
"Apakah kau yakin mereka berada di sini, Putri?" tanya Mire sambil menuruni tangga yang ada di depanya. Pakaian dayang istana Hirrim yang dikenakanya tidak menganggu gerakkannya sama sekali.
"Iya, tidak salah lagi." Jawab Mirthy sambil mengikuti Mire.
"Apakah kau tahu mereka berada di mana, putri? Sebab sepertinya ruang penjara di sini tidak hanya ada satu?" tanya Vin yang berada di belakang Mirthy. Sama halnya dengan Mire, dia yang menyamar mengenakan seragam pengawal istana Hirrim.
"M-mereka pasti ada ruang terbawah dari penjara bawah tanah ini. R-ruang penjara paling bawah adalah satu-satunya ruang yang kebal terhadap sihir." Jawab Mirthy terbata-bata. Kegugupan yang ada membuat cara bicaranya kembali gagap.
"Bagus sekali! Kita harus cepat, kita sama sekali tidak mempunyai banyak waktu." Senyum Mire. Informasi dari Mirthy adalah apa yang paling diinginkannya. Hal paling penting dari isi penyelamatan mereka adalah waktu, karena itu, mereka tidak boleh membuang waktu hanya untuk mencari Apel dan yang lainnya dari satu ruang penjara ke ruang penjara lainnya.
Dengan bantuan Mirthy yang merupakan Putri Kerajaan Hirrim, Mire dan Vin berhasil menyusup ke dalam istana ini dengan mudah. Mereka bahkan mengetahui di mana keberadaan Apel, Rue dan yang lainnya. Tapu, yang paling penting, mereka tidak mengalami kesulitan saat melewati perajurit yang menjaga keamanan istana dan memasuki penjara bawah tanah.
Mire dan Vin tahu, rencana melarikan diri mereka akan lebih sulit dari pada rencana mereka menyusup ke dalam istana. Jumlah mereka akan bertambah enam orang sekaligus, dan dengan jumlah orang sebanyak itu mereka jelas akan menarik perhatian para prajurit yang ada. Tapi, bagaimanapun juga, mereka berdua tetap berharap mereka bisa meninggalkan istana Hirrim tanpa perlawanan.
"Pasti itu ruangannya!" Ujar Mire gembira sambil menatap dua orang perajurit yang berdiri di depan pintu suatu ruang penjara. Dari begitu banyak ruang penjara, hanya ruang itu saja yang memiliki penjaga.
"Ya, tidak salah lagi," setuju Vin dan menatap Mirthy. "Kau bisa membantu kami kan, Putri?"
"A-aku akan b-berusaha.." Jawab Mirthy terbata-bata. Menarik napas dan menguatkan hatinya, diaberjalan dengan pelan ke arah dua prajurit tersebut. Mire dan Vin mengikutinya dari belakang selayaknya seorang dayang dan pengawal.
Menyadari kehadiran Mirthy berjalan mendekati mereka, kedua prajurit itu meski terkejut segera membungkuk badan memberikan salam.
"Buka pintunya," perintah Mirthy pelan dengan tenang. Dia mati-matian berusaha tidak gagap dan mengontrol ketakutannya. "Aku ingin berbicara dengan tahanan di dalam."
"Maaf, Yang Mulia Putri, Yang Mulia Raja telah memerintahkan bahwa siapapun dilarang menemui para tahanan ini." Ujar salah satu prajurit itu cepat.
Tanpa membuang waktu, Mire dan Vin segera bergerak dengan cepat menyerang kedua prajurit tersebut. Vin dengan sigap memukul pingsan salah satu prajurit, sedangkan Mire yang menyerang prajurit satu lagi, menempelkan sebuah pisau kecil pada lehernya. "Buka pintu itu, sekarang juga."
Penjaga pintu itu sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Pisau kecil yang menempel di leherya membuatnya sangat ketakutan, keringat mengalir turun dari dahinya. "A-aku tidak memiliki kunci pintu ruang penjara ini. K-kuncinya ada pada Yang Mulia Raja..."
"Jangan berbohong! Buka pintunya sekarang juga!" perintah Mire penuh kemarahan. Dia menekan pisau kecil di tangan lebih dalam hingga darah merah mulai mengalir dari leher prajurit yang ditahannya.
