Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 38



Terus berkeringat dingin dan gemetaran hebat, Reth duduk tersenyum menatap langit malam yang telah berubah warna menjadi merah dari jendela penjara di mana dia di tahan. Diiringi rasa sakit luar biasa, dia bisa mendengar dengan jelas suara teriakan dan mantra sihir yang dibacakan dari belakang tembok dia bersandar.


Tiba-tiba pintu penjara terbuka dan seorang laki-laki seusianya berjalan mesuk. Laki-laki itu berambut hitam dengan perban menutupi leher dan mata kanannya. Mata kirinya yang berwarna hijau menatap Reth yang tersenyum lebar kepadanya.


"Keluarlah dan bantu mereka yang ada di luar." Ujar laki-laki itu sambil melemparkan sebatang pedang dan sebuah botol kecil kepada Reth.


Reth segera membuka botol kecil tersebut dan mengeluarkan sebutir obat. Meminumnya cepat, keringat dingin, gemetaran dan juga kesakitan yang dirasakannya berangsur menghilang. Menarik napas, dia kemudian berdiri sambil mencabut pedang yang diberikan Helios dari sarungnya.


"Seharusnya kau memberikan aku pedang yang lebih bagus, Helios." Senyum Reth pada Helios. Bangkit berdiri, dia berjalan mendekati pria tersebut. "Kau tahu seleraku, kan?"


Helios tidak membalas pertanyaan Reth. Membalikkan badan, dia berjalan keluar dari penjara itu.


"Sayang sekali, pemuda yang berhasil mengalahkanku itu sudah tidak ada di sini. Padahal aku berharap untuk bertarung lagi dengannya," ujar Reth yang mengikuti Helios. "Aku ingin membalas kekalahanku yang memalukan itu."


"Jika aku adalah kamu, akukan berharap pemuda itu sudah tidak ada di sini." Potong Helios tiba-tiba tanpa menoleh pada Reth.


"Apa maksudmu?" tanya Reth bingung. Dia tahu, pemuda yang mengalahkannya tidak normal, tapi kenapa Helios sampai berkata seperti itu?


Berhenti berjalan, Helios menolehkan pandangannya pada Reth. "Karena, meski kekuatan kita semua digabungkan, kita tidak akan dapat mengalahkannya. Dia adalah—kucing hitam."


......................


"Aku tidak bisa memahami Apel." Ujar Calix frustasi sambil menatap Apel yang berdiri sendirian di ujung geladak kapal mengamati laut di depannya.


Apel tidak lagi menggunakan kain untuk menutup matanya. Regis dan para awak kapal yang pertama kali melihat warna mata Apel sangat terkejut. Bola mata berwarna merah darah jelas bukan sesuatu yang wajar, dan juga, bukankah dari cerita yang sedang ramai dibicarakan, Apel, prajurit yang berhasil mengalahkan komandan Kerajaan Ormund di Kota Radiata itu buta? Semua yang melihat Apel sekarang yakin sekali, pemuda itu tidak buta. Tapi, mengapa dia menutup matanya dengan kain seakan dia itu buta? Namun, meski sangat penasaran, tidak ada seorangpun yang berani bertanya padanya.


Fedrick, Peta dan Regis yang berada di samping Calix tidak mengatakan apapun. Mereka juga tidak mengerti apa yang terjadi kepada Apel. Kemarin, setelah para pedagang yang diselamatkan mereka menceritakan keanehan akan badai yang ada, dia tiba-tiba menjadi sangat marah dan gelisah. Keadaanya kembali seperti saat mereka dalam perjalanan menuju kota pelabuhan Denethor, bahkan lebih parah lagi. Semua orang yang berada di dekatnya bisa merasakan aura menakutkan dan kemarahan yang ada, sehingga, tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya, termasuk Regis.


