membiarkan orang dengan bakat luar biasa seperti ini pergi begitu saja, walau pada akhirnya Apel menolak semua yang ditawarkan.
"Tepati janjimu itu." Suara Apel tetap datar tanpa emosi seperti biasa, dia tidak terlihat gembira sedikitpun akan kemenangannya.
"Baiklah." Balas Calix singkat sambil menghela napas sekali lagi. Dia sungguh penasaran, seberapa kuat Apel itu sesungguhnya.
"Benarkan," Ujar Regis tiba-tiba mengagetkan Fedrick dan Peta yang dari tadi terkesikma menonton pertarungan. "Kak Apel sama sekali tidak mungkin kalah."
Baik Fedrick maupun Peta hanya dapat tertawa kecil mendengar ucapan Regis. Sedetik kemudian, para awak kapal yang ada segera bertepuk tangan dengan sangat riuh.
"Hebat!"
"Luar biasa!"
"Pertrarungan yang luar biasa sekali!"
Apel tidak mempedulikan tepuk tangan maupun teriakan para awak kapal. Melangkah pelan, dia berjalan menuju tempat Fedrick, Peta dan Regis berada.
"Apel, tunggu!" panggil Calix. Menatap Apel, dia hanya dapat bertanya pelan. "Siapa kau sebenarnya?"
Apel berhenti begitu mendengar pertanyaan Calix. Namun, dia hanya diam membisu tidak menjawabnya.
Calix sebenarnya sangat penasaran dengan siapa Apel itu sebenarnya. Dia yakin sekali, Apel bukanlah orang biasa. Kekuatan, sikap, pembawaan dan kharisma yang kadang ditunjukkannya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh seorang rakyat biasa. Walau dia juga tidak bisa mempungkiri adanya sikap yang sangat kejam dan gila dalam dirinya seperti saat dia meghadapi naga di Perguruan Sihir Erfin serta para perampok yang menculik Rue dan Lara. Terlebih lagi—perubahan tangannya.
"Eh?! Bukan seperti—" terkejut, Calix dengan cepat membalas. Namun, kalimatnya itu terpotong dengan suara teriakan beberapa orang dari kejauhan.
"Tolong!!"
"Tolong kami!!"
"Tolong!!"
Semua yang ada di sana segera membalikkan kepala menatap suara teriakan tersebut. Di tengah laut tidk jauh dari kapal mereka, tiga orang pria sedang mengapung dengan berpegangan pada sebuah papan.
Calix segera memerintahkan para awak kapal untuk menolong mereka. Apel yang tidak peduli, dengan pelan kembali melangkah ke arah Regis yang tinggal sendirian karena Fedrick dan Peta berlari cepat untuk melihat penyelamatan mereka yang ada di atas laut.
"Aku sudah menghapal semua mantra yang kau ajarkan padaku, Kak Apel." Ujar Regis sambil menatap Apel saat dia duduk di sampingnya.
"Bagus, Regis. Tunjukkan sihir-sihir itu padaku setelah urusan di depan kita ini selesai." Balas Apel datar.
Regis mengangguk kepala.
Apel tidak mengalami kesulitan besar saat melatih Regis. Dia adalah anak yang sangat pintar. Apa yang diajarkan dapat diserapnya dengan cepat dan baik. Apel yakin, Regis pasti akan menjadi sangat kuat kelak.
"Terima kasih! Terima kasih banyak karena telah menolong kami!" Ujar ketiga pria yang berhasil diselamatkan saat menapakkan kaki ke dalam geladak kapal Silphi. Mereka bertiga kelihatan sangat pucat, lelah dan juga ketakutan, tapi juga tidak dapat dipungkiri bahagia karena telah selamat dari maut.
Calix menanyakan pada mereka dari mana asal mereka dan juga mengapa mereka bisa terombang-ambing di tegah laut ini.
"Kami adalah pedagang dari Kerajaan Catax. Kapal kami berlayar dari Kota Pelabuhan Farrim di Catax menuju Kota Pelabuhan Denethor. Namun, dua hari yang lalu kami terjebak dalam badai."
"Badai?" tanya Calix.
"Iya. Badai yang sangat kuat. Kapal kami karam, dan kami terseret dalam ombak." Jawab salah satu pedagang itu sambil gemetar mengingat kejadian yang telah mereka hadapi.
