Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 14



Rue membuka mata hijaunya dan menemukan kedua tangan serta kakinya terikat tali. Terkejut, dia segera melihat sekelilingnya penuh kepanikan.


"Kau sudah sadar, bodoh?" tanya seseorang dari belakang Rue.


Tanpa melihat, Rue tahu siapa pemilik suara tersebut. Menoleh kepala ke belakang, dia memanggilnya panik. "Lara!!"


Lara yang berada di belakang Rue juga berada pada kondisi yang sama dengannya, yakni; tangan dan kakinyanterikat tali. Bedanya, tidak ada kepanikan di wajah cantiknya.


"Di mana kita? Apa yang terjadi?" tanya Rue lagi semakin panik melihat kondisi Lara yang tidak berbeda dengannya.


"Kita ditangkap perampok," jawab Lara. Suaranya tetap tenang, seakan apa yang dikatakannya tidak berarti apa-apa."—dan kemungkinan besar kita sekarang sedang menuju sarang perampok tersebut."


Rue dan Lara berada dalam sebuah kereta kuda yang melaju dengan cepat. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela kereta kuda membuat mereka berdua bisa melihat sekeliling dengan baik. Kereta kuda tersebut tidak begitu besar dan penuh dengan berbagai barang seperti bahan makanan, kain, barang-barang antik dan perhiasan.


"Di mana Fedrick dan Kak Esthel?"


"Mereka tidak tertangkap. Mereka berdua berhasil meloloskan diri."


"Begitu ya," Rue bernapas lega dan tersenyum mendengar penjelasan Lara. "Syukurlah..."


Lara menatap Rue dengan pandangan aneh. Pada saat seperti ini gadia berambut emas itu masih saja bisa tersenyum. Seulas senyum kecil memenuhi wajah Lara. Gadis di depannya ini benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa, dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Menghela napas, Lara hanya bisa berpikir setidaknya dia masih ada di samping Rue. Jika Rue hanya sendirian saja di sini, apa yang akan terjadi, Lara sendiri juga tidak berani membayangkannya.


Kereta kuda yang melaju cepat tiba-tiba berhenti, Rue dan Lara yang berada di dalamnya segera terdiam dan berwaspada. Pintu kereta kuda terbuka dan seorang pria tersenyum menyeringai saat melihat mereka berdua. Pria itu membuka tali yang mengikat kaki Rue dan Lara tanpa mengatakan sepatah katapun. Dengan kasar dia kemudian menarik mereka berdua turun dari kereta kuda.


Markas para perampok berada di dalam sebuah hutan. Sebuah gubuk kecil dengan perkarangan yang cukup luas berdiri dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi. Api unggun yang menyala di dalam perkarangan rumah tersebut membuat para perampok dapat melihat Rue dan Lara dengan jelas.


Para perampok tersebut tersenyum menyeringai, mereka sangat senang karena berhasil menangkap dua gadis cantik yang kinibberdiri di depan mereka. Setelah ketua mereka puas bermain dengan kedua gadis cantik ini, mereka akan dengan senang hati bermain lagi dengan mereka.


Walau tidak tahu apa yang akan terjadi, Rue bisa merasakan niat tidak baik dari para perampok tersebut. ketakutan menyelimuti hatinya. Berjalan mendekati Lara, dia mengengam lengan baju gadis berambut hitam itu dengan tangannya yang terikat.


Berbeda dengan Rue, Lara tahu jelas apa arti dari tatapan para perampok tersebut. Tapi meski begitu, dia tetap tenang. Ketakutan dan kepanikan tidak akan membantu mereka. Berkonsentrsi, Lara menatap sekeliling dan memikirkan cara untuk lolos dari para perampok ini.


Perampok yang menarik Rue dan Lara turun dari kereta kuda langsung mengiring mereka masuk ke dalam gubuk kecil. Saat melewati para perampok yang berada di dalam perkarangan, wajah Rue bertambah pucat dan mengengam lengan baju Lara dengan erat. Wajah Lara tetap tanpa ekspresi. Namun, matanya terlihat mulai panik, sebab di tidak menemukan cara untuk meloloskan diri.


