
Keesokan harinya, mereka semua bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap untuk segera pergi ke pasar, untuk berbelanja bahan-bahan pokok setelah semuanya selesai salat subuh.
Mereka pun semua segera berangkat ke pasar, setelah sebelumnya Icha menuju rumah tersebut.... Pasar tersebut memang tidak jauh dari tempat tinggal mereka, jadi mereka tidak perlu memakan waktu yang lama untuk sampai ke pasar yang dimaksud.
Setelah mereka semua sampai ke pasar, lalu mereka segera membagi tugas masing-masing. Ada yang membeli "beras" ada yang beli "sayuran" ada juga yang membeli "ikan" ada yang membeli "bumbu-bumbu" dan ada juga yang beli "buah-buahan segar."
Setelah beberapa menit kemudian... Di antara mereka sudah ada yang selesai dengan barang-barang yang dibelinya, setelah sebelumnya mereka membagi tugas. Karena memang di antara mereka semua tidak bersamaan dalam selesainya mereka untuk berbelanja tersebut. Karena barang yang dicari atau barang yang dibeli, tidak serta-merta langsung mereka dapat. Ada yang sebelumnya masih dicari ke suatu tempat. Jadi karena itulah mereka dalam mencari barang yang dibeli menjadi tidak serentak, atau didapatkan secara bersamaan di antara mereka.
Mereka memastikan agar kumpul di satu tempat di pasar tersebut, jikalau mereka dalam pembagian tugas untuk berbelanja, ada yang lebih kelar duluan supaya segera menempati tempat yang ditentukan sebelumnya. Hal tersebut menghindari dari kebingungan, atau lebih gampangnya mereka tidak akan khawatir mencari salah satu di antara mereka, jikalau dalam berbelanja tersebut sudah selesai.
Dan benar saja.... Di antara mereka ada yang lebih selesai duluan dalam berbelanja, dan segera menempati tempat tersebut, dan menunggu teman yang lain yang belum selesai dalam belanjaannya.
Setelah mereka semua selesai berbelanja bahan-bahan pokok tersebut di pasar, kemudian mereka semua segera pulang dan mereka segera memasak untuk makan pagi.
Dan memang mereka belanjanya ke pasar tadi memang pagi-pagi sekali, jadi mereka memasak pun bisa agak pagi.
Dan benar saja.... Tepat pukul 07.00 pagi mereka semua sudah selesai memasak, kemudian mereka segera mempersiapkan masakan tersebut di ruang makan. Dan setelah semuanya masakan tersebut ditaruh di meja makan, kemudian mereka semua langsung makan pagi bersama-sama
Di meja makan tersebut. Mereka makan bersama-sama sambil ngobrol, dan mereka semua merasa senang dan bahagia, karena mereka merasa di situlah nilai-nilai arti kebersamaan dimulai. Mereka bisa tinggal bareng, jalan bareng, makan bareng, dan lain-lain. Dan itu semua terjadi di negeri orang. Dan semua itu tidak ada yang bisa melebihi kebahagiaan mereka, dalam arti kebersamaan dan kekompakan mereka antara satu dengan yang lain.
Kemudian setelah mereka semua selesai makan pagi, lalu mereka semua kembali membagi tugas yang dipimpin oleh Icha.
Ada yang mencuci piring, ada yang menyapu ruangan, dan ada juga yang mengepel lantai. Itu semua mereka lakukan dengan rasa sangat senang hati, dan semua itu dilakukan mereka dengan kompak tanpa ada yang iri antara satu dengan yang lainnya. Itulah mereka, dan itulah kehidupan mereka di negeri orang tersebut....
Setelah jam menunjukkan pukul 08.30 pagi waktu setempat, dan mereka sudah selesai beres-beres di rumah tersebut, maka mereka segera bersiap-siap untuk mandi, kemudian berangkat ke kampus bersama dengan om Robert dan Adit.
Adit pun demikian... Setelah dia selesai makan pagi bersama keluarga om Robert, kemudian dia segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus bersama om Robert dan kelima teman-temannya.
Dalam hal bersiap-siap Adit memang lebih cepat dari terima teman-temannya yang lain karena memang Adit adalah seorang cowok sedangkan kelima temannya tersebut semuanya adalah cewek jadi Adit tidak perlu memakan waktu yang lama untuk berdandan tetapi kalimat temannya tersebut termasuk Icha mereka sama adalah cewek otomatis mereka semua akan memerlukan waktu beberapa saat untuk berdandan.
