
Seorang gadis berambut hitam dan bermata biru tua berdiri di depan sebuah pintu pagar besar berwarna putih. Saat melihat pria berambut serta mata coklat di samping Apel dan Calix, gadis itu melambaikan tangannya." Ketua!!"
Pria yang berada di samping Apel dan Calix membalas lambaian tangan gadis itu. "Aisha!"
"Ketua? Maksud gadis itu kamu ya, Peta?" tanya Calix pada Peta, pria berambut dan mata coklat di sampingnya.
"Iya. Aku adalah ketua dalam salah satu bidang studi di perguruan Erfin. " Jawab Peta tersenyum malu-malu.
"Oh, di usia ini kau adalah seorang ketua?—kau pasti pintar sekali." Puji Calix mendengar jawaban Peta.
"T-tidak," senyum Peta dengan wajah memerah dengan pujian Calix. "Kau terlalu memuji."
Apel dan Calix memutuskan untuk mengikuti Peta ke perguruan sihir Erfin. Mereka berdua tahu, pria yang kemarin diselamatkan Peta di gunung Bold pasti Fedrick dari ciri-ciri dan juga pakaian yang dijelaskan. Peta mengatakan pada mereka bahwa Fedrick hanya kelelahan dan tidak mengalami luka yang serius. Namun, Calix tidak bisa tenang, dia baru bisa tenang jika melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan Fedrick sekarang.
Apel tidak mengatakan apa-apa, dia setuju mengikuti mereka berdua karena berpikir Fedrick mungkin saja memiliki sedikit petunjuk mengenai keberadaan Rue sekarang.
Peta yang berjalan di samping Apel dan Calix mencuri pandang ke arah mereka dengan penuh tanda tanya. Siapa mereka berdua? Jelas mereka kelihatannya bukan tidak seperti orang biasa.
Peta menatap wajah Calix dan terus berpikir dengan keras. Wajah itu sama sekali tidak asing baginya, sepertinya dia pernah melihatnya. Tapi, di mana? Kapan?—dia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Sedangkan untuk Apel, dia sama sekali tidak berani menatap wajahnya walau pemuda itu telah menutup matanya dengan kain putih. Ketakutan terhadap Apel masih tersisa di dalam hatinya. Dia ingat bagaimana mata merah yang penuh kemarahan saat menatapnya—terlalu menakutkan.
Apel yang mengikat kembali matanya, sebenarnya membuat Peta bertanya-tanya dalam hati; mengapa dia menutup matanya? Namun, Peta tidak berani bertanya.
"Syukurlah kau sudah pulang," ujar gadis bernama Aisha itu tersenyum lebar saat melihat Peta, Apel dan Calix tiba di depan pintu pagar tersebut. "Siapa mereka berdua?"
"Mereka teman dari pria yang kemarin ku tolong dari Gunung Bold." Jawab Peta menjelaskan.
"Begitu ya," balas Aisha sambil menganguk kepala. Sedetik kemudian dia segera tersadar akan informasi yang harus disampaikan pada mereka. "Oh iya! Hampir aku lupa. Pria itu sudah sadar."
"Benarkah?" tanya Calix senang.
"Iya." Jawab Aisha tersenyum. Menatap wajah Calix, dia merasa pernah melihat wajah pria tersebut, walau sama dengan Peta, dia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Bagus sekali kalau begitu," tersenyum, Peta kembali menatap Apel dan Calix. "Ayo, aku antarkan kalian menemuinya," mempersilkan mereka berdua melewati pagar putih tinggi yang ada, Peta sekali lagi tersenyum. "Selamat datang ke perguruan sihir Erfin, Calix, Apel."
Sihir merupakan sesuatu yang lazim di dunia ini. Namun, itu tidak berarti setiap orang bisa menggunakan sihir. Seseorang hanya bisa menggunakan sihir jika dia memiliki bakat sihir, dan bakat sihir tersebut tidak dimiliki oleh semua orang, sebab bakat sihir biasanya bersifat keturunan. Seseorang yang memiliki bakat sihir biasanya mempelajari cara menggunakan sihirnya oleh orang tua, keluarga ataupun penyihir lainnya.
Perguruan sihir Erfin merupakan satu-satunya tempat di dunia ini di mana para penyihir mempedalami sihir. Para murid yang berada di sini sama sekali tidak memandang usia, selogan perguruan ini adalah "Tiada batas usia untuk mempelajari sihir". Karena itu, muridnya terdiri dari anak kecil, orang dewasa, maupun orang tua.
Para penghuni perguruan sihir ini jarang berhubungan dengan masyarakat. Dalam mata masyarakat, penghuni perguruan sihir Erfin dipandang sangat aneh karena mereka semua sangat terobsesi pada sihir.
Peta berjalan di depan memimpin Apel dan Calix menuju tempat Fedrick. Sepanjang perjalanan, Calix melihat para murid dari berbagai usia yang berlalu-lalang di depan mata tanpa mempedulikan mereka. Para penghuni sekolah ini menggunakan pakaian yang sama dengan Peta, yaitu jubah berwarna hitam dengan lambang perguruan sihir Erfin di punggungnya.
Saat mereka melewati sebuah taman yang cukup besar di dalam perguruan ini, mata Calix menatap sebuah pedang yang tertancap di atas tanah. Pedang itu sangat indah, pegangannya berwarna putih dan terdapat beberapa permata berwarna merah di tengahnya. Sebuah matra sihir yang tidak pernah dilihat Calix terukir di sepanjang badan pedang tersebut.
"Itu adalah pedang sihir Shire." Ujar Peta tiba-tiba melihat Calix yang menatap lekat pedang tersebut.
