
Begitu pagi tiba, para perampok kembali melanjutkan perjalanan mereka. Meninggalkan hutan di mana mereka bermalam, Rue, Lara, Mire, Vin dan Van duduk di dalam kereta kuda yang melaju dengan cepat.
"Masih lama kita baru akan mencapai Kerajaan Catax?" tanya Rue sambil mengintip dari jendela kereta kuda.
"Perlu waktu sekitar dua minggu untuk mencapai Kerajaan Catax, sebab kita perlu melewati Kerajaan Hirrim." Jawab Vin dengan wajah tersenyum.
"Apakah tidak bisa lebih cepat lagi?"
Semua yang ada dalam kereta kuda menoleh menatap Rue tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sejak awal, Rue sama sekali tidak mau meninggalkan Kerajaan Arthorn. Tapi, sekarang—dia malah ingin mencapai Kerajaan Catax lebih cepat lagi?
"Bukannya kau tidak mau meninggalkan Arthorn?" tanya Mire bingung.
"Aku memang tidak mau meninggalkan Kerajaan Arthorn, karena aku akan terpisah lebih jauh lagi dari Apel," jawab Rue cepat. Seulas senyum dengan segera memenuhi wajahnya. "Tapi, semakin cepat aku mencapai Kerajaan Catax, semakin cepat juga aku bisa memberitahu Apel keberadaanku. Lara sudah berjanji padaku, setiba di Kerajaan Catax, dia akan mengirimkan pesan kepada Apel di kota Cirrion mengenai keberadaanku."
"Tidak bisakah kau berhenti menyebut nama Apel?" ujar Mire kesal.
"Tidak bisa, Bibi." Balas Rue tanpa takut, dia menjulurkan lidah tidak peduli akan kemarahan Mire.
"Apel itu orang yang seperti apa, Rue?" sela Van yang dari tadi diam tiba-tiba. Dia cukup penasaran dengan sosok yang dikatakan sebagai prajurit buta yang menjadi pahlawan di Kota Radiata.
Mendengar pertanyaan Van, Rue tersenyum lebar. Penuh semangat, dia mulai menjelaskan. "Apel sangat tinggi, aku saat berdiri hanya mencapai dadanya. Rambutnya hitam, kulitnya putih, dan dia memiliki mata berwarna merah yang sangat indah. Dia juga sangat kuat, pintar dan penuh perhitungan. Dia memang kelihatan sangat dingin, cuek dan tidak peduli dengan sekelilingnya. Tapi, sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik."
Lara tidak mengatakan apapun saat mendengar penjelasan Rue, dan dalam hatinya, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakannya. Di matanya, Apel memang sangat kuat, pintar dan penuh perhitungan. Tapi—baik? Dia sungguh meragukan itu. Apel bukanlah orang yang baik, malahan, dia merasa Apel adalah orang yang sangat mengerikan. Sosoknya saat melawan dan membunuh laba-laba raksasa di hutan terlarang, Lara tahu jelas, pemuda itu bukan orang biasa. Hanya saja, siapa dia sebenarnya?
"Apakah dia kekasihmu, Rue?" tanya Vin yang menyimak penjelasan Rue penuh senyum.
"Eh! Apa katamu?" tanya Rue begitu mendengar pertanyaan Vin.
"Kau kelihatan sangat gembira saat menceritakannya. Apakah dia kekasihmu?" tanya Vin lagi.
"Kekasih?" ujar Rue bingung. Itu adalah kosakata asing yang tidak pernah didengarnya selama ini.
"Sama sekali tidak ada gunanya kau menanyai si bodoh itu hubungan mereka berdua," sela Lara yang dari tadi diam membisu. "Sebab, dia terlalu bodoh untuk menjawabnya. Kurasa, dia juga tidak tahu apa itu kekasih."
"Lara, aku sama sekali tidak bodoh!" teriak Rue menatap tajam Lara yang tidak peduli.
"Seperti yang kuduga," tawa Mire gembira. Dia menatap penuh senyum Rue yang wajahnya memerah karena kesal. "Gadis bodoh dan kekanakan sepertimu mana mengerti maksud dari kata kekasih."