"A-aku tidak berbohong!! Yang Mulia Raja membawa kuncinya!!" teriak prajurit tersebut penuh ketakutan.
Teriakan ketakutan prajurit tersebut membuat Mire tahu apa yang dikatakannya bukanlah kebohongan, "Sial!!!" mengumpat penuh kekesalan, dia menjauhkan pedang kecil dari leher sang prajurit dan memukul kepalanya keras hingga pingsan.
"Minggirlah Mire, Putri. Aku akan mencoba menghancurkan pintu ini dengan sihir." Ujar Vin sambil mengankat tangannya.
Namun sebelum Vin membacakan mantra sihir, Mirthy menghentikannya "T-tidak ada gunanya Vin. Penjara ini adalah penjara sihir. Sihir tidak akan mempan terhadapnya."
"Apa!" teriak Mire dan Vin bersamaan.
"S-satu-satunya cara yang ada adalah mendapatkan k-kuncinya.." Wajah Mirthy sangat pucat. Mereka tidak punya banyak waktu, dan juga, mereka tidak tahu cara untuk mendapatkan kunci tersebut. Persiapan dalam misi penyelamatan ini sungguh kurang, siapa yang menyangka Arthur akan memegang kunci penjara sendiri?
"Vin, Mire, Mirthy! Apakah itu kalian?" tanya Fedrick dari balik pintu penjara.
"Benar Fedrick, ini kami!" Balas Vin cepat begitu mendengar suara Fedrick. "Bertahanlah di sana kami akan berusaha memikirkan cara untuk mengeluarkan kalian."
Fedrick, Lara dan Calix sangat terkejut mendengar suara mereka. Mereka tidak menyangka mereka bertiga akan datang menolong mereka. Apel dan Regis hanya berdiri diam dengan wajah tanpa eksprsi di belakang mereka, sedangkan Rue yang memang tidak tahu apa yang terjadi hanya menatap Apel dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kenapa kalian masih belum membuka pintu penjara sialan ini? Apa lagi yang kalian tunggu?" tanya Lara kesal karena baik Mirthy, Mire maupun Vin tidak membuka pintu penjara di mana mereka ditahan.
"Kami tidak mempunyai kunci pintu penjara ini sebab Raja Arthur membawanya dan juga pintu ini tidak mempan terhadap sihir. Tapi tenang, kami pasti akan mengeluarkan kalian." Balas Vin pelan.
"Apa?!" teriak Calix terkejut. Dia tahu dengan pasti tidak mungkin mereka bisa mendapatkan kunci itu dari tangan Arthur.
"Cih, aepertinya kita tetap saja tidak bisa keluar dari sini. Dasar penolong tidak berguna." Berdecak kesal, Lara menutup mata mengontrol emosinya. Kenapa orang-orang disekitarnya selalu tidak dapat diandalkan?
"Minggir," perintah Apel tiba-tiba. Suaranya tidak terlalu keras maupun pelan, tapi dapat didengar dengan baik oleh Mirthy, Mire dan Vin yang ada di luar. "Kalian yang berada di luar, menyingkir dari pintu kalau masih mau hidup."
Mire, Vin dan Mirthy yang berada di luar tidak mengerti maksud Apel. Namun, mereka segera menyingkir dari pintu itu menuruti apa yang diperintahkannya. Sedangkan Fedrick, Lara dan Calix yang berada di dalam penjara bersama Apel menolehkan kepala mereka menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Apa maksudmu, Apel?" tanya Calix bingung.
Apel tidak menjawab pertanyaan Calix. Mengangkat tangan kanannya membuat lingkaran sihir berwarna hitam, dia membacakan sebuah mantra sihir yang asing dengan pelan.
Melihat lingkaran sihir tersebut, baik Fedrick, Lara dan Calix tahu apa yang ingin dilakukan Apel. Mereka bertiga segera melompat menjauh dari pintu itu tanpa mengucapkan apapun lagi.
