
Aurelia
"Saya sudah memaafkan, saya harus menyusul Rafael" ia hendak berlalu, mengusir kecanggungan karena Rafael pergi karena belum menerima Nathan. Tapi baru membalikkan badan, tangan kekar itu melingkar diperutnya. Membawa kehangatan yang berbeda. Bahkan jantungnya ingin lepas, wajahnya memanas, tubuhnya menegang. Semua tercampur menjadi satu menguasai tubuhnya.
"Stay here please!" Hembusan nafas hangat menerpa lehernya, ia semakin terdiam mematung.
"Pa-pak" gugupnya karena ini terjadi begitu cepat dan tiba-tiba.
"Pa-pak ini ditempat umum" ucapnya seraya melepaskan tangan kekar itu.
"Saya ingin bicara" belum sempat ia menjawab, tangannya sudah ditarik menjauh. Memasuki mobil berwarna hitam.
"Ba-bagimana dengan Rafael?" Ucapnya khawatir.
"Coba hubungi, apa dia memegang ponsel?" Ia langsung mencari ponselnya, tapi rasa khawatir langsung meluap saat membaca pesan yang dikirin oleh Om Tirta.
"Rafael sama om, kamu selesaikan dulu urusan sama Nathan" tulis pesan yang ia terima dari om Tirta.
"Bagaimana?" Ia melonjak saat Nathan sudah duduk disampingnya, bahkan ia langsung menjauh. Merapatkan diri dengan jendela mobil.
"Su-sudah bersama ayahnya" gugupnya.
"Ayah?" Kejut Nathan dengan rahang mengeras.
"Maksut saya pamannya, Rafael memanggilnya dengan sebutan ayah" jelasnya, dan Nathan pun terlihat tersenyum lega.
"Kita ke apartement" ucap Nathan pada supir yang mengantar mereka.
"Kenapa ke apartement? Apartement siapa?" Tanyanya dengan gugup.
"Apartement saya. Lalu saya harus membawamu kemana? Saya tidak tahu alamat rumahmu" jawab Nathan singkat.
"Apartement Bruno Penthouse lantai 24" jawabnya.
"Saya juga di apartement itu, lantai 35. Jadi searah kan, sekalian saya ingin berbicara dengan Rafael" terlihat suatu kelegaan dan kebahagiaan dimata Nathan.
"Saya mohon jika nanti Rafael belum bisa menerima jangan marah. Jangan buat Rafael semakin asing dengan kehadiran anda" tegurnya, karena bagaimanapun ia bisa melihat dari mata Nathan bahwa pria itu mempunyai keinginan besar untuk membawa Rafael.
Nathan.
Kemunculan sosok yang sangat ia nanti membuat kebahagiaan membuncah, menguasai seluruh tubuhnya hingga seolah ia dikelilingi oleh para malaikat baik yang ikut mendukung kebahagiaannya. Meskipun ia sedikit kecewa dengan penolakan Rafael, tapi bukankah ia tak boleh egois? Bagaimana pun wajar jika Rafael menolak kehadirannya yang tiba-tiba.
"Kenapa ke lantai 35?" Ia menoleh kearah samping, saat mendengar pertanyaan yang elbih mengarah ke luapan kata penasaran.
"Saya ingin bicara berdua, sekalian berganti baju. Rasanya tidak nyaman jika bertamu tapi dengan pakaian formal seperti ini" jelasnya.
"Ta-tapi bukankah tidak baik jika hanya berdua didalam apartement?" Tanpa menjawab pertanyaan Aurelia lagi, ia langsung menarik tangan Aurelia dan membawanya masuk kedalam apartement miliknya.
"Duduk" ia memerintah dan Aurelia menurut, meskipun tangan gadis itu sudah berkeringat dingin.
"Saya tersiksa saat kau memilih pergi" ucapnya mengawali seraya mengunci pintu apartement.
"Tersiksa? Mengapa?" Bingung Aurelia.
"Saya mengerahkan seluruh anak buah saya untuk mencarimu tapi tidak ada yang berhasil menemukan, kau hilang bak ditelan bumi. Rasanya aku menjadi seorang bajingan yang merenggut mahkota seorang gadis tanpa bisa bertanggung jawab" ucapnya tapi sama sekali tak ada jawaban dari bibir Aurelia.
"Kau mungkin akan menganggap saya seorang pemain wanita saat melihat permainan saya malam itu, tapi salah. Kau wanita pertama yang berhasil mematahkan benteng pertahanan saya" sambungnya lagi.
