Stay Here Please!

Stay Here Please!
Pulang



Nathan sudah diperbolehkan pulang, dengan menaiki kursi roda, Nathan menyusuri lorong rumah sakit dengan didorong oleh Aurelia. Rafael selalu setia mendampingi, bocah tampan itu berjalan tepat di samping kursi roda sang papa. Memakai masker dan topi, Nathan yang memaksa agar wartawan yang masih mengerubungi rumah sakit tidak berhasil menangkap wajah putranya demi keamanan putranya di ganasnya dunia bisnis.


Bukan ia tidak mau mengakui atau menunjukkan kepada publik bahwa Rafael anaknya, tetapi dengan banyaknya saingan bisnisnya tentunya akan membahayakan Rafael jika Rafael terekspos media. Karena pesaing nya akan berusaha melukai Rafael karena tau itu kelemahannya.


Selain memaksa Rafael untuk memakai masker dan topi, Aurelia pun dipaksa demikian. Dengan menggunakan jaket tebal, rambut dijedai acak, menggunakan kacamata hitam dan masker. Wartawan akan sulit mengenali Aurelia atau bahkan mengambil potret wajah yang jelas.


Ax sudah dijemput oleh Oliv dan Evan, begitupun Tirta yang sudah mengajak Aruna dan Selly pulang untuk berkemas karena mereka akan pindah ke apartemen Nathan.


Gibran dan Jasmine pun sudah pergi dari rumah sakit pagi tadi, mereka akan menunggu kepulangan Nathan dari rumah sakit di bandara. Ya, Gibran memutuskan untuk membawa Nathan langsung pulang ke negara X. Selain untuk pengobatan bekas luka Nathan dengan dokter yang lebih ahli, mereka memutuskan untuk menggelar pernikahan di negara X tanpa lamaran resmi seperti yang diinginkan Nathan sebelumnya.


"Pelan-pelan pak" ucap Rafael saat salah satu anak buah membantu Nathan untuk memasuki mobil. Nathan tersenyum, mengusap rambut Rafael.


Iring-iringan mobil yang menjemput Nathan di rumah sakit membuat jalanan ramai. Mobil yang ditumpangi Nathan ada di tengah, sedangkan depan belakang mobil ada mobil bodyguard dan mobil patwal yang bertugas mengawal perjalanan mereka.


"Ini berlebihan sekali" bisik Aurelia tepat ditelinga Nathan saat mobil melaju kencang tanpa hambatan.


"Ulah ayah, bukan aku yang minta" jelas Nathan mengedikkan bahunya. Ia pun tidak tahu jika Gibran mempersiapkan kepulangannya hingga seperti ini.


Rafael tak bersuara, ia duduk di depan disamping supir dengan tenangnya. Menikmati perjalanan dengan memperhatikan gedung-gedung yang ia lewati.


"Bagaimana dengan raport ku ma?" Ah Rafael baru ingat jika ia sudah menyelesaikan ujian semester jadi ia tentunya akan menerima raport untuk mengetahui hasil ujian yang ia kerjakan.


"Tidak perlu memikirkan raport Rafael, Rafael akan sekolah di sekolah baru nanti di sana dengan raport yang berbeda" karena bingung menjawab apa, akhirnya Aurelia menoleh kearah Nathan. Memberi kode jika Nathan lah yang harus menjawab, karena ia pun tidak tau bagaimana kelanjutan sekolah Rafael disini.


"El tetap ingin melihat raport itu pa, El ingin tau seberapa jauh Rafael memahami materi selama ini" nampaknya jawaban Nathan tidak memuaskan Rafael. Nathan menggeleng, benar juga.


"Nanti papa akan suruh orang untuk mengurus raport-raport mu" putus Nathan akhirnya. Ia akan memenuhi segala yang dibutuhkan oleh Rafael. Untuk menebus kesalahannya selama ini.


Perjalanan berjalan lancar, Rafael yang ikut berjaga semalaman dirumah sakit pun terlelap didalam mobil. Nathan tidak tega untuk membangunkan. Ia masih menahan Aurelia untuk turun, begitupun mencegah bodyguard yang akan membantunya untuk turun.


"Akan ku bangunkan El" Aurelia memutuskan turun, tapi tangannya dicegah oleh Nathan.


"Kasian dia kecapekan, biarlah tidur sebentar" Nathan menggeleng.