"Aku tahu apa itu kekasih, Bibi!" balas Rue tidak mau kalah.
Mendengar ucapan Rue, semua yang ada di dalam kereta itu mengalihkan mata mereka menatapnya.
"Kalau begitu, apa itu kekasih?" tanya Mire.
"Eh!" terkejut, wajah Rue memucat. "Ehem, kekasih itu... kekasih itu adalah..." Jawabnya terputus-putus, sebab dia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu; apa itu 'kekasih'?
"Kau tidak tahu apa itu kekasih, kan?—dasar anak kecil." Tawa Mire semakin keras mengejek Rue.
Vin mengangguk kepala sambil tersenyum menyetujui ucapan Mire, sedangkan Van tersenyum. "Sudah, Mire. Jangan meledek anak kecil terus."
Wajah Rue memerah karena malu. Diam membisu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan duduk di samping Lara. Lara sendiri tidak mentertawai Rue karena dia sudah tahu, Rue adalah gadis aneh yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Lara," panggil Rue sambil menatap Lara penuh harap. "Kekasih itu apa?"
"Orang yang kau sayangi." Jawab Lara singkat tanpa menoleh menatap Rue sedikitpun.
"Orang yang aku sayangi?—kalau begitu kau, Fedrick, Kak Calix dan Kak Esthel juga kekasihku, ya?sebab aku juga sayang dengan kalian." Balas Rue binggung.
"Bukan seperti itu, bodoh," menoleh menatap Rue, Lara menjelaskan. "Kekasih adalah orang yang paling kau sayangi—orang yang paling kau cintai. Kekasih itu adalah dua orang yang saling menyayangi dan mencintai."
"Sayangi? cinta?—aku semakin bingung, Lara." Ujar Rue sambil mencerna apa yang dikatakan Lara dalam pikirannya.
"Pikirkan saja pelan-pelan dengan otak bodoh mu itu, bodoh." Lara menghela napas, gadis di depannya ini benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Hal ini pasti disebabkan karena dia tidak pernah berinteraksi dengan siapapun kecuali Apel selama ini. Hidup berdua tanpa pernah keluar dari hutan terlarang merupakan faktor terbesar yang membentuk Rue seperti ini.
Lara tidak mempedulikan teriakan protes Rue. Memalingkan wajah, dia berdiskusi dengan Mire, Vin dan Van tentang jalur perjalanan mereka.
Rue yang tidak dipedulikan mereka hanya bisa duduk diam di samping Lara. Diam membisu karena tidak tahu apa yang mereka bahas, dia memutuskan untuk memikirkan apa saja yang dikatakan Lara barusan, "Orang yang aku sayangi..." gumamnya pelan.
Menutup matanya, Rue memikirkan orang yang disayanginya. Wajah Lara, Fedrick, Calix dan Esthel muncul di dalam pikirannya. Membuka mata, dia kembali bergumam pelan. "Lara, Fedrick, Kak Calix, Kak Esthel adalah orang yang aku sayangi. Lalu, orang yang paling aku sayangi..."
Rue menutup matanya kembali memikirkan siapa orang yang paling disayangi, dan perlahn wajah Apel muncul di dalam pikirannya.
"Apel..." membuka kedua kelopak matanya, Rue tiba-tiba eringat lagi dengan pertanyaan yang pernah ditanyakan Lara padanya kemarin. 'Apa hubunganmu dengan cowok buta itu sebenarnya?'
Rue tidak pernah berpikir apa hubungannya dengan Apel. Sejak pertama kali dia membuka mata, pemuda itu telah ada di sampingnya. Saat dia masih kecil, saat dia baru sadar dan tidak tahu apa-apa, Apel lah yang mencarikannya makanan, tempat untuk berteduh saat hujan maupun beristirahat pada malam hari. Apel selalu menemaninya saat dia ketakutan, pemuda itu akan menyalakan api serta memeluknya saat dia kedinginan. Usia Apel saat itu sama dengannya, masih sangat kecil dan memenuhi kebutuhan mereka berdua di dalam hutan itu tidaklah mudah. Namun, Apel tidak pernah mengeluh, dia tetap berada di sampingnya meskipun yang bisa dilakukan Rue hanyalah merepotkannya.
