Suffering Becomes Happiness

Suffering Becomes Happiness
bab 38



   Lalu kemudian Adit pun segera bangun dari tempat duduknya, kemudian terus melangkah menuju ke tengah-tengah lapangan tersebut. Namun setelah itu, Adit bukannya menyesuaikan mikrofon yang terpampang di tiang penyangga mikrofon di tengah-tengah lapangan tersebut, malah kemudian Adit menyingkirkannya ke samping, lalu kemudian Adit kembali lagi ke tengah-tengah lapangan tersebut. Semua yang menyaksikan gelagat Adit tersebut menjadi heran dan bertanya-tanya, skill apakah gerangan yang akan ditampilkan oleh Adit tersebut.?? Dan keheranan tersebut bukan hanya dialami oleh mahasiswa-mahasiswa lain, tapi juga dengan Icha dan teman-temannya, karena Icha dan teman-temannya itu sendiri tidak mengetahui dan tidak direncanakan atau diberitahukan sebelumnya bahwa Adit akan menampilkan bakat atau skill yang akan ditampilkannya tersebut. Begitupun dengan para dosen dan segenap panitia yang ada di tempat tersebut mereka semua keheranan, karena sikap Adit yang menyingkirkan MICROPHONE dari tengah-tengah lapangan ke samping, atau dipindahkan agak jauh dari tempatnya semula.


Dan begitulah.... Adit rupanya akan membuat surprise atau kejutan di acara tersebut. Dan memang kejutan tersebut rupanya ia simpan dengan tidak memberitahukan kepada siswa-siswa yang lain, termasuk para dosen ataupun panitia, terlebih lagi kepada teman-temannya sendiri atau kekasihnya" yaitu Icha.


   Setelah beberapa saat kemudian, Adit mulai menunjukkan skillnya tersebut, yaitu dengan memulai gerakan ancang-ancang ataupun kuda-kuda, yang gerakan tersebut adalah gerakan pencak silat. Lalu kemudian Adit meneruskan gerakannya tersebut dengan sangat lincah dan indah. Dan benar saja.... Adit rupanya mengeluarkan skillnya yaitu melakukan gerakan pencak silat. Sontak saja... Skill yang ditunjukkan oleh Adit tersebut membuat semua yang ada di area tersebut menjadi terpanah dan kagum, tak terkecuali dengan kekasihnya sendiri, yaitu "Icha" karena Icha tidak menyangka, bahwa kekasihnya tersebut memiliki skill yang sangat luar biasa dan sangat jarang orang memiliki skill tersebut. Dan yang membuat Icha dan teman-temannya lebih terpanah lagi, Adit yang sebelumnya dikenal oleh mereka adalah pemuda yang tampan, tinggi, berkulit putih, dan juga pintar, dan ditambah lagi dengan kesopanan yang ia miliki.... Adit sendiri tidak menceritakan atau memberitahukan tentang kemampuannya tersebut kepada teman-temannya, walaupun mereka satu kampus dulu waktu berada di "Universitas Brawijaya Malang." Maka timbul pertanyaan dalam teman-temannya tersebut termasuk juga dengan Icha, bahwa mereka akan menanyakan tentang hal tersebut kepada Adit nanti setelah dia selesai dengan memperagakan skillnya tersebut.


Dan kejadian yang mereka saksikan tersebut, tentu saja membuat teman-temannya saat itu menjadi terpanah sekaligus bangga yang sangat luar biasa terhadap skill yang dimiliki oleh Adit tersebut.


