Stay Here Please!

Stay Here Please!
Lolos



Jangan selalu menyalahkan tuhan saat kau tidak mendapat apa yang orang lain dapatkan. Apalagi sampai menyebut Tuhan tidak adil. Oh ayolah, adil bukan berarti sama rata tapi adil itu sesuai porsinya. Jadi, apa yang diberikan tuhan itu adalah yang terbaik untuk kita.


~ Riza Ar


...****************...


Glen


Ia tertawa sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu. Berjalan mendekat kearah meja sekertaris sahabatnya yang memang tak berjarak jauh dari ruangan sahabatnya itu.


"Hai" sapanya.


"Eh iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Wanita tersebut terlihat terkejut dengan kehadirannya.


"Namaku Glen, siapa namamu?" Langkah awal, pikirnya.


"Yesi" jawab Yesi menerima uluran tangannya.


"Nama yang cantik seperti orangnya" Yesi terlihat tersenyum malu mendengar ucapannya.


Ia memutari meja kerja Yesi, berdiri tepat disamping tubuh Yesi.


"Kau mengerjakan apa?" Tanyanya sengaja berbicara tepat disamping telinga Yesi, mencoba menarik perhatian wanita didepannya ini.


"La-laporan pak" oh, terlihat gugup. Apa benar yang dikatakan Nathan jika gadis ini wanita baik-baik?.


Ia menyelipkan rambut Yesi yang menutup wajah cantik itu kebelakang telinga.


"You're so sexy, mari ikut aku" ia sudah tidak tahan, apalagi melihat belahan kesukaannya yang tidak sengaja terpampang.


"Glen" ia mendengus saat aksinya kepergok sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Nathan sialan. Ya sialan.


"Aku selalu menunggumu cantik, datang ke apartemenku jika kau menginginkan kenikmatan" bisiknya, sedikit menjilat telinga Yesi hingga sang empu menjauhkan tubuhnya.


"Aku pergi dulu" ia melangkah pergi, menepuk bahu sahabatnya yang menatapnya tajam didepan pintu ruang kerja. Ah ia jadi menciut sendiri jika melihatnya.


Yesi.


Tubuhnya meremang, entah apa yang ia rasakan. Sangat memalukan, ia merasakan hal yang tidak seharusnya. Bahkan ia berkali-kali mengusap telinganya. Untung saja bosnya keluar? Jika tidak? Entah apa yang terjadi selanjutnya jika mengingat betapa agresifnya teman bosnya itu.


"Jika memang ingin datanglah ke apartemennya, jangan kotori perusahaanku" ia melonjak, sakit hati juga. Ucapan bosnya membuat ia benar-benar sakit hati. Apa ia seburuk itu? Melakukan hal yang menjijikkan di kantor? Sama sekali bukan dirinya.


"Sekarang kau tahu mengapa aku membenci wanita yang berpakaian sepertimu?" Ditelinganya ini bukan seperti pertanyaan, melainkan lebih mengarah pada tamparan tak kasat mata yang membuka jalan pikirannya. Ia menoleh dimana Nathan berdiri sebelumnya, tapi sudah tidak ada orang.


Ia tahu sebenarnya atasannya itu sedang menegurnya, mengingatkannya agar hati-hati dengan pakaiannya yang bisa saja menyeretnya.


Mengalihkan pandangannya disecarik kertas yang terletak disamping tangan kanannya, berisi alamat sebuah apartemen beserta 12 digit nomor ponsel.


Matanya memanas, apa ia sehina itu?. Segera menyobek kertas tersebut hingga kecil dan tak bisa disatukan kembali. Membuangnya dibawah kursi kerjanya.


<|><|><|><|><|


Aurelia.


Hari ini adalah hari yang ditubggu olehnya. Dimana dihari ini ia akan membuat keputusan tentang pekerjaan yang akan ia tekuni selanjutnya. Bahkan ia sudah membuka ponsel, sangat berharap jika namanya termasuk dalam daftar karyawan yang diterima.


"Ndukk maem sek (nak, makan dulu)" panggil mbah dari dapur. Ia melihat jam, masih satu jam lagi sesuai yang diumumkan kemarin. Ia pun memutuskan untuk berdiri, meletakkan ponselnya dan berlalu menuju ruang makan yang berada didapur.


"Dereng enten mbah, menawi mengken jam 8. ( belum ada mbah, mungkin nanti jam 8)" mbah terlihat mengangguk, dan ia pun segera mengambil nasi dan tumis kangkung dan juga tempe goreng tanpa tepung, sebagai menu sarapannya kali ini. Sederhana tapi cukup menggoyang lidahnya.


Membantu membereskan piring, menutup tumis kangkung yang masih tersisa dengan tudung saji. Ia hidup dengan sangat sederhana, tidak ada menu yang berbeda setiap kali makan. Apa yang ia makan di pagi hari itu juga yang akan ia makan disiang atau malam nanti.


