Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 36



Rue berlari sambil mengamati sekelilingnya. Sejauh matanya memandang, hanya ada—kegelapan. Ketakutan menyelimuti hatinya, dia tidak tahu di mana dia berada sekarang. Terus berlari, tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang berdiri di depan. Dengan segenap tenaga, dia berlari ke arah orang itu. Ketakutan di dalam hatinya sirna dan senyum bahagia mengembang di wajahnya begitu dia melihat sosok orang itu. Meski hanya melihat punggungnya, dia tahu siapa orang itu.


"Apel!" panggil Rue gembira.


Apel menolehkan wajah ke belakang menatap Rue. Namun, dia tidak memberikan reaksi. Menoleh kembali ke depan, dia kemudian berjalan menjauh.


"Apel! Tunggu!" panggil Rue panik.


Apel tidak menolehkan wajahnya lagi. Terus berjalan menjauh, dia seakan tidak mendengar panggilan Rue.


Rue berlari sekuat tenaganya mengejar Apel, air mata mengalir turun dari kedua matanya. Namun, tidak peduli berapa cepat dia berlari, Apel sama sekali tidak terkejar olehnya.


"Apel! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!!" teriak Rue sekuat tenaga. Sosok Apel yang semakin menjauh darinya, ketakutan luar biasa memenuhinya.


"Apel!" Teriak Rue sambil membuka kedua kelopak matanya. Air mata mengalir turun membasahi kedua pipinya dan badannya bergemetar ketakutan.


"Tenanglah, kau sudah tidak apa-apa." Ujar seorang gadis sambil memeluk Rue dan berusaha menenangkannya.


Kehangatan seseorang yang memeluknya membuat Rue tersadar. Menatap sekelilingnya, dia menyadari dirinya berada dalam sebuah kamar yang cukup besar dan indah. Kamar itu berwarna putih dengan beberapa perabotan indah yang tertata dengan rapi.


Mimpi.


Rue menyadari, barusan itu adalah mimpi. Namun, mimpi itu terasa sangat nyata. Terlebih lagi, mimpi itu adalah mimpi yang sama dengan mimpi yang dilihatnya sebelum dia, Apel, Fedrick dan Lara meninggalkan hutan terlarang. Berusaha menenangkan dirinya, dia menyakinkan pada dirinya mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Apel telah berjanji tidak akan ke mana-mana, Apel selalu menepati janjinya—Apel tidak akan pernah meninggalkannya.


Merasakan Rue yang telah tenang, gadis yang memeluknya perlahan melepaskan pelukannya. Menatap wajah Rue, dia tersenyum lembut. "Kau tidak apa-apa?"


"Eh! M-Maaf, aku pasti telah mengejutkanmu." Wajah Rue memerah karena malu, dan menatap gadis di depannya, dia ikut tersenyum. Gadis di depannya sungguh sangat cantik. Dengan rambut bergelombang berwarna hitam serta matanya yang berwarna biru—dia adalah wanita tercantik yang pernah dilihat Rue.


"Tidak apa-apa," gadis cantik itu menggeleng kepala dengan senyum yang tidak kunjung menghilang dari wajahnya. Syukurlah kau sudah sadar."


"Sadar?—Ahhh!" teriak Rue tiba-tiba dan mengejutkan gadis di depannya itu. Dia teringat dengan kejadian yang telah dialaminya. Kapal yang dia, Lara, Mire dan yang lainnya naiki terjebak dalam badai besar pada hari ketiga pelayaran mereka menuju Kerajaan Catax. Dia yang berusaha membantu melipat layar kapal terlempar keluar dari kapal akibat ombak yang menerjang. Dalam lautan di mana badai mengamuk, dia tidak dapat melakukan apa-apa dan mulai kehilangan kesadarannya, lalu setelah itu—dia tidak tahu lagi dengan apa yang terjadi selanjutnya.


Menatap gadis di depannya lagi, Rue bertanya pelan. "Di mana ini?"


"Kau berada di Desa Aule sekarang. Aku menemukanmu terdampar di laut tadi pagi." Jelas gadis itu pelan.


"Terima kasih karena sudah menolongku, emm..." Kebingungan, Rue tidak tahu bagaimana cara memanggil penolongnya tersebut.


"Mirthy. Namaku Mirthy." Ujar gadis itu memperkenalkan dirinya.


Rue segera membalas Mirthy dengan seulas senyum lebar. "Terima kasih, Kak Mirthy. Namaku Rue."