Dan kesempatan itu digunakan oleh Adit... Dia menghampiri teman-temannya di rumah sebelah tersebut, untuk memperingatkan kepada mereka semua agar segera cepat-cepat bersiap untuk berangkat ke kampus, karena om Robert sudah siap dengan mobilnya di halaman rumah.
Lalu Adit berkata kepada mereka....
"Temen-temen.!! Ayo cepet cepet semua.!! Kita udah ditunggu tuh ama om Robert.!!"
Kemudian Icha menjawab dari dalam kamarnya....
"Iya ntar dulu Dit.!! entar lagi.!?"
Tak lama kemudian Icha dan rebecca keluar dari kamar dengan membawa tas, kemudian disusul dengan teman-teman yang lain. Semuanya segera berkumpul di ruang tamu lantai bawah rumah tersebut.
Lalu Icha berbicara kepada Adit....
"Oke Dit... Kita udah siap nih.!!" Nah elu sendiri gimana.? Udah siap apa belum.!?" Tanya balik Icha kepada Adit....
Kemudian Adit menjawab....
"Kalau gue sih.... Emang udah siap dari tadi nih.!! Buktinya gue ngontrol kalian ke semua ke sini kan.!?"
Lalu Icha bertanya lagi....
"Lah om Robert sendiri gimana Dit.??"
Kemudian Adit menjawab....
"Kalau Robert udah dari tadi tuh manasin mobil di halaman depan.!! Udah ayo ah... Nanti kita kesiangan nih.!!"
Kemudian mereka semua segera keluar dari rumah, kemudian Icha mengunci pintu rumah dulu, lalu mereka langsung menuju ke mobil di mana om Robert telah menunggu mereka semua di mobil tersebut. kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil, lalu om Robert segera menjalankan mobilnya dan segera keluar dari halaman rumahnya, kemudian menuju ke kampus yang dimaksud.
Memang kampus itu sendiri jarak dari rumah om Robert yaitu 5 km. Kadi Icha Adit dan semua teman-temannya selanjutnya kalau mereka sudah mulai masuk studi di sana, maka mereka harus naik bus dari rumah menuju ke kampus tersebut. Memang untuk yang sekarang om Robert sengaja membawa mereka semua, karena memang mereka semua masih pertama kali untuk ke kampus tersebut, dan itu pun mereka tidak akan langsung menjalankan studi di sana, karena untuk yang sekarang mereka masih meng klirkan semua berkas-berkas yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Jadi mereka di hari perdana tersebut harus menyerahkan berkas-berkas dari mereka semuanya, dan juga mereka harus mengetahui ketentuan-ketentuan dan peraturan di kampus tersebut, sebelum mereka semuanya studi di sana, dan sekaligus mereka akan mendapatkan rekomendasi dari pihak kampus tentang jadwal awal mereka masuk tempat tersebut untuk studi.
Setelah mereka semuanya sampai di halaman Universitas tersebut, maka semuanya segera turun dari mobil om Robert. Lalu kemudian mereka semua diajak oleh om Robert masuk ke kantor direktorat, dengan ditemani oleh om Robert.
Lalu kemudian mereka semua masuk ke dalam kantor direktorat tersebut. Dan di dalam kantor tersebut sudah ada rektor dan beberapa staf yang menunggu mereka semua, karena memang mereka sudah dikasih tahu oleh om Robert, bahwa Adit dan teman-temannya termasuk Icha akan datang hari itu ke kampus tersebut. Dan memang om Robert adalah dosen senior di sana. Jadi Icha Adit dan lainnya tidak begitu kesulitan dalam hal kedatangan mereka di kampus tersebut, karena memang mereka semua sudah di backing atau ditolong tentang kemudahan-kemudahan dalam segi apapun oleh om Robert. Jadi sang rektor pun tidak begitu banyak bertanya kepada mereka semua. Selain data-data dari mereka semua sudah lengkap, memang mereka semua masuk ke Universitas tersebut di atas namakan om Robert, karena om Robert sendiri adalah salah satu dosen senior di kampus tersebut. Jadi Om Robert diberi konvensasi perekrutan mahasiswa yang tergolong dari keluarga om Robert sendiri. Jadi Icha merasa dirinya dan keempat teman cewek lainnya merasa mendapatkan keberuntungan dengan segala kemudahan-kemudahan tersebut, itu semua dikarenakan karena mereka kenal dengan Adit. Karena Icha merasa... Yang termasuk keluarga dari Om Robert sendiri adalah Adit.
