Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 27



Calix mengangkat wajahnya menatap langit malam. Mereka telah berjalan seharian mengikuti burung kecil yang menuntun mereka ke tempat persembunyian para perampok dalam Gunung Bold. Untungnya, cahaya bulan di atas langit cukup membantu mereka melihat sekeliling, sebab mereka tidak berani menyalakan obor yang dapat membuat keberadaan mereka ketahuan.


Bejalan dalam diam, tidak ada seorangpun yang mengatakan sesuatu. Calix mengamati teman-teman sepejalanannya yang berjalan di depan. Peta sibuk melihat sekelilingnya yang gelap dan mengikuti burung kecil, Fedrick sepertinya sedang tenggelam dalam pikirannya memikirkan sesuatu, sedangkan Apel, dia tetap saja seperti biasa dan tidak mempedulikan apapun.


Tiba-tiba, Apel yang berada paling depan dari rombongan mereka berhenti.


"Ada apa, Apel?" tanya Fedrick bingung.


"Keluarlah kalian semua!" Perintah Apel dengan suara keras.


Mendengar suara perintah Apel, sekitar dua puluh lima orang muncul dari balik pohon di sekeliling mereka. Pedang terselip di pinggang mereka semua dan beberapa orang mengarahkan anak panah ke arah Apel, Fedrick, Calix dan Peta.


"Aku tidak menyangka kau menyadari keberadaan kami." Tawa pria berbadan besar berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah penuh luka.


Meskipun mereka tidak mengenalkan diri, Apel, Fedrick, Calix dan Peta tahu, mereka adalah perampok, dan pria bertubuh besar itu pasti ketua dari para perampok tersebut. Namun, yang paling penting; apakah gerombolan perampok ini adalah perampok yang mereka cari?


"Kau—" ujar salah satu dari perampok yang ada di sana begitu melihat wajah Fedrick. "Kau adalah pemuda yang waktu itu melarikan diri dan meninggalkan kedua gadis cantik itu, kan?"


Mendengar ucapan perampok itu, Apel, Fedrick, Calix dan Peta, tahu, para perampok di hadapan mereka ini sekarang adalah para perampok yang mereka cari. Calix dan Fedrick tanpa ragu lagi mencabut pedang yang ada di pinggang mereka, Peta yang memang tidak memiliki senjata mempersiapkan dirinya untuk membuat lingkaran sihir serta membacakan mantra, sedangkan Apel—pemuda itu hanya berdiam diri tidak mencabut pedang Shire yang diselipkan di pinggangnya.


"Di mana mereka berdua?" tanya Calix.


Ketua perampok itu tertawa mendengar pertanyaan Calix. "Jadi kalian datang untuk menolong mereka, ya?—mereka berada di tangan kami. Buang semua senjata kalian kalau kalian mau melihat mereka berdua."


Apel, Fedrick, Calix dan Peta, tidak menuruti apa yang dikatakan sang Ketua perampok. Mereka tahu, para perampok ini pasti tidak akan membiarkan mereka keluar dari gunung ini hidup-hidup karena telah mengetahui jalan menuju markas mereka.


"Bunuh mereka!" perintah Ketua perampok.


"Baik, Ketua!" teriak beberapa perampok tersebut dan berlari menyerang Apel dan yang lainnya.


Apel dan Calix tidak tinggal diam membiarkan para perampok itu menyerang mereka. Mereka berdua bergerak dengan cepat menyerang para perampok tersebut, dan dalam beberapa detik saja, para perampok itu telah meringkuk di bawah tanah.


"Di mana mereka berdua?" tanya Apel. Suaranya datar tanpa emosi.


Para perampok yang tersisa sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Mereka tidak menduga kalau Apel dan Calix dapat dengan mudah mengalahkan teman-teman mereka. Kewaspadaan penuh meliputi mereka, kedua pemuda di depan mereka kelihatannya bukanlah orang biasa.


"Panah mereka!!" Ketua perampok itu memerintahkan anak buahnya melepaskan panah yang di arahkan pada Apel dan yang lainnya.


