
Nathan
"Yesi, tolong belikan saya rujak"
"Yesi, tolong carikan saya makanan asam"
"Yesi, belikan saya minuman manis"
"Yesi, tolong belikan saya pie apel"
Entah sudah berapa kali ia merepotkan sekertarisnya itu saat jam kerja. Demi menuruti keinginan absurd nya. Tidak semua ia makan, hanya mencicipi sedikit lalu meminta Yesi untuk membeli makanan baru. Tentu sesuai keinginannya.
"Yesi, saya besok mengunjungi Oliv, tolong kamu handel pekerjaan saya selama saya pergi" setidaknya dengan berkunjung ke negara dimana Oliv tinggal akan sedikit mengurangi pikiran tidak nyamannya.
"Tapi pak, besok ada jadwal rapat"
"Batalkan atau undur"
"Baik"
Ia merasa heran sendiri, keinginan yang cepat berubah atau mood yang turun naik. Pikirannya tiba-tiba teringat kembali tentang perkataan ayah tadi malam. Dimana ayah menegaskan bahwa gadis itu pasti mengandung dan anak itu menghukumnya. Tapi, biarlah. Ia menerima semua ini, setidaknya ia sedikit lega karena gadis itu tak kesusahan saat mengandung anaknya. Biarlah ia yang merasakan semuanya, menanggung semua kesalahannya.
Seperti hari ini, tiba-tiba ia merasa malas di kantor. Ingin segera pulang dan melukis. Oh shit, ia menjadi pribadi yang suka melukis sejak beberapa bulan yang lalu. Entah ini sama sekali bukan hobinya, tak pernah sekalipun ia menyentuh alat seni sebelumnya tapi ini? Sungguh aneh.
Ia menaiki mobil, memutar musik barat yang sama sekali juga bukan kebiasaanya. Ia tidak pernah memutar lagu didalam mobil sebelumnya, karena ia pikir itu hanya berisik. Tapi sejak saat itu, ia merasa hampa jika tidak ada lagu didalam mobil. Semua berubah, termasuk kepribadiannya.
"Loh tuan muda sudah pulang" ia hanya mengangguk saat melihat bibi terlihat terkejut saat melihat kepulangannya dijam kerja. Bahkan masih kurang sekitar dua jam lagi jam kerja berakhir.
"Tuan dan nyonya berpesan jika mereka tidak pulang hari ini tuan, ingin berkunjung kerumah utama" ia menghentikan langkah, menghela nafas panjang lalu melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ataupun berkomentar informasi yang diberikan oleh bibi. Sejak tadi malam, ayah dan bunda terlihat enggan bertemu dengannya, bahkan tadi pagi sekali ayah bundanya pergi kekantor pagi sekali bahkan sebelum sarapan bersama.
Sesampainya dikamar ia langsung membersihkan diri, menghubungi anak buahnya untuk mengurus keberangkatannya menuju negara dimana Oliv tinggal. Tak lupa ia mengirim pesan kepada ayah dan bunda guna berpamitan. Karena saat ia menghubungi ayah dan bunda melalui telepon sama sekali tidak ada yang mengangkat.
"Loh tuan mau kemana?" Lagi-lagi bibi terkejut saat melihat ia turun sudah rapi, memakai jaket tebal, jeans, dan masker hitam tak lupa kacamata hitam yang bertengger.
"Mengunjungi Oliv" ia hanya menjawab singkat, tak berniat untuk makan atau minum meskipun tenggorokannya terasa kering keronta.
Tepat dimalam hari, akhirnya ia sudah singgah di apartement yang ditempati oleh Oliv. Mampir sejenak diminimarket untuk membeli minum. Menegaknya dengan tandas, mendinginkan tenggorokan yang sedari tadi minta dialirkan minuman.
Ia menyusuri loby, tapi terhenti saat pandangannya menangkap sosok yang dicarinya tapi dengan penampilan berbeda. Rambut pendek sebahu dengan perut buncit berjalan jauh didepannya bersama seorang laki-laki. Hatinya menuntun langkahnya untuk mengikuti gadis itu, memastikan punggung yang dilihatnya memang punggung milik gadis yang selama ini dicarinya.
"Kakkk" langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Oliv dibelakangnya. Ia menoleh sejenak, lalu kembali menajamkan pandangan didepan, tapi naas. Sosok yang ia ikuti sudah tak terlihat.
"Kakak lihatin siapa sih?" Ujar Oliv saat ia terlihat terus mencari.
"Oh bukan siapa-siapa" mencoba tersenyum meskipun ia sendiri masih penasaran dengan sosok pemilik punggung yang dilihatnya.
"Naik yuk" Oliv menarik tangannya untuk memasuki lift.
