Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 30



"Dasar pembawa malapetaka!!!" teriak salah seorang wanita yang mengelilingi anak kecil tersebut.


"Benar!! Lebih baik kau mati saja! Semenjak kau datang, desa ini terus dilanda kemalangan!!" tambah seorang pria yang juga berada di sana. Matanya mentap penuh kemarahan anak kecil yang tidak bergerak sedikitpun.


Anak itu tidak membalas ucapan para penduduk desa yang terus memaki dan menyudutkannya. Berdiri diam di tempatnya, kedua mata hijaunya menatap para penduduk desa yang mengelilinginya tanpa emosi.


"Mau apa kau? Ingin mengutuk kami?!" tanya pria barusan sekali lagi. Nada suaranya semakin meninggi, dan dia mengepal tangannya kuat.


Anak itu tetap diam membisu menatap mereka semua.


"Jangan menatap kami seperti itu!!" mengangkat tangan kanannya, pria dan menampar pipi anak kecil itu.


Anak kecil itu tetap tidak bergerak meski menerima tamparan di pipinya. Tidak ada ekspresi rasa sakit ataupun takut di wajahnya. Mengangat wajahnya menatap para penduduk desa, mata hijaunya tetap saja datar tanpa emosi.


"Kubilang jangan menatapku seperti itu!!" berteriak penuh kemarahan, pria itu sekali lagi mengangkat tangannya untuk memukul anak di depannya. Namun, sebelum tangannya menyentuh anak itu, Apel telah berdiri di samping menangkap tangan tersebut dan menghentikan aksinya.


Para penduduk desa yang ada di sana sangat terkejut begitu melihat Apel, begitu juga dengan anak kecil tersebut.


"Siapa kau? Lepaskan tanganku?!" berteriak keras, pria yang tangannya ditangkap Apel menatapnya penuh kemarahan.


Apel tidak menjawab pertanyaan pria tersebut maupun melepaskan tangannya. Dia hanya berdiam diri tanpa ekspresi seperti biasa.


Melihat sikap Apel, kemarahan memenuhi para penduduk desa itu. Mereka tidak menyukai sikapnya yang tiba-tiba ikut campur itu. Kain putih yang menutup matanya membuat dia terlihat seperti orang buta, karena itu, tanpa takut, beberapa penduduk desa maju ingin menyerang. Namun, tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti. Melihatnya yang berdiri tanpa gerak, tiba-tiba ketakutan menyelimuti hati mereka. Tidak tahu mengapa, mereka semua merasa lebih baik jangan mencari masalah dengan pemuda tersebut.


Pria yang tangannya ditangkap Apel langsung berjalan menjauh begitu tangannya bebas, demikian juga dengan para penduduk desa yang berada di sana. Wajah mereka terlihat tidak puas, namun mereka juga tidak berani melawan.


Tiba-tiba salah satu penduduk desa yang berjalan menjauh membalikkan badan menatap Apel. "Anak itu adalah pembawa malapetaka, sebaiknya kau tidak mendekatinya."


Apel tidak mempedulikan apa yang dikatakan penduduk desa tersebut. Berdiam diri di tempat, dia baru melangkah meninggalkan tempat itu saat merasa situasi telah tenang. Namun, baru beberpa langkah diambilnya, dia bisa merasakan anak kecil yang menjadi sasaran kemarahan para penduduk desa mengikutinya. "Jangan mengikuti ku." Ujarnya datar.


Langkah kaki anak itu terhenti mendengar ucapan Apel. Namun, sejenak kemudian, kakinya tetap melangkah mengikuti.


Apel tidak mengatak apapun lagi, dia tidak menghentikan anak tersebut, namun dia sekaligus juga tidak peduli. Berjalan menuju padang rumput yang telah kering dan menguning tidak jauh dari desa, dia membaringkan badannya.


