
Perampok yang menyandera Rue dan Lara beristirahat di dalam sebuah hutan menghindari keramaian. Rue duduk melihat para perampok yang ada di depannya tanpa mengatakan apapun di samping Lara. Tiba-tiba saja, dia mengangkat wajahnya dan menatap langit, "Apel..." panggilnya pelan.
Tdak tahu mengapa, Rue merasakan telah terjadi sesuatu. Perasaan tidak tenang, ketakutan, kegelisahan tiba-tiba menyerang dirinya. Bangkit berdiri, wajahnya memucat dan badannya bergemetar hebat.
"Rue, ada apa?" tanya Lara khawatir melihat sikap Rue yang tiba-tiba.
Rue tidak menjawab pertanyaan Lara, melangkah kakinya, dia membalikkan badannya dan berlari ke belakang menjauhi para perampok tersebut.
"Hei!" teriak salah seorang perampok begitu melihat Rue. "Dia mau melarikan diri! Tangkap dia!"
Mendengar teriakan temannya, Mire, Vin dan Van berlari mengejar Rue diikuti Lara.
"Rue! Berhenti!" teriak Lara.
Rue yang terus berlari sama sekali tidak mempedulikan teriakan Lara. Perasaan dalm hatinya semakin membesar, dan, dia kenal dengan perasaan ini. Dulu-dulu sekali, beberapa tahun yang lalu dalam hutan terlarang, dia pernah merasakannya—telah terjadi sesuatu kepada Apel.
"Rue, berhenti!" perintah Lara saat dia berhasil menyusul Rue. Menarik pundak dan membalikkan badan gadis di depannya, perasaan kesal memenuhi dirinya, apa yang dipikirkan cewek bodoh ini tiba-tiba melarikan diri seperti itu?
Lara berniat memarahi Rue. Tapi, saat dia melihat ekspresi wajah gadis berambut emas tersebut, dia membatalkan niatnya. Wajah Rue sekarang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran.
"L-lara, Apel, A-apel...," terbata-bata berusaha mengeluarkan kata dari mulutnya, air mata yang sudah tidak terbendung jatuh membasahi pipi Rue. "A-aku harus berada di sampingnya, a-aku harus…"
Lara tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Rue, begitu juga dengan Mire, Vin, dan Van yang berada di belakang mereka.
Lara segera memeluk Rue dengan erat dan berusaha menenangkannya. "Tidak apa-apa, Rue. Tidak apa-apa..."
"Tidak, Lara!" teriak Rue keras dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Lara. "Aku tahu sesuatu telah terjadi sesuatu padanya! Aku harus segera menghentikannya, jika tidak, aku takut aku akan kehilangannya!"
"Rue, tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa dengan Apel. Dia sangat kuat, jadi pasti dia pasti tidak akan apa-apa!" Lara terus berusaha menenangkan Rue. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia sama sekali tidak pernah melihat Rue bersikap seperti ini.
"Bukan! Bukan itu, Lara! Maksudku bukan itu! Aku harus menghentikan Ap—" Balas Rue. Namun, sebelum kalimatnya itu selesai Mire telah berjalan ke samping mereka dan memukul belakang lehernya. Pandangan Rue menjadi gelap, wajah tersenyum Apel yang sangat jarang diperlihatkannya melintas di pikiran, "Apel..." panggilnya lemah sebelum dia kehilangan kesadaran.
......................
"Apel, berhenti!!"
"Apel, jangan!!"
Apel...
Apel tiba-tiba berhenti berlari begitu suara yang memanggilnya dengan lembut melintas di telinganya. Dia kenal sekali dengan pemilik suara yang memanggilnya, wajah pemilik suara itu terbayang dengan sempurna di dalam pikirannya. "Rue…" Ujar Apel pelan dan tersadar dari pikiran gilanya.
"Apel! Menghindar!!"
"Apel!! Awas!!"