Apel tidak mengajari Regis cara bertarung maupun sihir lagi semenjak saat itu. Dia membuka kain yang menutup matanya untuk mengamati laut di sekelilingnya sepanjang hari. Sudah seharian dia seperti itu, bahkan dia sama sekali tidak tidur maupun beristirahat. Terus mengamati laut seakan sedang mencari sesuatu, dia hanya diam saja saat ada yang memberanikan diri bertanya padanya apa yang terjadi.


Apel yang terus mengamati laut berusaha keras mengontrol dirinya, dia tidak tahu apa yang terjadi kepada Rue. Tapi, dia yakin sekali cahaya yang dilihat para pedagang itu pasti berasal dari Rue. Di dunia ini, yang dapat menghentikan amukan alam seperti itu selain dirinya hanyalah Rue. Rue berada di atas laut ini enam hari yang lalu.


Apel tahu kemungkinan terburuk yang ada, tapi dia berusaha keras menyakinkan dirinya bahwa kapal yang dinaiki Rue tidak karam, dan gadis itu sudah hampir tiba di Kerajaan Catax sekarang. Hanya saja, tidak peduli berapa kali dia berpikir seperti itu, dia tetap saja tidak bisa tenang. Rue tidak bisa menggunakan kekuatannya sebagaimana dirinya. Biasanya, kekuatan Rue baru akan aktif saat gadis itu berada dalam bahaya.


Kegelisahan dan ketakutan luar biasa hanya semakin kuat memenuhi hati Apel. Dia sungguh membenci dirinya yang tidak tahu di mana dan bagaimana kabar Ru sekarang.


Tiba-tiba mata Apel menangkap sebuah kapal yang berlayar cukup jauh di depan mereka. Kapal itu tidak begitu besar jika dibanding dengan kapal Silphi. Dengan indra penglihatan dan pendengarannya yang tajam, dia bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam kapal itu.


Di dalam kapal itu, Apel melihat dengan jelas beberapa orang pria mengamati laut sambil memanggil nama seseorang. Mataya membesar karena terkejut saat dia menangkap nama orang yang dipanggil mereka. Mereka memanggil nama Rue.


"Dekati kapal itu!" perintah Apel sambil menoleh menatap Fedrick, Calix, Peta dan Regis. Tangannya menunjuk sebuah kapal yang berada cukup jauh dari kapal mereka.


"Hah? Apa maksudmu, Apel?" tanya Calix bingung, begitu juga dengan Fedrick, Peta dan Regis.


Semua yang ada di sana sangat terkejut dengan kemarahan Apel. Calix tidak bertanya apapun lagi. Dia segera memerintahkan para awak kapal unuk mengemudikan kapal Silphi itu ke arah kapal yang ditunjuk Apel.


Apel menatap kapal itu lagi. Wajahnya yang selama ini tanpa ekspresi tidak bisa menyembunyikan ketakutan lagi. Dia sangat berharap dia salah dengar, nama yang dipanggil oleh para pria di kapal itu bukanlah—Rue. Rue bukanlah nama yang jarang digunakan untuk menamai seseorang. Ini pasti hanya kebetulan, nama orang yang dicari para pemuda di kapal itu pasti hanyalah kebetulan sama dengan Rue. Rue yang mereka cari pasti bukan Rue yang selalu berada di sampingnya selama sepuluh tahun ini, bukan Ruenya.


Fedrick, Calix, Peta dan Regis sangat terkejut saat melihat wajah Apel. Mereka benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang terjadi. Sikap Natume beberapa hari ini selalu berubah-ubah, dia tidak seperti dirinya lagi, yang selalu tenang dan tanpa ekspresi itu.


Saat kapal mereka mendekati kapal yang ditunjuknya, Apel meloncat ke dalam kapal itu tanpa mempedulikan teriakan Fedrick, Calix dan Peta. Jarak kedua kapal itu masih sangat jauh dan mustahil untuk diloncati. Namun, Apel berhasil mendarat dengan mudah di kapal itu.