Fedrick dan Peta meloncat menghindari anak panah tersebut, sedangkan Apel dan Calix tetap maju menuju arah Ketua perampok itu sambil menghindari hujan anak panah tersebut.


"Panah terus!" teriak Ketua perampok itu mulai panik.


Fedrick dan Peta tidak membiarkan para perampok itu terus memanah mereka. Mengangkat tangan mereka membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra. Dari lingkaran sihir Fedrick muncul jarum es, sedangkan dari lingkaran sihir Peta muncul pedang angin, kedua sihir tersebut bergerak cepat menyerang para pemanah.


"Jangan khawatir!! Jumlah kita lebih banyak dari mereka! Serang terus!!" teriak Ketua perampok penuh kemarahan. Mencabut pedang di pinggangnya, dia berlari maju untuk menyerang Apel dan Calix diikuti anak buahnya.


Sekali lagi, Apel tidak mengalami kesulitan melawan para perampok itu, begitu juga dengan Calix. Fedrick dan Peta yang tidak bisa mengunakan sihir lagi berusaha mempertahankan diri mereka. Fedrick tidak mengalami kesulitan besar dalam mempertahankan dirinya. Namun, tidak dengan Peta. Dia yang bertangan kosong mulai kewalahan menghadapi para perampok yang bersenjata.


Melihat Peta yang terdesak, Fedrick berlari mendekat dan berusaha menmbantunya. "Kau tidak apa-apa, Peta?" tanyanya saat tiba di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa, terima kasih." Balas Peta cepat.


Fedrick yang berusaha menghindar dan membalas serangan para perampok sama sekali tidak menyadari adanya perampok yang telah menarik busur mengarah ke arahnya. Saat dia menyadari keberadaan perampok tersebut, semuanya telah terlambat, sebab anak panah itu telah melesat dengan cepat mengincar kepalanya.


"Fedrick! Awas!!" teriak Peta. Mendorong Fedrick menjauh, anak panah tersebut menancap di pundaknya. "Ahh!!"


Teriakan kesakitan Peta membuat Apel dan Calix menolehkan pandangan mereka menatap penyihir tersebut. Berdecak tidak suka, Apel segerabl membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra. Sebuah pilar api muncul mengelilingi Fedrick dan Peta.


Para perampok di sekeliling Fedrick dan Peta segera meloncat mundur kebelakang begitu melihat pilar api yang dibuat Apel. Apel dan Calix berhenti menyerang para perampok dan berlari mendekati mereka.


Pilar api yang dibuat Apel menghilang saat dia dan Calix tiba di samping Fedrick dan Peta. Apel tidak mengatakan apa-apa, sedangkan Calix dengan cepat bertanya, "Kau tidak apa-apa, Peta?"


"A-aku tidak apa-apa," jawab Peta lemah dengan wajah pucat pasi. Darah mengalir turun dari pundaknya. Menatap Apel, dia berusaha tersenyum. "T-terima kasih, Apel..."


"Apel?" sela Ketua perampok begitu mendengar ucapan terima kasih Peta. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajahnya, sedangkan matanya menatap Apel penuh tawa. "Jadi, kaukah yang bernama Apel itu?"


Pertanyaan Ketua perampok tersebut dengan segera merebut perhatian Fedrick, Calix, Peta dan bahkan—Apel.


"Kau mengenalnya, Apel?" tanya Calix terkejut, kedua mata birunya menatap Apel tidak percaya.


Apel menoleh kepada Calix. Dia tidak mengatakan apa-apa, namun Calix bisa merasa jelas tatapan tajam yang terarah padanya meski kedua mata pemuda tersebut tertutup kain—sepertinya dia telah salah bicara.


"Apel, Apel, Apel—itu nama yang terus dipanggil gadis berambut emas itu sambil menangis saat aku bersenang-senang dengannya." Tawa Ketua perampok itu.


Ucapan Ketua perampok dengan segera membuat Fedrick, Calix dan Peta tertegun, tidak terkecuali—Apel.


"Apa katamu?!" teriak Fedrick penuh kemarahan.