Dan rasa bangga tersebut bukan hanya dirasakan oleh teman-teman seperjuangan Icha, tapi juga dirasakan oleh om Robert sendiri. Karena bagaimanapun juga, keenam anak asuhnya tersebut adalah rekrutan beliau sendiri. Maka tentu saja skill-skill yang ditunjukkan oleh mereka membuatnya menjadi sangat bangga dan senang. Rasa bangga tersebut sudah terlihat dari raut wajahnya, semenjak dari awal Icha menunjukkan skillnya dengan berpidato dalam 5 bahasa. Dan ditambah lagi sekarang skill pencak silat yang ditunjukkan oleh ponakannya sendiri, yaitu "Adit" yang sekarang memperagakan kemampuan dengan menunjukkan skillnya lewat gerakan pencak silat yang sangat indah, luwes, dan sangat sempurna itu. Dalam benak om Robert sendiri timbul rasa kepuasan tersendiri yaitu merasa dirinya tidak sia-sia merekrut mereka semua termasuk ponakannya sendiri itu jauh-jauh dari negara Indonesia menuju ke Amerika tersebut maka rasa kebanggaannya tersebut di filosofikan lewat gerakan tepuk tangan yang tiada henti sembari berkata....


"Good....!! "good....!! "good....!!"


   Setelah beberapa waktu kemudian, Adit segera menyudahi gerakan-gerakan silatnya dengan memberikan hormat kepada semua yang ada di tempat itu, dengan cara menunduk dan kedua telapak tangan disatukan dan dirapatkan ke dadanya. Lalu kemudian Adit kembali lagi ke tempat semula, yaitu berkumpul dengan grupnya dengan diiringi tepuk tangan yang sangat meriah dari seluruh yang ada di tempat tersebut, tak terkecuali dengan Icha sendiri. Dia tidak henti-hentinya bertepuk tangan sembari menyambut Adit yang datang menghampirinya dan teman-temannya tersebut, sembari memberikan senyuman manis, sebagai tanda bangganya terhadap kekasihnya tersebut. Lalu Adit membalasnya dengan sambutan senyum tipis kepada sang kekasih tersebut.


Dan setelah itu kembali para dosen segera memberikan penilaian terhadap skill yang diperagakan oleh adik tersebut.


Dan kebetulan di kelompok nomor 2 tersebut isinya sebanyak 7 orang siswa, yang mereka semuanya terdiri dari negara Amerika itu sendiri. Dan di grup itu pula terdapat tiga orang cowok dan 4 orang cewek, artinya grup itu juga adalah grup campuran. Maka setelah grup mereka tersebut dipanggil, maka semuanya maju ke tengah-tengah lapangan. Rupanya mereka semua menunjukkan skillnya secara bersamaan atau secara kelompok. Dan kebetulan mereka membawa dua buah gitar, dan rupanya mereka akan menunjukkan kebolehannya dalam hal tarik suara atau bernyanyi. Maka sama seperti tadi, mereka disambut dengan tepukan tangan yang meriah, baik dari para mahasiswa-mahasiswa itu sendiri, ataupun para dosen ataupun segenap para panitia.


   Setelah grup atau kelompok yang nomor 2 tersebut selesai menunjukkan kebolehannya, maka mereka dipersilahkan kembali ke tempat semula, dan kembali para dosen memberikan penilaian kepada mereka, sama seperti yang sebelumnya. Acara tersebut berlanjut dan berlangsung hingga tengah malam. Satu demi satu antar kelompok tersebut dipanggil ke tengah-tengah lapangan tersebut oleh para dosen, untuk memberikan atau menunjukkan kebolehan-kebolehan atau skill-skill di antara mereka. Dan skill-skill yang mereka tunjukkan itu pun berbeda-beda, ada yang berpidato seperti Icha," ada yang menunjukkan kebolehan dengan gerakan pencak silat seperti Adit," ada juga yang bernyanyi seperti kelompok yang nomor dua tadi," dan ada pula yang menunjukkan dengan cara berpuisi," ada juga yang menirukan suara burung," ada juga yang berdongeng," dan lain-lain. Dan semua itu tidak lepas dari penilaian dari para dosen itu sendiri.


