
Bertaut ~ diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Nadin Amizah.
Aurelia.
"Aku harus menghubungi Vivi" gumamnya dan menekan nomor Vivi.
"Halo Vi, bagaimana denganmu? Apa kau diterima?" Tanyanya dengan antusias, setidaknya ia sudah mempunyai teman saat memasuki perusahaan sebesar itu.
"Alhamdulillah keterima, kau ditempatkan dilantai berapa?" Ah ia baru ingat jika belum melihat dilantai berapa ia ditugaskan.
"Aku belum membacanya sampai selesai, kau dilantai berapa memangnya?" Tanyanya.
"Dilantai dasar, padahal aku ingin sekali ditempatkan dilantai 15"
"Memang ada apa dilantai 15?" Tanyanya dengan bingung, karena memang dirinya tidak tahu apa keistimewaan lantai 15.
"Liaa, lantai 15 itu lantai khusus presdir, meskipun aku belum tahu dengan mataku sendiri tapi banyak yang bilang jika lantai itu lantai khusus yang tidak sembarang orang bisa masuk. Kau tahu sendiri banyak alumni Sweet Cake yang pindah di perusahaan itu jadi aku lumayan banyak tahu".
"Bukankah semakin berat jika bekerja dilantai khusus seperti itu?" Tanyanya lagi masih dengan wajah bingung.
"Iya sih, tapi setidaknya kan setiap hari mendapat asupan dari pria tampan" jawab Vivi disertai tawa diakhir kalimatnya.
"Eh tapi bukannya sebelum diterima harus interview dulu ya? Kenapa ini diterima dulu baru interview?" Bingungnya.
"Lia, posisi kita itu office girl, tidak berpengaruh dalam perusahaan. Mereka menerima lamaran kita dari hasil surat-surat persyaratan yang kita kirim kemarin dan sesuai pengalaman kerja kita. Jadi meskipun tidak interview tidak berpengaruh besar terhadap perusahaan karna tugas kita hanya bersih-bersih bukan mengerjakan dokumen" jawab Vivi
Ia pun mengangguk, meskipun Vivi tak melihatnya. "Besok tunggu aku di SweetCake ya sebelum berangkat. Kita ke kantor sama-sama dan pamitan ke SweeCake sama-sama juga"
"Oke" jawab Vivi dan ia pun langsung memutus sambungan teleponnya. Kembali membuka aplikasi e-mail nya lalu membacanya lagi untuk melihat dimana ia ditugaskan.
"Astagaa" pekiknya.
"Semoga Vivi salah menyebutkan lantai khusus itu, semoga bukan lantai 15. Yaa, semoga lantai khusus itu tidak di lantai 15" gumamnya seraya mengangguk-anggukkan kepala.
"Ada apa Lia?" Ia melonjak saat tiba-tiba mbah sudah berdiri dibelakangnya.
"Mbahh, alhamdulillah Lia keterima di perusahaan" ia berdiri, segera memeluk tubuh mbah yang setiap harinya semakin lemah itu.
"Alhamdulillah, hati-hati ya nak, tanggung jawabmu semakin besar. Jangan menyombongkan atas apa yang kamu dapat saat ini" ia mengangguk, mbah adalah sosok panutan baginya. Sosok kuat yang berhasil membesarkannya dengan segela jerih payah.
"Iya mbah, Lia ingat pesan mbah. Besok Lia mau pamitan di Swee Cake dan hari pertama Lia kerja, doakan lancar ya mbah"
Ucapnya menuntun mbah untuk duduk.
"Mbah akan buatkan serundeng untuk bu Ike (pemilik Sweet Cake). Katanya lagi hamil kan? Apalagi serundeng mbah adalah kesukaan bu Ike" ia tersenyum dan menganggukkan kepala, menyetujui saran mbah.
"Jangan capek-capek ya mbah, nanti biar Lia yang belanja keperluannya. Mbah tunggu dirumah saja"
Nathan.
Hari berlalu begitu cepat, sudah satu minggu ini ia diluar negeri untuk mengantar Oliv mendaftar kuliah. Dan rencananya ia akan kembali malam nanti dan paginya langsung kekantor. Entah seremuk apa tubuhnya, tapi tak apa. Ia sangat menikmati.
"Kau yakin tidak ikut pulang kakak malam ini?" tanya nya pada Oliv yang sibuk membanyunya berkemas.
"Tidak kak, aku ingin jalan-jalan dulu bersama Sareen" jawab Oliv tanpa menoleh kearahnya.
Ia hanya mengangguk, setidaknya Oliv aman karena ia sudah memerintah beberapa anak buah untuk menjaga Oliv dari kejauhan.
"Lebih baik kakak besok jangan kekantor dulu deh, kan capek habis perjalanan jauh" saran Oliv tapi sama sekali tidak membuatnya goyah.
"Minggu depan sudah ulang tahun perusahaan, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu satu minggu ini" jawabnya.
Oliv
Ia menikmati camilannya, sedangkan kakaknya entah sedang melakukan apa didalam kamar. Ia sangat beruntung mempunyai seorang kakak seperti Nathan. Yang selalu menyayanginya, memenuhi semua keinginannya meskipun ia bukan adik kandung kakaknya.