"Nanti kita tertinggal pesawat mas, ayah dan bunda pun sudah menunggu" Nathan tersenyum mendengar kekhawatiran Aurelia. Betapa polosnya calon istrinya ini.


"Mass, kita tidak boleh seenaknya. Karna ini transportasi umum. Terlepas dari siapa status sosial kita, kita harus memperhatikan kepentingan orang lain juga" Aurelia berbicara serius, mata cantik itu menatap tegas mata Nathan.


"Kenapa kalian tidak turun?" Gibran mengetuk pintu mobil, dua orang didalam mobil yang sibuk berdebat itu terkejut.


"Sebentar yah, El tertidur" Nathan yang duluan menjawab.


"Saya akan membangunkan El ayah" Aurelia merasa tidak enak hati, ia pun menatap Nathan tajam.


"Tidak perlu, biar ayah yang angkat. Kalian cepat turun" tanpa menunggu persetujuan Aurelia, Gibran sudah membuka pintu depan, mengangkat dengan hati-hati tubuh Rafael agar bocah yang terlelap itu tidak terbangun. Tak lupa Gibran membenarkan posisi topi Rafael, menutup seluruh tubuh Rafael dengan selimut kecil yang ada di dalam mobil. Sekali lagi untuk berjaga-jaga agar tidak ada wartawan yang berhasil mengambil potret wajah tampan cucunya.


"Lihatlah, bahkan ayah pun tidak tega membangunkan El" Nathan merasa menang.


Aurelia mendengus, ia memakai masker dan kacamata hitamnya. Memasang topi jaket yang ia kenakan lalu turun dari mobil. Aurelia menghembuskan nafasnya saat melihat wartawan yang mencoba menghampirinya tapi kalah dengan bodyguard yang sudah berjaga.


"Biar saya saja pak" Aurelia mengambil alih mendorong kursi roda Nathan dari bodyguard yang membantu Nathan turun. Aurelia mulai mendorong Nathan di lorong bandara.


"Dari mana mereka tau, dan sejak kapan mereka menunggu" bisik Aurelia ke telinga Nathan. Karena sejujurnya ia pun heran dengan sikap cepat wartawan. Bukankah kepulangan mereka ke negara X ini adalah rencana mendadak? Mengapa kabar itu cepat menyebar.


"Tidak perlu memikirkan mereka" jawab Nathan menggeleng. Ia tidak ingin Aurelia memperhatikan hal lain. Terlebih ini persoalan tidak penting. Karena ia pun tidak peduli dengan kehadiran wartawan yang selalu mengusik kehidupan orang lain. Ya, Nathan berpikir kalau wartawan adalah pekerjaan paling menyebalkan, karena mereka hanya bekerja untuk menyebar gosip dan mengambil potret untuk bahan artikel mereka. Yang bisa saja merugikan beberapa pihak. Meskipun ada juga yang menguntungkan, tetapi jika hal seperti ini tentu akan memunculkan artikel-artikel yang memberitakan dirinya dengan negatif. Terlebih sekarang ia menaiki kursi roda, dengan perban yang terlihat jelas di pelipis matanya. Mereka akan menuangkan persepsi mereka pribadi tanpa mencari tahu kebenarannya.


Bahkan Nathan yakin jika saat ini dunia Maya sudah dihebohkan dengan sosok Aurelia dan Rafael meskipun mereka tidak mengetahui wajahnya.


Aurelia mengangguk, menyimpan pertanyaannya sendiri.


"Kenapa sepi sekali" bisik Aurelia lagi. Ia heran karena pesawat yang hendak mereka naiki tidak ada orang lain disana. Hanya ada keluarga besar Nathan yang sudah naik keatas pesawat.


"Jangan bilang ini jet pribadi?" Aurelia terkejut saat ada logo perusahaan keluarga Nathan di body pesawat itu.


"Sudah ku bilang kita tidak akan ketinggalan pesawat" gurau Nathan saat mengetahui keterkejutan Aurelia. Aurelia menunduk malu. Melepaskan kursi roda Nathan untuk memberi ruang agar bodyguard bisa membantu Nathan naik ke pesawat.


"Aurelia" baru saja hendak menginjak tangga pesawat, ada yang memanggilnya. Nathan yang hendak berdiri dari kursi roda pun ikut menoleh ke arah sumber suara. Memperhatikan siapa yang memanggil ibu dari anaknya itu dengan lantang.