Semua orang yang ada di dalam kapal tersebut sangat terkejut dengan kehadiran Apel yang tiba-tiba. Mereka semua mencabut pedang yang ada di pinggang mereka dan mengelilinginya. Pemuda yang berdiri di depan mereka ini jelas bukan orang biasa.


"Siapa kau dan apa maumu?" tanya salah satu pria berambut merah dalam kapal pada Apel.


Apel tidak menjawab pertanyaan pemuda itu, dia balik bertanya dengan suaranya yang dingin penuh tekanan. "Siapa Rue yang kalian cari?"


Mendengar nama Rue yang disebutkan Apel, semua yang ada di sana sangat terkejut.


"Bukankah kami yang bertanya lebih dulu, siapa kau? Apa maumu?" tanya seorang pria berambut coklat sambil tersenyum. Berdiri di samping pria berambut merah, dia terlihat sangat santai, namun juga sekaligus waspada.


Melihat wajah penuh senyum pria berambut coklat tersebut, kemarahan Apel semakin memuncak. Melesat ke arah pria itu, dia mencengkeram lehernya. Mengangkat kedua kaki pemuda itu dari tempatnya berpijak dengan mudah, Apel bertanya lagi penuh kemarahan "Siapa Rue yang kalian maksud?!"


Tidak ada yang berani bergerak saat melihat aksi Apel. Mereka semua bisa merasakan aura kegillaan dan kemarahan dari pemuda di depan mereka itu. Ketakutan menyelimuti mereka semua. Insting mereka mengatakan, jangan mencari masalah dengan pemuda di depan mereka ini jika masih mau hidup.


"L-lepaskan aku..." Pria berambut coklat tersebut berusaha membebaskan dirinya dari cengkeraman Apel. Mata birunya menatap penuh ketakutan mata merah darah penuh kemarahan yang terarah padanya.


"Vin? Van?—benarkah itu kalian?" suara seseorang dari belakang mereka semua tiba-tiba memecahkan kegentingan suasana yang ada.


"Peta?" panggil Van, pria berambut merah di samping Apel terkejut, sedangkan Vin yang lehernya dicengkeram Apel juga sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.


Peta yang baru saja memasuki kapal ini bersama Fedrick dan Calix, segera berlari mendekati Apel, "Ku mohon l,lepaskan tanganmu, Apel. Mereka bukan orang jahat." Pinta Peta dengan wajah pucat. Dia sebenarnya sangat ketakutan dengan Apel yang berada di depannya sekarang. Namun, dia memberanikan dirinya, sebab dia merasa jika dia tidak menghentikan pemuda itu sekarang, teman-temannya itu pasti akan menemui nasib yang menganaskan.


"Benar, Apel. Jika kau terus mencengkeram lehernya seperti itu dia tidak akan mungkin bisa menjawab pertanyaanmu." Tambah Calix pelan. Dia tidak berani memancing amarah Apel sekarang, keadaanya yang penuh amarah ini terlihat mirip sekali dengan sikapnya sebelum dia lepas kendali dan menyerang dengan brutal serta kejam di Gunung Bold.


"Apel, tenanglah," turut berusaha menenangkan Apel, Fedrick berusaha memberikan alasan yang cukup masuk akal dan sekaligus menyakinkan bagi pemuda itu untuk melepaskan tangannya. "Kita berada di atas laut sekarang. Sama sekali tidak ada tempat untuk melarikan diri di sini, kau bisa melepaskannya."


Mendengar ucapan mereka bertiga, Apel melepaskan cengeraman tangannya. Vin segera terjatuh ke bawah dan terbatuk-batuk. Kakinya terasa sangat lemas, dia sama sekali tidak punya tenaga untuk berdiri.


"Terima kasih, Apel." Ucap Peta lega begitu melihat Apel melepaskan Vin.


Vin mengangkat kepala menatap Apel yang berdiri di depannya. Mendengar nama pemuda itu, dia seketika teringat. "Apel, berambut hitam dan bermata merah seperti buah apel—kau, kau adalah Apel yang dimaksud Rue..."


......................