Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 48



"Apa katamu!! Kota Radiata telah jatuh?!" teriak Calix tidak percaya.


Mire mengangguk kepala. "Iya. Kota Radiata telah jatuh dan pasukan Ormund kini telah menyerang Kota Cirrions. Selain itu, Kerajaan Entaina juga telah jatuh ke tangan Kerajaan Ormund."


"Apa?!" Teriak Fedrick dan Calix bersamaan, sedangkan Lara yang tidak mengatakan apapun juga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Mereka yang telah berhasil keluar dari Ibukota Ioreth memutuskan untuk menyembunyikan diri untuk sementara di dalam hutan sekitar bekas kota yang hilang, Aureduil. Mengelilingi api unggun yang menyala, Fedrick, Lara dan Calix duduk mendengar penjelasan Peta, Mire, Vin dan Van mengenai keadaan benua Orsaland sekarang. Regis duduk di samping mereka menemani Rue yang masih belum sadarkan diri, sedangkan Apel, dia tidak berada di sana karena ingin membersihkan dirinya dan mengganti baju yang penuh dengan darah.


"Bagaimana mungkin itu terjadi? Kerajaan Entaina bukanlah kerajaan yang lemah." Fedrick bingung dan tidak percaya, sekuat apa Kerajaan Entaina, dia tahu jelas, karena itu, bagaimana mungkin Kerajaan Ormund bisa menaklukkannya dalam waktu sesingkat ini?


"Kami tidak tahu secara detailnya bagaimana kerajaan Ormund mampu menaklukkan kerajaan Entaina secepat ini," ujar Van sambil menatap Fedrick. "Dan dari informasi yang kami dapatkan, Kerajaan Ormund kini telah bergerak untuk menyerang Kerajaan Crussader."


Fedrick diam membisu dengan wajah serius akan informasi baru yang didapatkannya.


"Perlu kalian ketahui juga, Kerajaan Hirrim berkerja sama dengan Kerajaan Ormund. Kerajaan Hirrim telah mengirimkan prajuritnya untuk menyerang perbatasan antar kerajaan Arthorn dan Hirrim," tambah Vin tiba-tiba sambil menatap Lara. "Kurasa tinggal hitungan waktu saja sebelum kerajaan Hirrim menyerang kKerajaan Catax."


Mendengar ucapan Vin, baik Fedrick, Lara dan Calix tidak mengatakan apapun lagi. Apa yang dipredeksi Lara benar, Kerajaan Hirrim ternyata benar-benar berkerja sama dengan Kerajaan Ormund. Mengapa mereka ditahan di dalam penjara bawah tanah istana Hirrim bukanlah sesuatu yang aneh lagi sekarang.


"Kurasa kita tidak bisa berada di kerajaan ini lebih lama lagi." Ujar Mire pelan. Mereka semua berhasil melarikan diri dari istana Hirrim tanpa banyak kesulitan. Saat Mirthy menahan para prajurit Hirrim yang mengejar mereka, rute rahasia yang diketahui oleh Mire dan Vin berhasil mengeluarkan mereka dari istana. Lalu, dengan Peta dan Van yang telah menunggu mereka bersama kereta kuda tidak jauh pintu belakang istana, mereka langsung meninggalkan ibukota Ioreth secepat yang mereka bisa.


Sampai sekarang memang masih belum ada pengejar. Namun, Mire tahu itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Raja Arthur pasti akan mengirim pasukan untuk mencari mereka.


"Bagaimana kalian bisa tahu kami ditahan oleh Raja Hirrim?" Tanya Calix tiba-tiba.


"Sehari setelah kalian pergi. Kami mendapatkan informasi tentang jatuhnya Kerajaan Entaina dan penyerangan prajurit Hirrim di perbatasan antar Arthorn dan Hirrim. Kami tahu, Raja Hirrim pasti tidak mungkin membiarkan kalian pergi begitu saja, dia pasti akan menangkap kalian untuk dijadikan sandera." Jelas Peta menjawab pertanyaan Calix.


"Untungnya, Mire dan Vin sama tidak ikut tertangkap. Kami bertemu di Ibukota Ioreth dan merencanakan penyelamatan kalian." Tambah Van sambil tersenyum.


"Terima kasih." Senyum Calix begitu juga dengan Fedrick, sedangkan Lara tetap saja diam seperti biasa. Namun, dia juga sebenarnya sangat berterima kasih kepada mereka.


"Tidak apa-apa," sela Mire yang merasa malu dengan ucapan terima kasih ketiga anggota kerajaan di depannya. "Sebenarnya yang paling pantas menerima kata terima kasih itu adalah Putri Mirthy. Tanpa dia membantu kami, rencana penyelamatan ini tidak mungkin berhasil."


Semua yang ada di sana terdiam begitu mendengar ucapan Mire itu. Bagaimana keadaan Mirthy sekarang, apakah dia baik-baik saja? mereka tidak tahu.


"Kurasa dia tidak apa-apa," ujar Lara kemudian memecahkan keheningan. "Bagaimanapun juga dia adalah satu-satunya Putri dari Kerajaan Hirrim, adik kandung dari Raja Arthur serta satu-satunya anggota Kerajaan Hirrim yang menguasai sihir mengendalikan salju kebanggaan keluarga Kerajaan Hirrim."