Setelah mereka semua menghadap rektor, kemudian sang rektor menanyakan satu persatu berkas-berkas mereka dimulai dari Adit. Adit sendiri menyerahkan semua file-file, dokumen data-data pribadi, seperti KTP" KK" sampai keterangan atau file dari waktu Adit mendapatkan gelar s1-nya di tempat Universitas sebelumnya, yaitu Universitas BRAWIJAYA Malang. dan tak lupa juga Adit menyerahkan surat rekomendasi dari pemerintah, yaitu surat keterangan beasiswa yang didapatinya oleh Adit tersebut, semua diserahkan kepada sang rektor.
Setelah semuanya dokumen-dokumen tersebut diserahkan oleh Adit kepada sang rektor, kemudian sang rektor pun memeriksa dokumen-dokumen tersebut satu persatu dengan teliti. Dan Tak lama kemudian... dokumen-dokumen tersebut oleh sang rektor ditaruh di samping meja, karena sang rektor merasa sudah cukup memeriksa dokumen tersebut, dan semua dirasa sudah CLEAR dan benar. Termasuk surat rekomendasi dari pemerintahan INDONESIA tentang beasiswa yang didapatinya itu, semua tidak luput dari pemeriksaan dari sang rektor.
Kemudian sang rektor berbicara kepada Adit dan om Robert tentang keabsahan dokumen-dokumen dari Adit termasuk beasiswa tersebut, dengan mengakui dan menerima semua dokumen-dokumen dari Adit tersebut. Jadi kesimpulannya sudah bisa dipastikan, bahwa Adit akan bebas biaya atau gratis selama kuliah di Universitas tersebut dengan jaminan beasiswa yang didapatinya itu.
Kemudian setelah bekas berkas dari Icha selesai diperiksa, kemudian sang rektor menanyakan ke teman-teman Ica lainnya, yaitu giliran Rebecca. kemudian sang rektor menanyakan semua berkas-berkas dan file-file dari Rebecca, sama seperti Adit dan Icha sebelumnya. Lalu Rebecca menyerahkan semua berkas-berkas dan file tersebut kepada sang rektor, lalu sang rektor memeriksa dan meneliti berkas-berkas tersebut. Tapi kali ini beda, tidak sama dengan Adit dan Icha. Karena Rebecca tidak memiliki surat rekomendasi jaminan dari pemerintah.... Yaitu beasiswa. Maka setelah memeriksa data-data dan berkas-berkas tersebut, kemudian sang rektor berbicara kepada Rebecca, bahwa Rebecca harus menerima ketentuan-ketentuan kampus, dalam hal ini masalah pembiayaan termasuk uang gedung" seragam" dan lain-lain. Maka itu berlaku buat Rebecca dan teman-teman lainnya yang tidak memiliki beasiswa. Setelah sang rektor berkata kepada Rebecca, kemudian Rebecca menyanggupi ketentuan-ketentuan yang sampaikan oleh sang rektor tersebut.
Dan ketentuan tersebut bukan hanya
Berlaku kepada Rebecca saja, akan tetapi ketentuan tersebut berlaku kepada Melinda" Anggun" dan Fitriani" karena mereka semuanya berempat tidak memiliki beasiswa.
Setelah mereka semua sudah selesai dilakukan pemeriksaan masalah berkas-berkas, maka mereka segera diberitahu oleh sang rektor tentang jadwal dimulainya mereka studi di Universitas tersebut. Kemudian sang rektor memberitahu kepada mereka bahwa mereka dipersilakan untuk memulai studinya di Universitas tersebut mulai besok. Jadi mereka besok sudah bisa memulai studi di Universitas tersebut.
Kemudian setelah semuanya selesai dengan urusan tersebut, kemudian om Robert berkata kepada mereka agar mereka semua segera pulang terlebih dahulu. Karena om Robert akan segera mengajar di kampus tersebut, karena memang om Robert adalah dosen di kampus itu.
Lalu mereka pun segera pulang naik bus menuju ke tempat tinggal mereka.
Dan sesampainya ke rumah, lalu mereka semua berkumpul dan bermusyawarah mengenai hal besok. Yang mana mereka akan memulai studinya di kampus tersebut. Terutama yang dibahas oleh mereka yaitu masalah transportasi, karena mereka setiap harinya tidak mungkin ikut dengan om Robert. Jadi mereka mau tidak mau harus naik bus untuk menuju ke kampus tersebut.
*Sejenak kita tinggalkan Icha dan teman-temannya tersebut di Amerika....!!
