
Matahari pagi telah terbit, sebuah kereta kuda melaju dengan cepat keluar dari gunung Bold. Di samping kereta kuda, beberapa pria dan wanita yang duduk di atas kuda melaju dengan kecepatan yang sama.
Di dalam kereta kuda, Mire tertawa terbahak-bahak melihat barang jarahan mereka. Dari uang, emas, permata, barang antik dan juga bahan pangan, mereka tidak selalu mendapatkan hasil memuaskan seperti ini setiap hari. "Barang jarahan kita kali ini sangat berkualitas." Ujarnya senang.
"Ya, dan kita juga mendapatkan hasil yang tidak terduga." Senyum Vin yang berada di samping Mire, kedua matanya kemudian terarah pada Rue dan Lara yang juga berada dalam kereta kuda.
Rue yang masih ketakutan akan apa yang dilaluinya menggengam erat selimut kecil yang menutupi badannya, sedangkan Lara, gadis itu diam membisu dengan wajah tenang tanpa ekspresi menatap balik Vin.
"Dengan wajah mereka yang seperti itu, harga jual mereka pasti akan sangat tinggi." Tambah Van yang juga berada di samping Mire.
Mire mengangkat wajahnya dan menatap Rue dan Lara. Dia tahu, apa yang dikatakan Van benar, kedua gadis yang berada di hadapannya ini sangat cantik dan harga mereka pasti akan sangat tinggi. Seulas senyum menyeringai terlukis di wajahnya yang cantik "Kau benar, Van. Aku tidak sabar menunggu berapa banyak uang yang kita dapatkan saat menjual mereka berdua—pasti akan lebih dari satu juta penna."
"Kalau aku adalah kalian, aku tidak akan menjual kami berdua." Sela Lara tiba-tiba tanpa ekspresi dengan santai.
Mire, Vin dan Van yang mendengar ucapan Lara tertegun. Mereka tidak pernah mengira gadis itu akan menyela pembicaraan mereka dengan begitu santai. Biasanya orang yang ditangkap perampok pasti akan ketakutan dan tidak berani berkata apapun.
"Apa maksudmu?" tanya Mire, mata hijaunya menatap tajam Lara.
"Kalau aku jadi kalian, aku tidak akan menjual kami berdua, karena aku bisa mendapatkan lebih dari satu juta rabbit." Jawab Lara sambil tersenyum.
Mire, Vin dan Van sangat binggung dengan jawaban Lara. Mereka tidak mengerti maksud dari ucapan gadis itu.
"Apa alasan kau bisa berkata seperti itu?" tanya Van.
"Namaku adalah Lara Arc Catax. Aku adalah anak kedua dari Raja dan Ratu Catax." Jawab Lara lantang.
Mire, Vin dan Van sangat terkejut mendengar jawaban Lara. Dengan saksama, ereka mengamati Lara dan Rue. Mereka berdua memang tidak terlihat seperti orang biasa, tapi—seorang putri?
"Apa buktinya kalau kau adalah Putri kerajaan Catax?" tanya Mire lagi. Dia sama sekali tidak yakin dengan apa yang dikatakan Lara. Bagaimana mungkin Putri kerajaan Catax bisa berada di sini?—terlebih lagi mereka menemukannya di sarang perampok.
"Aku tidak memiliki apapun yang bisa membuktikan identitasku," jawab Lara. Dirinya bersyukur perampok di depannya sekarang adalah orang yang dapat diajak bernegosiasi. "Tapi, jika kalian bisa mengantarkan kami ke kota Cirrion. "Aku bisa membuktikannya pada kalian di sana."
Mendengar ucapan Lara, Mire tertawa. "Kau pikir kami bodoh? Kau hanya ingin mencari alasan untuk meloloskan diri. Tidak mungkin kau adalah Putri kerajaan Catax. Atas dasar apa kau mengaku sebagai seorang putri?"
"Dan atas dasar apa kau mengatakan aku bukan seorang putri?" balas Lara menanya balik Mire dengan mata hitamnya yang tenang.
Mire terdiam. Menatap Lara yang dengan tenang berani melawannya, dia mulai ragu. Sikap dan cara bicara gadis itu tidak terlihat seperti omong kosong—apakah dia benar-benar merupakan Putri Catax?
"Kurasa dia tidak berbohong, Mire." Ujar Vin tiba-tiba. Dia yang tadi diam mengamati Lara menyeruakan pendapatnya.
"Kau yakin?" tanya Van ragu. Dia tidak membayangkan bahwa gadis yang ada di depannya adalah putri kerajaan Catax.
Vin mengangguk kepala. Di dalam kelompok mereka, dia merupakan orang yang paling pintar membaca pikiran seseorang serta mempredeksi apakah orang itu berbohong atau tidak. Semua anggota kelompok sangat mempercayainya karena dia terbukti tidak pernah salah selama ini.
"Baiklah," berdiri, Mire menatap Lara sambil tersenyum. "Namun, kami tidak akan mengantar kalian ke kota Cirrion."
Rue dan Lara mengangkat kepala menatap Mire begitu mendengar ucapannya.
"Kota Cirrion adalah kota besar dengan penjagaan super ketat. Aku tidak mempercayai kalian, bagaimana kalau kalian menjebak kami di kota itu." Lanjut Mire sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kalau begitu, kau akan mengantar kami ke mana?" tanya Lara.