Dari dalam lingkaran sihir, cahaya hitam pekat tiba-tiba melesat cepat ke arah pintu penjara. Saat cahaya hitam itu menyentuh permukaan pintu, pintu itu meledak dengan suara yang sangat keras.
Fedrick, Lara dan Calix sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Sihir yang dilakukan Apel barusan adalah sihir yang tidak pernah mereka dengar ataupun lihat, terlebih lagu, bagaimana mungkin dia bisa menggunakan sihir dan menghancurkan pintu penjara sihir ini?
Apel tidak mempedulikan tatapan yang terarah padanya. Menolehkan menghadap Rue dan Regis yang sama terkejutnya dengan yang lainnya, dia mengulurkan tangan kanannya. "Ayo, kita pergi."
Rue menatap Apel kesal, "Apel , lain kali beritahu aku dulu kalau kau ingin melakukan sesuatu yang gila seperti ini!" teriaknya sambil menerima uluran tangan pemuda tersebut.
Apel seperti biasa tidak mempedulikan teriakan kesal Rue. Menggenggam tangan mungilnya erat, dia menarik gadis itu keluar dari penjara itu diikuti yang lainnya.
Ada banyak pertanyaan dalam hati Fedrick dan yang lainnya melihat apa yang terjadi. Namun, mereka menyimpan itu dalam hati, sebab mereka tahu, prioritas utama sekarang adalah meninggalkan istana Hirrim.
Suara yang ledakan yang dihasilkan sihir Apel berhasil merebut perhatian semua prajurit yang berjaga di atas. Saat Apel dan yang lainnya keluar dari penjara bawah tanah, para prajurit telah menunggu mereka dengan tombak yang terhunus kepada mereka.
Vin menghela napas sambil melihat sekeliling mereka. "Ternyata kita memang tidak bisa meninggalkan tempat ini tanpa perlawanan."
"Jaga mereka berdua." Perintah Apel tiba-tiba sambil berlari menghadapi para prajurit. Suaranya tenang tanpa kepanikan sedikitpun.
Fedrick, Calix, dan Vin juga tidak tinggal diam membiarkan Apel seorang saja menghadapi para prajurit. Mereka bertiga maju membantunya. Lara, Mire dan Mirthy berdiri di belakang mengamati pertempuran di depan mereka sambil menjaga Rue dan Regis. Regis sendiri hanya menatap semua yang terjadi dengan wajah tanpa ekspresi, sedangkan untuk Rue yang benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya menatap dengan wajah kebingungan.
Apel melawan prajurit-prajurit itu dengan tangan kosong. Fedrick dan Calix menggunakan pedang dari prajurit yang dikalahkan mereka untuk menyerang, hsedangkan Vin, dia menggunakan dua pisau yang memang di sembunyikannya di balik seragam prajurit Hirrim yang dikenakannya saat menyusup ke dalam istana.
Mereka tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi prajurit-prajurit tersebut. Namun, jumlah prajurit tidak berkurang walau telah banyak yang mereka kalahkan, malahan jumlahnya semakin bertambah. Para prajurit di dalam istana mulai berkumpul di tempat ini, dan dengan jumlah yang tidak seimbang Apel dan yang lainnya mengalami kesulitan untuk melangkah maju.
"Kita harus melakukan sesuatu." Gumam Mire sambil memikirkan sesuatu, mata hijaunya menatap para prajurit yang mulai berkumpul itu dengan penuh kepanikan.
Lara yang berdiri di samping Rue tiba-tiba menemukan suatu ide. Tanpa mengatakan apapun, dia merebut pisau kecil yang ada di tangan Mire. Menatap Mirthy, gadis berambut hitam tersebut melangkah mendekat dan menodongkan pisau di tangan pada lehernya, "Berhenti!! Jika kalian tidak ingin Putri kalian mati, jangan bergerak selangkah pun!!" teriaknya keras.
Semua prajurit yang ada di sana langsung berhenti menyerang Apel dan yang lainnya begitu melihat apa yang dilakukan Lara.
"Maaf, bersandiwaralah bersamaku untuk sementara." Bisik Lara pelan pada Mirthy yang wajahnya pucat pasi karena terkejut.
Mendengar ucapan Lara, Mirthy langsung mengerti apa yang dilakukannya, "B-baiklah.." Balasnya pelan.
