Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 10



Dalam ruang rapat mansion walikota Radiata, Apel, Rue, Fedrick, Lara, Calix dan Esthel duduk dalam sebuah meja bundar menatap sang tuan rumah. Walikota Radiata adalah seorang laki-laki berambut coklat dengan usia menjelang empat puluh tahun bernama Linden. Badannya cukup tinggi dan tegap, dengan wajah cukup tampan. Hanya saja, wajah tampannya sekarang terlihat cukup kebingungan dengan tamu-tamu di depan mata.


"Bisakah anda menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?" tanya Linden pelan penuh hormat pada Calix. "Mengapa anda berserta Putri Esthel, Pangeran Fedrick dan Putri Lara bisa berada di kota ini?"


"Kalian berdua belum memberitahunya?" Calix menatap Fedrick dan Lara begitu mendengar pertanyaan Linden.


Fedrick hanya bisa tersenyum pahit, sedangkan Lara tetap tanpa ekpresis .Namun, Calix dapat merasakan aura kemarahan dari Lara. Fedrick dan Lara mendapat kesulitan saat ingin menemui sang walikota. Para prajurit penjaga pintu mansion walikota sama sekali tidak percaya saat mereka mengungkapkan jati diri mereka, sehingga mereka berdua terpaksa menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menyakinkan para penjaga akan identitas mereka.


"Baiklah," ujar Calix kemudian melihat diamnya Fedrick dan Lara. "Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dengarkan baik-baik."


"Kenapa kami berdua yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kalian harus mendengar cerita mu?" sela Apel tiba-tiba sambil menatap tajam Calix tidak suka.


Calix tertawa dengan gugup begitu melihat tatapan Apel. "Kalian berdua baru tiba di sini, kan? Jadi kurasa, kalian pasti perlu mengetahui apa yang akan terjadi sekarang."


"Memangnya apa yang sedang terjadi, Kak Calix?" tanya Rue penasaran.


Calix menghela napas dan menjawab singkat. "Perang."


"Perang? Apa itu?" tanya Rue lagi dengan polos.


Semua yang ada di sana terkejut mendengar pertanyaan Rue. Kecuali Apel, mereka semua menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana gadis itu tidak tahu apa itu 'Perang'?


Pandanga semua orang yang terarah padanya membuat Rue merasakan wajahnya memanas karena malu—sepertinya dia telah menanyakan sesuatu yang sangat bodoh.


"Kita akan memerlukan banyak waktu untuk menjelaskan pada gadis bodoh ini." Ujar Lara tanpa ekspresi. Dia benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk Rue yang tidak tahu apa-apa.


"Dengar, Rue," senyum Calix. Dia menatap Rue dan berusaha sebisa mungkin menjelaskan. "Yang dimaksud dengan perang adalah pertempuran untuk merebut suatu wilayah."


Rue segera mengangguk kepala, walaupun sebenarnya, dia masih tidak begitu mengerti apa maksud dari ucapan Calix. Dia tidak mungkin menunjukkan pada semua orang betapa bodoh dirinya, kan?


"Di benua Orsland ini terdapat 6 kerajaan besar. Pertama, kerajaan Hirrim di selatan. Kedua kerajaan Catax di tenggara yang juga merupakan kerajaan Lara. Ketiga, kerajaan Crussader di timur, kerajaan Fedrick. Keempat, kerajaan Entaina timur laut. Kelima, kerajaan Ormund di utara, dan terakhir, kerajaan Arthorn di barat, yakni tempat kita berada sekarang sekaligus kerajaanku." Jelas Calix pelan. Mengepal tangannya erat, dia melanjutkan penjelasannya. "Hubungan keenam kerajaan ini cukup baik selama ini. Seminggu yang lalu, setiap kerajaan menerima undangan dari Raja kerajaan Ormund untuk menghadiri pesta yang di selenggarakannya. Setiap kerajaan pun mengirimkan pangeran atau putrinya untuk menghadiri pesta. Namun yang menanti kami di sana bukanlah pesta, melainkan penjara. Mereka menahan kami dan bermaksud menggunakan kami sebagai sandera untuk mengancam kerajaan kami. Di sana juga kami mendengar rencana invasi mereka terhadap kerajaan lainnya."


Semua yang ada hanya bisa diam mendengar penjelasan Calix, kecuali Linden yang segera membuka mulut bertanya penuh kecemasan. "Yang Mulia Pangeran, bagaimana dengan Pangeran kerajaan Entaina dan Putri kerajaan Hirrim?"


