
Fedrick berlari dengan badannya yang kelelahan. Dia tidak beristirahat sedikitpun dan terus melacak keberadaan perampok yang menculik Rue dan Lara.
Bagaimana keadaan Rue dan Lara sekarang? Baik-baik sajakah? Apa Kak Esthel berhasil mencapai kota Cirrion dan meminta bala bantuan untuk kota Radiata tepat pada waktunya? Bagaimana dengan Kak Calix dan Apel sekarang?—pertanyaan tersebut terus berputar dalam kepala Fedrick, dan saat teringat Apel, perasaan bersalah memenuhi hatinya. Pemuda itu mempercayai dan memintanya menjaga Rue, namun, dia telah mengkhianati kepercayaannya itu.
Fedrick merasakan badannya semakin berat, begitu juga dengan pandangan matanya yang semakin buram. Lalu, dia tidak bisa merasakan kakinya lagi. Terjatuh ke tanah, dia merasa kesadarannya semakin menghilang. Di antara sadar dan tidak sadar, dia merasa seseorang berlari mendekatinya "Oi, kau tidak apa-apa?"
"Rue..." gumam Fedrick pelan dan semuanya menjadi—gelap.
......................
Bulan purnama besar menghiasi langit, seorang gadis kecil berlari mengejar seorang anak laki-laki berambut hitam seusianya yang berjalan cepat di depan. Tanpa pakaian gadis kecil itu bisa merasa jelas angin malam yang bertiup dan menebangkan rambut emas panjangnya. Mata hijaunya menatap anak laki-laki di depannya tanpa mempedulikan sekeliling mereka yang penuh dengan pohon-pohon besar.
"Tunggu! Tunggu aku!" teriak gadis kecil itu. Namun, anak laki-laki di depannya tidak menoleh ke belakang sedikitpun—dia sama sekali tidak mempedulikan teriakan sang gadis.
Berlari sekuatnya mendekati anak laki-laki, gadis kecil tersebut mengangkat tangan dan menarik baju anak laki-laki tersebut. Anak laki-laki itu berhenti dan memalingkan wajah kepada sang gadis kecil. Gadis kecil itu bisa melihat sepasang mata merah serta wajah tampan anak laki-laki tersebut meskipun penuh dengan luka.
Gadis kecil itu tersenyum. "Akhirnya kau menoleh juga."
"Lepaskan aku." Perintah anak laki-laki itu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aku lapar!" ujar gadis kecil itu.
"Apa kaitannya denganku? Lepaskan aku!" perintah anak laki-laki itu lagi.
Gadis kecil itu tidak melepaskan gengaman baju sang anak laki-laki, malahan gengamannya semakin kuat. "Aku lapar!" ulang gadis kecil itu sambil menangis. Melepaskan gengaman tangannya, dia kemudian memeluk anak laki-laki itu.
Terkejut dengan tingkah laku gadis kecil tersebut, anak laki-laki itu berusaha melepaskan tangan yang memeluknya.
"Aku lapar!" teriak gadis kecil itu tidak peduli dan mempererat pelukannya.
"Baiklah! Baiklah! Aku akan mencarikanmu makanan, karena itu, lepaskan pelukanmu!" ujar anak laki-laki itu jengkel karena tidak berhasil melepaskan kedua tangan yang memeluk erat dirinya.
Mendengar ucapan anak laki-laki itu, gadis kecil itu melepaskan pelukannya. Tersenyum lebar, dia menatap wajah sang anak laki-laki. "Benarkah?"
Mata merah anak laki-laki itu menatap wajah tersenyum gadis kecil itu sejenak. "Iya, tunggu di sini."
Gadis kecil itu mengangguk kepala dengan senyum yang tetap terlukis di wajah. Dia membiarkan anak laki-laki itu berjalan meninggalkannya, dan saat melihat sosok tersebut akan menghilang di balik pohon besar di depannya, dia berteriak. "Cepat pulang, ya!! Aku akan menunggumu di sini!!"
Anak laki-laki itu kembali menolehkan kepala menatap gadis kecil, dan gadis kecil itu tetap tersenyum kepadanya. Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun lagi sampai sosok anak laki-laki tersebut menghilang di balik pohon.
Anak laki-laki itu tidak pergi lama, beberapa menit kemudian, dia kembali dengan membawa buah-buahan di tangannya. Melihatnya, gadis kecil itu tersenyum dan berlari memeluknya hingga buah-buahan di tangannya jatuh ke bawah tanah.
