Suffering Becomes Happiness

Suffering Becomes Happiness
bab 37



Tujuan dari himbauan agar mereka membawa makanan ke tengah-tengah tempat tersebut ialah,: agar mereka semuanya makan bersama antar kelompok di tengah-tengah lapangan, yang mana di tengah-tengah lapangan tersebut sebelumnya sudah ada penerangan lampu yang cukup terang.  Jadi hal tersebut memang sengaja dilakukan agar acara tersebut mulai dengan kemeriahan.  Maka tak lama kemudian, mereka yang lebih dulu sudah kelar dengan masakannya, satu persatu masakan tersebut dibawa ke tengah-tengah tanah lapang atau lapangan tersebut, dengan beralaskan karpet atau sejenisnya yang memang telah dibawa oleh mereka semuanya waktu dari awal perjalanan mereka ke tempat itu.  Dan Tak lama kemudian, semuanya dari mahasiswa-mahasiswa tersebut rupanya sudah selesai dalam memasak.  Kemudian mereka segera mengumpulkan masakan masakan tersebut bergabung dengan yang lain,  Yang mana tadi yang lain tersebut lebih kelar duluan dalam memasaknya.


   Sedangkan para dosen itu sendiri termasuk juga dengan om Robert, mereka juga sama-sama mengeluarkan makanan dari tempat-tempat kemah menuju ke lapangan itu juga.  Di mana yang sebelumnya makanan itu sendiri yang memasaknya adalah para panitia.  Dan para dosen itu sendiri juga tergabung dalam satu grup dengan panitia, maka seluruh para dosen dan panitia makan secara kumpul bersama, karena memang yang memasak makan itu adalah panitia. Dan begitu sudah terkumpul semuanya baik para mahasiswa-mahasiswa dan makanan-makanannya, maka semuanya segera makan secara bersama-sama di lapangan tersebut, atau di tanah lapang di tengah-tengah perkemahan tersebut.  Dan mereka semuanya terlihat senang dan sangat bahagia, karena di momen-momen  seperti itulah yang jarang terjadi di kehidupan mereka, yaitu kebersamaan dan kekompakan yang seperti terjadi saat itu.  Mereka semua menganggap momen tersebut  ter amat sangatlah mahal, dan tidak bisa dibeli dengan apapun.  Dan mereka pun saling bercanda gurau di acara makan tersebut antara teman satu dan teman yang lainnya, ataupun antara grup satu dan grup lainnya. Begitu juga dengan para dosen dan panitia, mereka saling bergurau dan bercanda.  Terlihat dari raut wajah-wajah mereka menampakkan, bahwa mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan yang sangat luar biasa.


   Setelah semua para mahasiswa-mahasiswa dan juga para dosen serta panitia tersebut selesai makan bersama, kemudian mereka semua segera membereskan tempat tersebut. Mereka semua juga segera membersihkan tempat itu, karena sebentar lagi tempat itu akan dijadikan acara perdana.


   Dan benar saja.... Setelah beberapa saat kemudian, mereka semua mendengar arahan dari pengeras suara yang menyuruh mereka semua agar segera berkumpul di tengah-tengah perkemahan tersebut.  Kemudian mereka semuanya segera berkumpul termasuk Icha, Adit, dan juga keempat teman lainnya.  Dan mereka disuruh berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.  Maka mereka segera membentuk kelompok, yang sebelumnya sudah dibentuk oleh para mahasiswa-mahasiswa tersebut.  Kemudian setelah itu diumumkan lagi bahwa acara perdana di malam itu ialah, agar mereka segera menunjukkan bakat-bakat mereka masing-masing.  Baik dalam hal bernyanyi, ataupun puisi, dan skill-skill lainnya.  Jadi peraturannya dalam kelompok tersebut harus ada yang mewakili baik satu ataupun dua orang, lebih-lebih dari semua kelompok itu bisa menunjukkan bakat atau skillnya masing-masing.  Dan memang seluruh mahasiswa tersebut berjumlah 150 orang, tapi dalam kelompok mereka terbagi menjadi 20 kelompok karena sebagian dari mereka seperti yang dikatakan dari awal tadi, mereka ada yang berjumlah 10 orang, ada yang 7 orang, dan ada juga yang berjumlah 5 orang.   Seperti Icha dan teman-temannya sendiri, mereka terbentuk dalam kelompok tersebut hanya terdiri dari 6 orang saja.  Dan sebagian besar dari mereka dalam kelompoknya tersebut kebanyakan terpisah.  Yaitu cowok dengan cowok, sedangkan cewek dengan cewek. Walaupun ada beberapa kelompok dari mereka yang campuran, seperti Icha bersama Adit dan keempat teman lainnya, di kelompok tersebut cuma Adit seorang yang cowok dalam grup tersebut.