Ketua perampok itu tertawa lagi, dia sangat senang melihat reaksi Fedrick. "Gadis itu luar biasa cantik. Sayang sekali kalau hanya aku yang bersenang-senang dengannya. Makanya, setelah aku puas bermain dengannya, aku memberikannya kepada anak buahku. Mereka semua sangat berterima kasih dan dengan senang hati bersenang-senang lagi dengannya."


"Kurang ajar!! Beraninya kau!!" teriak Calix penuh kemarahan.


"Dari semua yang ada, gadis itu memanggil cowok buta sepertimu. Kurasa gadis itu pasti sangat mengharapkan kau untuk menolongnya, tapi kau sam—" tambah Ketua perampok itu tidak peduli kemarahan Fedrick dan Calix. Tapi, sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, dengan kecepatan yang luar biasa, Apel telah bergerak mendekati ketua perampok dan berdiri tepat di hadapannya.


Apel menggunakan tangan kanannya mencengkeram leher Ketua perampok itu dan mengangkatnya ke atas. Semua yang ada di sana sangat terkejut melihat apa yang terjadi, sebab semua itu terjadi dalam satu kedipan mata, dan yang paling penting, mereka tidak pernah mengira Apel yang memiliki badan lebih kecil dari Ketua perampok mampu mengangkatnya dari tanah dengan sebelah tangan.


Ketua perampok berusaha untuk melepaskan dirinya. Dia mengangkat pedang di tangan kanannya untuk menyerang Apel. Namun, pemuda tersebut dengan mudah dan cepat memukul tangannya sehingga pedang tersebut jatuh ke atas tanah.


Namun, tiba-tiba mereka semua—berhenti.


Mereka semua yang berada di sana tiba-tiba merasakan suatu perasaan aneh. Perasaan aneh itu seperti suatu perasaan gelisah dan ketakutan yang bercampur aduk. Fedrick, Calix dan Peta yang juga merasakan perasaan tersebut tahu dengan pasti, mereka pernah mengalami perasaan ini sebelumnya. Perasaan ini adalah perasaan yang mereka rasakan saat Apel tiba-tiba bertindak diluar dugaan saat melawan naga di Perguruan Sihir Erfin.


Sang Ketua perampok merasa ketakutan luar biasa saat merasakan apa yang terjadi, dan juga, cengkeraman tangan Apel pada lehernya membuat dia sama sekali tidak bisa bernapas. Memberontak berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman kuat tangan pemuda tersebut, semuanya sia-sia. Karena itu, dia mengangkat kedua tangannya untuk menyerang wajah Apel. Tanpa senggaja, tangan Ketua perampok itu menarik kain yang menutup mata Apel hingga terlepas dan jatuh ke atas tanah.


Merah darah.


Ketua perampok itu berhenti bergerak begitu melihat mata merah darah Apel yang menatapnya. Cahaya bulan membuatnya dapat melihat cukup jelas, namun, bukan hanya karena warna mata itu yang membuatnya berhenti bergerak, melainkan sinar mata penuh kemarahan dan kegilaan yang tersirat.


"Tanganmu ini kah yang menyentuhnya?" tanya Apel tiba-tiba. Perlahan, dia mengangkat tangan kanan ketua perampok itu dengan tangan kirinya. Suaranya terdengar sangat tenang. Namun, siapapun yang mendengarnya bisa merasakan betapa dingin, menakutkan dan penuh kemarahan suara itu. Seulas senyum memenuhi wajah Apel yang menatap wajah ketakutan sang ketua perampok.


Lalu—semua yang ada di sana menatap dengan mata penuh horror melihat apa yang terjadi. Apel mematahkan tangan ketua perampok itu dengan mudah seakan-akan mematahkan ranting pohon.


"Ahhhh!!" Ketua perampok itu berteriak kesakitan. Namun, teriakannya tertahan karena Apel masih mencengkeram lehernya erat.