Sekarang kita menuju ke kediaman Pak Hartono...!!*
Di mana yang sebelumnya pak Hartono membangun pagar belakang rumahnya.... Rupanya pagar tersebut sudah selesai pengerjaannya. Kemudian Pak Hartono melanjutkan ke rencana berikutnya yaitu: membuat tempat peristirahatan, atau tempat bersantai di pojok halaman sebelah kiri rumahnya. Yang mana bahan-bahan untuk pembuatan tempat tersebut sudah dibelinya oleh pak Hartono sebelumnya..
Kemudian setelah pagar tersebut selesai dikerjakan, maka Pak Hartono segera memulai membuat tempat yang direncanakan tersebut dengan menyuruh para pekerjanya untuk segera melakukan pengukuran tentang lebar dan panjangnya. Kemudian para tukang tersebut melaksanakan tugas dari Pak Hartono dengan mengukur lahan tersebut, untuk selanjutnya akan dilakukan penggalian pondasi. Dan setelah pengukuran itu selesai, maka mulailah penggalian tersebut dilakukan oleh para pekerja. Sedangkan Pak Joko selain sibuk dengan mengurusi ikan lele dan sibuk dengan mengurusi para pekerja, Pak Joko juga sibuk dengan pengecatan pagar rumah Pak Harto tersebut. Dan memang pengecatan tersebut dimulai dari depan rumah Pak Hartono, karena memang walaupun pagar yang di depan dan samping itu sudah lama ada, tapi pagar tersebut belum dicat. Jadi pelaksanaan pengecatan tersebut dilakukan serentak dengan pagar yang di belakang rumah, walaupun yang di belakang rumah tersebut terbilang masih baru.
Setelah beberapa waktu berlalu.... Tidak terasa lele lele dari Pak Hartono tersebut rupanya sudah siap dipanen. Dan hal itu tentu saja membuat Pak Hartono merasa senang, karena lele-lele tersebut rupanya semuanya sehat-sehat dan bagus-bagus kualitasnya. Di mana yang dulu Pak Hartono cuma memiliki 3 petak kolam ikan lele, tapi sekarang beliau sudah memiliki 10 petak ikan lele. Dan itu pun dengan ukuran yang lebih lebar dari ukuran yang sebelumnya, tentu saja untuk panen ikan yang kali ini akan lebih banyak. Baik dalam segi ikan itu sendiri, ataupun dalam segi penjualan. Sedangkan masalah penjualan itu sendiri, Pak Hartono pada waktu yang sebelumnya hanya memiliki 3 petak kolam itu saja, penjualannya pun termasuk lancar, karena dikenal ikan lele hasil ternakan dari Pak Hartono tersebut kualitasnya sangat bagus. Karena Pak Hartono selain memilih bibit dari ikan tersebut adalah bibit unggul, Pak Hartono juga merawat dengan baik. Apalagi yang sekarang, meskipun kolam ikan lele tersebut lebih banyak menjadi 10 petak, tapi Pak Hartono cara mengurusnya pakai orang lain... Yaitu pakai Pak Joko. Jadi tentu saja hal itu akan lebih maksimal cara penanganannya atau cara perawatannya tentang ikan lele tersebut.
Kemudian Pak Hartono berkoordinasi dengan Pak Joko, dan Pak Hartono berkata kepada Pak Joko....
"Oh iya mas.... Kayaknya lele-lele ini sudah waktunya kita panen.!! Jadi menurut mas Joko bagaimana.??" Tanya Pak Hartono kepada Pak Joko....
Kemudian Pak Joko menjawab....
"Kayaknya sih begitu dek menurut mas....memang sudah waktunya lele-lele ini dipanen. Jadi menurut mas, sebaiknya di Hartono segera mengabarkan tentang hal ini kepada para pelanggan-pelangkan dek Hartono yang biasa membeli ikan lele di Hartono sebelumnya, sebelum kita menguras kolam ini dan memanennya.!!
"Bagaimana dek.??" Tanya Pak Joko kepada Pak Hartono.....
Kemudian Pak Hartono menjawab....
"Baiklah kalau begitu mas... Saya akan segera mengabari para pelanggan-pelanggan saya yang dari dulu memang biasa membeli ikan lele kepada saya.!!"