Saat masuk ke dalam gubuk, Rue dan Lara melihat seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di depan mereka. Badan pria tersebut cukup besar dengan wajah yang penuh dengan bekas luka. Pakaian pria tersebut sangat kotor dan berantakkan. Pria tersebut tersenyum menyeringai saat melihat mereka berdua, terutama pada Rue.


"Ketua, setelah kau puas, jangan lupa pada kami." Tawa Perampok yang mengiring Rue dan Lara.


Pria yang dipanggil ketua tersebut tertawa. Dengan kasar dia menarik tangan Rue dan memaksanya masuk ke dalam kamar yang ada. Rue yang sangat ketakutan berusaha melepaskan tangannya, sedangkan Lara sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berdiri mematung melihat apa yang terjadi, otaknya terus memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang.


Dalam kamar ketua perampok tersebut melempar Rue ke atas tempat tidur dengan kasar dan mengunci pintu.


Badan Rue bergemetar hebat karena ketakutan. Ketua perampok tersebut tertawa melihat reaksi gadis berambut emas itu sambil membuka bajunya. Saat melihat ketua perampok berjalan mendekatinya, Rue bangkit dari tempat tidur dan berusaha untuk melarikan diri. Namun, ketua perampok itu kembali menangkap tangannya.


Rue terus berusaha untuk melawan ketua perampok tersebut. Dia menendang, meninju dan mencakar, namun, usahanya sia-sia, dia sama sekali tidak mungkin menang melawan ketua perampok. Tertawa keras, ketua perampok itu mendorongnya ke atas tempat tidur.


"Apel!!" teriak Rue ketakutan, air mata mengalir turun dari mata hijaunya.


......................


Apel duduk menyandarkan badan pada pohon oak di taman. Pikirannya melayang kembali pada apa saja yang baru terjadi dalam ruang pertemuan di mansion walikota Radiata.


"Kami ingin menyerang prajurit Ormund yang berada di luar tembok kota Radiata besok pagi." Ujar Calix tenang.


"Aku menolak." Tolak Apel singkat. Nada suaranya tidak berubah sedikitpun, tetap datar dan tenang.


"Jika kau membantu kami, setelah ini semua berakhir, aku akan menghadiakanmu seratus juta penna dan jika kau mau, aku akan menberikanmu jaba—" Tawar Calix penuh keseriusan. Namun, belum selesai ucapannya, Apel telah memotongnya. "Aku tidak tertarik dengan apapun yang kau tawarkan padaku."


Calix tidak putus asa dengan penolakkan Apel. Dia tahu seberapa kuat pemuda itu, karena itu, bantuannya sangat dibutuhkan dalam rencana mereka. "Bagaimana kalau dua ratus jut—"


Namun sebelum menyelesaikan kalimatnya, sekali lagi, Apel memotongnya. "Apapun yang kau tawarkan padaku, aku tidak tertarik."


Ruangan menjadi hening tanpa suara. Bangkit berdiri dari tempat duduknya, Apel berjalan keluar dari ruangan. Suara terikan penuh kemarahan para bawahan Calix atas ketidak sopanan dirinya yang terdengar sama sekali tidak dipedulikan.


Apel tidak tertarik sedikitpun dengan apa yang ditawarkan Calix padanya. Satu-satunya hal yang paling diinginkannya sekarang adalah meninggalkan kota ini dan menemui Rue. Dengan tidak adanya gadis itu di sampingnya, dia merasa sangat tidak tenang. Semenjak mereka terpisah, dia merasakan kegelisahan dalam hatinya terus membesar.


"Ternyata kau di sini." Suara Calix tiba-tiba terdengar. Berdiri tidak jauh dari Apel, dia kemudian berjalan mendekatinya. "Taman ini jadi sepi sekali, ya? mengingat apa yang baru saja terjadi, mungkin ini sudah sewajarnya."


"Aku tidak tertarik," ujar Apel tanpa menoleh pada Calix. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Aku bukan kemari untuk membicarakan itu," Senyum Calix mendengar ucapan Apel. Berjalan mendekati pemuda itu senyum di wajahnya semakin lebar. "Aku kemari untuk berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku semalam. Aku belum berterima kasih padamu. Aku berhutang padamu—terima kasih."


