
Bulan purnama besar menghiasi langit malam. Api melahap bangunan-bangunan yang ada dan membuat langit malam menjadi merah membara. Suara teriakan dan tangisan terdengar di mana-mana, semua orang berlari menyelamatkan diri mereka sendiri. Seorang anak laki-laki dengan mata merah darah melihat pemandangan tersebut sambil tersenyum. Badan serta wajah anak laki-laki itu penuh dengan tato berwarna hitam, dan rambut perak panjangnya terbang tertiup angin malam.
Tangan, badan dan wajah anak laki-laki itu penuh dengan darah merah. Melihat ke bawah tanah tempat dia berdiri, tubuh-tubuh orang yang sudah tidak bernyawa tergeletak di mana-mana bersimbah darah.
Mengangkat tangan kanannya yang memiliki kuku panjang dan tajam seperti binatang buas, anak laki-laki itu menjilat darah yang ada. Senyum di wajahnya bertambah lebar saat dia merasakan darah tersebut. Perasaan enak dan puas menyelimutinya, dia terus menjilat darah di tangannya hingga bersih.
Menurunkan tangannya, mata merah darah anak laki-laki terarah kepada orang-orang yang berlari di depan. Dengan senyum yang masih tetap terhias di wajah, dia melesat ke arah mereka. Kecepatan geraknya sangat luar biasa, dalam sedetik saja, dia telah berada di samping salah satu pria yang berlari di depan mata.
Mengangkat tangan kanannya lagi, dengan kuku yang sangat panjang serta tajam seperti cakar, dia menusuk tepat jantung pria yang berada di sampingnya, dan—menariknya keluar. Kehangatan dan detakan organ jantung tersebut masih terasa dalam gengamannya, mengangkat kepala ke atas, dia tertawa terbahak-bahak penuh kebahgiaan dan juga—kegilaan.
****Apel**** membuka matanya. Bernapas tidak beraturan, keringat mengalir turun dari wajahnya. Berusaha mengontrol dirinya, dia menghapus keringat yang ada dengan tangannya yang bergetar hebat.
"Mimpi," gumam Apel pelan sambil menutup mata. "Itu hanyalah mimpi buruk... "
Mimpi yang paling tidak ingin dia mimpikan. Mimpi buruk yang ingin dia lupakan. Tidak ada darah lagi, tidak ada kematian dan kehancuran—Apel tidak ingin mengingatnya lagi.
Apel..
Suara pelan Rue berserta senyum indahnya terlintas dalam pikiran Apel. Seketika apa yang ada dalam pikirannya menghilang. Tangannya berhenti bergetar, kehangatan dan kedamaian memenuhi hati—menghapus mimpi buruk yang dialaminya.
Membuka mata, seulas senyum menghiasi wajah tampan Apel, tidak peduli apa yang terjadi, senyum di wajah cantik Rue selalu berhasil menjadi kekuatannya. Pentingnya gadis itu baginya, mungkin tidak ada yang tahu.
Mengangkat kepala menatap langit sore yang menyelimuti Kota Radiata, Apel menghela napas dan kembali mengikat matanya. Meloncat turun dari pohon tempatnya tertidur, dia melangkah pelan meninggalkan taman.
Keadaan kota sudah mulai tenang walau bau darah masih saja tercium dengan jelas di hidung Apel. Setidaknya suara tanggisan tidak lagi terdengar, dan juga yang paling penting, tidak ada lagi jenazah mereka yang mati. Calix dan Linden sepertinya telah berhasil mengendalikan kota.
Seorang prajurit yang melihat Apel berlari mendekatinya. "Tuan Apel, Yang Mulia Pangeran Calux mencari anda. Anda diminta kembali ke mansion walikota secepatnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan beliau."
Apel tidak memberikan reaksi sedikitpun akan ucapan prajurit itu. Masih berdiri di tempatnya, dia berpikir, sejak kapan Pangeran itu berani memerintahnya?—dan juga, kenapa prajurit ini memanggilnya 'tuan'? Apel ingin mengabaikan ucapan prajurit tersebut. Namun, dia kemudian mengurungkan niatnya itu. Bagaimana kalau hal penting yang ingin disampaikan Calix adalah mengenai Rue?
"Apel!" panggil Calix gembira begitu melihat Apel.
"Akhirnya kau hadir juga. Ayo, duduk di sini." Penuh senyum, dia menunjuk kursi kosong di sampingnya.
Apel merasakan keanehan. Mengapa dia dipersilakan duduk di samping mereka yang sepertinya sedang mengadakan rapat penting? Namun, dia menyuarakan pertanyaan dalam hatinya. Berjalan kearah kursi kosong ditunjuk Calix, dia duduk tanpa mengatakan apapun.
Semua yang ada di sana melihat Apel dengan wajah penuh kebingungan dan tanda tanya, kecuali Calix dan Linden.
Calix tersenyum, dia tahu apa arti pandangan mata mereka semua "Percayalah padaku, meski matanya ditutup kain, dia bisa melihat dan merasakan sekelilingnya dengan akurat. Jadi kalian tidak perlu khawatir, dan juga, dia tidak buta."
Semua yang mendengar penjelasan Calix mengangguk kepala. Meski agak ragu dengan Apel mereka semua mempercayai apa yang dikatakan pangeran mereka.
"Aku tidak merasa perlu berada di sini." Ujar Apel tiba-tiba. Suaranya datar, namun terasa jelas dia tidak ingin berada dalam ruangan ini.
"Jaga sikapmu!! Beraninya kau bersikap kurang ajar seperti itu pada Yang Mulia Pangeran Calix!" teriak pria yang duduk di samping Linden penuh kemarahan. Dia sama sekali tidak bisa menerima sikap Apel yang menurutnya tidak sopan terhadap Calix.
"Tidak apa-apa," sela Calix menenangkan pria tersebut. "Dia temanku, dan tidak perlu memperhatikan tata krama diantara kami."
Mendengar ucapan Calix, Apel tidak memberikan reaksi seperti biasanya. Dia hanyabdapat berpikir, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengaku sebagai temannya?—pertama Fedrick, dan sekarang Calix. Seingatnya, dia sama sekali tidak pernah berteman dengan Pangeran di sampingnya ini. Alasan dirinya menolong Calix, tidak lain disebabkan karena Calix pernah menolong Rue—dia hanya tidak ingin berhutang budi pada siapapun.
"Kami membutuhkan bantuanmu, Apel" lanjut Calix serius sambil menatap Apel. "Pasukan Ormund bermarkas di timur kota Radiata. Kami telah mendapat informasi kalau mereka akan menyerang kota Radiata lagi besok, dan kami tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi."
Apel tetap tidak memberikan reaksi akan ucapan Calix yang mengejutkan.
"Karena itu, kami ingin menyerang Prajurit Ormund besok pagi."
......................