Suara teriakan Fedrick serta Calix terdengar oleh Apel, dan saat dia menyadari sekelilingnya, naga yang dilawannya telah berada sangat dekat dengan dirinya. Secara reflek, dia meloncat menghindar. Naga yang penuh kemarahan tersebut kembali terbang ke atas langit begitu Apel berhasil menghindarinya.
Saat mendarat di atas tanah, Apel bernapasnya terengah-engah dan keringat mengalir turun dari wajahnya. Dia sekarang berada di dalam perguruan sihir Erfin di hadapan Fedrick, Calix dan murid-murid perguruan sihir Erfin, karena itu. dia tidak boleh kehilangan kesadaran ataupun kewarasannya di sini.
Fedrick dan Calix berlari mendekati Apel diikuti Peta yang terlihat agak ragu-ragu.
"Apel, kau tidak apa-apa?" tanya Fedrick khawatir
"Aku tidak apa-apa." Balas Apel singkat.
Fedrick, Calix dan Peta menatap Apel dengan perasaankhawatir dan waspada. Suasana dan perasaan aneh yang tadi ada telah lenyap, Apel yang berada di hadapan mereka sekarang adalah Apel yang biasanya.
Calix mengangkat kepala menatap naga yang sedang terbang tinggi di atas langit. "Kita harus segera melakukan sesuatu." Ujarnya sambil memincingkan mata memikirkan cara terbaik untuk menghentikan naga tersebut. Sendirian mungkin tidak bisa, tapi jika mereka semua mengabungkan kekutan—itu bukanlah sesuatu yang mustahil.
"Incar jantungnya," sambung Peta tiba-tiba penuh keyakinan. "Kelemahan naga adalah jantungnya yang terletak di dada kanannya."
Mendengar ucapan Peta, baik Apel, Fedrick maupun Calix menoleh menatapnya.
"I-itu tertulis dengan jelas di buku yang ada dalam perpustakaan perguruan sihir Erfin." Jelas Peta cepat terbata-bata menyakinkan mereka.
Calix mengangkat tangan kanan menyusuri rambutnya frustasi. "Bagaimana caranya kita mengincar jantungnya?—mendekatinya saja kita tidak bisa."
"Kita incar jantungnya," sela Apel tiba-tiba mengejutkan Fedrick dan Calix. Menoleh menatap mereka berdua, suaranya datar tanpa emosi seperti biasa. "Kalian berdua, hentikan gerakan naga itu untuk sementara."
"Apa maksudmu Apel, apa yang akan kau lakukan?" tanya Calix bingung.
Apel tidak menjawab pertanyaan Calix. Dia membalikkan badannya menatap pedang sihir Shire yang tertancap di atas tanah tidak jauh dari mereka. Melangkah pelan, dia kemudian mendekati pedang tersebut dalam pandangan bingung semua yang ada.
Menatap pedang sihir Shire dengan matanya yang tertutup kain, Apel merasa sangat ironis. Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain dalam keadaan sekarang ini, dia tahu dia harus mengalahkan naga itu secepatnya, sebab dia tidak berani mengambil resiko—bagaimana jika dirinya kehilangan kendali lagi?
Angin kuat tiba-tiba berhembus kuat dengan pedang sihir Shire sebagai sumbernya menerpa Apel. Suara memekakkan telinga terdengar membuat semua yang ada menutup telinga mereka. Namun, Apel yang tidak bergeming sedikitpun tetap melangkah mendekati pedang tersebut.
Suara yang ada semakin kuat saat Apel yang telah tiba di depan pedang sihir Shire dan memegang gangangnya. Angin yang ada semakin kuat menerpa badan Apel, seakan menolaknya memegang pedang tersebut.
"Kau menunggu dia bukan?" ujar Apel pelan. "Dia tidak akan pernah datang kemari. Ikutlah denganku, aku akan mengantarkanmu padanya."
Seakan-akan mengerti apa yang dikatakan Apel, suara yang ada menjadi pelan dan hembusan angin itu pun berhenti.