"Kurasa kau benar, Lara.." gumam Fedrick pelan.


"Semoga saja begitu." Tambah Calix sambil menghela napas. Dia tidak pernah menyangka putri yang terkenal pemalu itu akan berani melawan kakaknya untuk menyelamatkan mereka. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat banyak selain berdoa untuk keselamatannya sekarang.


"Hmn..." Gumam Rue yang tidak sadarkan diri dari tadi pelan dan membuka mata.


"Akhirnya kau sadar juga bodoh." Ujar Regis sambil mentap Rue. Perasaan lega memenuhi hatinya, sebab bagaimanapun juga gadis itu terluka karenanya.


"Rue, kau tidak apa-apa?" tanya Calix menatap Rue, sedangkan yang lainnya meski tidak bertanya, tapi mata mereka menatap khawatir gadis tersebut.


"Aku tidak apa-apa," jawab Rue pelan sambil mengucek matanya. Bangkit untuk duduk, dia menatap yang lainnya. "Di mana ini?"


"Kita berada di dalam hutan di dekat bekas kota hilang Aureduil, bodoh." jawab Lara dengan wajah tanpa ekspresi. Perasaan lega memenuhinya saat memastikan Rue baik-baik saja.


"Begitu ya.." Menatap sekelilingnya, Rue melihat Fedrick, Lara, Calix, Regis, Mire, Vin, Van, dan seorang pria berkacamata berambut coklat pendek yang tidak dikenalnya. Namun, dia sama sekali tidak melihat Apel. Ketakutan dan kepanikan memenuhi hatinya. "Di mana Apel? Apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia tidak ada di sini?"


Mendengar pertanyaan Rue, tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Fedrick, Lara, Calix, Regis, Mire dan Vin teringat lagi dengan apa yang terjadi kepada Apel di dalam istana Kerajaan Hirrim itu. Apa yang terjadi dengan Apel serta sikapnya yang brutal saat itu bukanlah sesuatu yang normal dan dapat diterima akal sehat.


Van dan Peta yang tidak berada di tempat kejadian saat itu juga diam membisu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat badan Apel yang penuh darah serta sikap aneh yang lainnya, mereka tahu pasti telah terjadi sesuatu yang mengerikan.


Ketakutan dan kepanikan di dalam hati Rue bertambah besar begitu melihat ekspresi wajah mereka semua. Tanpa mengatakan apapun lagi dia bangkit dari duduknya, air mata mengalir turun ke pipinya. "Apel ada di mana?"


Mendengar jawaban Fedrick, Rue segera berdiri dan berlari ke arah danau tersebut tanpa mempedulikan yang lainnya.


......................


Apel menatap pantulan dirinya dari dalam danau. Mata berwarna merah darah, wajah dan badan yang berumuran darah, siapapun yang melihatnya pasti akan takut dan menjauhinya. Membuka bajunya yang penuh darah, dia membungkukkan badan. Kedua tangannya menyentuh air danau yang dingin. Tapi, dia tidak peduli. Dia ingin segera membersihkan dirinya, walau dia tahu, dosa pembunuhan yang dilakukannya tidak akan pernah menghilang.


"Apel!!"


Apel segera membalikkan wajah menatap sumber suara yang memanggil namanya. Mata merah darahnya menatap sosok Rue yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak penuh kepanikan. Tertegun, dia tidak berani bergerak dan hanya diam di posisinya melihat kemunculan Rue yang tiba-tiba. Perasaan bersalah yang ada telah membuatnya tidak menyadari sosok gadis itu yang mendekat.


"Tunggu, Rue!" panggil Calix dari belakang Rue.


Mata Apel bisa mehelihat Fedrick, Lara, Calix dan yang lainnya yang mengejar Rue. Tapi, dia tetap tidak bergerak.


Begitu melihat Apel, perasaan takut dan panik yang dirasakan Rue pun menghilang. Kembali berlari ke arah Apel sambil menghapus air mata yang ada, sebuah senyum lebar menghias wajahnya. "Apel!!"


Melihat Rue yang berlari mendekatinya sambil tersenyum, Apel merasa sangat sesak. Rue tidak pernah berubah, sejak mereka bertemu hingga sekarang. Gadis itu adalah sosok yang begitu indah, polos dan suci. Karena itulah, semuanya sangat menyakitkan. Mereka terlalu berbeda. Dirinya yang begitu kotor, gelap, dan penuh darah sama sekali tidak pantas menyentuhnya. Kenyataan yang ada, dirinya tidak seharusnya berada di samping gadis itu.


"Berhenti di sana! Jangan mendekat!" perintah Apel tiba-tiba.


Rue tertegun mendengar perintah Apel, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tahu betapa pentingnya Rue bagi Apel.


"A-apel, k-kenapa?" tanya Rue terbata-bata, air mata kembali mengalir turun membasahi pipinya. Dia tidak tahu mengapa Apel tidak mengijinkannya mendekati. Kesedihan dan ketakutan kembali menyelimutinya. Apakah Apel marah padanya? Apakah Apel tidak mau berada di sampingnya lagi?


