
Mendengar lamaran dari pak Hartono melamar dirinya...
Sontak membuat Ibu Sumiatun kaget, bagaikan disambar petir di siang bolong.!! Pasalnya Ibu Sumiatun tidak menyangka bahwa pak Hartono akan melamar dirinya, karena pak Hartono tidak pernah membahas hal itu sebelumnya kepada Ibu sumiatun, walaupun Ibu Faridah sang istri dari Bapak Hartono sudah lama meninggal dunia.
Dan tak ayal membuat Ibu Sumiatun tertunduk diam dan tersipu malu.
Bagaimana tidak,!! Selama ini Ibu Sumiatun sangat menghormati Pak Hartono, dan juga Ibu Sumiatun sangat segan padanya. Walaupun mereka sering berkomunikasi, tapi hubungan tersebut selama ini hanya sebatas juragan dan pembantu saja tidak ada yang lain. Walaupun ibu Sumiatun sering berbicara dengan juragannya tersebut, Tapi pembicaraan tersebut sangatlah sopan dan beradab. Begitu juga dengan pak Hartono dia juga sangat sopan kepada Ibu Sumiatun.
Icha pun demikian, dia juga tidak menyangka bahwa pak Hartono orang yang sangat dihormatinya tersebut, melamar Ibu kandungnya di hadapannya secara langsung.
Ada perasaan malu, senang, dan haru, bercampur aduk di benaknya.
Soalnya dia tidak kepikiran sampai ke situ, karena bagaimanapun juga beliau adalah orang yang sangat dihormatinya. Karena bagaimana tidak, Pak Hartono dan Ibu Farida lah yang membuat keluarga kecilnya tersebut mulai bangkit dari keterpurukan selama ini. Dan juga Pak Hartono dan Ibu Farida lah orang yang sangat berjasa bagi Icha, karena tanpa mereka berdua Icha menganggap tidak akan seperti yang sekarang kehidupannya dan pendidikannya. Jadi hal itu sangat ditanam betul dalam hati dan pikirannya oleh Icha.
Dan ditambah lagi perhatian dan kasih sayang pak Hartono dari dulu sampai sekarang, baik sewaktu masih ada Ibu Farida ataupun Ibu Faridah telah wafat, perhatian dan kasih sayang pak Hartono tidak kurang sedikitpun. Beliau menganggap Icha betul-betul seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan dia rela berkorban demi keperluan dan kepentingan Icha. Apa lagi Icha emang sudah ditinggal oleh bapaknya sewaktu kecil. Jadi Icha boleh di katakan haus kasih sayang seorang ayah. Jadi Icha menganggap Pak Hartono dengan segala kasih sayangnya itu adalah segala-galanya bagi Icha.
Lalu pak Hartono bertanya lagi, dan pertanyaan kali ini ditujukan kepada Icha....
"Icha... Bagaimana menurutmu Nak, apa Icha merestui Bapak melamar Ibumu Nak.?"
Mendengar pertanyaan dari Bapak Hartono kepada dirinya sembari meminta doa restu dari dirinya, lalu Icha menjawab.....
"Kalau saya apa kata ibu saja pak.!"
Jawab Icha kepada Bapak Hartono.....
Lalu Bapak Hartono bertanya sekali lagi kepada Ibu Sumiatun.....
"Bagaimana Bu, Ibu menerima lamaran saya dan bersedia untuk menjadi istri saya.?"
Dan lagi-lagi Ibu Sumiatun tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari Bapak Hartono.
Dia bingung harus bagaimana dan tidak tau harus berkata apa.
Tiba-tiba dia merasa gugup di hadapan Pak Hartono yang sedang bertanya kepadanya. Dan tidak terasa keringat dingin pun mengucur dari badannya.
Icha yang melihat gelagat Ibunya tersebut, langsung mendekat secara perlahan, dan duduk di samping Ibunya sembari berbisik, dan bertanya kepada sang Ibu.....
"Bagaimana Bu, Ibu menerima lamaran dari Bapak Hartono.?"
Tanya Icha kepada sang Ibu dengan pelan dan berbisik.....
Lalu Ibu Sumiatun menjawab pertanyaan sang anak dengan kata-kata yang sangat pelan dan berbisik sembari tersipu malu di hadapan Bapak Hartono.....
"Iya saya mau, tapi saya malu Icha.!"