"Semua dalam pengaruh obat, terlebih lagi saya yang memulainya dan memancing terjadinya hal itu" bantah Aurelia tak lagi gugup.
"Kita sama-sama dalam pengaruh obat, tapi semua itu menimbulkan rasa bersalah dihati saya, penyesalan yang mengendap, hingga membuat saya menghukum diri saya sendiri" jawabnya
"Seharusnya anda tidak perlu begitu, saya yang memilih pergi" timpal Aurelia.
"Kau tahu, orang tua saya marah saat mengetahui perbuatan bejat saya, saya menerima semua hukuman yang mereka berikan saat mereka yakin bahwa gadis yang saya rusak itu mengandung karena saya mengalami syndrom kehamilan yang biasa dialami seorang suami saat istrinya mengandung" jelasnya panjang lebar, ingin mengungkapkan semua yang ada.
"Syndrom kehamilan?" Dahi gadis cantik itu mengernyit
"Ya, saya kira hanya masuk angin biasa lalu saya periksa tapi tidak ada gejala penyakit apapun. Hingga akhirnya ayah dan bunda mencecar saya berbagai pertanyaan saat mereka sering memergoki saya makan makanan aneh, menyudutkan saya hingga saya mengaku."
"Tapi saya bangga karena saya dapat merasakan ikatan antara anak dan papa, saya merasa berterima kasih pada Rafael karena menghukum saya dengan cara seperti itu" sambungnya dengan seulas senyum dibibir.
"Jadi itu sebabnya anda dengan mudah menerima Rafael?" Kini giliran dahinya yang mengernyit heran saat mendengar pertanyaan gadis itu.
"Saya papanya, kenapa saya tidak menerima Rafael?" Tanyanya kembali.
"Anda seorang pebisnis handal, bisa saja ada seseorang yang mengaku-ngaku bukan?" Ia tertawa renyah mendengar ucapan Aurelia.
"Saya tidak pernah mempublikasikan apapun masalah pribadi saya, dan kau ingat. Saya tidak pernah melakukan hal itu kecuali dengan mu" tegasnya.
Sejenak hening tidak ada yang membuka suara. Mereka berdua sama-sama terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Bagaimana cara agar Rafael bisa menerima saya?" Keluhnya.
"Pelan-pelan, Rafael hanya butuh waktu. Tadi saat penyerahan piala kemenangan bukankah Rafael menyebut anda? Itu tanda jika Rafael memang menempatkan anda dihatinya, hanya saja ini terjadi secara tiba-tiba." Jawab Aurelia.
"Apa dengan menikahi mama nya, Rafael bisa cepat menerima saya?" Entah punya keberanian dari mana ia bisa mengatakan kalimat itu dengan lancarnya. Bahkan ia sudah duduk mendekat, menatap mata cantik yang mampu membuat ia terhipnotis. Bohong jika ia tak tertarik dengan Aurelia, gadis didepannya semakin cantik dan terlihat elegan.
"Ja-jangan bercanda pak, bagaimana dengan anak istri bapak" ia sontak terdiam mendengar jawaban Aurelia. Kemudian tawanya pecah begitu saja.
"Kau yang bercanda, saya belum memiliki istri atau bahkan anak. Menurut saya anak saya sampai saat ini adalah Rafael" sanggahnya tegas.
"Kau sudah memiliki suami?" Tanyanya memastikan, karena ia tentu tidak ingin menyandang status laki-laki perebut istri orang.
"Tidak, hidup dengan Rafael sudah membuat saya merasa bahagia"
"Terima kasih" ucapnya dan menggenggam tangan mulus itu.
"Untuk?" mata cantik itu mengerjab menatapnya.
"Sudah bersedia melahirkan Rafael, berjuang sendiri tanpa sosok suami. Hingga Rafael bisa tumbuh dengan pintar sepeeti sekarang" ucapnya tulus, bagaimanapun Aurelia adalah sosok ibu yang hebat.
"Saya mewujudkan tugas seorang ibu untuk Rafael" bantah Aurelia.
"Menikahlah denganku, dan ikutlah pulang ke negara asal bersamaku. Kita akan hidup bahagia, memulai semua dari awal" kini ia mengubah *saya* menjadi *aku*. Berharap Aurelia bisa melihat keseriusannya.
"Aku ingin menebus kesalahanku dimasa lalu" sambungnya.