Kemudian Pak Hartono langsung menelpon para pelanggannya tersebut, dan Pak Hartono berkata dan memberitahukan kepada mereka bahwa ikan lelenya sudah siap dipanen. Dan Pak Hartono juga bilang kepada pelanggannya tersebut, bahwa ikan lele miliknya sekarang bukan lagi 3 petak seperti yang dulu, melainkan ikan lele miliknya tersebut sekarang ada 10 petak kolam. Jadi omset penjualan tersebut akan meningkat dari yang sebelumnya. Kemudian para pelanggannya Yang ditelepon oleh pak Hartono tersebut sanggup dan mau membeli ikan lele Pak Hartono. Dan pelanggannya tersebut akan ke rumah Pak Hartono hari itu juga untuk membeli ikan lelenya, dan pelanggannya tersebut berjanji kepada Pak Hartono akan datang jam 03.00 sore, sedangkan saat itu waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi. Jadi Pak Hartono dan Pak Joko bisa memulai Dengan menguras kolam-kolam tersebut dari saat itu juga, agar sewaktu tepat pada waktunya nanti para pelanggan dari Pak Harto tersebut tiba, maka mereka langsung bisa mengambil ikan-ikan lele tersebut dengan gampang tanpa terkendala dengan air.
Kemudian Pak Joko langsung menguras kolam tersebut lewat saluran paralon, yang langsung menuju ke sungai di di luar pagar samping kanan rumah Pak Hartono. Pak Joko mengurus kolam tersebut dengan pelan-pelan dan hati-hati agar ikan-ikan lele tersebut tidak ikut ke dalam saluran pembuangan air tersebut, dengan memakai cara mengganti paralon yang sebelumnya. Di mana paralon yang sebelumnya tersebut tidak dibolongin. Tapi untuk paralon yang khusus menguras kolam jadi paralonnya harus diganti dengan paralon yang diberi bolongan-bolongan kecil di paralon tersebut, agar air yang di dalam kolam tersebut langsung keluar lewat bolongan tersebut dan langsung menuju ke saluran pembuangan. Dan tidak lupa paralon itu pun dikasih jaring pengaman oleh Pak Joko, agar lele-lele yang agak kecil tidak ikut terbuang atau ikut ke saluran pembuangan air yang menuju ke sungai tersebut, karena memang lele lele tersebut tidak 100% sama ukurannya, melainkan ada juga yang kecil. Jadi walaupun ikan lele yang kecil tersebut sewaktu kolam dikuras, maka tidak akan ikut ke saluran pembuangan air, karena paralon khusus yang untuk pengurasan kolam tersebut sudah diberi pengaman" yaitu jaring.
Kolam itu sendiri awalnya di isi dengan air 80% satu persatu dari kolam-kolam tersebut, dan itu dilakukan semenjak kolam tersebut pertama kali atau awal penaburan bibit. Jadi untuk pengurasan air sewaktu panen, maka air tersebut harus dikuras sebanyak 60% dari kolam tersebut jadi di kolam tersebut hanya tersisa 20% air, dan itu dilakukan agar mempermudah pengambilan ikan itu sendiri. Dan itu dilakukan oleh Pak Joko satu persatu di antara petak-petak kolam ikan lele tersebut.
Setelah beberapa waktu kemudian.... Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam istirahat bagi para pekerja untuk makan siang. Kemudian Ibu Sumarni kelihatan sibuk mengeluarkan sarapan siang dari dapur ke halaman belakang rumah, sedangkan Pak Joko yang mengetahui istrinya tersebut sibuk mengeluarkan sarapan, kemudian Pak Joko menghampiri dan membantu istrinya tersebut untuk mengeluarkan sarapan dari dapur ke halaman belakang. Dan setelah semuanya selesai dikeluarkan, maka Pak Joko segera memanggil para pekerja tersebut, untuk segera makan siang dengan ditemani oleh Pak Joko sendiri.
Sedangkan Pak Hartono dipanggil istrinya untuk segera juga sarapan siang di ruang makan rumahnya, dengan ditemani sang istri tersebut.
Sementara kolam ikan lele yang dikuras tersebut, mereka tinggalkan sejenak. Karena memang kolam tersebut sudah diatur cara pengurasannya, dengan memakai paralon yang didesain untuk menguras air di kolam tersebut. Jadi meskipun pada saat kolam tersebut masih dalam pengurasan, maka kolam itu sendiri sudah terkontrol dengan sendirinya, karena memang mereka menggunakan paralon yang dibolongi. Jadi mereka tidak akan merasa khawatir ikan-ikan itu ikut bersama air yang terkuras ke saluran air.... Yaitu sungai.