Senyum di wajah Apel semakin melebar melihat Ketua perampok tersebut. Melepaskan cengkaraman tangan kanannya, Ketua perampok itupun jatuh keatas tanah. Napasnya teregah-engah, dan dia memegang tangan kanannya yang patah dengan tangan kirinya. Air mata mengalir turun dari mata, wajahnya pucat pasi karena kesakitan dan ketakutan yang tidak tertahankan.


Apel membungkukkan badan menangkap tangan kiri ketua perampok tersebut. "—dan tangan ini juga, kan?—yang berani menyentuhnya." ujarnya pelan dan mematahkan tangan kiri tersebut.


"Ahhh!!!" Ketua perampok itu kembali berteriak kesakitan. Dia tidak dapat bergerak lagi karena kesakitan yang dirasakannya. Namun, Apel yang mendengar dan melihatnya justru tertawa sangat gembira.


Berhenti tertawa sedetik kemudian, Apel menoleh pandangannya menatap para perampok yang ada. Para perampok yang ada sangat ketakutan melihat Apel. Keringat mengalir turun dari wajah mereka semua, pemuda yang ada di depan mereka ini sama sekali tidak normal dan sangat—mengerikan.


"Kalian semua juga. Beraninya kalian menyakitinya—beraninya kalian!!!" ujar Apel pelan yang kemudian berubah menjadi terikan kemarahan. Bergerak cepat, tidak mempedulikan apapun, dia mulai menyerang para perampok yang ada.


Fedrick, Calix dan Peta tidak bisa bergerak melihat apa yang terjadi. Mereka bertiga sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka sekarang, di depan mereka, Apel yang bertangan kosong melawan para perampok yang bersenjata. Namun, para perampok tersebut tidak berkutik melawannya. Pemuda itu menghindari serangan yang terarah padanya, menangkap tangan mereka dan—mematahkannya.


Suara teriakan para perampok yang tangannya dipatahkan Apel membuat mereka yang tersisa tidak berani maju untuk menyerang. Apel sendiri terus tertawa terbahak-bahak saat mendengar teriakan kesakitan dan ketakutan yang memenuhi udara.


Membuang senjata, para perampok yang tersisa berusaha melarikan diri. Mereka tidak berani melawan Apel. Namun, pemuda itu tidak membiarkan itu terjadi. Meloncat tinggi ke depanbmelewati mereka, dia berdiri tepat dihadapan mereka semua.


"M-maafkan kami," berlutut dengan badannya yang gemetar hebat, salah satu perampok tersebut meminta pengampunan. "A-apa yang dikatakan ketua kami itu bohong. K-kami sama sekali tidak melakukan apapun terhadap kedua gadis itu."


Namun, Apel seakan tidak mendengar permintaan maaf perampok tersebut. Mengangkat tangan kanannya, kedua mata merah darah pemuda tersebut berbinar gembira menatap para perampok yang tersisa. Semua yang ada disana termasuk Fedrick, Calix dan Peta kemudian melihat dengan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan akal.


Tangan Apel berubah.


Telapak tangann Apel membesar dalam hitungan perdetik. Kuku di tangannya tiba-tiba memanjang dengan cepat dan meruncing sehingga membentuk seperti cakar binatang buas.


"K-kedua gadis itu sama sekali tidak berada di tangan kami! Sesaat setelah gadis itu tiba di markas kami, ada perampok yang menyerang kami. Mereka berdua diculik oleh mereka!!" tambah perampok tersebut lagi sambil berteriak. Ketakutan di wajahnya tidak tertahankan lagi saat menatap Apel.


Sayangnya, Apel tetap tidak mempedulikan apa yang dikatakan perampok itu. Tertawa keras, dia maju menyerang mereka yang tidak berdaya. Kuku tangannya yang panjang mencakar,merobek serta mencabut tangan para perampok tersebut tanpa ragu.


Darah merah para perampok jatuh menyebar ke mana-mana bagaikan hujan membasahi badan Apel. Merasakan hangatnya darah yang ada, pemuda itu mendongak kepala ke atas dan tertawa terbahak-bahak penuh kegilaan—dia terlihat sangat menikmati apa yang dilakukannya.