   Setelah beberapa waktu berlalu, acara tersebut sudah sampai juga pada akhir acara, di mana satu demi satu antara grup atau kelompok-kelompok itu dipanggil, dan semuanya sudah menunjukkan skill-skilnya, baik secara perorangan atau berkelompok. Lalu setelah itu para dosen yang semula memberikan atau menilai dari pertunjukan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut, kemudian segera berdiskusi malam itu juga . Dan rupanya keputusan atau pengumuman akan diumumkan malam itu juga, tentang siapa dan kelompok nomor berapakah yang akan menjadi juara (1) (2) dan (3) di pertunjukan malam itu. Dan benar saja.... Setelah beberapa saat kemudian, lalu om Robert selaku ketua dari acara tersebut segera mengumumkan lewat pengeras suara, siapa saja di antara grup tersebut yang menjadi juara pada pertunjukan malam itu. Maka semua para mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam kelompok-kelompok itu, semuanya menjadi tegang dan bertaya-tanya, siapakah gerangan yang akan menjadi juara (1) dan (2) ataupun (3). Dan mereka semuanya berharap, agar kelompok-kelompok dari mereka sendirilah yang menjadi salah satu dari juara tersebut.


   Setelah beberapa saat kemudian om Robert kemudian maju ke tengah lapangan untuk mengumumkan pemenang dari CHALLENGE, lewat skill-skill yang diperagakan oleh mereka semua. Maka sesaat sebelum om Robert mengumumkan tentang pemenang tersebut, maka om Robert segera menyuruh kepada semua kelompok-kelompok antara mahasiswa tersebut untuk diam dan tidak berisik, dan menyuruh mereka semua agar fokus kepada apa yang akan diumumkan oleh beliau. Maka seketika itu juga semua mahasiswa-mahasiswa yang ada di area tersebut menjadi fokus ke satu titik, yaitu kepada om Robert yang berdiri tegak dengan MICROPHONE di depannya sembari memegang sebuah kertas atau catatan yang yang berisi pemenang atau juara di CHALLENGE tersebut. Tak lama kemudian om Robert mulai mengumumkan tentang siapakah antara juara (1) juara (2) dan (3).


   Setelah beberapa saat kemudian, dan di di tengah-tengah ketegangan dari para mahasiswa mahasiswa tersebut yang menunggu kabar dari om Robert tersebut, bahwa siapakah gerangan yang menjadi juara (1) (2) dan (3), maka seketika itu juga om Robert segera memberitahukan tentang pemenang di CHALLENGE tersebut. Dan benar saja.... Juara pertama diraih oleh kelompok nomor (1)," yaitu kelompok "Icha, Adit, dan teman-temannya." Sedangkan juara (2)," diraih oleh kelompok nomor 7 yang kelompok tersebut terdiri dari 10 orang, dan diisi oleh mahasiswa-mahasiswa berasal dari Amerika itu sendiri. Sedangkan juara (3)," diraih oleh kelompok nomor 15, di mana kelompok tersebut berisi delapan orang mahasiswa ,yang semua siswanya berasal dari Australia.


   Kemudian semua dari grup tersebut termasuk grup Icha dan teman-temannya yang mendengar pengumuman itu, maka sontak saja.... Seketika itu juga mereka saling berpelukan satu sama yang lain. Mereka sangat senang sekali waktu mendengar pengumuman tersebut, dan mereka tidak menyangka bahwa grup mereka tersebut menjadi juara saat itu.


Saat itu Rebecca berpelukan dengan Anggun, Fitriani berpelukan dengan Melinda, sedangkan Icha berpelukan dengan Adit. Dan mereka tidak sengaja melakukan hal itu, karena mereka melakukannya secara refleks, karena saking bahagia dan senangnya mereka saat itu. Dan pelukan mereka itu berlangsung agak lama dan begitu erat, hingga mereka saling menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dan itu terjadi karena mereka tidak kuasa menahan rasa gembira dan senang yang melanda mereka semua saat itu. Karena Bagaimana tidak, 6 orang warga dari negara asing yang saat itu berkompetisi dan ditonton oleh warga negara lain, dan tempat mereka berkompetisi pun juga berada di negara asing, maka hal itu sangatlah mahal harganya bagi mereka. Jadi hal itulah yang membuat mereka tidak bisa menahan rasa gembiranya tersebut, dan mereka melampiaskannya dengan cara berpelukan antara sesama temannya tersebut.