Suffering Becomes Happiness

Suffering Becomes Happiness
Plot



Setting cerita :


Setting tempat : Rumah dan sekolah.


Setting Waktu : waktu yang di gunakan zaman sekarang.


Setting suasana : Sedih, senang dan terharu.


Icha, umur 10 tahun berhenti sekolah, seorang pelajar yang berhenti sekolah akibat kekurangan finansial. Watak : pendiam, pemalu dan penyendiri.


Ibu Sumiatun, Umur 30 tahun, petani.


watak : penyabar dan gigih.


Watak: penyayang.


Plot :


Awal :  Seorang anak yang bernama Icha 7 tahun. anak seorang petani miskin dari desa. Sang ibu Sumiatun 30 tahun, dan sang ayah Suseno 35 tahun. Yang sehari-harinya hidup dengan serba kekurangan. Dan dia mengalami trauma akibat dari sering menyaksikan orang tuanya bertengkar akibat kekurangan ekonomi. Dan dia masuk di bangku kelas 1 SD di desanya.  Dan sering di-bully oleh teman-temannya. Sehingga dia berkepribadian pendiam, pemalu, dan penyendiri. Dan di umur 10 tahun dia putus sekolah, saat duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, karena orang tuanya bercerai. Dan Icha diasuh oleh ibunya. Dan dia putus sekolah karena tidak ada lagi yang membiayainya. Karena sang ibu hanyalah seorang buruh cuci di desanya semenjak ditinggal sang ayah. Walaupun sumiatun sang ibu tegar dan Gigih dalam mencari nafkah, tapi dia tidak mampu untuk membiayai Icha sang anak, untuk sekolah


Tengah:  di saat mereka mengalami kesedihan dan kesulitan, mereka ditolong oleh Ibu Farida sang Guru. Icha ditanggung biaya pendidikannya, sekaligus dijadikan anak angkat oleh Ibu Farida. Karena kebetulan sang Guru Ibu Farida dan suaminya pak Hartono tidak memiliki keturunan. Sedangkan pak Hartono sang suami dari ibu guru Farida, adalah seorang pensiunan TNI, dan pengusaha sukses dengan berternak lele di rumahnya. Sedangkan sang ibu sumiatun, dipekerjakan di rumah sang ibu guru Farida, dan digaji tiap minggu. Sedangkan si Icha terus dilanjutkan pendidikannya sama Ibu Farida sang Guru, dari bangku sekolah dasar, sampai ke perguruan tinggi. Tentu saja hal itu membuat Icha dan ibu sumiatun merasa senang dan bahagia. Karena pertolongan Ibu Farida tersebut, bisa membuat Icha mengejar cita-cita, dan menjadi orang sukses. Sedangkan ibu sumiatun, bisa memperbaiki kehidupannya dalam segi ekonominya.


Akhir:  setelah ibu Farida dan pak Hartono berhasil membuat Icha dan ibu sumiatun bahagia, dengan melanjutkan pendidikan Icha dan membantu perekonomian Ibu Sumiatun dengan mempekerjakan di rumahnya, mereka merasa senang. Karena mereka merasa jadi orang yang berguna, setidaknya bagi orang lain, walaupun mereka sendiri tidak mempunyai keturunan.


Dan mereka pun sudah menganggap Icha dan Ibu Sumiatun layaknya keluarga sendiri. Dan sebaliknya demikian. Dan setelah Icha sukses duduk di perguruan tinggi, orang yang paling berjasa dalam karir pendidikan Icha,"yakni" Ibu Farida, meninggal dunia. Itu sangat membuat Icha sangat sedih, dan merasakan duka yang mendalam. Dan sempat membuat Icha patah semangat karenanya. Dan dengan meninggalnya Ibu Farida sang Guru, Bapak Hartono suami dari Ibu Farida menikahi ibu sumiatun, ibunya Icha. Dan itu membuat Icha menjadi bersemangat lagi, untuk menjadi orang sukses dan meraih cita-citanya. Dan akhirnya setelah di wisuda di kampusnya, Icha diangkat menjadi dosen untuk mengajar di Universitas tersebut. Dan akhirnya Icha, ibu sumiatun, dan pak Hartono hidup bahagia. Dengan masa depan yang cerah, dan dengan keluarga baru mereka.