Mendengar jawaban sang Ibu tersebut, Icha merasa senang dan memeluk sang Ibu, dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.....
Sesa'at kemudian Bapak Hartono kembali bertanya kepada Ibu Sumiatun untuk yang kesekian kalinya....
"Bagaimana Bu, Ibu Sumiatun mau menerima lamaran saya.?"
Kali ini Ibu Sumiatun merespon pertanyaan dari Bapak Hartono tersebut, dengan menganggukkan kepalanya secara pelan.!"
Dan itu artinya Ibu Sumiatun menerima lamaran dari Bapak Hartono.
Pak Hartono yang mengetahui jawaban dari Ibu Sumiatun tadi, langsung mengeluarkan sebuah barang dari dalam sakunya. Dan rupanya barang tersebut adalah sebuah cincin yang telah dipersiapkan oleh Bapak Hartono beberapa hari sebelum lamaran tersebut.
Rupanya Pak Hartono diam-diam telah mempersiapkan sebuah cincin untuk melamar ibu Sumiatun. Dan Pak Hartono berencana untuk membuat kejutan dengan cincin tersebut, yaitu melamar ibu Sumiatun di depan putrinya.
Lagi pula Pak Hartono merasa yakin, bahwa keinginan nya untuk melamar ibu Sumiatun di depan Icha tersebut tidak akan ditolak. Dan Pak Hartono juga yakin bahwa ibu Sumiatun lah yang pantas menggantikan Almarhumah Ibu Farida istrinya.
Sesaat kemudian Bapak Hartono membuka kotak kecil yang berisi cincin tersebut dan mendekat kepada Ibu Sumiatun sembari meraih tangan Ibu Sumiatun dan menyematkan cincin tersebut ke jari Ibu Sumiatun.
Icha yang mengetahui dan menjadi saksi peristiwa tersebut, langsung memberikan tepuk tangan sebagai tanda Restu kepada Ibu Sumiatun dan pak Hartono, sembari mengucapkan selamat kepada keduanya.
Icha berkata....
"Hore... Selamat ya.!! Semoga kalian berjodoh dan langgeng.
Mendengar ucapan selamat dari sang anak, langsung pak Hartono dan Ibu Sumiatun mengucapkan....
"Amin...!!"
Dan langsung ketiganya berpelukan.
Sesaat kemudian Bapak Hartono berbicara kepada Ibu Sumiatun dan Icha.....
"Baiklah kalau begitu, untuk merayakan hari yang sangat bahagia ini, bagaimana kalau Bapak mengajak kalian berdua untuk jalan-jalan dan makan di luar..! bagaimana apa kalian setuju.?
Langsung Icha menjawab dengan suara keras... "Setuju....!!"
Lalu pak Hartono kembali bertanya kepada keduanya....
"Baiklah tapi Bapak mau tanya kepada kalian, kalian sukanya ke mana.?"
Lagi-lagi Icha menjawab pertanyaan pak Hartono tanpa minta persetujuan sang Ibu.
"Hem...!! Bagaimana kalau kita ke pantai saja setuju.?"
Ucap Icha dengan balik bertanya kepada keduanya....
Lalu pak Hartono menoleh kepada Ibu Sumiatun dan lempar balik pertanyaan dari Icha tadi kepadanya..
"Bagaimana Bu, Ibu setuju kalau kita ke pantai.?"
Lalu Ibu Sumiatun menjawab pertanyaan dari Bapak Hartono kepadanya....
"Kalau saya sih terserah Icha dan Bapak Hartono saja.!"
Bapak Hartono yang mendengar jawaban dari Ibu Sumiatun tadi, langsung merespon jawaban tersebut....
"Io.... Jangan panggil saya pak Hartono lagi dong, kan sebentar lagi kita akan menjadi suami istri.!"
Lantas ibu Sumiatun kembali bertanya kepada pak Hartono sembari tersenyum....
"Lantas saya harus bilang apa dong.!"
"Lalu pak Hartono menjawab pertanyaan dari Ibu Sumiatun sembari tersenyum....
"Ya apa kek, mas kek, atau bapak, kan lebih enak kedengarannya.!"
Icha yang mengetahui dialog tersebut, langsung batuk-batuk tanda meledek keduanya...
"Em..! Em..! Em..! Kode dari Icha sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Sebagai tanda ngeledek keduanya.....