Melihat buah-buahan yang jatuh ke tanah, gadis kecil itu melepaskan pelukannya dan berlutut memungut buah-buahan tersebut, begitu juga dengan anak laki-laki itu.
Saat memungut buah yang ada, mata hijau gadis kecil tersebut menemukan bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh dengan indah di atas tanah. Menatap terus bunga tersebut, gadis kecil itu menyentuhnya pelan.
"Rue," suara anak laki-laki itu tiba-tiba terdengar dan membuat sang gadia kecil menoleh menatapnya. "Rue."
"Ya?" balas gadis kecil itu bingung.
"Rue," balas anak laki-laki itu melihat kebingungan di wajah sang gadis kecil. "Maksudku, itu adalah bunga rue."
"Bukan, apa yang barusan kamu katakan?" tanya gadis kecil tersebut sambil mengeleng kepala.
Anak laki-laki itu menjawab dengan jengkel mendengar pertanyaan yang tertuju padanya. "Kataku barusan 'Rue—bunga yang kau sentuh itu bunga rue.', dasar bodoh."
Seulas senyum memenuhi wajah gadis kecil tersebut, dan sedetik kemudian berubah menjadi tawa bahagia. Melepaskan buah yang dipungutnya, dia kembali memeluk anak laki-laki itu "Rue. Kau tadi memanggilku Rue. Namaku Rue."
Anak laki-laki itu sama sekali tidak dapat berkata apa-apa mendengar ucapan gadis kecil tersebut. Wajahnya yang jengkel kini berubah menjadi terkejut dan kemudian datar karena menyadari kesalahpahaman yang ada.
Gadis itu melepaskan pelukannya, namun tangannya masih berada di pinggang anak laki-laki itu "Siapa kamu? Apa nama mu?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Anak laki-laki itu tertegun sejenak dengan pertanyaan sang gadis kecil. Diam membisu, dia tidak menjawab. Mata merahnya bertemu dengan mata coklat gadis kecil itu selama beberapa detik. Wajah anak laki-laki itu tetap datar tanpa ekpresi. Namun, sinar matanya kelihatan sangat sedih, dia mengalihkan matanya pada buah Apel yang berada di tanganya.
"Namaku... namaku... tidak ada... aku tidak mempunyai nama... nama ku..." Ujar anak laki-laki itu pelan seperti berbisik. Namun, gadis kecil itu sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkannya, mata hijaunya mengikuti arah pandangan sepasang mata merah anak laki-laki itu, yakni; buah apel merah.
"Apel." Ujar anak laki-laki itu saat melihat mata gadis kecil itu terus menatap buah apel yang berada di tangannya.
Mendengar ucapan anak laki-laki, gadis kecil tersebut kembali mengangkat wajah menatap anak laki-laki itu dan tersenyum "Apel? Jadi nama mu Apel, ya?"
Menyadari kesalah pahaman yang kembali terjadi, anak laki-laki itu menunjukkan buah apel di tangannya. "Buah ini."
"Maksudmu, namamu sama dengan buah ini, ya? Mirip sekali, warna matamu dan warna buah ini mirip sekali, Apel." Tawa gadis kecil itu bahagia.
Gadis kecil yang terus tersenyum menatap wajah anak laki-laki yang penuh dengan luka di depannya kemudian mengangkat tangan dan menyentuh wajah itu pelan. Sinar hangat keluar dari tangan gadis kecil itu dan menyembuhkan luka yang ada. Anak laki-laki itu cukup terkejut dengan apa yang dilakukan gadis kecil tersebut. Namun, dia hanya diam membisu.
"Apel—Rue." Ujar gadis kecil itu sambil menunjuk anak laki-laki itu dan dirinya. Senyum dan tawa memenuhi wajahnya, dan sepasang mata hijaunya berbinar indah penuh kegembiraan.
Wajah anak laki-laki itu tetap tanpa ekspresi. Namun, matanya membesar saat mendengar ucapan gadis kecil di depannya itu.
"Apel, Apel, Apel, Apel…" Panggil gadis kecil itu berulang-ulang dan kembali memeluk anak laki-laki tersebut.
Badan anak laki-laki itu bergetar sejenak. Namun, perlahan, kedua tangannya terangkat membalas pelukan sang gadis kecil. "Rue..."
"Rue..."
"Apel..."
"Rue..."
"Apel..."
"Rue... "
"Rue..."
"Rue, bangun!!" teriak Lara mengejutkan Rue.