"Aku pasti akan mengantarkanmu padanya." Ujar Apel lagi dengan pelan. Benarkah keputusannya sekarang?—dia tidak tahu lagi. Masa depan akan seperti apa? Takdir yang menyelimuti dirinya dan Rue, bisakah mereka berdua menghindarinya?—tidak! Apel tidak peduli, meski pedang ini lepas dari segelnya, dia akan memastikan semuanya akan tetap sama kedepannya.
Sebuah lingkaran sihir berwarna hitam muncul di bawah kaki Apel dan pedang tersebut. Dalam pandangan tidak mengerti semua yang ada, Apel dengan mudah mencabut pedang tersebut dari tanah.
Pandangan bingung semua yang ada segera berubah menjadi terkejut. Pedang sihir Shire telah tertancap di tanah ini selama ini, dan tidak pernah ada seorangpun yang mampu mencabutnya. Namun, sekarang seorang pemuda tak dikenal berhasil mencabutnya dengan mudah
"Bagaimana bisa?" ujar Calix yang pernah mencoba mencabut pedang sihir Shire tidak percaya. Betapa kokoh pedang tersebut tertancap, dia tahu, karena itu; bagaimana Apel bisa mencabutnya?—siapa sebenarnya pemuda itu?
Apel membalikkan badan dan mengangkat kepala menatap naga di atas langit yang kembali menukik ke arahnya. "Fedrick, Calix, sekarang!!"
Mendengar suara teriakan Apel, Fedrick dan Calix tertegun sejenak, karena ini adalah pertama kalinya pemuda itu memanggil nama mereka. Tapi, segera menguasai diri, mereka berdua membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra untuk menghentikan gerakan naga.
Fedrick kembali menggunakan burung-burung yang ada untuk menghentikan naga tersebut, begitu juga Calix yang mengikatnya dengan sihir bayangan. Namun, naga yang penuh kemarahan tersebut tidak mempedulikannya, dengan buas, dia menukik ke arah Apel. Fedrick dan Calix hanya dapat berusaha keras mempertahankan sihir mereka.
Meraung keras, sebuah lingkaran sihir muncul di hadapan naga. Semburan api biru kembali melesat ke arah Apel.
Apel mengangkat, dan mengarahkan pedang sihir Shire yang berada di tangan ke arah naga. Sebuah linfkaran sihir besar berwarna hitam muncul di bawahnya. Melepaskan gengaman tangannya pada pedang sihir Shire, pedang tersebut melayang di udara. Membacakan sebuah mantra, lingkaran sihir di bawahnya berputar, sedetik kemudian, pedang sihir itu terbalut aura berwarna hitam dan melesat cepat ke arah sang naga.
Bertabrakan dengan semburan api biru naga, pedang sihir Shire tetap melesat dengan kecepatan luar biasa, dan dalam satu kedipan mata menancap dada kanan sang naga—menembus jantung dan badan besarnya.
Kembali meraung kesakitan, sihir api biru sang naga menghilang sebelum mencapai Apel. Kedua sayap besarnya kehilangan tenaga, badan besar naga itupun jatuh ke atas tanah dan tidak bergerak lagi.
Pedang sihir shire kembali terbang dan melesat kembali ke hadapan Apel. Aura hitam yang membalut pedang tersebut telah menghilang, dan saat Apel mengangkat tangan mengengam pedang tersebut, lingkaran sihir yang berputar di bawahnya berhenti, lalu—ikut menghilang.
Semua yang ada di sana tidak bisa berkata apa-apa, mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat—bagaimana ada seorang yang mampu membunuh naga dengan sekali serang seperti itu?
Suasana dalam taman menjadi hening, namun, suara salah satu murid perguruan sihit Erfin tiba-tiba terdengar memecahkan keheninga. "Kita selamat, kan?—naga itu sudah mati, kan?"
"Kau benar," balas temannya dengan wajah tifak percaya, walau sejenak kemudian segera berubah menjadi tawa penuh suka cita "Kita menang! Kita selamat!"
