Stay Here Please!

Stay Here Please!
Startling



Startling (Mengejutkan)


Aku tidak tahu apa yang terjadi esok hari atau nanti. Entah sesuai dengan ekspetasi atau bahkan terjadi hal yang paling ku benci. Intinya, semua takdir, digariskan, ditetapkan, dan ditentukan. Berdoa saja, semua akan baik-baik saja. Pasti!.


~Riza Ar


...----------------...


Aurelia


"Lia, kau disini juga?" Ia melonjak, menolehkan kepalanya dan ternyata teman satu kerjanya di SweetCake yang menyapanya. Vivi Namanya.


"Eh itu sepertinya sudah dimulai, yukk" belum sampai ia menjawab, Vivi lebih dulu menyeret tangannya untuk menuju gerombolan pelamar lainnya. Ia langsung mengangguk, dan mensejajarkan langkah Vivi.


"Apa kau melamar disini karena gaji Sweet Cake tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari? Jika itu alasanmu berarti kita sama" bisik Vivi dan hanya dibalasnya senyuman.


"Ucapkan selamat pagi pada Bapak Nathan, Presiden Direktur YN Group" ucap sang pembuka acara.


"Wah tampan sekali"


"Masih muda lagi"


"Ku dengar-dengar beliau masih jomblo"


"Benarkah? Jadi masih ada peluang dong"


"Sadar diri, kita bagaikan langit dan bumi"


"Kau mematahkan semangatku"


Bisik-bisik pelamar lainnya membuat ia penasaran siapa sosok presiden direktur yang dimaksut oleh mereka. Ia mendapatkan tempat paling belakang jadi tidak kelihatan siapa presiden direktur yang sedang dibicarakan. Tapi karena rasa penasaran yang lebih tinggi, ia pun memutuskan sedikit menjinjitkan tubuhnya.


"Pria itu?" Lirihnya tak percaya.


"Kau mengenalnya?" Bisik Vivi yang ternyata mendengar gumamannya.


"Tidak, hanya aku pernah melihatnya di Sweet Cake" jawabnya setengah berbisik juga.


"Baiklah, saya lanjutkan. Untuk berkas lamaran yang kalian bawa silahkan letakkan dikotak itu. Tidak perlu berebut, belajarlah mengantri dengan baik. Oh ya, pastikan kalian sudah menulis alamat e-mail kalian dimap kalian, karena kami akan mengumumkan langsung di e-mail" Ucapan seorang wanita yang berdiri didepan membuat para pelamar maju satu-persatu untuk meletakkan map didepan.


Kini gilirannya, maju dengan santai dan tetap sopan. Menganggukkan kepalanya pada wanita yang menjadi petugas yang mengarahkan mereka. Ia menoleh kearah loby, deg. Pandangannya bertemu pada seorang pria yang sempat menjadi pembicaraan tadi, sedang berbicara dengan seorang wanita yang sepertinya sekertarisnya. Ia pun segera menunduk, membuang pandangan kebawah.


"Baik, terima kasih atas kerja samanya. Silahkan menunggu esok hari untuk pengumuman sekaligus penempatan kerja. Good Luck guyss" tutup petugas dengan sopan.


Semua membubarkan diri, termasuk ia juga tentunya. Tapi ia tak langsung pulang seperti pelamar lainnya, ia menghampiri seseorang yang ia duga sebagai presiden direktur itu di loby.


"Ma-maaf pak" ia gugup, bahkan tangannya dudah berkeringat dingin.


Pria didepannya tak menjawab, hanya menatapnya dengan mata memicing dan alis tebal itu terlihat bertaut. Membuat ia semakin gugup tak karuan, bingung ingin memulai percakapan dari mana.


"Ada apa ya mbak?" Tanya wanita yang ada disamping atasannya, terlihat cantik dan elegan. Sangat berbeda dengan dirinya.


"Maaf bu, saya hanya ingin menyampaikan pesan terima kasih dari mbah eh nenek saya, karena bapak ini sudah menolong nenek saya kemarin" ia menunduk, tidak berani meskipun hanya mendongakkan kepalanya.


"Nenek? Pak Nathan?" Ia mengangguki ucapan wanita itu. Eh apa? Pak Nathan? Oh jadi namanya Nathan. Begitu pikirnya.


"It's okay, lain kali jangan biarkan nenekmu jalan sendirian dijalan raya" jawab atasannya, eh pak Nathan namanya.


Wanita tersebut terlihat melongo, entah apa yang dipikirkannya saat melihat sang pria berbicara padanya. Seolah wanita tersebut terkejut dengan respon sang pria untuknya.


"Baik sekali lagi terima kasih pak, saya pamit undur diri" ia menganggukkan kepalanya, menyapa untuk sekedar berpamitan.


Yesi.


Ia melongo, terkejut dengan mata membelalak. Bos dingin nan irit sekali bicara baru saja berbicara dengan santai dan panjang lebar kepada gadis asing. Bukankah itu aneh? Pikirnya. Padahal selama ia bekerja diperusahaan ini, ia pun tidak pernah mendengar bosnya itu mengajaknya berbicara dengan panjang, atau bahkan santai. Semua terlihat menegangkan dan terlalu formal, menurutnya.