Ibu Sumiatun dan pak Hartono tahu dirinya diledek oleh Icha, langsung tersenyum dan tersipu malu.
Di situlah keakraban ketiganya semakin erat, dan di situ juga tumbuh benih-benih cinta di antara ketiganya.
Bapak Hartono yang sehari-hari sebelumnya hanya menganggap Ibu Sumiatun seorang pembantu bagi dirinya, sekarang sudah menjadi seorang kekasih, dan sekaligus calon istri baginya.
Demikian juga sebaliknya. Bapak Hartono yang sebelumnya dianggap juragan tempat ia bekerja oleh Ibu Sumiatun, dan sekaligus orang yang paling ia hormati karena ia ayah angkat dari Icha, sekarang sudah menjadi kekasih, sekaligus calon suami baginya.
Jadi permasalahannya dulu dengan sekarang berubah 180 derajat bagi ketiganya. Jadi kalau dulu hubungan mereka sekedar antara "juragan" "pembantu" dan "anak angkat," tapi sekarang mereka bertiga adalah satu keluarga.
Begitu juga Icha kepada bapak Hartono, di mana sebelumnya pak Hartono adalah orang yang paling dihormati dan paling disegani oleh Icha sebagai orang tua angkat, tapi sekarang beliau sudah akan jadi orang tua sendiri walaupun hanya bapak tiri bagi Icha. Karena Sekarang sudah menjadi calon suami Ibunya, dan sekaligus calon bapak baginya.
Begitupun bagi Bapak Hartono terhadap Icha, di mana sebelumnya hanya menganggap Icha sebagai anak angkat, Tapi sekarang sudah menjadi anak sendiri. Walaupun hanya seorang anak tiri.
Dan mereka pun tambah harmonis dengan segala keakrabannya.
Lalu pak Hartono berbicara kepada keduanya...
Baik kalau begitu silakan semuanya bersiap-siap,
sebentar lagi kita berangkat yuk...!
Lalu semuanya segera bersiap-siap mandi dan ganti baju, untuk selanjutnya segera masuk ke dalam mobil dan selanjutnya berangkat ke tempat yang dituju,yaitu "pantai."
Kebetulan pantai yang dimaksud lumayan jauh dari rumah mereka. Ada sekitar 1 jam perjalanan ditempuh dengan naik mobil. Dan itu pun kalau jalan tidak macet, tetapi kalau jalan macet bisa lebih dari satu jam perjalanan. Karena memang tempat wisata pantai tersebut tidak berada di wilayah tempat mereka tinggal.
Sewaktu mereka akan berangkat dan mulai masuk dalam mobil, ada hal yang menggelitik terjadi di antara mereka.
Pasalnya.. sewaktu Bapak Hartono mulai masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
Justru Ibu Sumiatun duduk di kursi belakang bersama Icha.
Hal itu membuat Bapak Hartono tertegun sejenak dan bertanya-tanya dalam hati, sehingga pak Hartono tidak langsung menghidupkan mobilnya.
Sehingga dalam benak Bapak Hartono timbul pertanyaan...
"Apakah Ibu Sumiatun merasa terbiasa duduk di kursi belakang, karena dia dari dulu sebagai pembantu dirumahnya.?
Ataukah dia merasa malu karena baru kali ini dia akan duduk di depan bersamanya.....!?"
Sesaat kemudian pak Hartono boleh menghidupkan mobilnya, dan mobil pun mulai berjalan.
Icha yang mengetahui sikap dari bapak Hartono tersebut, segera menyuruh pak Hartono untuk segera memberhentikan mobil yang mulai berjalan tersebut....
"Stop." stop." stop.!!"ucap Icha kepada pak Hartono...
Pak Hartono dan Ibu Sumiatun yang sebenarnya sudah tahu dari maksud Icha tersebut, lalu keduanya secara bersamaan mengucapkan...
"Ada apa Icha...! Sembari pak Hartono menginjak rem mobilnya.!"
Lalu Icha berbicara sendiri di dalam mobil tersebut.
"Ini kayaknya ada yang gak beres deh...!"
Lalu secara bersamaan lagi Ibu Sumiatun dan pak Hartono merespon ucapan Icha tersebut, dengan nada pura-pura tidak mengetahui maksudnya....
"Maksudnya..?"
Ucap pak Hartono dan Ibu Sumiatun secara bersamaan, dengan Sunggingan senyum di bibir mereka....