  


   Setelah beberapa saat kemudian, satu persatu dari grup tersebut dipanggil.  Kebetulan di grup tersebut nomor satu dari grup itu ialah grup dari Icha dan teman-temannya. kemudian setelah grup nomor 1 tersebut dipanggil, maka salah satu dari grup tersebut maju ke tengah-tengah grup yang lain yang saat itu membentuk sebuah lingkaran.  Dan seperti yang telah dijadwalkan di awal, bahwa acara perdana dari camping tersebut ialah... Mengadu skill atau bakat masing-masing.  Boleh perorangan atau perwakilan dari kelompok tersebut, ataupun juga secara bersamaan dalam kelompok itu sesuai dengan bakat atau skill yang akan mereka peragakan pada saat itu.


   Maka setelah grup mereka itu dipanggil, lalu Icha dan Adit beserta teman-temannya yang lain saling pandang antara satu dengan yang lainnya.  Karena di antara mereka ada yang tidak tahu bakat dan skillnya masing-masing.  Kalau Icha memang sudah diketahui boleh teman-temannya tersebut, bahwa dia menguasai 5 bahasa.  Jadi langsung saja kelima temannya termasuk Adit segera menyuruhnya untuk maju ke depan untu menyuruhnya menunjukkan bakatnya tersebut, dengan cara berpidato atau berbicara dengan 5 bahasa.  Kemudian setelah Ica dapat paksaan dari teman-temannya tersebut, kemudian dia langsung maju ke depan dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Dan kebetulan yang menjadi juri dari kegiatan tersebut adalah para dosen itu sendiri, sedangkan para panitia semuanya mereka menjaga keamanan di dalam acara tersebut, diantaranya yang menjadi fokus utama dalam pengamanan tersebut oleh para panitia, yaitu tempat kemah dari para mahasiswa-mahasiswa tersebut.  Karena saat itu semua tempat kemah mereka, berikut barang-barang mereka yang ada di dalam kamar tersebut mereka tinggalkan, karena mereka ada kegiatan di tengah lapangan tersebut.


   Lalu setelah Icha maju ke tengah-tengah tempat yang dikelilingi oleh para mahasiswa-mahasiswa lain ataupun para kelompok-kelompok yang lain, maka riuhlah dengan suara tepuk tangan yang meriah dari seluruh para mahasiswa tersebut.  Karena memang saat itu adalah saat pertama, di mana acara yang baru dimulai tersebut dilangsungkan. Apalagi pertunjukan tersebut adalah perdana bagi mereka semua, jadi mereka semua menyambutnya dengan rasa antusias yang tinggi.


   Setelah Icha maju ke depan, lalu sang dosen menanyakan kepada Icha bahwa bakat dan skill apa yang akan ditunjukkan oleh Icha tersebut, dengan memakai bahasa Inggris. Kemudian Icha pun menjawabnya dengan fase, bahwa dirinya akan berpidato dengan cara memakai 5 bahasa yang berbeda.  Maka setelah mendengar jawaban dari Icha tersebut, kemudian semuanya kembali bertepuk tangan sembari diantara dari grup-grup tersebut termasuk grup Icha sendiri berkata....


   Ucap di antara mereka termasuk Adit dan teman-temannya, sembari bertepuk tangan kepada Icha dengan nada mendukung atau menyuportnya.