Setelah semuanya selesai makan siang, seperti biasanya kemudian para pekerja tersebut mandi dan segera salat zuhur. Begitu juga dengan Pak Joko.... Setelah Pak Joko selesai makan siang, maka beliau terus mandi dan salat zuhur, kemudian beliau ikut ngobrol bersama para pekerja yang saat itu kebetulan lagi duduk-duduk minum kopi dan merokok di halaman belakang rumah tersebut, sembari sesekali melihat ke kolam ikan lele yang dikuras airnya tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian.....
Para pekerja itu pun kembali lagi mengerjakan pekerjaannya, yaitu membuat pondasi untuk pembangunan tempat peristirahatan yang dimaksud. Sedangkan Pak Joko meneruskan pekerjaannya, yaitu: menguras air kolam ikan lele milik Pak Hartono tersebut. Sementara masalah pengecatan pagar itu sendiri, itu untuk sementara oleh Pak Joko di CANCEL, karena memang ada pekerjaan yang lebih penting. Yaitu:mengurus kolam-kolam ikan lele milik Pak Hartono. Dan kebetulan kondisi air di kolam itu sendiri sudah mencapai 60%, jadi kurang 20% lagi untuk mencapai standar dari pembuangan air di kolam tersebut, karena sebelumnya air di kolam tersebut terisi 80% dari batas pondasi atau tembok kolam itu sendiri.
Setelah beberapa waktu kemudian... Waktu yang dijanjikan oleh pembeli ikan kepada Pak Hartono itu pun telah sampai pada waktunya, yaitu: tempat pukul 03.00 sore. Sedangkan pengurasan kolam itu sendiri pun sudah selesai dilakukan oleh Pak Joko. Maka mereka datang ke rumah Pak Hartono untuk membeli ikan lele atau mengulak ikan tersebut, karena memang mereka adalah pedagang ikan lele. Kemudian mereka semua segera turun ke kolam tersebut satu persatu kemudian memanen ikan tersebut dan menimbangnya.
Memang kolam tersebut sebelumnya di isi 5.000 bibit ikan lele oleh pak Hartono.... Dan setelah ikan tersebut dipanen, hasil dari per petaknya tersebut adalah 600 kg. Sedangkan kolam tersebut ada 10 petak, jadi total keseluruhannya ikan tersebut sebanyak 6 ton atau 6 000 kg dari 10 petak kolam.
Sedangkan dulu sebelum kolam tersebut diperbarui, hasil dari panen ikan lele tersebut hanya tembus sampai 3 00 kg per petak, itu memang dikarenakan kapasitas dari kolam tersebut sebelumnya memang tidak sebesar yang sekarang. Jadi sudah bisa dipastikan kolam tersebut lebih besar daripada kolam yang sebelumnya... Jadi sangatlah wajar kalau omset atau hasil dari panen ikan lele tersebut dua kali lipat lebih banyak daripada yang sebelumnya, dan pemasaran ikan lele tersebut pun sekarang makin meluas. Kalau yang sebelumnya pemasaran ikan lele dari Pak Hartono yang dijual oleh para pedagang tersebut hanya mencapai kawasan sekitar atau kota sekitar... Namun sekarang penjualannya pun semakin melebar sampai ke luar kota. Jadi pedagang ikan lele dari Pak Hartono tersebut yang sebelumnya ada dua pedagang yang membeli atau yang mengulak, tapi sekarang bertambah dua lagi pedagang. Jadi semuanya pedagang yang mengulak ikan lele milik Pak Harto tersebut berjumlah empat orang pedagang atau 4 orang tengkulak.
Proses pemanenan ikan lele tersebut berlangsung sampai malam hari, karena memang proses tersebut memakan waktu yang agak lama.
"Maklum saja..." Kolam-kolam ikan lele tersebut memang berukuran besar, dan jumlah ikannya pun bukan main-main. Jadi boleh dikatakan peternakan ikan lele milik Pak Harto tersebut bisa dikategorikan partai besar, dengan omset penjualan sampai tembus ke luar kota.
Hal itu membuat Pak Hartono dan ibu Sumiatun merasa sangat senang, apalagi Pak Joko.!! Walaupun beliau bukan pemilik dari kolam kolam tersebut..... Tapi beliau sebagai perawat dari ikan lele tersebut mulai dari bibit sampai panen, beliau merasa berhasil dengan merawat ikan lele tersebut, dan itu membuat Pak Joko merasa bangga dan senang. Demikian juga dengan Pak Hartono, beliau merasa puas dengan kinerja dari Pak Joko yang sudah berhasil merawat ikan lele miliknya.