"Pedang sihir Shire yang terkenal itu?" tanya Calix terkejut.
"Iya," mengangguk kepala, Peta menjelaskan. "Pedang sihir ini sudah berada di sini bahkan sebelum perguruan ini berdiri, dan sampai sekarang, tidak ada seorangpun yang sanggup mencabutnya. Tidak ada yang tahu siapa pembuat pedang ini dan mengapa pedang ini tertancap di sini."
"Boleh aku mencoba untuk mencabutnya?" tanya Calix penuh semangat. Tidak perlu dijelaskan Peta, dia juga sudah tahu cerita akan pedang ini, sebab Pedang Shire adalah pedang yang sangat terkenal.
"Silakan." Tawa Peta mempersilakan Calix
untuk mencobanya.
Apel tidak mempedulikan Calix, dia menoleh pada Peta. "Sampai kapan aku harus menunggu di sini? Kapan kau akan mengantarkan aku menemui Fedeick?"
"M-maaf, aku akan segera mengantar kalian menemuinya," jawab Peta gugup begitu mendengar pertanyaan Apel. "Mari.."
Melihat Apel dan Peta berjalan menjauh, Calix hanya bisa mengikuti mereka berdua dari belakang sambil mengeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar tidak dipedulikan Apel.
Saat mereka tiba dalam kamar di mana Fedrick berada, mereka melihat pemuda tersebut terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya masih pucat, dan saat melihat Apel serta Calix, dia sangat terkejut. Dia tidak menyangka mereka akan berada di perguruan sihir Erfin sepertinya.
"Apel? Kak Calix?" panggil Fedrick penuh tanda tanya dan berusaha bangkit dari tempat tidur.
Calix berjalan mendekati Fedrick dan membantunya kembali berbaring. Dia bisa melihat jelas Fedrick tidak dalama keadaan optimal. "Kau berbaring saja, Fedrick. "
"Kak Calix, Apel, mengapa kalian berada disini?" tanya Fedrick tidak mempedulikan ucapan Calix.
"Kami bertemu dengan Peta saat melacak keberadaan perampok yang menculik Rue dan Lara di Gunung Ethin. Darinya kami mendapatkan informasi tentangmu, karena itulah kami berada di sini." Jelas Calix sesingkat yang dia bisa.
"Peta?" tanya Fedrick bingung.
"Orang yang menolongmu," jawab Calix melihat Fedrick yang sepertiny tidak tahu apa-apa. Menoleh menatap Peta, dia mengangkat tangan menunjuknya. "Itu, pria yang berada di samping Apel."
Peta tersenyum kepada Fedrick. "Senang berkenalan denganmu, Fedrick."
"Terima kasih karena telah menyelamatkanku, Peta." Balas Fedrick cepat sambil tersenyum membalas salam Peta.
"Apakah kau memiliki petunjuk mengenai keberadaan Rue?" tanya Apel tiba-tiba menyela. Suaranya datar tanpa emosi seperti biasa, dia tidak mempedulikan keadaan Fedrick sedikitpun.
Mendengar pertanyaan Apel, perasaan bersalah menyelimuti Fedrick. "Maaf Apel. A-aku, aku tidak tahu di mana Rue dan Lara sekarang. Aku tidak bisa menjaga mereka, merek diculik tepat di depan mataku dan aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu lemah, andaikan aku lebih kuat, ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku, maafkan aku..."
Mendengar jawaban Fedrick, Apel diam membisu tidak mengatakan apa-apa. Fedrick tidak memiliki petunjuk mengenai keberadaan Rue, dan dia sama sekali tidak menyalahkannya—dia menyalahkan; dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia meninggalkan dan mempercayakan Rue pada orang lain.
Melihat Fedrick yang terus menyalahkan dirinya, Calix berusaha menghibur dan menyemangatinya. "Fedrick, kau tidak lemah. Kau sa—"
"Ahhhhh" teriak seseorang dari luar terdengar kuat memotong ucapan Calix.
Mendengar teriakan tersebut semua yang ada dalam kamar kecuali Apel yang tetap tidak berekpresi sangat terkejut. Mereka bisa mendengar suara keributan dan teriakan yang tidak hentinya dari luar.
"Ada apa ini?" tanya Calix binggung sambil melihat Peta.
"Aku tidak tahu," jawab Peta cepat dengan wajah sama bingungnya. "Aku akan keluar melihat apa yang terjadi." Membalikkan badan, dia langsung berlari keluar dari kamar di mana mereka berada.
"Tunggu! Aku ikut!" teriak Calix j berlari keluar mengejar Peta.
Fedrick berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dia memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari suara teriakan penuh kepanikan dan keributan yang terdengar—sesuatu pasti telah terjadi. Namun, Apel yang masih belum bergerak dari tempatnya tiba-tiba menghentikannya. "Jangan ke mana-mana. Tinggal di sini."
Fedrick mengangkat wajahnya menatap Apel tidak percaya. Ucapan Apel barusan, bolehkah dia berpikir bahwa pemuda itu menghawatirkannya?
Apel yang menyadari pandangan Fedrick tidak mengatakan apapun lagi. Membalikkan badan, dia kemudian berjalan keluar meninggalkan Fedrick seorang diri di dalam kamar. Dia tahu apa yang terjadi di luar, dan juga, dia tahu dia harus melakukan sesuatu untuk dapat kembali melacak keberadaan Rue.
Suara teriakan yang ada berasal dari taman yang baru saja di lalui Apel, Calix dan Peta. Calix dan Peta yang berlari keluar dari kamar Fedrick hanya bisa berdiri mematung dengan mata terbelalak tidak percaya akan apa yang mereka lihat saat tiba di sana.
Naga.
......................