Anak kecil yang mengikuti Apel berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Menatap wajah Apel yang tertutup matanya, dia tidak mengatakan apapun. Namun, pikirannya cukup kebingungan. Biasanya, orang akan menjauhinya jika mendengar dia adalah pembawa malapetaka, begitu juga dengan orang yang menolongnya saat ditindas. Mereka hanya akan berbaik hati pada awalnya, setelah mengetahui apa yang bisa dilakukannya, mereka akan takut, membenci dan menjauhinya—menolak keberadaannya.


Menatap Apel terus, anak kecil itu tahu, Apel adalah pemuda yang tadi pagi berjalan dengan mantel penuh noda darah menuju desa ini, dan pemuda ini bukanlah orang biasa. Ada sesuatu yang aneh padanya—sesuatu yang gelap dan mengerikan. Namun, dia sama sekali tidak takut padanya, karena dia juga tahu, meski pemuda ini tidak memberikan reaksi apapun kepadanya—dia tidak akan menolak keberadaanya. Pemuda ini tidak akan takut meskipun tahu apa yang bisa dilakukannya.


Menutup kedua mata hijaunya, anak kecil itu ikut berbaring di atas rumput kering. Tangan kanannya tanpa takut dan ragu mengengam erat ujung pakaian Apel.


Apel tidak bergerak maupun menghentikan apa yang dilakukan anak itu, dia membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya. Tidak lama kemudian dia bisa mendengar dengan jelas suara dengkur pelan anak kecil di sampingnya itu.


......................


Anak kecil berambut pirang itu membuka mata hijaunya saat matahari pagi menyinarinya. Terkejut saat menemukan Apel tidak berada di sampingnya lagi, dia segera melihat sekelilingnya, berharap bisa menemukan pemuda itu. Namun, sejauh matanya melihat, dia tidak menemukannya.


Bangkit dari tempatnya, tanpa membuang waktu, dia segera berlari menuju desa. Berlari secepat yang bisa dilakukan kedua kakinya, dia memutuskan menuju penginapan dalam desa. Di desa Sangrath hanya memiliki satu penginapan, karena itu, pemuda itu pasti ada di penginapan itu.


Memasuki desa, dia yang berlari tidak mempedulikan sekelilingnya tanpa sengaja menabrak salah seorang penduduk desa.


"Siapa yang menabr—" teriak pria yang ditabrak anak kecil itu kesal. Namun, begitu melihat siapa yang menabraknya, kemarahan memenuhi hatinya. "Kau lagi!! Dasar anak pembawa kesialan!!"


Teriakan keras pria itu membuat para penduduk desa yang ada berkumpul untuk melihat apa yang terjadi.


Anak itu tidak mempedulikan teriakan kemarahan yang ada. Pikirannya sekarang hanya penuh dengan pemuda yang ditemuinya kemarin. Namun, saat dia ingin berlari meninggalkan tempat itu, pria yang ditabraknya itu menarik bajunya. "Sudah cukup kau membawa malapetaka di sini! Kami tidak akan membiarkan kamu berada di desa ini lagi!"


"Kalau kita usir dia dari sini, bagaimana jika dia kembali lagi?—atau, bagaimana jika dia mengutuk kita semua seperti apa yang biasanya dilakukannya?" ujar penduduk desa lainnya.


"Kalau begitu kita bakar saja dia. Jika kita membakarnya sampai mati, dia tidak akan bisa mengutuk kita lagi."


"Benar! Bakar saja dia!"


"Iya, benar sekali! Bakar saja anak pembawa malapetaka ini!!"


"Bakar! Bakar! Bakar!" teriak para penduduk desa itu bersama.


Anak kecil itu terkejut begitu mendengar apa yang diteriakkan penduduk desa ini. Wajahnya memucat, dia tahu sekali apa yang dikatakan penduduk desa ini bukan gertakan ataupun bohongan—mereka benar-benar akan membakarnya hidup-hidup.