Seorang gadis kecil berambut emas menoleh ke atas sebatang pohon apel besar. Seorang anak laki-laki berambut hitam seusianya berada di atas dahan pohon tersebut sedang memetik apel. Kain putih menutup mata anak laki-laki itu. Namun, dia dapat dengan mudah memanjat dan memetik apel yang ada di pohon itu.
"Apel! Apel!" panggil sang gadis kecil.
Anak laki-laki itu menurunkan pandangan matanya menatap gadis kecil itu dan meloncat turun ke bawah. "Jangan teriak terus, bodoh."
"Apel, namaku Rue, bukan bodoh." Balas gadis kecil itu kesal.
Anak laki-laki itu tidak membalas, dia melemparkan apel yang ada ditangannya ke arah gadis kecil tersebut.
Gadis kecil itu dengan segera menangkap apel yang dilemparkan kepadanya dengan kedua tangannya yang kecil.
"Makanlah. Kau sudah laparkan?" ujar anak laki-laki itu datar.
Mendengar ucapan sang anak laki-laki, gadis kecil itu tersenyum. Dengan apel di tangannya, dia berlari ke arah anak laki-laki itu dan memeluknya erat."Terima kasih, Apel."
Anak laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, dia hanya berdiri diam di tempatnya membiarkan sang gadis kecil memeluknya.
Melepaskan pelukannya dan menatap wajah anak laki-laki, dengan tangan kirinya yang kecil, sang gadis kecil menarik turun kain yang menutup mata sang anak laki-laki—memperlihatkan sepasang mata merah seperti darah. "Apel, saat aku mengucapkan terima kasih padamu, kau harus menatapku."
Anak laki-laki itu tetap diam membisu.
Menggengam apel yang ditangan dengan kedua tangannya kembali, sang gadis kecil tersenyum dengan senyum terbaiknya. "Terima kasih, Apel."
Melihat senyum gadis kecil tersebut, perlahan, bibir sang anak laki-laki terangkat dan seulas senyum memenuhi wajahnya yang datar.
Mata hijau gadis kecil membesar karena terkejut begitu melihat senyum di depannya. "Apel! Kau tersenyum! Kau tersenyum!"
Rue tersenyum mengingat senyum Apel saat itu. Itu adalah senyum pertama yang diperlihatkan Apel padanya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas kegembiraan dan kebahagiaan yang dirasakannya pada saat itu. Senyum Apel adalah sesuatu yang paling disukainya melebihi apapun di dunia ini. Di dalam hutan terlarang itu, mereka hanya hidup berdua saja. Namun, dia tidak pernah merasakan kesepian karena Apel selalu berada di sampingnya.
"Kenapa kau tersenyum seperti seorang idiot, bodoh?" tanya Lara tiba-tiba.
Dengan senyum yang masih terlukis di wajahnya, Rue menatap Lara. "Aku teringat Apel, Lara."
Lara menghela napas dengan wajah penuh kebosanan mendengar jawaban Rue. "Cowok buta itu lagi."
"Lara, ada yang ingin aku tanyakan?" tanya Rue tidak peduli ekspresi bosan di wajah Lara.
"Apa?"
"Kau mengatakan kekasih itu adalah orang yang paling kau sayangi bukan? Saat aku berpikir siapa orang yang paling kusayangi, wajah Apel lah yang muncul. Apakah itu artinya Apel adalah kekasihku?"
Lara menatap wajah Rue yang bertanya dengan begitu polosnya. "Apakah kau mencintainya?—dan bagi cowok buta itu, kau itu apa?"
"Eh! Cinta? Bagi Apel aku ini... aku ini..." jawab Rue terputus-putus, sebab sekali lagi, dia tidak tahu harus bagaimana jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut.
......................