Stay Here Please!

Stay Here Please!
Sekolah



Nathan.


Ia benar-benar bahagia. Panasnya sinar matahari seolah menambah kecerahan harinya. Bekerja dengan semangat, dan sesekali melihat jam yang melingkar ditangan kirinya. Ia tidak boleh terlambat menjemput Rafael, ia tidak ingin Rafael kembali kecewa padanya.


"Mengapa tidak mengabari jika ingin berkunjung ke perusahaan pak?" Tanya asistennya yang menjadi pemimpin di perusahaan cabang di negara ini selama ia tidak ada.


"Ada beberapa hal yang perlu saya urus disini, jadi lebih baik saya berkunjung ke perusahaan" jelasnya dan membaca dokumen yang disodorkan oleh asistennya sebelumnya.


"Apa ada jadwal rapat hari ini?" Tanyanya pada sang asisten.


"Jam 2 ada rapat dibawah pak, suatu kehormatan bagi kami jika anda berkenan hadir secara langsung" ia mengangguk, memang ia selalu mengikuti rapat via online.


Setelah dirasa semua dokumen sudah diperiksa, ia langsung menumpuknya. Merapikan mejanya dan meraih kunci mobil dan ponselnya.


"Mas nanti mampirlah kestore terlebih dahulu, baju ganti Rafael terbawa di tasku" ia tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Aurelia. Setelah mengetik pesan balasan, ia langsung turun. Kembali memasang wajah datar saat keluar dari ruang kerjanya.


Ia langsung menuju sekolah Rafael meskipun masih sekitar 30 menit untuk bel pulang sekolah berbunyi. Ia tidak ingin terlambat dan membuat Rafael menunggu, jadi lebih baik ia yang menunggu.


"Cari siapa ya pak?" Ia menoleh kearah sumber suara, menatap satpam yang berjaga.


"Anak saya" ia mengernyit saat satpam tersebut menatap tubuhnya dari atas sampai bawah.


"Wali murid siswa baru ya pak? Saya tidak pernah melihat anda sebelumnya" ah ia lupa, ia baru saja kesekolah ini. Wajar jika satpam terlihat sangat waspada akan dirinya.


"Bukan. Saya papanya Rafael" jelasnya.


"Oh maaf pak, saya tidak tahu. Biasanya pak Tirta yang jemput makanya saya sedikit terkejut. Mari duduk" ia mengangguk lalu mengikuti langkah satpam yang membawanya kedalam pos yang ada disamping gerbang.


"Saya tuh kasian sama Rafael" ucapan Satpam membuat ia menoleh dengan cepat.


"Anak disini nakal-nakal. Saya kasian sama Rafael karena sering dibully, diolok-olok katanya nggak punya papa." Ia terkejut, rahangnya mengeras. Hatinya seperti tercabik-cabik, karena bagaimanapun ini juga kesalahannya.


"Tapi sekarang pasti yang melakukan itu semua pada Rafael malu karena papa Rafael gagah begini" ia tersenyum mendengar lanjutan ucapan satpam.


"Bapak sepertinya pendatang dari negara lain ya? Wajahnya seperti bukan orang asli negara ini" ia yang sibuk dengan pemikirannya langsung tersadar, mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan satpam.


"Biasanya kalo Pak Tirta nggak bisa jemput Rafael pulang sama siapa pak?" Tanyanya.


"Biasanya Nona Chessy yang jemput tapi Rafael harus nunggu disini dulu, kalau nona Chessy nggak bisa jemput nanti pulang sama Nona Aruna" ia mengernyit mendengar jawaban Satpam. Siapa nona Chessy?


"Siapa Nona Chessy yang anda maksut pak?" Tanyanya penasaran.


"Mamanya Rafael, ah anda masa nggak kenal sama istri sendiri" satpam terkekeh, sedangkan ia masih mencerna. Apa nona Chessy adalah Aurelia yang berganti nama? Pantas jika dimasa lalu ia tidak menemukan keberadaan Aurelia, ternyata gadis itu mengubah identitas.


Kring kring kringg


"Bel sudah berbunyi pak, anak-anak sudah pulang. Marii" ia berdiri, keluar dari pos dan menunggu Rafael didepan gerbang.


"Aduh aduhh jangan seperti ini"


"Dia yang mulai mom"


"Rafael kamu ini nakal ya, selalu ganggu anak saya"


"Sepertinya ada yang bertengkar pak" ia langsung berlari, membelah anak-anak yang mengerubuti perkelahian.


"Ada apa ini" rahangnya mengeras, langsung menarik Rafael yang sedang dihukum tarikan telinga oleh seorang ibu-ibu.


"Tolong anda ajari sopan santun anak anda ya pak, Rafael selalu mengganggu anak saya" ia mengernyit, apa kepribadian Rafael seperti itu? Rasanya tidak mungkin.


"Apa yang terjadi Rafael? Jelaskan sama papa" tentu ia tidak akan menyalahkan siapapun sebelum mendapat kejelasan dan titik masalah.


"Halahh, sudah jelas anak anda itu nakal."