"C-cukup panggil aku Mirthy saja, Rue." Wajah Mirthy memerah dengan cepat, dia sama sekali tidak terbiasa dengan panggilan 'Kak' yang digunakan Rue.


"Baiklah. Terima kasih, Mirthy." Ulang Rue lagi dengan senyum yang semakin melebar.


Mirthy yang melihat senyum Rue ikut tersenyum. Gadis beambut emas di depannya ini sungguh manis, biasanya dia akan sangat gugup jika berhadapan dengan orang yang tak dikenalnya. Namun, tidak tahu kenapa, dia merasa sangat nyaman saat berada di samping gadis ini walau mereka baru saja bertemu.


"Apakah tidak ada orang lain lagi yang terdampar selain aku, Mirthy?" tanya Rue lagi.


"Emm, sama sekali tidak ada orang lain lagi selain kamu, Rue." Jawab Mirthy cepat.


"Begitu ya..." Gumam Rue pelan. Jika hanya dia yang terdampar, kemungkinan besar kapal yang mereka naiki pasti tidak karam. Lara, Mire dan yang lainnya pasti tidak apa-apa. Tapi, di mana mereka sekarang?—dia sama sekali tidak tahu cara menghubungi mereka.


"R-rue, dari mana dan mau kemana kamu? Aku akan membantumu menghubungi keluarga atau temanmu. J-jika kau tidak keberatan..." Ragu-ragu Mirthy menawarkan bantuan saat melihat kebingungan di wajah Rue. Ada kecemasan dalam hatinya, bagaimana kalau dirinya akan dicap terlalu ikut campur urusan orang lain karena ucapannya barusan?


Terkejut, Rue kembali menatap Mirthy penuh harap. "Benarkah?"


Mirthy mengangguk kepalanya.


"Terima kasih, Mirthy." Ujar Rue gembira dan memeluknya.


Wajah Mirthy memerah begitu dipeluk Rue. Dia sama sekali tidak menyangka Rue akan memeluknya, dan juga, kelegaan memenuhinya—syukurlah Rue tidak mempermasalahkan bantuan yang ingin diberikannya. "S-sama-sama, Rue."


"Putri."


"Aku tahu..." Balas Mirthy pelan.


"Putri? Istana? Perayaman?" tanya Rue bingung.


Menatap Rue, Mirthy terbata-bata kembali memperkenalkan dirinya. Dia takut sikap gadis di depannya ini akan berubah jika mengetahui siapa dirinya sebenarnya, tapi, dia juga tahu, dia tidak bisa merahasiakannya. "Namaku adalah Mirthy Adelia Hirrim—a-aku adalah Putri Kerajaan Hirrim, Rue."


"Kau seorang putri?" tanya Rue lagi terkejut. "Kalau begitu, apakah kau kenal dengan Lara?"


"Lara? Maksudmu Putri Lara dari Kerajaan Catax?" Jawab Mirthy dengan sebuah pertanya terkejut.


"Iya, benar sekali!" tertawa, Rue merasa sangat lega karena Mirthy ternyata mengenal Lara. "Dia temanku. Aku terpisah darinya saat kapal yang kami naiki terjebak dalam badai. Bisakah kau membantuku menghubunginya, Mirthy?—katakan padanya aku baik-baik saja."


Mirthy sama sekali tidak menyangka Rue mengenal Lara. Dia pernah bertemu dengan Lara beberapa kali, walau dia tidak pernah berbicara dengannya. Namun, melihat wajah gembira Rue, Mirthy tahu, dia tidak mungkin berbohong, dia pasti benar-benar mengenal Lara.


"Baiklah."


"Terima kasih, Mirthy." senyum Rue lebar. Namun, sejenak kemudian senyum itu menghilang digantikan keraguan. "Emm, Mirthy, bisakah kau membantuku menghubungi seseorang lagi di kota Cirrions?"


"Cirrions? Maksudmu Kota Cirrons di Kerajaan Arthorn?"


Rue mengangguk kepala.


Mirthy tersenyum. "Baikah."


"Terima kasih Mirthy!" teriak Rue senang dan kembali memeluknya. Dia sangat gembira, sebab dengan bantuan Mirthy, dia bisa memberitahu lokasinya sekarang pada Apel.


......................


Rue dan Mirthy tidak tinggal lama di desa Aule. Tidak lama setelah Rue sadar, mereka melanjutkan perjalanan menuju Ioreth, Ibukota Kerajaan Hirrim. Mirthy sebenarnya ingin menunda perjalanan mereka karena Rue baru saja sadar, dia merasa Rue masih memerlukan istirahat. Namun, Rue menolaknya dengan mengatakan dia baik-baik saja. Rue tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Desa Aule, dia ingin mencapai Ibukota Ioreth secepat mungkin, karena dengan begitu, dia bisa mengirimkan pesan kepada Lara dan Apel.