"Kami tidak tahu," jawab Calix. "Kami sama sekali tidak bertemu dengan mereka. Menurut dugaan kami, mereka mungkin tidak menghadiri pesta itu. Pangeran kerajaan Entaina adalah orang yang sangat sibuk dan untuk Putri kerajaan Hirrim—dia itu terlalu pemalu."


Mendengar jawaban Calix, Linden menghela napas. Setidaknya tidak ada pangeran atau putri yang menjadi sandera, "Syukurlah kalau begitu. Tapi, bagaimana anda sekalian bisa berada di sini?" tanyanya lagi.


"Mereka terlalu meremehkan kami. Penjagaan mereka tidak begitu ketat dan saat penjagaan mereka agak lengah, kami berhasil melarikan diri," Calix tersenyum menyeringai dengan pertanyaan itu. "Kami memisahkan diri menjadi dua kelompok untuk membingungkan pengejar di tengah jalan, dan berjanji akan berkumpul di kota Radiata ini untuk menentukan langkah ke depannya."


"Terima kasih untuk informasimu," sela Apel tiba-tiba berdiri, "Namun, masalah ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kami," menatap Rue, dia mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pergi dari sini Rue."


Rue yang masih bingung dan tidak mengerti apa-apa segera berdiri mendengar ucapan Apel. Tangannya segera meraih tangan pemuda itu dan mengenggamnya erat.


Semua yang ada dalam rungan menatap Apel tidak percaya. Perang akan segera pecah di benua Orsland ini, tapi pemuda itu terlihat sama sekali tidak peduli.


"Tunggu!" Calix ingin menghentikan Apel dan Rue yang sudah ingin meninggalkan ruang. Namun, pintu rungan tiba-tiba terbuka. Seorang prajurit berlari memasuki ruangan tersebut dengan wajah pucat pasi "Yang Mulia, Tuan Linden, kota diserang oleh prajurit dari kerajaan Ormund."


......................


Kota Radiata merupakan kota dari kerajaan Arthorn yang terletak paling dekat dengan kerajaan Ormund. Karena itulah, kota inilah yang pertama kali diserang oleh kerajaan Ormund. Langit kota Radiata berubah warna menjadi merah karena prajurit kerajaan Ormund yang menyerang kota membakar rumah para penduduk. Para penduduk berusaha melarikan diri dari pembantaian prajurit kerajaan musuh dan sebagian kecil berusaha melawan untuk menyelamatkan hidup mereka.


"Yang Mulia, sebaiknya anda semua segera meninggalkan kota ini. Di dalam rumah ini terdapat jalan rahasia untuk keluar dari kota." Ujar Linden begitu melihat warna langit yang merah membara. Dia tahu, kekacauan pasti telah terjadi di seluruh kota.


Mendengar ucapan Linden, Calix menoleh menatap Apel, Rue, Fedrick, Lara dan Esthel. "Kalian semua, gunakanlah terowongan rahasia itu. Aku akan membantu untuk mempertahankan kota ini."


Semua yang ada sangat terkejut kecuali Apel yang tetap saja diam dan tanpa ekspresi, serta Rue yang tidak tahu apa-apa.


Melihat mata Esthel, Calix mengerti apa yang ingin diucapkannya. Tersenyum kecil, dia berujar dengan ceria. "Mengertilah, Estheli. Aku adalah raja dari kerajaan ini di masa depan. Aku tidak akan mungkin mengabaikan rakyatku."


"Aku juga akan tinggal di sini membantumu." Balas Esthel cepat, dia tidak mau meninggalkan Calix. Siapa yang tahu, apa yang akan terjadi pada Calix jika dia meninggalkannnya di sini sekarang?


"Tidak Esthel," meraih tangan Esthel, Calix mengenggamnya kuat. "Kau harus pergi dari sini. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau adalah tunanganku, aku tidak ingin kau terluka."


"Aku tidak akan terluka," balas Esthel tidak peduli. "Aku cukup kuat melawan prajurit Ormund."


"Tidak," Calix menggeleng kepala. Kedua matanya menatap lekat mata Esthel. "Bantu aku meminta bantuan dari kota Cirrion."