"Siapa gadis itu? Tidak mungkin kan ia bisa masuk ke perusahaan ini tanpa urusan yang jelas?" Ia melonjak, segera mengatur keterkejutannya untuk menjawab pertanyaan bosnya.


"Sepertinya pelamar karyawan baru sebagai office girl pak, karena hari ini jadwal pengumpulan berkas untuk lamaran diposisi itu" jelasnya.


Nathan.


Pikirannya terusik. Kemunculan sosok gadis dengan wajah gugup yang menghampirinya didepan loby membuat nya berpikir. Hanya untuk mengucapkan terima kasih. Ia sampai menggelengkan kepala berkali-kali. Masih melamar, belum bekerja gadis itu sudah menjadi perbincangan hangat dikantor. Tentu saja ia mendengarnya, meskipun ia tak pernah memperdulikannya.


Bapak? Cih. Ia yang awalnya kagum dengan keberanian gadis itu menghampirinya hanya untuk berterima kasih tiba-tiba teralihkan dengan panggilan yang dilontarkan gadis itu untuknya. Ia belum tua, belum menikah, apalagi punya anak. Mengapa dipanggil bapak? Oh shit.


"Pak ada yang ingin bertemu bapak" ucap Yesi tiba-tiba masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"Siapa?" Tanya nya dengan wajah kesal.


"Haii broo, see you again, oh akhirnya. Aku benar-benar merindukanmu" ia menyipit, mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berkunjung dijam kerja seperti ini.


"Kau keluar" ucapnya pada Yesi yang masih berwajah pucat karena takut akan kemarahannya.


"Apa kabar?" Ia berdiri, sekedar memeluk sebentar lalu menepuk punggung temannya.


"Baik, kau makin tampan saja" seloroh temannya membuat mereka akhirnya tertawa.


"Glen, sejak kapan kau kemari?" Tanyanya.


"Lusa, aku ada beberapa bisnis disini" jawab Glen, temannya yang tiba-tiba datang.


"Aku bosan, coba panggilan wanita untukku" ia hanya menggeleng menanggapi ucapan temannya.


"Kau tidak berubah. Entah kerasukan dari mana, ayahmu bisa menitipkan perusahaan sebesar itu padamu" ucapnya.


"Heii Na, aku..."


Bugg


Ia melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Glen. Tadi pagi bapak, sekarang Na, entah panggilan aneh apa lagi yang akan ia dengar hari ini.


"Okay okay, Nathan. Yaya aku akan memanggilmu Nathan" jawab Glen dengan mengusap wajah.


"Oke lanjutkan bicaramu" ucapnya dan menyenderkan tubuhnya disofa.


"Kau tahu kan, kalau aku tidak bisa berpisah dengan wanita. Setiap hari pun mereka datang ke apartemenku secara bergantian."


"Kau masih tinggal di apartemen? Meninggalkan rumah besar yang diamanahkan orang tuamu?" Ucapnya merasa tidak percaya.


"Nathan Adelard, coba kau pikir. Jika aku tinggal dirumah itu, aku akan tersiksa karena tidak akan ada wanita yang bisa masuk kedalam rumah itu. Kau tau sendiri, daddy menjagaku seperti kucing peliharaan. Bisa tinggal bebas di apartemen saja sudah sangat berterima kasih"


"Menikahlah, bukankah kau tidak akan tersiksa. Kau bahkan juga bisa menikmati wanitamu setiap saat" tegurnya. Ia bukan orang baik, tapi ia tak pernah melakukan hal hina itu demi merasakan nikmat sesaat. Apalagi ia mempunyai adik perempuan, ia tak mungkin merusak perjakanya hanya demi wanita ****ng.


"Aku tidak ingin terikat, sangat membosankan." Ia hanya mampu menggelengkan kepalanya, lebih memilih untuk bangkit daripada menanggapi ucapan teman anehnya.


"Eh, sekertarismu boleh juga ya" ia lagi-lagi menggeleng.


"Dia wanita baik-baik Glen, kau yakin ingin merusaknya?" Tanya dengan tegas.


"Baik? Kau menyukainya?" Ia mengambil bantal, melemparkannya lagi dan tepat mengenai wajah Glen lagi


"Kau suka sekali memukulku, berarti kau benar menyukainya?" Tanya Glen semakin mendesaknya.


"Tidak, ambil saja jika kau mau" geramnya.


"Oh thank you broo, aku akan memanfaatkannya dengan baik"


"Crazyy" geramnya.


"Of course, aku sudah gila karena kenikmatan itu"


"Pergilah, jangan kotori udara ruanganku karena ucapan sampahmu itu" tegurnya, jika ia tidak mengusir teman gilanya itu, maka pembicaraan temannya akan semakin ngelantur.


"Apa aku boleh membawa sekertarismu?"


"Jam kerjaa Glen. Pergi tanpa membawa siapapun dari kantorku" sungutnya.