Apel bisa melihat dengan jelas kesedihan di dalam mata Rue akibat penolakkannya. Rasa sakit dan perasaan bersalah memenuhinya. Selamanya, dia tidak ingin Rue menangis maupun bersedih, dia hanya ingin gadis itu selalu tersenyum, tertawa dengan gembira dan—bahagia.


"A-aku sangat kotor. Kau juga akan ikut kotor jika menyentuh ku..." jawab Apel kemudian. Bangkit berdiri menatap Rue, suaranya sedikit bergetar karena dia mati-matian berusaha mengendalikan dirinya tetap tenang.


Mendengar jawaban Apel, senyum kembali mengembang di wajah Rue. Rasa takut dan sedih yang dirasakannya menghilang seketika. Berlari ke arah Apel, dia meloncat memeluk pemuda itu erat sambil tertawa. "Aku tidak peduli, Apel. Aku tidak peduli sekotor apapun dirimu!"


Apel tidak bergerak sedikitpun. Dia hanya diam membiarkan Rue memeluknya. Rue tidak pernah menanggab dirinya ini kotor sejak pertama kali mereka bertemu, gadis tersebut terlalu polos dan tidak mengetahui apapun. Karena itulah, Apel merasakan sangat sesak dan sakit di dalam hatinya. Apakah yang dilakukannya sekarang benar? Apakah dia boleh menyentuhnya? Apakah dia boleh berada di sampingnya? Jika suatu saat nanti Rue tahu siapa diri mereka sebenarnya dan apa saja yang telah dilakukannya, apakah dia masih mau menyentuhnya seperti ini? Apakah dia akan membencinya? Apakah dia masih bersedia berada di sampingnya? Apakah dia akan meninggalkannya?


"Apel, kau terluka..." Ujar Rue pelan sambil melepaskan pelukannya. Menatap wajah Apel, dia bisa melihat luka sobekan di dahi pemuda tersebut. Luka yang dialami Apel belum sembuh, sebab dia tidak mengijinkan siapapun mendekati ataupun menyembuhkan lukanya saat mereka telah meninggalkan Istana Hirrim.


Mengangkat kedua tangannya menyentuh wajah Apel, Rue ingin menyembuhkan luka yang ada. Namun, sebelum dia melakukannya , Apel tiba-tiba memeluknya dengan erat.


"Apel!!" Panggil Rue terkejut. Wajahnya memerah di dalam pelukan Apel. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan pemuda itu, bukankah tadi dia memerintahkannya supaya tidak menyentuhnya? Mengapa sekarang dia malah memeluknya?


Apel tidak membalas panggilan Rue. Dia memeluknya dengan sangat erat. Dia tidak tahu lagi apa yang harusnya dilakukannya sekarang. Sejak mereka meninggalkan hutan terlarang, dia tidak bisa mengendalikan keadaan sekelilingnya lagi. Apa saja yang dialami mereka berdua belakangan ini membuatnya sadar, dia tidak bisa menghindarkan dirinya dan Rue dari takdir yang mereka miliki. Apapun yang dilakukannya, takdir tersebut selalu mengejar mereka.


"Apel, kau tidak apa-apa?" tanya Rue khawatir dengan sikap Apel yang tidak seperti biasanya.


Apel melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rue. Dia tidak mau membuat Rue khawatir. "Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan lukamu? Maaf, aku tidak bisa menyembuhkan lukamu."


Rue tersenyum dan mengangkat kedua tangannya menyentuh wajah Apel dengan lembut."Aku tidak apa-apa, Apel. Justru kau yang terluka, dan juga menyembuhkan luka sejak dulu adalah tugasku. Hanya itu satu-satunya yang bisa ku lakukan untuk mu..."


Semua yang ada di sana kecuali hanya bisa menatap dengan wajah tidak pecaya dengan apa yang dilakukan Rue. Kedua telapak tangannya yang menyentuh wajah Apel tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih dan menyembuhkan luka yang ada—Rue bisa melakukan sihir tanpa lingkaran dan mantra sihir.


"Mana saja lukamu? Perlihatkan punggungmu, biarkan aku menyembuhkan semua lukamu." Perintah Rue tidak menyadari rasa terkejut mereka yang ada di belakangnya. Melepaskan pelukan mereka, dia membalikkan badan Apel sehingga punggungnya meghadap dirinya.


Semua yang ada di sana bisa melihat dengan jelas tanda lahir berupa sayap yang mengelilingi sebuah lingkaran sihir dengan sebuah symbol aneh di tengahnya pada punggung Apel. Lara segera menyadari tanda lahir itu mirip dengan tanda lahir yang ada pada punggung Rue, perbedaannya hanyalah warna dan juga simbol di tengah lingkaran sihir. Sedangkan untuk Peta yang melihat tanda lahir itu, dia yakin sekali, dia pernah melihat lingkaran sihir dan symbol itu. Hanya saja, di mana?—dia sama sekali tidak bisa mengingatnya.


......................