"Sebentar, kakak harus menghubungi seseorang terlebih dahulu" ia berjalan sedikit menjauh untuk menghubungi anak buahnya. Mengutus anak buahnya untuk menyelidiki keberadaan gadis itu di negara ini, harapannya semoga gadis rambut sebahu itu memang yang ia cari. Dan gadis itu terlihat mengandung. Damned, keyakinannya semakin membuncah.
Ia hancur, ia hina. Tak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Kodratnya sebagai perempuan sudah pupus, hilang dengan ketidaksadaran dan cara yang memalukan. Ia pendosa, merasa kotor dan tak berguna. Sesuatu yang ia jaga harus hilang dalam satu malam, bukan dengan suami. Tapi dengan orang asing yang baru saja ia kenal. Dan lebih parahnya orang asing itu adalah bosnya.
Ia berlari sekencangnya, menangis sepanjang jalan. Meratapi nasib buruknya. Pulang kerumah dengan perasaan hampa, pandangan kosong, dan hati hancur. Ia mengecewakan mbah, menghilangkan kepercayaan mbah.
"Mbah kita pindah ya, Lia bantu mengemasi pakaian mbah" hanya itu yang terucap selama ia memasuki rumah. Ia ingin segera pergi, menghilang dari negara ini agar tidak ada yang menghinanya. Agar ia tidak mengingat kejadian memalukan itu, pergi dari negara ini adalah cara terbaik untuk melupakan kejadian berdosa besar itu.
Mbah pun seolah mengerti kegundahannya, mbah mengangguk dan mengemasi barang-barang yang hendak dibawa. Ia melunasi kontrakan, berpamitan dengan tetangga sekitar.
"Mau kemana? Apa yang terjadi?" Itu menjadi pertanyaan pertama dari bibir mbah saat ia mengajak mbah duduk dirunag tunggu bandara.
"Kita ke luar negeri ya mbah, menyusul om Tirta." Om Tirta adalah anak terakhir mbah, berumur tidak jauh berbeda dengannya. Hanya berselisih beberapa tahun karena mbah hamil om Tirta saat mama sudah dewasa.
"Ono masalah opo nduk, cerita karo mbah (ada masalah apa nak, cerita sama mbah)" air mata yang ia tahan akhirnya luruh begitu saja, memeluk tubuh mbah yang semakin renta itu dengan perasaan hancur berantakan.
"Lia kotor mbah, Lia berdosa besar. Lia tidak bisa menjaga diri" jawabnya dengan suara terbata.
"Astaghfirullah" hanya itu yang terucap dari mulut mbah, ia semakin menangis hingga akhirnya waktu keberangkatannya telah tiba.
"Om, Lia sama mbah menyusul om kesana. Jemput di bandara ya om" sebelum naik kepesawat ia menelpon Om Tirta.
"Kenapa? Kok tiba-tiba? Ada masalah apa disana?" Jelas om Tirta menyadari ada yang tidak beres, karena ia sangat susah jika diajak berlibur kenegara itu, tapi sekarang? Dengan sukarela ia berangkat ke negara itu
"Om, Lia tidak bisa menceritakannya sekarang. Tapi Lia mau minta tolong, bisa om sembunyikan informasi mengenai Lia?"
"Sebenarnya ada apa Lia"
"Om, tolong turuti permintaan Lia"
"Baik, kau hati-hati. Jangan sampai ibu terlepas"
Hanya itu yang menjadi percakapan sebelum berangkat. Sesampainya di negara itu, Om Tirta langsung mencecarnya berbagai pertanyaan, menghakiminya seolah ia adalah tersangka.
"Ada apa Lia, cepat jelaskan" Om Tirta menggeram saat ia tak kunjung membuka suara.
"Tirta, pelan-pelan. Biarkan Lia tenang dulu" bahkan mbah berkali-kali menenangkan Om Tirta.
"Lia kotor om, Lia tidak punya kehormatan" hanya itu jawabnnya, tapi cukup membuat om Tirta melotot menatapnya.
"Astaghfirullah Liaa, apa yang kau lakukan? Pria mana yang mengambilnya?" Om Tirta terlihat merah padam tapi dengan cepat ia menggeleng.
"Lia juga salah om, Lia yang memulai" ia menceritakan apa yang ia ingat, hingga terbangun di suatu pagi dengan penuh penyesalan.
"Om akan menutup semua informasi tentang kamu, dan ubah nama kamu agar tidak ada yang bisa menyelidiki. Mengingat jika pria itu bukan pria biasa pasti dia akan mencarimu jika pria itu benar-benar bertanggung jawab." ia hanya mengangguk, mungkin itu keputusan terbaik.
"Ba-bagaimana jika Lia hamil?" Ia menunduk dalam-dalam.