"Tenanglah. Anda sudah selamat, dan juga badainya juga telah berlalu. Anda tidak perlu takut lagi." Hibur Fedrick sambil menyerahkan selimut kepada ketiga orang itu.
"Terima kasih." Ujar para pedagang tersebut.
"Kalian pasti lapar—aku akan meminta koki kapal untuk menyiapkan makanan untuk kalian." Tambah Peta sambil tersenyum.
Ketiga pedagang itu sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Mereka benar-benar sangat berterima kasih kepada penolong mereka.
Apel yang mendengar penjelasan para pedagang tidak mengatakan apa-apa. Badai besar tiga hari yang lalu? Namun, badai itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Rue. Para perampok yang menculik Rue menggunakan jalur darat, mereka tidak mungkin terperangkap dalam badai.
"Badai, ya? Memang tidak dapat di hindari. Semuanya, perhatikan laut baik-baik, mungkin masih ada orang yang selamat dari badai itu." Perintah Calix pada para awak kapal.
"Sebenarnya ada yang aneh dengan badai ini." Ujar salah satu pedagang itu tiba-tiba.
Semua yang ada di sana membalikkan wajah menatap para pedagang itu lagi.
"Maksudmu?" tanya Calix bingung.
"Kapal kami terjebak dalam badai itu pada malam hari. Badai itu sangat kuat, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami bertiga yang terombang-ambing di dalam laut sebenarnya sama sekali tidak mengira bisa melalui badai itu hidup-hidup lagi. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Peta penasaran.
"Saat kami sudah menyerah, kami tiba-tiba melihat cahaya putih dari depan kami."
Mendengar penjelasan pedagang itu. Apel yang dari tadi tidak peduli tertegun. Jantungnya berdetak sangat cepat. Cahaya putih?—tidak mungkin!
"Cahaya putih itu semakin lama semakin kuat dan menyilaukan mata, sehingga kami semua terpaksa menutup mata. Cahaya itu sama sekali tidak berlangsung lama. Saat kami membuka mata cahaya itu telah lenyap begitu juga dengan badai yang ada."
"Cahaya putih?" tanya semua yang ada di sana binggung. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan para pedagang itu.
"Iya, Cahaya putih yang menyi—" Jawab salah satu pedagang itu. Namun, sebelum kalimatnya itu terselesaikan Apel telah berada di depannya. Mengcengkeram kerah baju pedagang tersebut erat, dia mengagetkan semua yang ada di sana.
"Apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Apel.
"A-aku tidak tahu...." Jawab pedagang itu terbata-bata karena terkejut.
"Jawab pertanyaanku!! Apa maksudmu dengan cahaya putih?!" tanya Apel lagi dengan penuh kemarahan. Suaranya meninggi penuh tekanan.
Pedagang itu merasa sangat ketakutan, begitu juga dengan semua yang ada di sana. Mereka bisa merasakan dengan jelas kemarahan Apel, walau tidak ada seorangpun yang tahu alasan mengapa pemuda itu tiba-tiba marah. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menghentikan apa yang dilakukannya sekarang. Mereka semua hanya diam menatap Apel karena ketakutan, begitu juga dengan Fedrick, Calix, Peta dan Regis.
"A-aku tidak tahu.. Cahaya itu tiba-tiba muncul dan menghilang. H-hanya saja, cahaya itu terasa sangat hangat..." Jawab pedagang itu gemetar sambil menatap Apel. Air mata mengalir menuruni pipinya—dia merasa dirinya akan mati di tangan pemuda ini sekarang.
Mendengar jawaban pedagang itu. Apel melepaskan cengkeraman tangannya, "Cahaya putih yang menghentikan badai dan terasa sangat hangat. Tidak mungkin, tidak mungkin..." gumam Apel pelan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Para perampok yang menculik Rue tidak menggunakan jalur darat seperti informasi yang didapatkan Peta. Informasi itu salah, mereka menggunakan jalur laut dan terperangkap dalam badai tiga hari yang lalu. Cahaya putih yang dilihat para pedagang itu pasti cahaya yang berasal dari Rue—telah terjadi sesuatu pada Rue.
Ketakutan luar biasa menyelimuti Apel. Badannya bergetar, dia tidak peduli pandangan kebingungan Fedrick, Calix, Peta, Regis dan yang lainnya. Dia melepaskan kain putih yang menutup mata merah darahnya menatap laut. "Rue..."
......................