Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 15



Lara berdiri diam membisu mendengar teriakan Rue yang memanggil Apel dari dalam kamar di depannya, sedangkan perampok yang mengiring dirinya dan Rue masuk ke dalam gubuk tersenyum mendengarnya. Berusaha keras berpikit, Lara tahu dia harus melakukan sesuatu secepatnya, jika tidak, Rue akan mengalami sesuatu yang menakutkan.


Dalam kamar, ketua perampok berjalan mendekati Rue sambil membuka bajunya. Wajahnya tersenyum menyeringai kepada Rue yang menangis ketakutan dengan wajah pucat pasi. Naik ke atas tempat tidur, badan besar ketua perampok itu menindih tubuh kecil Rue.


"Apel!!!" teriak Rue. Ketakutannya tidak terbendung lagi, wajah Apel terus terbayang dalam pikirannya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi dia tahu, apapun itu akan sangat menakutkan.


Ketua perampok merobek baju Rue dan berusaha menciumnya. Saat dia hampir berhasil mencium gadis itu, tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar rumah.


"Musuh! Kita diserang!!!" teriak salah satu perampok yang berada di luar gubuk.


Mendengar teriakan anak buahnya. Ketua perampok itu segera menghentikan aksinya. Mengambil pedangnya yang ada di atas lantai, dia berlari keluar dari kamar meninggalkan Rue.


"Kau jaga kedua gadis ini, jangan biarkan mereka melarikan diri." Perintah ketua perampok kepada anak buahnya yang mengiring Rue dan Lara.


Mengangguk cepat, perampok tersebutbmematuhi perintah sang ketua. Wajahnya pucat pasi, dia bisa mendengar jelas suara senjata yang beradu serta teriakan di luar gubuk—ada pertarungan yang telah terjadi.


Saat keluar dari gubuk tesebut, ketua perampok melihat anak buahnya sedang melawan musuh yang menyerang mereka. Dari penampilan mereka, ketua perampok tahu, yang menyerang mereka juga perampok. Sudah menjadi hal biasa perampok menyerang perampok lainnya untuk merebut barang-barang jarahan.


"Siapa kalian? Beraninya kalian menyerang kami?" teriak Ketua perampok itu penuh kemarahan.


"Mengapa kami tidak berani?" balas suara seorang wanita tiba-tiba.


Ketua peampok tersebut menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Seorang wanita dan dua pria berusia sekitar dua puluh tahun duduk di atas kuda sambil melihat ketua perampok. Wanita itu memiliki rambut bob hitam pendek dengan sepasang mata hijau. Seulas senyum terlukis di wajahnya yang cantik.


"Karena dia berpikir kalau mereka adalah yang terkuat di sini." Ujar salah satu pria yang berada di samping sang wanita dengan wajah penuh senyum. Pria itu memiliki rambut berwarna coklat dengan mata berwarna biru.


"Kau benar, Vin," tawa pria satu lagi. Pria itu memiliki rambut berwarna merah dengan mata sipit berwarna biru. "Tapi, dia hanyalah orang bodoh yang tidak tahu luasnya dunia."


Mengangguk, Vin tertawa keras. "Kau benar, Van. Katak dalam tempurung."


"Siapa kalian? Apa mau kalian?" tanya ketua perampok. Kemarahan dalam hatinya semakin memuncak mendengar hinaan Vin dan Van.


"Kami adalah perampok sama seperti kalian, bodoh." Jawab Van cepat dengan wajah mencemooh.


"Dan kami datang merampok kalian, bodoh" Tambah Vin dengan wajah penuh senyum.


Kemarahan ketua perampok tidak tertahan lagi mendengar jawaban Vin dan Van. Dia merasa sangat terhina dengan jawaban mereka yang terus memanggilnya bodoh. Mencabut pedangnya, dia menatap mereka penuh nafsu membunuh.


Tidak ada ketakutan di wajah wanita berambut hitam di samping Vin dan Van melihat ketua perampok, malahan, senyum di wajah cantiknya semakin lebar.


"Sepertinya dia ingin menyerang kita." Ujar Vin tertawa keras. Mata birunya berbinar gembira.


"Dasar bodoh," tersenyum, Van turun dari kudanya untuk menghadapi ketua perampok. Namun, sebelum kakinya menginjak tanah, wanita di sampingnya telah meloncat turun dari kuda. "Dia bagianku."


"Biarkan aku saja yang menghadapi si bodoh itu." Ujar Van cepat. Tapi, wanita berambut hitam tersebut tidak mempedulikan ucapannya, dia telah berlari menuju ketua perampok dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu, di dalam gubuk, perampok yang bertugas menjaga Lara sangat kebingungan. Dia mengintip keluar melalui jendela ingin memastikan keadaan. Matanya yang terus saja melihat keluar melalui jendela sama sekali tidak memperhatikan gadis di sampingnya lagi.


Lara sama sekali tidak menyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Bergerak secepatnya mendekati perampok tersebut, dia mengangkat kaki kiri dan menendang perampok terebut tepat pada daerah vitalnya.


Mengangkat siku kanannya, Lara menghantam kepala perampok itu sekuat-kuatnya. Sang perampok langsung terkapar di lantai tidak menyadarkan diri begitu menerima serangan tersebut.