Lara berjalan ke belakang Mirthy, tangan kirinya yang mengengam pisau tetap berada di leher sandera. Menatap para prajurit yang ada, dia kembali berteriak "Buka jalan!"
Para prajurit tersebut segera membuka jalan sesuai perintah Lara. Tdak seorangpun berani menyerang maupun bergerak. Mereka tidak berani bertindak gegabah, karena mereka tahu, nyawa Putri mereka adalah taruhannya.
Lara dan Mirthy berjalan keluar dari kerumunan prajurit dengan pelan penuh kewaspadaan. Fedrick, Calix, Mire dan Vin segera mendekat dan mengelilingi mereka berdua bagaikan perisai.
Apel yang melihat keadaan telah terkendalikan berjalan mendekati Rue yang kmasih tidak mengerti apa yang terjadi dan Regis. Kembali menggengam tangan gadis itu, dia menariknya berjalan mengikuti yang lainnya bersama Regis.
"Jangan mengikuti kami!" perintah Lara lagi saat mereka berhasil keluar dari kerumunan prajurit.
Walau penuh keraguan dan kebingungan, para prajurit sekali lagi menuruti perintah tersebut. Tidak ada seorangpun yang berani mengikuti mereka, sebab mereka tidak berani membahayakan nyawa Putri mereka yang kini berada di tangan Lara.
Lara baru menurunkan tangannya yang menodongkan pisau kecil di leher Mirthy setelah mereka cukup aman dan jauh dari kerumunan prajurit. "Terima kasih atas bantuanmu."
"S-sama-sama." Balas Mirthy pelan. Kedua tangannya segera terangkat menyentuh lehernya. Walau dia tahu barusan adalah sandiwara, perasaan pedang tajam menempel di leher tetaplah tidak menyenangkan.
"Kita harus segera menuju taman belakang istana. Di sana kami sudah menyiapkan jalan untuk melarikan diri." Ujar Mire cepat sambil berlari ke depan. "Ikuti aku!!"
Apel dan yang lainnya segera berlari mengikuti Mire. Perampok wanita itu sebenarnya telah mengatur rencana melarikan diri dari istana Hirrim dengan baik tanpa ketahuan. Dari semua rencananya, satu-satunya yang tidak dapat dipredeksinya hanyalah kunci penjara yang berada di tangan Arthur. Walau kesilapan kecil itu justruyl berakibat fatal karena membuat mereka harus berhadapan dengan semua prajurit di istana.
"Apel, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rue tiba-tiba. Dia yang berlari benar-benar tidak mengerti sedikitpun.
Semua yang ada di sana berhenti berlari dan menatap Rue dengan pandangan tidak percaya kecuali Apel. Setelah semua yang terjadi, apakah dia masih saja belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi? Bahkan Regis yang lebih kecil darinya saja mengerti dengan apa yang terjadi. Sebenarnya ada apa dengan pikiran gadis ini?
Merasakan tatapan mereka semua, wajah Rue memerah karena malu. Sepertinya dia telah menanyakan sesuatu yang bodoh dan tidak pada tempatnya.
"Kami tidak punya waktu untuk menjelaskan padamu, bodoh." Ujar Lara dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kau tidak perlu tahu dengan apa yang terjadi. Cukup ikuti aku dan jangan lepaskan tanganku." Perintah Apel tidak peduli.
Rue tidak mengatakan apapun lagi, dia mengangguk kepalanya dan kembali mengikuti Mire bersama dengan yang lainnya. Namun, saat mereka hampir mencapai taman belakang istana, suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar.
Plok-plok-plok.
Berhenti berlari, mereka semua segera menoleh menatap sumber suara. Tidak jauh dari tempat mereka, Arthur, Raja Kerajaan Hirrim berdiri sambil bertepuk tangan. Dikawal oleh sepuluh pengawal pribadinya, dia tersenyum lebar menatap Mirthy. "Bagus sekali, Mirthy. Kau berani mengkhianati aku kakak kandungmu demi teman-teman barumu."
"K-kakak..." Panggil Mirthy pelan dengan wajah pucat pasi.
......................