Bagaikan kata pembuka, para murid perguran sihir Erfin bersorak gembira merayakan kemenangan yang ada. Mereka menang meskipun bukan mereka yang membunuh naga tersebut. Yang terpenting bagi mereka adalah perguruan tempat mereka belajar, bereksprimen, dan hidup—rumah mereka; selamat.
"Kita selamat!!"
"Naga gila itu telah mati!!"
Fedrick, Calix dan Peta mengabaikan sorak kebahagiaan yang ada dan berlari mendekati Apel. Senyum tawa juga memenuhi wajah mereka, sebab kemenangan mereka dari naga tersebut adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Mengangkat tangan kanannya, Calix bermaksud memukul pundak Apel sebagai tanda pujian. Namun, dengan gesit Apel menghindarnya.
Apel memang tidak mengatakan sepatah katapun, tapi dari caranya menoleh menatap, meski dengan mata yang tertutup kain, Calix bisa merasakan pandangan tidak suka yang kuat. Menghela napas, Calix merasa kembali jarak diantara mereka, padahal dia mengira jarak itu telah menghilang karena pemuda itu akhirnya memanggil namanya dan Fedrick. "Setidaknya, beri aku sedikit muka," ujarnya pasrah. "Mari kita rayakan kemenangan kita ini."
Fedrick tidak mengatakan apa-apa, tapi senyum masih tetap memenuhi wajah tampannya. Sikap Apel yang tidak berubah walau apapun yang terjadi, dia sudah memahami dan memakluminya.
"A-anu, Apel," panggil Peta terbata-bata. "Terima kasih telah menghentikan naga itu. Biarkan aku menyembuhkan lukamu." Mendekati Apel, Peta mengangkat tangan kanannya. Membuat lingkaran sihir berwarna biru dan membackan mantra, dia menyembuhkan luka bakar yang ada di badan Apel.
Apel tidak mengatakan apapun, dan dia juga tidak menolak bantuang Peta yang telah menyembuhkan lukanya.
"Setidaknya ucapkanlah terima kasih pada Peta, Apel." Ujar Calix melihat Apel yang diam membisu tidak peduli.
Apel tetap diam membisu seakan tidak mendengar ucapan Calix.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Pangeran Calix," balas Peta cepat penuh hormat. Sihir yang digunakan Calix dan Fedrick barusan telah menyadarkannya akan siapa identitas mereka berdua sebenarnya. Dia tahu kenapa wajah Calix tidak asing baginya sekarang—bagaimana dia bisa tidak mengingat wajah Rajanya di masa?—dia sungguh sudah gagal sebagai rakyat kerajaan Arthorn. "Kami dari perguruan sihir Erfin berhutang pada—" lanjut Peta lagi. Namun, sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, para murid perguruaan Erfin telah mengerumuni Apel.
"Terima kasih!"
"Kau kuat sekali!"
"Bagaimana caranya kau mencabut pedang sihir Shire itu?'
"Bagaimana cara kau menggunakan pedang sihir Shire?"
Apel bukanlah orang yang suka bersosialisasi dan menyukai keramaian. Dikerumuni para murid perguruan sihir Erfin dengan pertanyaan tiada henti, dia mulai merasa sangat terganggu. Tapi, belum sempat dia melakukan sesuatu, suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar.
Plok-plok-plok.
Semua murid perguruan Erfin yang mengerumuni Apel menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang wanita cantik berdiri melihat mereka semua dengan wajah datar tanpa ekspresi. Wanita itu berambut hitam panjang dengan mata berwarna biru yang dibingkai sebuah kacamata, "Jangan mengerumuni penolong kita seperti itu."
"Kak Lily.." Panggil Peta pelan.
"Kau, kau dan—kau," menunjuk Calix, Fedrick dan Apel, Lily berujar pelan dengan wajahnya yang tetap datar tanpa ekspresi. "Ikut denganku. Kepala sekolah perguruan sihir Erfin ingin bertemu dengan kalian."
......................