   Setelah beberapa saat kemudian, lalu Icha memulai menunjukkan skillnya tersebut.  Yaitu berpidato dengan memakai 5 bahasa yang berbeda dengan sangat lantang dan keras dan dengan kata-kata yang sangat fasih dan mahir dalam menggunakan kata-kata atau bahasa yang berbeda tersebut, dengan memakai microphone yang sebelumnya memang sudah disediakan di tengah-tengah lapangan tersebut.  Kebetulan dalam pidatonya tersebut, Icha memulainya dengan memakai bahasa Inggris terlebih dahulu.  Kemudian dilanjutkan dengan bahasa Indonesia, lalu yang ketiga Icha memakai bahasa Mandarin, kemudian yang keempat Icha menggunakan bahasa Spanyol, dan yang terakhir Icha menggunakan bahasa Jepang.  Dan kelima-limanya bahasa tersebut dilakukan dan diselesaikan dengan sangat sempurna.  Maka semua yang ada di lapangan tersebut terdetak kagum.... Tak terkecuali dengan para dosen itu sendiri, karena menurut mereka di antara para dosen tersebut tidak akan mungkin menguasai 5 bahasa seperti Icha.  Jadi mereka agak tidak percaya bagaimana mungkin seorang Icha menguasai 5 bahasa, dan kelima-limanya itupun diucapkannya dengan sangat fasih.


Ya.... Begitulah seorang Icha..... Karena tidaklah mungkin dia akan mendapatkan beasiswa, kalau pengetahuannya atau ilmunya tidak setinggi itu. Karena mereka semuanya sudah tahu, apalagi Adit dan teman-temannya kalau Icha memang sering keluar masuk televisi swasta ataupun nasional, baik di negara Indonesia ataupun di California tersebut.  Jadi setelah mereka memahami tentang pengetahuan atau ilmu Icha tersebut, maka mereka kembali bertepuk tangan menandakan kekagumannya kepada Icha tersebut.  Begitupun dengan para dosen dan panitia yang ada di tempat tersebut semuanya memberikan tepuk tangan atau sambutan yang meriah buat Icha.  Icha yang mengetahui hal itu menjadi sangat senang. Sedangkan teman-temannya yang lain termasuk Adit, mereka saling pandangan antara satu dengan yang lainnya menandakan mereka merasakan bangga yang sangat luar biasa terhadap temannya tersebut. Apalagi Adit secara pribadi.... Dalam hatinya Adit berkata, bahwa dia tidak salah memilih dia menjadi pacarnya atau calon istrinya, karena orang seperti Icha jarang sekali ditemuinya meskipun di zaman sekarang.


"Itu menurut perasaan Adit."


   Setelah Icha menyelesaikan tugasnya tersebut, maka para dosen dan panitia segera mempersilahkan Icha untuk kembali ke tempatnya semula, yaitu berkumpul dengan teman-temannya atau ke grupnya. Lemudian para dosen menilai hasil pertunjukan dari Icha tersebut.


   Kemudian setelah itu para dosen menanyakan kembali kepada grup Icha dan teman-temannya tersebut, barangkali masih ada bakat atau skill diantara teman-temannya yang lain di grup tersebut yang akan ditunjukkan.


Mendengar tawaran dari para dosen tersebut, kemudian Icha, Adit, dan keempat teman lainnya kembali saling pandang antara satu dengan yang lainnya.  Karena menurut mereka tidak ada lagi yang akan maju ke depan.  Mereka menganggap pertunjukan Icha tadi sudah cukup menurut mereka, terutama bagi teman-teman Icha yang cewek, yaitu "Melinda"  "Fitriani"  "Rebecca" dan "Anggun."  Namun tiba-tiba Adit yang waktu itu diam sendiri, kemudian dia mengacungkan tangannya ke atas menunjukkan bahwa dia akan menunjukkan skillnya, dan akan maju ke tengah-tengah lapangan tersebut.  Kemudian Icha dan keempat teman lainnya terutama yang teman-teman cewek, kembali saling pandang dan heran akan kejadian saat itu.  Di mana menurut mereka sudah tidak ada lagi yang memiliki skill, namun kenyataannya Adit akan maju ke tengah-tengah lapangan dan akan menunjukkan skillnya.  Maka mereka saling tanya dan berbisik, bakat apa gerangan yang akan ditunjukkan oleh Adit tersebut.  Sontak saja kembali di area tersebut Riuh dengan suara tepukan tangan, setelah melihat Adit mengajukan tangannya tersebut. Kemudian para dosen segera mempersilahkan untuk Adit agar segera maju ke depan lewat pengeras suara.  Lalu semuanya kembali bertepuk tangan sembari berkata....


   "COME ON ADIT....!!  "COME ON ADIT....!!  "COME ON ADIT....!!   "GO...!! "GO...!!  "GO....!!"