Menggunakan sebuah kereta kuda yang besar dan juga mewah, serta pengawalan sepuluh orang prajurit, perjalanan mereka berjalan dengan lancar. Bersama dengan Rue, Mirthy merasa sangat senang. Dia jarang akrab dengan seseorang karena sikapnya yang pemalu dan mudah gugup. Namun, Rue tidak membuatnya gugup. Sikap gadis itu yang ceria, ramah, dan hangat benar-benar membuatnya sangat nyaman.


"Kapan kita akan mencapai Ibukota Ioreth, Mirthy?" tanya Rue sambil melihat keluar dari jendela kereta kuda. Sejauh matanya melihat, dia tidak menemukan tanda-tanda sebuah kota.


"Mungkin sekitar malam hari, Rue."


"Malam hari, ya..." Gumam Rue pelan sambil menghela napas. Namun, tiba-tiba matanya menangkap suatu pemandangan aneh di depannya melalui jendela kereta kuda.


Di depan matanya ada sebidang tanah kering yang sangat luas. Tidak ada rumput ataupun pohon yang tumbuh di atasnya, pada hal di sekeliling kereta kuda mereka, rumput dan pohon tumbuh dengan subur.


"Itu adalah bekas kota Aureduil, kota yang hilang." Ujar Mirthy tiba-tiba. Dia bisa melihat kebingungan di wajah Rue melihat tanah kering di depan.


"Kota yang hilang?" tanya Rue bingung dan menoleh menatap Mirthy.


Mirthy menangguk kepala. "Iya. Tiga belas tahun yang lalu di atas tanah itu berdiri Kota Aureduil, sebuah kota yang sangat besar dan makmur. Namun, pada suatu malam, kota itu tiba-tiba lenyap seperti di telan bumi, begitu juga dengan semua penduduk kota."


"Eh!" seru Rue terkejut.


"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada kota itu," lanjut Mirthy pelan, mata birunya menatap sendu kota makmur yang kehilangannya sampai kini masih menjadi sebuah misteri. "Sejak saat itu, tanah bekas Kota Aureduil itu menjadi tanah terkutuk. Tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh lagi, dan juga, tanah itu selalu kering seakan-akan mengalami kemarau panjang meskipun diguyur hujan."


"Begitu ya..." gumam Rue pelan dan kembali menatap tanah bekas Kota Aureduil. Tapi, melihat tanah tersebut, dia merasa tidak asing. Rue yakin, pernah melihat pemandangan yang mirip dengan pemandangan di depannya sekarang. Tanah yang tetap kering meski diguyur hujan, tanah di mana tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh di atasnya. Satu-satunya perbedaan yang ada hanyalah tanah yang dilihatnya tidak seluas ini. Hanya saja, dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah melihat pemandangan yang mirip ini.


Sesuai kata Mirthy, mereka tiba di Ibukota Ioreth pada malam hari dan langsung memasuki istana. Rue yang benar-benar kelelahan tidak memperhatikan sekelilingnya lagi. Dia tidak menikmati sedikitpun pemandangan malam Ibukota Ioreth yang ramai.


Sesampai di istana, Mirthy segera memerintahkan seorang dayang untuk mengantarkan Rue ke kamar tamu untuk beristirahat. Dia tahu, gadis itu pasti sangat lelah sekarang. Rue baru sadar tadi pagi dari musibah yang dihadapinya, dan tanpa beristirahat yang cukup, dia langsung melanjutkan perjalanan menuju ibukota.


Dalam kamar yang disediakan untuknya, Rue tidak mempedulikan apapun lagi dan menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. Tempat tidur yang nyaman dan lembut membuat dia merasa sangat mengantuk. Sebuah senyum manis melintas di wajahnya begitu dia memikirkan dia telah berhasil mencapai Ioreth, Ibukota Kerajaan Hirrim,. Perasaan gembira dan senang memenuhi hatinya, dia sudah bisa memberitahu lokasinya kepada teman-temannya, terutama kepada—Apel.


Wajah tersenyum Apel melintas dalam pikiran Rue dan membuat senyum di wajahnya semakin lebar. Menutup mata, dia kemudian membiarkan dirinya terlelap dalam tidur damainya. "Apel..."


......................