"Bukan uncle, tadi dia dulu yang bully Rafael terus Rafael membela diri" ia menoleh kearah gadis cilik berkuncrit dua yang menjawab dengan lantang.


"Heii diam kamu, anak kecil hanya bisa mengada-ngada" ibu-ibu didepannya semakin murka.


"Apa disini ada CCTV?" tentu ia tidak boleh gegabah, harus melihat bukti siapa yang bersalah.


"Ngapain lihat CCTV, sudah jelas kalau Rafael yang bersalah" ibu-ibu itu terlihat resah.


"Ada pak, mari" ia mengangguk, menggendong Rafael yang sedari tadi hanya diam. Meninggalkan ibu-ibu yang masih terlihat ketakutan.


Rekaman CCTV berputar dengan jelas, bagaimana awal mula pertengkaran itu terjadi hingga menimbulkan kericuhan.


"Sudah jelas siapa yang bersalah, kami mohon untuk Nak .... dan ibu ... minta maaf kepada Nak Rafael dan wali muridnya" ia menghela nafas lega saat melihat ketegasan seorang guru didepannya.


"Tidak bisa bu, Rafael memukul anak saya terlebih dahulu" ibu-ibu itu masih terlihat membela diri.


"Rafael, ayo pulang" ia tak berniat menanggapi, ingin langsung pergi daripada dirinya tersulut emosi.


"Dimana ruang kepala sekolah? Saya ingin mengurus kepindahan Rafael dari sekolah ini" guru tersebut terkejut atas ucapannya.


"Maafkan pihak sekolah pak, tapi tidak perlu pindah. Kami akan lebih tegas dengan permasalahan ini. Rafael siswa berprestasi" guru itu menahan.


"Melihat anak saya yang sudah mulai angkat tangan, saya rasa kejadian ini bukan satu atau dua kali." Tegasnya.


"Sudahlah bu, biarkan anak itu pindah. Sukanya bikin ribut" ia mengernyit, mengelus punggung Rafael yang berada digendongannya. Menyenderkan kepala dibahunya.


"Siapa nama anda nyonya?" Ia mencoba sabar, ingin membalas melalui jalur lain.


"Sazkia Cloe, anda pasti tahu keluarga saya keluarga terpandang dikota ini" ia mengangguk, lalu membawa Rafael pergi dari ruang multimedia dimana CCTV berada.


"Langsung pulang atau mau ikut kekantor papa terlebih dahulu?" Tanyanya pada Rafael yang belum juga membuka suara.


"Kantor" ia tersenyum, memasangkan setbelt untuk Rafael.


"Sebentar, papa akan menghubungi asisten papa terlebih dahulu" ucapnya.


Rafael.


Jam pelajaran sudah selesai, ia mengemasi bukunya dan memasukkannya kedalam tas.


"Hahaha" ia mendengus saat teman satu kelasnya sengaja menumpahkan minuman keatas tasnya. Mencoba sabar, tak menanggapi lalu keluar kelas.


"Nggak punya papa. Rafael nggak punya papa" ia tak bisa lagi sabar saat mendengar bullyan teman-temannya. Langsung menjatuhkan tasnya dan berlari masuk kedalam kelas. Lalu memukul temannya yang merupakan ketua dari pembullyan itu.


"Huaaaa mommy" temannya berlari keluar, sedangkan ia hanya santai lalu keluar untuk memgambil tasnya. Tapi baru saja berdiri setelah memungut tasnya, tarikan telinga membuat ia merintih.


"Nakal kamu ya" berbagai cemoohan ia dengar, bahkan tarikan telinga itu semakin kuat. Hingga papa muncul lalu menyelamatkannya. Menggendongnya dan mengelus punggungnya.


Ia tak mengatakan apapun, bahkan saat papa memutuskan agar ia pindah sekolah. Ia tak menolak atau bahkan mengiyakan. Ia hanya diam dan menyenderkan kepala dibahu papa.


"El mau menginap" ucapnya saat papa sudah melajukan mobil untuk menuju Store mama mengambil baju gantinya.


"Wahh, papa harus menyiapkan kamar khusus ini untuk jagoan papa. Mau dimotif apa kamarnya? Atau dibiarkan polos?" Ucapan papa yang sangat antusias membuat ia merasa jahat karena mengacuhkan pria panutannya itu.


"Terserah" jawabnya singkat. Entah mengapa ia belum terbiasa berbicara panjang atau memanggil dengan sebutan papa.


"Loh kok tutup?" Ia mendongakkan kepala, menatap store mama yang bertuliskan kata tutup dipintu kaca.


"Sebentar, papa hubungi mama dulu" ia mengangguk.


"Baik, kami akan kesana" hanya itu yg bisa ia dengar dari percakapan mama dan papa ditelepon.


"Mama ada didalam, ayo masuk" ucap papa seraya melepas setbealt.


"El disini saja" papa menghentikan gerakan, lalu mengangguk dan mengelus kepalanya.


"Pegang ponsel papa kalau ada orang aneh langsung hubungi nomor mama" ia mengangguk, menerima ponsel yang disodorkan oleh papa.