"Biar Lia saja mbah" ucapnya ketika mbah hendak duduk disebuah kursi kecil yang digunakan untuk mencuci piring. Oh ya, ia juga tak memiliki wastafel, atau apalah yang biasa orang sebutkan. Ia juga tak memiliki dapur bagus dengan peralatan komplit seperti dirumah orang lain. Ia hanya memiliki kompor dua sumbu yang diletakkan dimeja dengan tabung gas bewarna hijau dibawahnya. Satu wajan, beberapa panci dan beberapa piring saja. Ia hanya hidup dengan mbah, itu sudah lebih dari cukup sebagai peralatan mereka.


"Aduduhh ya Allah gustii" hatinya teriris saat mbah kesulitan berjalan. Ia belum mampu memberikan yang terbaik, bahkan saat mbah mengeluh karena lututnya terasa linu, ia pun hanya diam dan langsung membantu mbah berjalan.


"Mbah istirahat saja, biar Lia yang beres-beres" ia mengantar mbah kekamar, membantunya berbaring lalu menyelimutinya.


Ia keluar dari kamar mbah, menutup pintu dan mengusap sudut matanya yang berair.


Tok tok tok


Pintu terdengar diketuk dengan keras, ia pun langsung menuju pintu dan membukanya.


"Mana lunasan uang kontrakan?" Ia terkejut saat ibu-ibu pemilik kontrakan membentak dirinya.


"Sebentar bu" ia berlari masuk kedalam kamarnya, mengambil uang gaji dari SweetCake yang baru saja ia terima kemarin. Mengambilnya lima lembar lalu kembali keluar untuk menyerahkan uang itu kepada pemilik kontrakan.


"Ini saya baru ada lima ratus ribu bu, sisanya saya bayar bulan depan ya" ucapnya.


"Tunggakan kamu itu sudah banyak Lia, mau sampai berapa lagi? Makanya cari kerja yang bener yang gajinya gede biar cukup buat bayar kontrakan"


"Saya sudah melamar kerja diperusahaan bu, semoga keterima"


"Di perusahaan? Lulusan SMA mau jadi apa diperusahaan? Tukang kebun? Saya kan sudah bilang, kalau kamu mau menikah dengan anak saya saya akan membebaskan uang kontrakan"


"Maaf bu, saya akan berusaha sebisa saya" tolaknya, ia tak mau hidup dengan cara kotor. Apalagi memanfaatkan keadaan demi melanjutkan hidup.


"Anak saya normal ya" seprrtinya ibu-ibu didepannya ini salah paham padanya.


"Bu, saya tidak bilang kalau anak ibu tidak normal. Saya menolak pinangan ibu karena saya masih fokus sama masa depan saya, belum ingin menikah" ucapnya dengan halus, mencoba sabar. Sebenarnya tak hanya itu alasannya, tapi juga kepribadian anak dari ibu pemilik kontrakan yang membuatnya enggan. Seorang duda mempunyai tiga orang anak dan ditinggal istrinya yang ia sempat mendengar jika mantan istri terdahulu pergi karena lelah dengan sikap pemabuk dan judi yang sering dilakukan oleh anak ibu kontrakan.


Ia bergidik, mengurus tiga anak dengan suami pendosa sangat bukan cita-citanya. Lagipula ia masih gadis, mempunyai masa depan dan kriteria calon suami sendiri.


Ibu kontrakan langsung pergi dengan wajah kesal. Begitupun ia yang langsung kembali masuk dan menutup pintu. Menuju dapur, membersihkan, menyapu, hingga akhirnya tepat jam 10 tepat akhirnya ia selesai bebersih.


"Apa aku melupakan sesuatu?" Tanyanya pada diri sendiri saat sudah merebahkan diranjang minimalis miliknya.


"Oh astaga, masa depanku" ia melonjak, segera meloncat dari atas ranjang dan berlari kelemari yang ada diruang tamu untuk mengambil ponselnya.


"Bismillahirroh manirrohimm" gumamnya dengan hati berdebar.


Click


Kunci ponselnya terbuka, banyak notifikasi masuk disana. Ia membaca satu eprsatu hingga pandangannya terkunci pada satu notifikasi yang sudah ditunggunya sedari pagi. Memencet, membacanya dengan pelan.


"Alhamdulillahh" gumamnya terharu saat pesan yang tertera di aplikasi e-mail nya menunjukkan bahwa ia lolos.  Ia membacanya lagi, lebih teliti. Agar esok ia tak lupa akan persyaratan yang dibutuhkan untuk interview sebelum bekerja besok.


"Aku harus menghubungi Vivi" gumamnya dan menekan nomor Vivi.


"Halo Vi, bagaimana denganmu? Apa kau diterima?" Tanyanya dengan antusias, setidaknya ia sudah mempunyai teman saat memasuki perusahaan sebesar itu.