Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 5



"Maaf, kami benar-benar telah merepotkan kalian." Fedrick benar-benar meminta maaf sedalam-dalamnya saat mereka telah berada di dalam gua tempat tinggal Apel dan Rue.


"Tidak apa-apa," balas Rue sambil tersenyum. Gadis itu sudah tenang dan tidak ketakutan lagi meski Apel tidak berada di sampingnya. "Santai saja."


"Kami akan meninggalkan hutan ini hari ini." Sela Lara yang dari tadi diam menyantap sarapan paginya dengan tenang.


"Eh! Kalian akan pergi hari ini?" tanya Rue terkejut.


"Iya," jawab Lara yang masih menyantap sarapan. Dia tidak menolehkan sedikit pun pandangannya pada Rue. "Kami harus mencapai Kota Radiata secepatnya."


"Kota Radiata? Secepat itu?" tanya Rue lagi. Mata hijaunya langsung berkaca-kaca menatap Fedrick dan Lara. Mereka akan segera berpisah.


"Iya. Karena itu, bisakah kau menunjukkan jalan keluar dari hutan ini, Rue." Senyum Fedrick, walau sejujurnya dia tidak ingin meninggalkan hutan terlarang secepat ini. Bertemu dengan Apel dan juga Rue—dia masih ingin bersama dan mengenal mereka lebih jauh. Ada sesuatu yang lain dan menarik perhatiannya saat dirinya menatap sosok pemuda berambut hitam serta gadis berambut emas tersebut. Namun, Fedrick juga tahu, apa yang dikatakan Lara benar; mereka harus mencapai kota Radiata secepatnya.


"Aku tidak tahu jalan keluar dari hutan," ujar Rue pelan. Ekspresi bersalah memenuhi wajah cantiknya. "Apel yang tah—"


"Kalian bisa ikut dengan kami." Potong Apel tiba-tiba. Pemuda berambut hitam itu berdiri di depan pintu masuk gua. Sehelai kain putih telah kembali terikat menutup sepasang mata merah darahnya.


Tawaran Apel yang tiba-tiba mengejutkan Fedrick dan Lara. Apa mereka tidak salah dengar? Pemuda itu akhirnya mau berbicara dengan mereka? Mereka boleh ikut?—apakah itu artinya Apel dan Rue juga kna menuju kota Radiata?


"Benarkah?" tanya Rue gembira. Berlari kecil menuju Apel, sepasang mata biru langitnya berbinar-binar karena bahagia. "Kita akan ke kota Radiata??"


Apel tidak menjawab, dia hanya mengangguk kepala. Rue kemudian tertawa dan memeluk pemuda itu dengan erat saking gembiranya. Sejenak kemudian dia melepaskan pelukannya dan berlari memeluk Lara. "Lara, kita akan pergi ke Kota Radiata bersama-sama."


Menatap wajah Rue yang memeluknya dengan penuh senyum, Lara tidak sampai hati memerintah gadis itu melepaskannya. Dia mengakui, dia menyukai senyum polos seperti anak kecil itu. Pasrah dan membiarkan Rue memeluknya, gadis berambut hitam itu merasa sedikit risih sekarang. Bukan terhadap Rue, tetapi dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sangat lemah terhadap Rue? Bahkan terhadap kedua orang tua dan kakak laki-lakinya saja, dia tidak seperti ini.


Fedrick tertawa melihat sikap Rue. Dalam hati, dia merasa sangat senang karena masih bisa bersama Apel dan Rue. Menatap pemuda berambut hitam yang masih berdiri di depan pintu keluar gua, dia tersenyum. "Terima kasih banyak."


Apel diam membisu seperti biasa.


"Kenapa kalian tiba-tiba ingin pergi ke kota Radiata?" tanya Lara tiba-tiba menatap Apel. Dia masih tidak bergerak karena posisinya yang dipeluk Rue dengan erat.


Sekali lagi, Apel tetap diam membisu seakan apa yang diucapkan maupun ditanyakan Lara tidak ditangkap indra pendengarannya. Membalikkan badan, pemuda itu kemudian berjalan keluar.