Fedrick, Calix dan Peta yang melihat pemandangan di depan mata dengan mata terbelalak, tidak dapat menepis perasaan terkejut sekaligus takut dalam hati. Apel memang bukan orang yang terbuka dan suka bersosialisasi, tapi, dia juga bukanlah orang yang suka menyiksa maupun mencabut nyawa seseorang dengan penuh kegembiraan seperti sekarang ini. Apel yang kini berada dihadapan mereka bukanlah Apel yang mereka kenal—Apel yang berada di hadapan mereka sekarang adalah sosok mampu mencabut nyawa siapapun tanpa belas kasihan.


Fedrick dan Calix yang sudah tidak tahan melihat pemandangan di depan mata segera berlari dengan cepat mendekati Apel. Menangkap kedua tangan pemuda tersebut untuk menghentikan aksi gila yang dilakukan, mereka berdua menepis jauh ketakutan dalam hati mereka.


"Lepaskan." Perintah Apel. Suaranya dingin tanpa emosi. Berhenti tertawa, dia menurunkan padangan mata merah darahnya yang penuh kemarahan dan kegilaan pada Fedrick serta Calix.


Fedrick dan Calix merasakan ketakutan luar biasa menyelimuti hati lagi saat mendengar suara dan melihat mata Apel. Tapi, mereka tahu, mereka harus menghentikannya sekarang.


"Hentikan aksimu ini, Apel! Jangan membunuh mereka! Kurasa mereka sama sekali tidak berbohong. Mereka tidak melakukan sesuatu yang menyakiti Rue!" teriak Fedrick keras berusaha menenangkan Apel.


"Benar, Apel. Jangan membunuh mereka, kita masih memerlukan informasi dari mereka mengenai keberadaan Rue dan Lara" Tambah Calix cepat.


"Rue.." gumam Apel pelan begitu mendengar ucapan Fedrick dan Calix. "Rue..."


Apel.


Wajah tersenyum Rue muncul di dalam pikiran Apel dan dengan segera menyadarkan dirinya dari segala kegilaan yang ada. Badannya menjadi sedikit rileks, perlahan, tangan serta kukunya pun kembali seperti semula.


Fedrick dan Calix melepaskan tangan Apel begitu melihat keadaannya yang mulai tenang. Memalingkan wajah mereka menatap para perampok yang ketakutan di hadapan mereka, mereka menelan ludah. Darah, potongan tangan yang putus, teriakan serta tanggisan kesakitan dan ketakutan—pemandangan itu membuat bulu kunduk mereka berdua berdiri.


Menarik napas dan mengontrol emoainya, Calix berjalan ke arah Ketua perampok yang melihat semua yang terjadi penuh ketakutan. "Katakan sejujurnya pada kami, di mana mereka berdua?"


"K-kami tidak tahu," jawab Ketua perampok itu cepat. Mati-matian dia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena dia tahu, salah sedikit, nyawanya akan melayang. "M-markas kami diserang oleh perampok dari kelompok lain tidak lama setelah kedua gadis itu tiba, d-dan mereka berdua diculik oleh mereka..."


Mendengar jawaban ketua perampok tersebut, Apel melesat kearahnya dan mencengkeram kerah bajunya "Siapa perampok yang menculik mereka berdua?"


"A-aku tidak tahu," penuh air mata dan ketakutan pada Apel, Ketua perampok itu menjawab cepat. "Pemimpin dari perampok itu adalah seorang wanita, dan mereka bisa menggunakan sihir."


"Perampok wanita? Bisa menggunakan sihir?" sela Peta yang mendengar penjelasan Ketua perampok tersebut tiba-tiba. "Apakah wanita itu berusia sekitar dua puluhan dan memiliki mata berwarna hijau serta berambut bob hitam pendek?"


Apel dan Calix memalingkan wajahnya kebelakang menatap Peta yang berjalan mendekati mereka dengan bantuan Fedrickm


"Iya. Benar sekali!" jawab Ketua perampok itu sambil mengangguk kepala cepat.


"Mire. Itu pasti Mire dan yang lainnya." Ujar Peta tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya.


......................