Esthel tidak menemukan kata untuk membalas ucapan Calix lagi. Mengigit bibir bawahnya, dia hanya dapat mengangguk kepala sambil menahan air mata. Esthel tahu, kota Radiata tidak akan bertahan tanpa bala bantuan.


Senyum kembali memenuhi wajah Calix, melepaskan tangan yang mengenggam tangan Esthel, dia memeluknya erat. "Aku tidak akan apa-apa. Jadi, jangan khawatir."


Esthel mengangguk kepala dan membalas pelukan itu. Dia tidak mengatakan apapun lagi.


Melepaskan pelukannya, Calic mengecup pelan bibir Esthel. "Sekarang, pergilah."


Apel, Rue, Fedrick dan Lara yang melihat tidak mengucapkan sepatah katapun dari tadi. Bersama Esthel, mereka kemudian mengikuti Linden menuju jalan rahasia di dalam mansion.


Calix tidak bergerak, mata birunya menatp mereka semua hingga menghilang dari pandangan. Membalikkan badannya, tanpa membuang waktu, dia berlari keluar menuju medan pertempuran.


Saat Calix tiba di tengah kota, matanya dipenuhi kemarahan. Para penduduk kota tergeletak tidak bernyawa, tidak peduli itu wanita, orang tua ataupun anak-anak. Darah merah ada di mana-mana, para prajurit kerajaan Ormund membantai penduduk kota tanpa belas kasihan.


Dua orang prajurit Ormund yang menyadri kehadiran Calix segera berlari maju sambil menghunuskan pedang. Calix yang diliputi kemarahan mencabut pedang yang ada di pinggangnya dan menangkis serangan tersebut. Dia tidak memberikan kesempatan kepada kedua prajurit itu untuk menyerangnya lagi. Dengan ahlinya, dia memainkan pedang yang ada di tangannya membunuh kedua prajurit.


Beberapa prajurit lain yang melihat temannya dikalahkan Calix bergerak maju sambil menghunuskan pedang. Tidak membuang waktu, Calix segera membuat lingkaran sihir berwarna abu-abu dan menlafalkan mantra sihir. Dari dalam lingkaran sihir tersebut muncul bayangan yang melesat dengan cepat ke arah para musuh.


Para prajurit tersebut sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menghindari sihir bayangan tersebut. Saat mencapai mereka, bayangan tersebut berubah menjadi pedang tipis dan menusuk mereka semua dari bawah.


"Sihir Bayangan! Itu Pangeran kerajaan Arthorn!" teriak salah satu prajurit begitu melihat sihir Calix. Sihir bayangan yang digunakan oleh Calix adalah sihir unik yang hanya dimiliki oleh anggota kerajaan Arthorn.


Mendengar teriakan temannya, semua prajurit Ormund yang berada di tengah kota bergerak menyerang Calix. Calix tidak memiliki kesempatan untuk melakukan sihir lagi. Bergerak menghindar, dia berusaha membalas para prajurit musuh dalan waktu yang bersamaan.


Dengan jumlah yang tidak seimbang Calix mulai kewalahan. Pada saat itu juga, tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat lima orang penyihir Ormund membacakan mantra sihir dan sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di depan mereka.


Calix tahu, tidak mungkin baginya untuk mengagalkan sihir tersebut. Namun, tiba-tiba dari atas sebuah bola api besar melesat cepat menyerang kelima penyihir tersebut. Kelima penyihir tersebut kehilangan konsentrasi mereka sehingga sihir yang mereka lakukan gagal.


Mellihat ke atas asal bola api tersebut, Calix bisa melihat jelas. Di bawah langit malam yang memerah, di atas atap rumah penduduk kota, seorang pemuda berdiri. Berambut hitam dengan kain putih terlilit menutupi mata—Apel.


"Apel?" Calix cukup terkejut dengan kumunculan Apel yang tiba-tiba.


Meloncat turun, Apel bergerak maju menyerang prajurit Ormund yang ada. Gerakannya yang cepat dan kuat membuat para musuh terkejut dan kewalahan.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Calix binggung. Sama seperti Apel, dia bergerak maju menyerang musuh.


"Aku tidak berhutang lagi padamu." Jawab Apel dengan datar tidak peduli.


"Hah! Apa maksudmu?" tanya Calix lagi. Dia sama sekali tidak mengerti arti dari ucapan Apel.


Apel tidak menjawab pertanyaan Calix lagi. Dia kembali bergerak maju untuk menyerang prajurit Ormund yang ada di depan.


......................