"Maafkan sikap Apel, Lara, Fedrick. Mungkin dia belum terbiasa dengan kehadiran kalian," ujar Rue tiba-tiba. Dia melepaskan pelukannya pada Lara. Namun, sedetik kemudian, seulas senyum lebar melintas di wajah cantiknya. "Tapi, percayalah, Apel adalah orang paling baik di dunia ini."


Fedrick dan Lara tidak mengatakan apa-apa. Memalingkan pandangannya pada Lara, Fedrick seakan meminta konfirmasi pada gadis berambut hitam itu. Terlalu banyak teka-teki mengenai kedua orang yang baru mereka kenal ini. Tinggal di hutan terlarang, kekuatan Apel, lalu; reaksi dan ucapan Aaron saat melihat mata merah darah pemuda itu. Baik Fedrick maupun Lara merasa, Apel mau meninggalkan hutan ini tiba-tiba seperti ini tidak lain adalah karena keberadaannya yang diketahui Aaron.


......................


Saat Apel, Rue, Fedrick dan Lara meninggalkan gua tempat tinggal mereka menuju Kota Radiata, matahari masih belum berada di atas kepala mereka. Apel hanya menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengepak barang-barang yang diperlukan untuk memulai perjalanan.


Pakaian, makanan, obat-obatan dan keperluan lainnya dikepak pemuda berambut hitam itu dengan cermat dan efektif ke dalam sebuah tas ransel kulit yang kini berada di punggungnya.


Apel memberikan Fedrick dan Lara masing-masing sehelai mantel berwarna biru gelap, sedangkan dirinya dan Rue mengunakan mantel berwarna coklat tua. Fedrick dan Lara cukup terkejut saat menerima mantel tersebut, tapi mereka tidak berkata banyak selain berterima kasih. Mereka memang memerlukan mantel itu untuk melanjutkan perjalanan.


Berjalan menyusuri hutan yang tenang tersebut, Apel memimpin di depan. Seperti biasa, pemuda itu diam membisu seribu bahasa. Rue, Fedrick dan juga Lara yang mengikuti dari belakang juga tidak berbicara banyak.


Fedrick kemudian menatap Rue yang mengamati sekeliling mereka dengan pandangan terpesona. Memberanikan dirinya, dia memulai pembicaraan. "Rue, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Ya?" senyum Rue pada Fedrick.


"Bagaimana kalian bisa tinggal dalam hutan ini?" Fedrick sangat penasaran bagaimana Apel dan Rue bisa hidup dalam hutan ini. Dari barang-barang dalam gua tempat mereka tinggal, terlihat jelas mereka telah lama berada dalam hutan yang tidak berani dimasuki siapapun selama ini.


Lara yang berjalan di samping Fedrick juga menatap Rue. Sama dengan pemuda berambut pirang itu, sebenarnya, dia juga sangat penasaran. Bagaimana Apel dan Rue bisa hidup dalam hutan terlarang ini berdua? Lalu, apa hubungannya Rue dengan Apel?—mereka berdua terlihat jelas bukan saudara.


"Bagaimana aku dan Apel bisa tinggal dalam hutan ini ?" Ulang Rue polos penuh kebingungan.


"Iya." Fedrick mengangguk kepala.


"Kenapa? Apakah aneh kami tinggal di sini?" tanya Rue lagi. Kebingungan memenuhi dirinya dengan pertanyaan aneh yang ada.


"Iya, sangat aneh." Sela Lara cepat.


Rue mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang ada. Sejak dia sadar, dia sudah berada dalam hutan ini bersama Apel. Bagaimana dia menjelaskan itu? Sejenak kemudian, dia menoleh mata menatap Apel. "Apel..." panggilnya pelan berharap pemuda itu bersedia menjawab pertanyaan yang ada.


"Aku tidak tahu," jawab Aprl datar. Dia tidak menolehkan sedikitpun wajahnya ke belakang. "Jangan bertanya padaku."


Jawaban Apel membuat Rue menghela napas. Kebingungan dan rasa bersalah memenuhi wajahnya karena tidak bisa memberikan jawaban kepada Fedrick dan Lara.