Lalu Icha menoleh kepada sang Ibu, lalu berbicara kepadanya, dengan nada pura-pura bodoh...
"Ibu seharusnya kan tidak duduk di sini bersama saya, tempat duduk Ibu kan di depan bersama Bapak....!!"
Ibu Sumiatun mendengar ucapan sang anak lalu ia berkata....
"Ih... Icha... Apaan sih ah..! Jangan ngaco deh... ah...!?"
Pak Hartono yang mengetahui gelagat dari Ibu Sumiatun, dengan sejuta perasaan yang bercampur aduk di benaknya.
Pasalnya.... Walaupun mereka berdua diselimati rasa cinta, tapi mereka merasa malu dan canggung jika mereka menampakkan perasaannya tersebut di depan Icha sang Putri. Karena Icha bukan anak kecil lagi, dan mereka sudah tidak mudah lagi.
Lalu Icha membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya, dan turun mengitari mobil dari belakang. Lalu sesampainya ke samping pintu mobil di dekat Ibu Sumiatun, Icha membuka pintu mobil tersebut. Lalu Icha memegang tangan sang Ibu, dan menyuruhnya turun dari mobil. Lalu setelah Ibu sumiatun turun dari mobil, terus Icha membuka pintu mobil di samping depan, dan menyuruh sang Ibu untuk duduk di kursi depan tersebut....
Lalu setelah ibu sumiatun duduk di kursi depan, Icha segera menutup pintu mobil tersebut, dan kemudian Icha menuju ke pintu belakang mobil, dan masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi belakang, kemudian pintu mobil tersebut ditutup kembali.
Kini Ibu Sumiatun sudah duduk berdampingan dengan pak Hartono di kursi depan, sedangkan Icha duduk di kursi belakang sendirian.
Lalu Icha segera menyuruh pak Hartono untuk jalan kembali....
"Ayo pak kita jalan lagi pak.!"
Ucap Ica kepada pak Hartono....
Dan mobil pun melaju kembali melanjutkan perjalanan tersebut....
Selama di perjalanan, pak Hartono tidak henti-hentinya sesekali melirik kepada ibu sumiatun tersenyum mesra.
Dan Ibu Sumiatun pun juga demikian. Mereka layaknya anak muda yang sedang dimabuk asmara.
"Ya.. maklumlah."
Mereka berdua sedang jatuh cinta.
Walaupun mereka berdua sudah berumur, tapi mereka kelihatan sangat serasi.
Ibu Sumiatun masih kelihatan cantik. Dan pak Hartono masih kelihatan gagah dan ganteng. Karena memang pak Hartono adalah seorang mantan tentara. Jadi dia masih kelihatan gagah dan berotot.
Ica diam-diam mengawasi keduanya dari kursi belakang mobil, dan sesekali memancing pembicaraan. Karena keduanya saling diam. Hanya sesekali mereka saling lirik, dan saling senyum.
Lalu Icha berbicara kepada pak Hartono....
"Oh iya.. ini kita masih jauh nggak pak.?"
Tanya Icha kepada pak Hartono...
Lalu pak Hartono menjawab...
"Ya...kira-kira 30 menit lagi kita sampai kok.!"
Lalu Ibu Sumiatun menyambung pembicaraan tersebut, dan bertanya kepada Icha....
"Kenapa Icha ada apa....!! Apa Icha mau ke kamar kecil,? Kalau memang demikian, kita cari POM bensin yang terdekat dulu aja, gimana.?"
Lalu pak Hartono berkata....
"Oh iya sekalian kita isi bahan bakar dulu, kebetulan bahan bakarnya ini lagi menipis juga.!"
Selalu terpaksa saat kemudian mereka berhenti di salah satu pengisian bahan bakar. Lalu kemudian pak Hartono turun untuk mengisi bahan bakar, sedangkan Icha dan ibu sumiatun juga turun menuju ke kamar kecil.
Selang beberapa saat kemudian mereka pun kembali masuk dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud.
Selang beberapa saat kemudian, mereka pun sampai ke tempat tujuan, yaitu pantai yang dimaksud. Lalu mereka langsung menuju tempat parkir mobil di area tersebut, lalu mereka semua turun dari mobil.
Setelah itu mereka langsung masuk ke area wisata pantai tersebut.setelah beberapa saat kemudian, Icha yang saat itu berjalan ber iringan dengan pak hartono dan ibunya, tiba-tiba ada memanggil dari belakang....