"Baiklah." Balas Lara. Memang sumuanya tidak seperti yang diharapkannya, tapi setidaknya, dirinya dan Rue terhindari dari bahaya dijual sebagai budak.
"Tidak!" Rue yang dari tadi diam membisu ketakutan tiba-tiba berterik keras. Menatap Mire, kedua matanya penuh pemohonan. "Bisakah kalian mengantarkan kami ke kota Cirrion saja?"
Mire, Vin dan Van menatap Rue bingung. Gadis itu terlihat jelas sangat ketakutan sejak tadi, tapi sekarang dia berani berteriak dan memohon—dari mana datangnya keberanian sehingga dia berani berkata seperti itu?
"Tidak bisa," tolak Mire kesal. Dia tidak suka dengan orang yang berteriak di depannya. "Kalian itu tawanan kami. Kamilah yang memutuskan ke mana kita akan pergi."
Tidak putus asa, Rue segera berdiri dan berjalan ke depan Mire. Mata hijaunya yang berkaca-kaca penuh permohonan menatap perampok wanita tersebut menahan air mata. "Kumohon.."
"Hei!! Sadari posisimu!" teriak Mire kesal. Dia sama sekali tidak menyukai pandangan mata Rue.
Mendengar kata Mire, air mata Rue mengalir turun ke pipinya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa supaya Mire bersedia mengantarkan mereka ke kota Cirrion. Ketakutan luar biasa memenuhi hatinya. Dia tidak mau meninggalkan kerajaan Arthron, dia ingin menuju kota Cirrions, sebab itu adalah tempat perjanjiannya dengan Apel. Bagaimana jika Apel tidak menemukannya di kota Cirrion saat tiba di sana?—bagaimana kalau dia tidak akan bertemu lagi dengan Apel jika dia keluar dari kerajaan Arthorn?
"Hentikan kereta kudanya, aku ingin keluar!" perintah Mire sambil memukul keras dinding kereta kuda yang melaju cepat.
Kereta kuda yang sedang bergerak segera memperlambat lajunya dan berhenti tidak lama kemudian. Tidak mempedulikan tangis Rue yang terisak-isak, Mire berjalan keluar diikuti Vin dan Van.
"Tunggu sebentar," Lara segera menghentikan mereka bertiga saat mereka akan menutup pintu kereta kuda. "Bisakah kalian memberikan aku satu baju untuk si bodoh ini?"
Mire, Vin dan Van, menoleh menatap Lara.
"Cih," berdecak tidak suka, Mire menatap Van yang ada di sampingnya. "Berikan dia baju, Van."
Van kembali ke dalam kereta kuda dan menacak-acak barang jarahan mereka untuk mencari pakaian untuk Rue, sedangkan Mire dan Vin yang tidak memiliki urusan lagi berjalan meninggalkan kereta kuda.
Beberapa menit kemudian, Van berhasil menemukan pakaian yang seukuran dengan badan Rue. Melemparkan pakaian tersebut kepada Lara, tanpa mengatakan sepatah katapun, dia kembali berjalan keluar dan menutup pintu kereta kuda.
Rue tidak bergerak, dia menggengam erat selimut kecil yang menutupi badannya dan menundukkan kepala ke bawah. Air mata terus jatuh membasahi kedua pipinya.
Menghela napas, Lara berjalan mendekati Rue dan memegang kedua pundak kecilnya. Dia tidak pintar menghibur orang, tapi dia kini harus mencoba sebisa mungkin melakukannya, "Rue.." panggilnya pelan.
Rue mengangkat kepala dan menatap wajah Lara. Mata hijaunya yang berurai air mata penuh ketakutan dan keputusaaaan. "Lara, Apel.. Apel.."
Lara tidak menyukai wajah menangis Rue, dia selalu merasa gadis cantik itu lebih cocok tertawa atau tersenyum lepas dengan bahagia. Mengangkat tangan menghapus air mata yang ada, dia berusaha menenangkannya. "Tidak apa-apa, kalian pasti akan bertemu lagi."
"T-tapi, Lara, a-aku..." Balas Rue terbata-bata. Tidak tahu mengapa, meski Lara mengatakan dia dan Apel pasti akan bertemu lagi, dia tetap saja tidak bisa tenang.
"Ganti dulu bajumu itu." Perintah Lara sambil menyerahkan pakaian di tangannya kepada Rue.
Sambil menahan tanggisnya, Rue mengambil pakaian yang diberikan Lara padanya. Memutar badan membelakangi Lara, dia melepaskan selimut kecil yang menutup badannya serta baju tuniknya yang koyak.
Lara yang berdiri di belakang Rue melihat jelas punggung gadis itu. Sebuah kerutan kecil muncul di dahinya, sebuah tato besar memenuhi punggung putih tersebut. Namun, setelah melihat dengan baik-baik, dia sadar, itu bukan tato melainkan—tanda lahir.
Tanda lahir tersebut berwarna kemerahan dan berbentuk seperti sepasang sayap yang mengelilingi sebuah lingkaran sihir. Di tengah lingkaran sihir tersebut terdapat sebuah simbol aneh. Lara tidak pernah melihat lingkaran sihir ataupun symbol seperti itu selama ini, dan yang paling penting—bagaimana mungkin ada tanda lahir seperti ini?
......................