Rue membuka matanya, dia melihat Lara berada di samping menatap dirinya jengkel. "Kau mau tidur sampai kapan?"
"Ternyata mimpi." gumam Rue pelan. Dia tidak menjawab pertanyaan Lara, sebab dia masih belum sepenuhnya sadar, dan mereka masih berada dalam kereta kuda yang melaju dengan cepat.
Yang barusan dilihatnya adalah mimpi—mimpi mengenai awal pertemuannya dengan Apel. Seulas senyum segera terlukis di wajah cantik Rue saat dia teringat akan mimpinya itu. Mimpi indah yang tidak pernah dilupakannya.
"Kau bermimpi cowok buta itu?" tanya Lara lagi. Dia tahu, Rue pasti memimpikan Apel karena dia terus memanggil nama pemuda itu saat tidur.
"Lara, Apel tidak buta." Bela Rue sambil menatap Lara cemberut.
"Terserah," balas Lara tidak peduli dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. "Bagiku, dia itu buta."
"Lara, Apel menutup matanya karena menurutnya itu adalah yang terbaik." Ujar Rue masih dengan wajahnya yang cemberut.
Lara merasa kebinggungan saat mendengar jawaban Rue, sebab jawaban itu sama sekali bukan jawaban. Mengapa bagi Apel, menutup matanya adalah yang terbaik? Kalau dipikir-pikir, dia sama sekali tidak tahu siapa Rue dan Apel.
"Rue, siapa kalian sebenarnya?" tanya Lara sambil menatap mata Rue. Jika Apel berada di sini, pemuda itu pasti tidak akan menjawab, dan juga, dia pasti akan menghentikan Rue untuk menjawab. Tapi sekarang ini, pemuda itu tidak ada—ini adalah kesempatan baginya untuk mencari tahu siapa sebenarnya mereka berdua.
"Hah?" tanya Rue bingung begitu mendengar pertanyaan Lara.
"Siapa kalian itu sebenarnya, Rue?" ulang Lara lagi.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Lara," jawab Rue yang tidak mengerti pertanyaan Lara. "Aku adalah aku dan Apel adalah Apel."
"Kapan kau bertemu dengan cowok buta itu, Rue? Apa maksud dari ucapan mu dulu, bahwa kau tidak pernah keluar dari hutan terlarang, serta aku dan Fedrick adalah orang pertama yang kamu temui setelah kau sadar akan sekelilingmu?" tanya Lara terus berusaha mencari tahu.
Mendengar pertanyaan Lara, Rue teringat lagi akan mimpinya barusan. Seulas senyum kembali mengembang di wajahnya yang cantik. "Aku sama sekali tidak memiliki ingatan sebelum bertemu dengan Apel. Saat aku pertama kali membuka mataku dan mulai bisa mengingat sesuatu, Apel telah berada di sampingku. Apel tidak menyukai dunia di luar hutan, karena itu kami tidak pernah keluar dari hutan."
"Karena cowok buta itu tidak menyukai dunia luar, kalian hidup di hutan berbahaya itu selama ini?"
"Lara, hutan itu mungkin berbahaya. Tapi, selama kami hidup di hutan itu, kami baik-baik saja, dan juga, aku tidak mungkin meninggalkan hutan itu tanpa Apel." Senyum Rue terus.
Mendengar jawaban Rue, Lara merasa semakin binggung. Jawaban yang diberikannya bukanlag jawaban, dan terlihat jelas, gadis itu tidak mengetahui apa-apa tentang dirinya maupun Apel. Hubungan mereka berdua jelas sangat dekat, tapi apa hubungan mereka sebenarnya? Kakak beradik?—jelas bukan. Teman? Kelihatannya lebih dari itu. Kekasih? sepertinya juga bukan.
"Rue, apa hubunganmu dengan cowok buta itu sebenarnya?"
"Hubunganku dengan Apel?" tanya Rue kembali begitu mendengar pertanyaan Lara.
"Iya."
Rue tidak menjawab pertanyaan Lara, atau lebih tepatnya, tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Apa hubungannya dengan Apel?—dia tidak pernah memikirkannya selama ini.
"Kami... kami..." Ujar Rue terbata-bata dengan wajah kebingungan, sebab tidak peduli bagaimana dia memikirkannya, dia tidak menemukan jawabannya.
Lara yang melihat Rue tidak mampu menjawab pertanyaannya hanya dapat menghela napas, sepertinya, percuma bertanya kepada gadis di depannya ini.
......................