"Icha...!! Icha....!!"
Sontak Icha menoleh kebelakang ke arah si pemanggil tersebut....
Dan ternyata, sipemanggil tersebut adalah teman-teman kampus Icha sewaktu masih kuliah. 3 orang cowok dan 2 orang cewek.
Dan kebetulan, salah satu dari cowok Tersebut adalah anak seorang Dosen di kampusnya sewaktu Icha masih kuliah.
Lalu setelah itu, 5 orang teman Icha tersebut bersalaman dan cipika cipiki dengan Icha.
Sebagai rasa solidaritas pertemanan mereka.
Sambil lalu pak Hartono menanyakan alamat masing-masing teman-teman Icha tersebut.
Lalu setelah itu, kelima teman Icha tersebut mengajak Icha untuk bersama-sama dengan mereka ke tempat lain dan memisahkan diri dari bapak Hartono dan Ibu Sumiatun.
Salah satu dari teman Icha tersebut berbicara kepada Bapak Hartono dan Ibu Sumiatun....
"Bapak Ibu, kami mohon izin kepada Bapak dan Ibu untuk membawa Icha jalan-jalan ke tempat lain bersama kami...!! Bagaimana, apakah boleh Pak...Bu...?"
Lalu pak Hartono dan Ibu Sumiatun menjawab ucapan teman teman Icha tadi kepada dirinya....
"Iya boleh nggak apa-apa...! tapi hati-hati ya....!!"
Lalu teman-teman Icha menjawab...
"Oh...iya Pak, Ibu, terima kasih ya...!"
Lalu bapak Hartono dan Ibu Sumiatun menjawab....
"Iya... sama-sama.!"
Lalu Icha berpamitan kepada bapak Hartono dan Ibu Sumiatun....
"Pak... Bu... Icha pergi dulu ya.!"
Pak Hartono dan Ibu Sumiatun menjawab....
"Iya... hati-hati Nak ya...!"
Lalu mereka pun pergi meninggalkan Bapak Hartono dan Ibu Sumiatun.
Sekarang pak Hartono dan Ibu Sumiatun hanya berdua, tidak ada Icha di samping mereka.
Dan di situlah romantika terjadi antara mereka berdua.
Lalu pak Hartono mengajak Ibu Sumiatun menuju ke salah satu tempat duduk di pinggir pantai tersebut, dan mereka duduk berduaan di sana.
Kebetulan suasana di tempat itu tidak begitu banyak pengunjung, walaupun hari itu adalah hari libur. Karena waktu sudah agak sore.
Tapi suasana di tempat itu sungguh indah dan menyenangkan.
Semilirnya angin yang sepoi-sepoi, dan hempasan ombak silih berganti, menambah keromantisan mereka berdua saat itu.
Dan merek pun terlena dengan suasana tersebut....
Mereka pun bingung apa yang harus di bahas untuk memulai pembicaraan. Hati mereka pun berdebar-debar, dan harus memulai dari mana pembicaraan yang akan dibicarakan....
Dan tanpa terasa mereka secara bersamaan memulai kata yang sama, dan waktu yang sama.....
Mereka berkata....
"Sangat...!! Sangat....!!"
Setelah kata-kata mereka terbentur satu sama yang lain, maka sesaat mereka berdua diam sembari tersenyum.....
Lalu pak Hartono mempersilahkan Ibu Sumiatun bicara terlebih dahulu.
Sebaliknya demikian Ibu Sumiatun juga mempersilahkan pak Hartono, untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu....
Lalu pak Hartono memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu...
"Sangat indah ya pemandangannya..!"
Lalu Ibu Sumiatun menyahut....
"Iya ya, indah sekali. Saya baru kali ini loh melihat pemandangan pantai seindah ini.!"
"Oh ya...!?". Sambung pak Hartono....
Lalu ibu sumiatun berkata lagi....
"Iya... dulu saya tidak pernah diajak jalan-jalan seperti ini oleh mantan suami saya pak. Ya maklumlah jangankan jalan-jalan, untuk cari biaya hidup sehari-hari saja repot..!!"
Lalu pak Hartono merespon ucapan Ibu Sumiatun tersebut....
"Kalau sekarang gimana, Ibu senang nggak...?"