"Kau pernah menolong Rue, jadi kita impas. Kau sama sekali tidak berhutang padaku."


Calix tetap tersenyum. Dia tidak tahu apa hubungan Apel dan Rue. Mereka sepertinya bukanlah kakak-adik, tapi juga bukanlah sepasang kekasih. Hanya saja, terlihat jelas mereka berdua saling menyayangi. "Terserah apa katamu. Tapi, tetap saja aku berhutang padamu."


Diam membisu, Apel merasa apapun yang dikatakannya, Calix tetap akan bersikap teguh bahwa dia berhutang padanya.


Calix dengan santai duduk di samping Apel. Dia juga ikut diam membisu, mata birunya menatap ke atas langit malam. Mengepal tangan erat, dia tahu, besok adalah hari yang penting, dan bagaimana pun juga mereka tidak boleh kalah.


"Hei," panggil Apel tiba-tiba dan membuat Calix segera menoleh menatapnya terkejut, sebab ini adalah pertama kalinya pemuda itu bersedia memulai pembicaraan terlebih dulu. "Ada yang ingin ku tanyakan padamu."


"Silakan tanya." Senyum Calix lebar. Ada kegembiraan dirasakannya, setidaknya keberadaannya tidaklah transparan lagi di samping Apel yang sangat unik ini.


"Mengapa kau berperang?"


Pertanyaan Apel adalah pertanyaan tidk terduga oleh Calix. Kebingungan memenuhi dirinya. Apa maksud pertanyaan itu?—tapi, sejenak kemudian dia menjawab tanpa ragu. "Untuk melindungi mereka yang berharga bagiku."


"Kau akan melumuri tanganmu dengan darah untuk melindungi mereka yang berharga bagimu? Pernahkah kau berpikir, mereka yang kau bunuh juga memiliki orang yang ingin mereka lindungi?"


Calix tersenyum mendengar pertanyaan Apel. Dia tidak pernah menyangka pemuda tersebut akan mengajukan pertanyaan seperti itu. "Aku adalah Raja masa depan kerajaan Arthorn. Aku mencintai kerajaanku, dan terlebih lagi, aku mencintai senyum rakyatku. Jika aku bisa melindungi senyum mereka, aku tidak akan ragu untuk membunuh."


"Termasuk memintaku yang tidak ada kaitannya untuk membunuh?" tanya Apel tajam.


Calix menghela napas mendengar pertanyaan Apel. Menoleh menatapnya, dengan mata penuh kepastian tanpa keraguan dia menjawab. "Iya. Manusia itu makhluk yang egois. Demi melindungi apa yang penting bagi mereka, apapun akan mereka lakukan, begitu juga denganku."


Apel hanya diam mendengar jawaban Calix.


Calix yang menatap Apel sebenarnya sangat mengharapkan bantuan pemuda tersebut. Apel sangat kuat, dia akan menjadi kekuatan yang besar bagi mereka dalam pertempuran besok jika dia bersedia membantu.


"Aku tetap tidak akan membunuh." Ujar Apel tiba-tiba dan bangkit dari duduknya.


"Hah?" seru Calix bingung begitu mendengar ucapan Apel.


"Aku tidak membantumu. Aku hanya ingin segera meninggalkan kota ini. Setelah masalah ini selesai kita sama sekali tidak ada hubungannya lagi." Tambah Apel dan berjalan meninggalkan Calix.


Kebingungan Calix berubah menjadi terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Apel. Perkataan itu barusan, Apel bersedia membantu mereka, kan? Seulas senyum segera memenuhi wajah tampannya. "Terima kasih, aku mengerti."


"Satu hal lagi," ujar Apel yang berjalan menjauh tanpa menoleh pada Calix. "Katakan pada mereka semua, aku memang buta."


Calix sangat kebingungan mendengar ucapan Apel. Dia tahu dengan jelas, pemuda itu sama sekali tidak buta. Memang, warna matanya bukanlah warna mata yang normal. Tapi, mengapa Apel sebegitunya menyembunyikan matanya?—dia sama sekali tidak mengerti.


......................