Menyeret paksa anak kecil di tangannya, pria yang kini memimpin para penduduk desa melangkah menuju lapangan di tengah desa. Wajah mereka semua penuh tekad, dan mereka percaya—desa mereka akan bebas dari semua kemalangan jika anak itu menghilang.


"Bakar! Bakar! Bakar!!"


......................


"Keempat ekor kuda ini adalah kuda terbaik dan tercepat di desa ini. Aku harap tidak mengecewakan anda semua." Jelas pemilik penginapan sambil tersenyum kepada Apel, Fedrick, Calix dan Peta.


Calix memeriksa keempat ekor kuda tersebut. Keempat kuda itu memiliki badan yang tegap dan kaki yang kuat, tidak diragukan lagi kuda-kuda ini memang merupakan kuda unggulan. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, keempat ekor kuda ini kelihatan sangat gelisah dan ketakutan.


"Apa kau yakin kedua kuda-kuda ini baik-baik saja? Kenapa mereka kelihatannya sangat ketakutan?" tanya Calix kepada pemilik penginapan.


Pemilik penginapan itu menggaruk kepalanya. Tapi, dia tetap memasang senyum di wajahnya "Aku tidak tahu. Kuda-kuda ini tidak pernah bersikap seperti ini. Saat aku membawanya kemari tadi subuh, mereka masih baik-baik saja. Kurasa mereka hanya belum beradaptasi dengan tempat baru. Percayalah, tuan—ini benar-benar kuda terbaik di desa."


"Apa kau yakin?" tanya Calix lagi. Dia merasa pemilik penginapan hanya mengarang alasan untuk menyakinkannya.


"Sampai kapan kau mau membahas kedua ekor kuda di depanmu itu?" Sela Apel tiba-tiba mengejutkan Calix.


"Apel, aku tidak mau perjalanan kita terhambat gara-gara kud—" Balas Calix cepat. Namun, ucapannya terhenti begitu dia melihat para penduduk desa berjalan melewati mereka sambil menyeret seorang anak kecil ke lapangan desa.


"Bakar! Bakar!"


"Bebaskan desa kita dari kemalangan!"


"Bakar!!"


Meski tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari apa yang diteriakkan para penduduk desa Sangrath, Apel, Fedrick, Calix dan Peta tahu, apa yang ingin mereka lakukan.


Fedrick dan Calix segera berlari ke arah kerumunan penduduk desa. Namun, pemilik peginapan dengan cepatbmenarik baju dan menghentikan mereka berdua, "Jangan, tuan," ujarnya cepat penuh kepanikan. "Jangan menolong anak itu—biarkan saja. Anak itu adalah pembawa malapetaka. Biarkan saja para penduduk desa melakukan apa yang mereka inginkan."


Fedrick dan Calix membalikkan wajah menatap pemilik penginapan itu dengan penuh kemarahan begitu mendengar ucapannya. Di hadapan mereka sekarang ini ada seorang anak kecil yang akan dibakar hidup-hidup, dan pemilik penginapan ini menyuruh mereka untuk membiarkan dan melihat itu terjadi?


"Lepaskan tanganmu!" perintah Calix penuh kemarahan.


Melihat wajah penuh kemarahan Fedrick dan Calix, pemilik penginapan itu melepaskan tangannya "Jangan mencoba menolongnya, tuan," ulangnya lagi dengan pelan. Sebagai salah satu penduduk desa, dia jelas tahu kenapa anak itu dicap sebagai pembawa malapetaka. "Selama ini, siapapun yang menolong anak itu pasti akan mengalami kesialan atau lebih buruk lagi—kematian."


Fedrick dan Calix tidak mempedulikan apa yang dikatakan pemilik penginapan itu. Mereka berdua dan juga Peta segera berlari menuju lapangan desa, sedangkan untuk Apel, dia hanya berjalan mengikuti mereka dari belakang.


......................