Lalu Ibu Sumiatun menjawab...
"Iya saya sangat senang sekali hari ini..!"
Lalu Bapak Hartono merespon lagi....
"Wah kalau begitu sama dong...Saya juga merasa sangat senang sekali hari ini....!!"
Dan mereka berdua pun tersenyum.
Setelah beberapa saat kemudian, keluarlah kata-kata inti dari bapak Hartono kepada Ibu Sumiatun.
Pak Hartono berkata....
"Bu...!! saya sangat mencintai Ibu....!! Dan perasaan itu sebenarnya sudah lama saya pendam, semenjak 7 hari dari kematian istri saya Farida.
Karena saya takut kalau hal ini diutarakan kepada Ibu waktu itu, takutnya Ibu menolak dan tidak mau sama saya.!"
Lalu Ibu Sumiatun berkata....
"Ah... yang bener....! Bapak memang betul-betul cinta sama saya, atau saya hanya dijadikan pelarian dari kesepian bapak, semenjak ditinggal Ibu Farida...!?"
Terus pak Hartono menjawab....
"Demi Tuhan Bu, saya memang benar-benar cinta sama Ibu.!"
Ibu Sumiatun bertanya....
"Terus apa yang membuat Bapak cinta sama saya.!"
Lalu pak Hartono menjawab.....
"Pertama Bu...! Ibu itu cantik loh...!
Terus yang kedua.. Ibu itu penyabar...!
Terus yang ketiga... Ibu itu adalah orang yang gigih dalam hal tanggung jawab kepada diri Ibu sendiri dan kepada anak Ibu "Icha."
Dan yang terpenting Ibu adalah orang yang berkepribadian baik.
Jadi menurut saya Ibu adalah orang yang sempurna.!!
Jadi itulah yang membuat saya jatuh cinta kepada Ibu...!!"
Mendengar kata-kata pujian dari pak Hartono tersebut..!!
Lalu Ibu Sumiatun berkata.....
"Ih...gombal ih...!!
Lalu pak Hartono mengeluarkan kata-kata maut.....
"Kalau Ibu tidak percaya, mungkin itu hak Ibu.
Tapi ketahuilah Bu...!! Keragu-raguan Ibu terhadap cinta saya kepada Ibu, itu sebenarnya sudah mematahkan separuh dari sayap kehidupan saya.
Dan asal Ibu tahu, seandainya cinta saya terhadap Ibu dipertaruhkan di laut ini...
Maka saya sanggup untuk menyeberangi laut ini sampai ke seberang sana, demi cinta saya kepada Ibu...!!"
Mendengar kata-kata maut dari pak Hartono tersebut....
Maka seketika itu juga Ibu Sumiatun jatuh di pelukan Bapak Hartono....
Dan Ibu Sumiatun pun berkata...
"Saya juga cinta kepada bapak.!!"
Dan mereka pun larut dalam suasana jatuh cinta dan kemesraan.
Dengan disaksikan hempasan ombak yang silih berganti, dan indahnya pemandangan laut tersebut.
Tidak terasa hari sudah semakin sore.
Tiba-tiba...!! Dari arah belakang ada suara ledekan yang membuat Ibu Sumiatun dan pak Hartono menjadi salah tingkah. Dan Ibu Sumiatun segera melepaskan sandaran kepalanya, dari pelukan pak Hartono.
"Cie... cie... cie...!! Ada yang lagi di mabuk cinta tuh...!! Eh salah.!! Ada yang lagi di mabuk kasmaran nih ye....!?"
Setelah mereka berdua menoleh, ternyata yang meledek mereka itu adalah Icha. Rupanya Icha dari tadi telah memperhatikan mereka dari belakang.
Lagi-lagi Icha membuat mereka tersipu malu.
Lalu Ibu Sumiatun berkata....
"Ih... Icha... apaan sih...!!"
Lalu Icha berkata dengan nada meledek lagi....
"Wah ini bahaya ni...!! ini kayaknya harus secepatnya dibawa ke kantor urusan agama nih...!!"
Mendengar ucapan Icha tersebut, pak Hartono dan Ibu Sumiatun tertawa lepas...
Mereka menganggap ledekan Icha tersebut, terdengar lucu dan menggelitik mereka.
Sesaat kemudian Bapak Hartono memanggil Icha dan menyuruhnya duduk diantara mereka.
"Icha sini nak...!! duduk bersama kami di sini.!!"