Tidak membuang waktu, Lara segera mencabut sebatang pisau pendek yang berada di pinggang perampok tersebut untuk memotong tali yang mengikat tangannya.


Setelah tali yang mengikat tangannya terlepas, Lara berlari menuju kamar di mana Rue berada. Dia menemukan gadis berambut emas tersebut berada dalam keadaan shock di atas tempat tidur. Badannya bergemetar hebat dengan baju atasnya yang koyak. Mata hijaunya penuh dengan ketakutan dan air mata mengalir deras turun ke bawah.


Lara berjalan mendekati Rue, wajahnya penuh dengan kekhawatiran, "Rue..." Panggilnya pelan.


Begitu melihat Lara, Rue bangkit dari tempat tidur dan berlari mendekatinya. Lara segera memeluk gadis itu dengan erat untuk menenangkannya yang terus saja menangis. "Tidak apa-apa, tenanglah, sudah tidak apa-apa..."


Lara tahu, waktu yang dimiliki mereka tidak banyak. Dia segera membuka tali yang mengikat tangan Rue dan menghapus air matanya "Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini."


Rue hanya mengangguk kepalanya. Air matanya telah berhenti, tapi ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya. Lara mengambil selimut kecil yang ada di atas tempat tidur dan menutupi badan Rue.


"Ayo!" ujar Lara sambil mengengam tangan Rue dan berlari keluar dari gubuk tersebut.


Saat keluar dari gubuk tersebut, mata Rue dan Lara membesar karena terkejut. Di hadapan mereka para perampok yang menangkap mereka sedang bertarung melawan musuh yang menyerang.


Rue dan Lara melihat ketua perampok sedang bertarung dengan seorang wanita. Dengan lincah, wanita tersebut menyerang ketua perampok dengan dua batang pisau di tangan. Namun, ketua perampok berhasil menghindari semua serangan yang terarah padanya.


Tersenyum, wanita itu menatap ketua perampok gembira. Ternyata lawannya tidak selemah yang dia kira.


Ketua perampok tidak mungkin terus membiarkan lawannya menyerang. Mulai balas menyerang wanita tersebut, dia mengayunkan pedang yang ada ditangan kanannya.


Wanita berambut hitam itu menghindari serangan ketua perampok tersebut. Meloncat ke belakang menjauhi lawannya, dia tersenyum menyeringai. Mengangkat tangan kanan ssebuah lingkaran sihir berwarna violet muncul di depannya.


Ketua perampok angat terkejut melihat apa yang dilakukan wanita itu. Dia sama sekali tidak menyangka wanita itu juga bisa mengunakan sihir. Membacakan mantra sihir, dari dalam lingkaran sihir wanita tersebut, sengatan listrik yang melesat dengan cepat kearah ketua perampok.


Ketua perampok tidak berhasil menghindari serangan sihir tersebut sepenuhnya. Sihir tersebut berhasil mengenai tangannya yang memegang pedang. Pedang yang digengamnya pun jatuh keatas tanah. Serangan yang diterimanya memang tidak parah. Namun, sihir petir tersebut membuat badannya itu mati rasa untuk sementara.


Saat mati rasa di badan ketua perampok memundar, wanita itu telah berada di depannya. Menempelkan kedua mata pisau pada leher ketua perampok, dia tersenyum lebar dengan mata berbinar gembira. "Kalau kau masih mau hidup, suruh anak buahmu berhenti menyerang."


Ketua perampok tahu apa yang dikatakan wanita itu bukanlah ancaman kosong belaka. Wanita itu benar-benar akan membunuhnya kalau dia tidak menghentikan anak buahnya. "Kalian semua berhenti!" teriaknya takut.


Mendengar teriakan sang ketua perampok, semua anak buahnya pun berhenti menyerang musuh mereka.


"Bagus! Kami tidak akan membunuh kalian. Kami hanya akan mengambil semua barang jarahan kalian." Tawa wanita tersebut melihatnya.


Mendengar perkataan wanita tersebut, Lara sadar, yang ada di hadapan mereka itu juga merupakan perampok. Menarik tangan Rue, dia segera berlari ke arah belakang gubuk yang merupakan altenatif terbaik yang dimiliki. Namun tiba-tiba di hadapan mereka, batang-batang es muncul mengelilingi mereka membentuk sebuah kurungan.


Berhenti, Rue dan Lara menoleh ke belakang. Tidak jauh dari mereka berdua, Vin berdiri tersenyum dengan dengan sebuah lingkaran sihir di depannya, "Mire, sepertinya kita berhasil mendapatkan hasil rampasan yang tidak terduga." Ujarnya.


Mendengar ucapan Vin, wanita berambut hitam yang melawan ketua perampok menatp ke arah Rue dan Lara. Seulas senyum menyeringai kembali memenuhi wajah cantiknya.


Lara menghela napas tidak mengatakan apapun. Tapi jauh dalam hatinya dia merasa sangat kesal. Dirinya dan Rue benar-benar keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Sedangkan untuk Rue, dia yang masih sangat ketakutan hanya berdiri di samping Lara sambil menggengam tangannya dengan erat.


......................