"Oliv kakak berangkat dulu ya" ia menoleh, menatap sang kakak yang sudah rapi dengan koper yang ditarik dibelakang tubuh.
"Dimajuin ya kak?" Tanyanya karena masih kurang 2 jam sekitar keberangkatan Nathan
"Iyha, ternyata ada pesawat yang lebih awal. Jadi kakak bisa mampir dirumah dulu sebelum kekantor" ia hanya mengangguk, segera berdiri dan memeluk kakaknya.
"Hati-hati disini yaa, hubungi kakak jika terjadi sesuatu. Jangan kemana-kemana kalau tidak ada janji sama Sareen" ia lagi-lagi mengangguk, melepas pelukanya agar kakaknya bisa segera berangkat.
"Kakak juga hati-hati ya" jawabnya seraya melambaikan tangannya didepan pintu saat kakaknya sudah hendak memasuki lift.
Ia kembali menutup pintu setelah memastikan lift yang ditumpangi kakaknya sudah tertutup rapat. Kini ia berniat bersiap, menunggu Sareen menjemput dirinya.
Nathan.
Ia sudah berada didalam mobil yang mengantarnya ke bandara, mobil ini juga yang akan mengantar Oliv kemanapun Oliv pergi tanpa dirinya. Ia sudah menyiapkan semuanya, rasa sayangnya ke Oliv sangat besar. Bahkan ia mempunyai keinginan untuk tidak menikah sebelum Oliv menikah dan memastikan Oliv aman.
"Nanti kau langsung kembali ke apartemen, jangan biarkan Oliv ataupun Sareen membawa mobil sendiri" pesannya pada supir yang mengantarnya.
"Baik tuan" jawab supir patuh.
Ia menyenderkan tubuhnya disandaran jok mobil, memejamkan matanya sejenak untuk melepas penat karena selain mengurus kepindahan Oliv, ia juga harus bekerja via online.
"Sudah sampai pak" ia membuka mata, tertidur selama kurang lebih 30 menit sedikit membuat ia terasa lebih segar.
"Saya akan membawanya sendiri, cepat kembali" ucapnya dan meraih koper yang baru saja diturunkan oleh supir.
Ia memasuki bandara, menggunakan masker hitam dan topi hitamnya. Menghindari sorotan agar tidak terendus media.
Ia membelokkan tubuhnya di coffee stand yang ada disana. Memesan satu cangkir kopi panas yang masih mengepulkan asap. Sedikit membuang rasa kantuknya.
<|><|><|><|><|>
"Langsung kekantor saja" ucapnya pada supir yang menjemputnya di bandara. Saat melihat jam di pergelengan tangannya sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Baik tuan" jawab supir.
Ia memesan makanan lewat aplikasi yang ada di ponselnya, berharap jika nanti ia sampai kantor sudah ada makanan yang siap dimakan.
Ponselnya berdering, memutuskan untuk mengangkatnya terlebih dahulu.
"Kau tidak pulang dulu sayang?"
"Tidak bunda, Nathan langsung ke kantor saja."
"Baiklah, hati-hati ya sayang. Oh ya apa bunda suruh orang buat mengantar sarapan ya?" Tanya bunda.
"Tidak perlu bunda, aku sudah memesannya"
Ia sesekali mengangguk, mengiyakan beberapa wejangan bunda yang biasa ia dengar setiap pagi. Entah itu dari segi tanggung jawab ataupun masalah pekerjaan.
Sesampainya dikantor, ia turun. Melihat keadaan kantor yang masih sepi karyawan, hanya terlihat beberapa petugas kebersihan yang bekerja dengan cepat untuk mengejar waktu.
"Pagi pak"
"Selamat pagi pak"
Ia sesekali menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan karyawan yang menyapanya.
Menaiki lift untuk menuju keruangannya, sesampainya dilantai atas, ia sempat mematung sejenak. Sayup-sayup telinga nya mendengar suara merdu seorang gadis dan petikan senar gitar yang sangat teratur sesuai melodi.
Ia semakin mendekat, menajamkan telinganya untuk mendengar lebih jelas tentang lagu yang dinyanyikan. Ia mendapati sosok gadis yang duduk di kursi Yesi, memainkan gitar miliknya yang memang biasa ia gunakan ketika bosan.
Gadis itu sama sekali tidak melihatnya atau bahkan menyadari kehadirannya.
Bun, hidup berjalan seperti bajingan
Seperti landak yang tak punya teman
Ia menggonggong bak suara hujan
Dan kau pangeranku, mengambil peran
Bun, kalau saat hancur ku disayang
Apalagi saat ku jadi juara
Saat tak tahu arah kau di sana
Menjadi gagah saat ku tak bisa
Sedikit kujelaskan tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Bun, aku masih tak mengerti banyak hal
Semuanya berenang di kepala
Dan kau dan semua yang kau tahu tentangnya
Menjadi jawab saat ku bertanya
Sedikit kujelaskan tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Semoga lama hidupmu di sini
Melihatku berjuang sampai akhir
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
(Bertaut ~ Nadin Amizah)
Hingga suara terakhir diiringi usapan air mata dan petikan terakhir membuat ia akhirnya langsung menyapa gadis itu. Yang sama sekali ia tidak mengenal gadis itu atau bahkan melihatnya dikantor sebelumnya
"Ehemm"