"Tidak apa-apa, Rue," Fedrick bisa melihat kebingungan dan rasa bersalah Rue, dan dia tidak ingin membebani gadis bermata hijau tersebut."Kau tidak wajib menjawab pertanyaanku."


Lara tidak mengatakan apa-apa. Mata hitamnya terarah ke sosok tegap pemuda di depan. Rue yang tidak tahu apa-apa, baik dirinya maupun Fedrick percaya. Tapi, Apel yang tidak tahu apa-apa? Mereka berdua tidak percaya. Pemuda pendiam itu terlalu misterius.


Berusaha mengubah suasana yang tiba-tiba terasa canggung, Fedrick mengubah topik pembicaraan. "Kau sudah pernah ke Kota Radiata kan, Rue? Apa yang paling kau sukai di sana? Kudengar, Kota Radiata adalah kota yang indah."


Fedrick dan Lara tertegun mendengar jawaban diluar dugaan Rue. "Kau tidak pernah keluar dari hutan ini?" tanya Fedrick pelan.


Rue mengangguk kepala, "Semenjak aku membuka mata sampai sekarang, aku selalu berada di dalam hutan ini bersama Apel," gadis berambut emas itu kemudian tersenyum lebar. "Dan, perlu kalian berdua ketahui, kalian juga merupakan orang pertama yang kutemui selama ini."


Langkah kaki Fedrick dan Lara terhenti. Mereka tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejut dan juga bingung di dalam hati. Selalu di dalam hutan? Orang pertama yang ditemuinya? Apa maksud gadis berambut emas itu?


"Apa maksudmu, Rue? Menga—" tanya Fedrick. Namun, pertanyaanya terpotong suara Apel yang dari tadi berjalan di depan. "Rue."


"Ada apa, Apel?" tanya Rue bingung dengan Apel yang kini telah berhenti berjalan dan menatapnya.


"Berisik," jawab Apel datar. "Jangan berbicara lagi."


Kebingungan Rue langsung berubah menjadi kesal akan jawaban datar Apel. Melangkah kaki mendekati pemuda berambut hitam itu, dia membuka mulut untuk protes. "Aku tidak berisik, Apel!"


Apel tidak mempedulikan Rue yang terlihat kesal. Arah tatapan pemuda berambut hitam itu kemudian tertuju pada Fredick dan Lara. Dia tidak mengatakan apa-apa; tetap diam membisu. Namun, baik Fredick maupun Lara tiba-tiba merasa merinding.


Dibalik kain yang menutup mata sang pemuda, Fedrick dan Lara tahu, ada sepasang mata merah darah yang menatap tajam mereka. Mata yang memperingati mereka untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.


......................


Saat malam telah tiba, Apel, Rue, Fedrick dan Lara baru beristirahat. Kegelapan malam dengan cahaya bulan sebagai satu-satunya penerangan membuat mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan besok pagi. Udara dingin yang berhembus dan juga kesunyian hutan, mau tidak mau, membuat mereka tetap waspada. Membuat api unggun, Rue, Fedrick dan Lara duduk mengelilinginya untuk menghangatkan diri, sedangkan Apel, pemuda itu berdiri menyandarkan badan pada sebatang pohon tidak jauh dari mereka.


Lara yang menatap api unggu di depannya kemudian memulai pembicaraan. "Hutan ini aneh."


"Aneh apa?" tanya Rue bingung.


"Saat pertama kali aku masuk ke dalam hutan ini, aku masih melihat binatang. Tapi, semenjak kemarin, aku tidak melihatnya lagi." Jelas Lara datar. Kesunyian hutan yang menyelimuti mereka, mau tidak mau, membuatnya merasa sangat aneh dan tidak wajar.


"Kau benar, Lara," tersadar, Fedrick menatap gadis berambut hitam di sampingnya. "Aku juga tidak melihat seekor binatang pun di hutan ini sejak kemarin."


Lara kemudian membalikkan wajah menatap Apel. "Apakah kau yakin ini jalan yang benar untuk keluar dari hutan?"


Apel tidak menjawab pertanyaan Lara. Mereka berjalan ke arah barat, yang berarti masuk lebih dalam lagi dari Hutan Terlarang ini. Pemuda berambut hitam itu mengatakan ini adalah rute tercepat mencapai kota Radiata, dan mereka yang tidak tahu apa-apa mengenai hutan ini hanya bisa percaya. Namun sekarang, ada keraguan dalam hati.