Lagu Icha menghampiri mereka yang lagi duduk berjajar, dan duduk di tengah-tengah mereka.
Lalu Bapak Hartono bertanya kepada Icha tentang temannya.
"Loh Icha teman-temanmu tadi di mana Nak.?"
Lalu Icha menjawab....
"Oh iya mereka sudah pulang lebih dulu pak.!"
Lalu Bapak Hartono berbicara kepada keduanya.
"Oh iya...!! ini kayaknya sudah semakin sore, sebelum kita pulang bagaimana kalau kita makan dulu yuk...!?"
Lalu Icha merespon ajakan pak Hartono.
"Iya nih...!! kebetulan saya lagi lapar banget lagi ni...!!"
Lalu pak Hartono mengajak mereka menuju ke "RESTO" yang telah disediakan oleh panitia pengelola wisata pantai tersebut, Lalu mereka makan di tempat tersebut.
Setelah mereka selesai makan,maka mereka bersepakat untuk segera pulang.karna waktu sudah semakin sore.
Maka ketiganya segera menuju ketempat parkiran mobil, karna mobil pak Hartono diparkir ditempat tersebut.
Dan setelah mereka masuk ke dalam mobil, lalu mereka langsung berangkat pulang
Setelah beberapa waktu mereka pun sampai ke halaman rumah, lalu setelah itu Ibu Sumiatun dan Icha langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. sedangkan Bapak Hartono langsung memasukkan mobil tersebut ke dalam garasi di samping rumahnya.
Setelah beberapa saat kemudian Bapak Hartono pun juga masuk ke dalam rumah.
Dan sesaat kemudian mereka pun segera mandi dan ganti baju. Lalu Ibu Sumiatun segera membuatkan kopi untuk pak Hartono, dan ditaruh di atas meja di ruang tengah.
Lalu setelah itu bapak Hartono menikmati kopi tersebut, yang telah sebelumnya dibuatkan oleh Ibu Sumiatun untuk dirinya.
Dan sesaat kemudian Bapak Hartono memanggil Icha dan Ibu Sumiatun ke ruang tengah tersebut. Dan sesaat kemudian Ibu Sumiatun dan Icha memenuhi panggilan dari pak Hartono, dan mereka duduk di kursi ruang tengah bertiga.
Setelah mereka berkumpul bertiga di ruang tengah tersebut, lalu pak Hartono berbicara kepada Icha dan Ibu Sumiatun di ruang tengah tersebut sembari meminum kopi.
Lalu pak Hartono berbicara kepada mereka....
"Begini ada yang saya mau rembuk-kan dengan kalian...!!
Lalu Ibu Sumiatun menjawab....
"Iya ada apa pak..!!"
Lalu pak Hartono berkata dan bertanya kepada Ibu sumiatun....
"Begini... bagaimana kalau kita segera menikah saja Bu, karena nggak baik lama-lama kita kumpul, tanpa ada ikatan sumi istri, nanti nggak enak di lihat tetangga...!! Bagaimana Bu Ibu setuju.?"
Lalu Ibu Sumiatun menjawab....
"Iya benar kata bapak, saya setuju. Nanti apa kata orang, nanti kita dibilang kumpul kebo lagi, kan malu kita.!!"
Lalu pak Hartono bertanya kepada Icha....
"Kalau menurut kamu bagaimana Icha, apa kamu setuju dengan rencana ini.!!"
Lalu Icha menjawab pertanyaan pak Hartono....
"Wah...!! kalau saya setuju banget...!! lagian... kalian kan sudah saling cinta, jadi nunggu apa lagi dong..!! jadi menurut saya ya segera nikah aja...!!"
Lalu pak Hartono berkata....
"Baik kalau begitu besok kita sama-sama ke kantor KUA. Untuk mendaftar, dan sekaligus mintak jadwal hari dan tanggal, untuk akad Nikah di sana....!!"
"Bagaimana...!! kalian setuju.?
Tanya pak Hartono kepada keduanya....
Lalu Ibu Sumiatun dan Icha menjawab....
"Ya kami setuju...!!"
Lalu pak Hartono menyuruh Ibu Sumiatun dan Icha, untuk segera beristirahat karena waktu sudah larut malam, dan lagian mereka semuanya merasa kecapean, setelah seharian tadi siang mereka jalan-jalan ke pantai.