"Ini jalan yang benar, Lara. Percayalah kepada Apel. Apel tidak pernah salah," sela Rue tiba-tiba. Sejenak kemudian, dia langsung tertawa kecil. "Kalau kalian berdua merasa aneh kenapa tidak ada seekor binatang pun yang kalian lihat semenjak kemarin, itu disebabkan karena kalian berada di dekat Apel."


"Karena dia?" tanya Fedrick dan Lara bersamaan. Kebingungan memenuhi wajah mereka.


"Iya," Rue mengangguk kepala sambil tersenyum. "Sejak dulu tidak pernah ada seekor binatang pun yang berani berada di dekat Apel. Semua binatang akan lari begitu Apel mendekat."


Penjelasan Rue hanya membuat Fedrick dan Lara semakin bingung. Mereka berdua menoleh wajah menatap Apel yang ada di belakang. Namun, seperti biasa, pemuda itu tetap diam membisu seakan apa yang dikatakan Rue barusan tidak ada sangkut paut dengan dirinya.


Kebisuan Apel membuat Fedrick merasa tidak enak. Pemuda berambut hitam itu adalah orang paling tertutup yang pernah ditemuinya. Meminta Rue menjelaskan lebih dalam mengenai apa yang dikatakannya barusan di depan Apel—sangat tidak sopan, kan?


Menoleh wajah kembali pada Rue, Fedrick mengubah topik pembicaraan, "Kalian sudah tinggal lama di hutan ini, kan, Rue? Sepertinya hutan ini sama sekali tidak berbahaya seperti yang diceritakan orang."


"Memangnya apa yang dikatakan orang tentang hutan ini?" tanya Rue dengan penuh rasa ingin tahu.


"Hutan ini terkenal dengan jebakan sihir-sihir kuno dan makhluk-makhluk sihir." Jawab Lara, mata hitamnya menatap api unggun.


"Kalau begitu mereka semua salah besar," tawa Rue mendengar jawaban Lara. "Selama berada di hutan ini, aku tidak pernah menemui jebakan sihir maupun mahluk sihir. Hutan ini sama sekali tidak berbahaya."


Fedrick dan Lara kembali memikirkan Hutan Terlarang ini begitu mendengar tawa Rue. Apa yang dikatakan gadis itu tidak salah, hutan ini sama sekali tidak berbahaya seperti yang dikatakan orang. Tidak ada jebakan sihir maupun makhluk sihir di dalamnya, sebab selama perjalanan ini, mereka tidak bertemu apapun.


"Kurasa kau benar, Rue." Tersenyum Fedrick menyetujui apa yang dikatakan Rue.


Namun, tiba-tiba saja, Apel berjalan mendekati mereka. Pemuda berambut hitam itu berdiri tepat di samping Rue dalam diam. Pandangan matanya yang tertutup kain terarah pada pohon-pohon besar di depan.


Kebingungan memenuhi Rue, Fedrick dan Lara.


"Ada apa, Apel?" Mendonggak kepala menatap Apel, Rue bertanya pelan.


Suara ribut tiba-tiba terdengar dengan keras. Rue, Fedrick dan Lara secara refleks langsung berdiri. Pandangan mata mereka terpusat pada arah datangnya keributan. Api unggun yang mereka nyalakan membuat mereka masih bisa melihat walau kegelapan malam menyelimuti.


Suara keributan yang mereka dengar, tidak lain adalah suara ribut dari beberapa batang pohon besar yang tumbang. Ada sesuatu yang besar mendekati mereka dengan cepat.


"Apa it—" ucapan Fedrick tidak pernah terselesaikan saat dia melihat apa yang kemudian muncul dari balik pohon besar di depannya; seekor laba-laba raksasa.


"B-bagaimana bisa.." Rue terbata-bata mengeluarkan suaranya. Mata hijaunya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihat. Bertahun-tahun hidup di hutan ini, dirinya tidak pernah menemui laba-laba seperti itu. Hutan ini selalu tenang dan damai, kan?


......................