
Karena mereka belum makan sejak pagi, mereka memutuskan mampir ke restoran didekat hotel. Ini sudah terlewat jam makan siang, pun juga belum menginjak jam makan malam. Penjahat yang hendak meracuni mereka tidak akan berpikir jika Nathan makan di jam-jam seperti ini. Karena Nathan terkenal dengan kedisiplinan, meskipun itu hanya perihal makan. Nathan akan makan tepat waktu.
Mereka makan dengan tenang di sebuah ruangan privat yang ada di restoran ini. Nathan memesan semua menu andalan restoran untuk menebus karena Aurelia belum makan sama sekali hari ini.
Nathan tersenyum, ia memperhatikan Aurelia yang sibuk menyiapkan makan untuknya. Mulai dari memotong daging, hingga menyelipkan beberapa sayuran di piringnya.
"Makanlah, tidak perlu melayaniku se detail itu" Nathan tersenyum, menghalangi Aurelia yang hendak mendekatkan minumannya.
"Sudah tugas ku sebagai istri mas" Aurelia banyak belajar dari Aruna bagaimana melayani suami dengan baik.
Nathan menggeleng, membiarkan Aurelia melakukan apapun sesuka hatinya. Hingga dirasa makanan didepan Nathan sudah tinggal lahap, barulah Aurelia duduk dan makan makanan nya sendiri dengan nyaman.
"Apakah Rafael menghubungimu mas?" Tanya Aurelia setelah mereka hampir menandaskan semua makanan mereka.
"Kemarin menghubungiku melalui pesan singkat, hanya menanyakan bagaimana keadaan mu. Dia sama sekali tidak menanyakan keadaan ku" Nathan mendengus, ia sedikit cemburu dengan kedekatan Aurelia dengan Rafael. Rafael menang sudah menerimanya tapi Rafael masih sedikit canggung jika berbicara dengannya secara personal.
Mereka keluar dari restoran. Memakai kacamata hitam dan masker, tak lupa topi meskipun mereka sudah menggunakan tudung jaket untuk menutup kepala.
Nathan berjalan santai, tidak terlihat mengawasi sekitar. Ia memeluk pinggang Aurelia.
"Jangan takut, berjalanlah seperti pengunjung lain yang kekenyangan habis makan" goda Nathan saat melihat kegelisahan Aurelia.
Aurelia mencubit perut Nathan, disituasi seperti ini, bahkan Nathan masih sempat menggodanya.
"Akan ku balas nanti dirumah" Nathan membisikkan kalimat itu tepat di telinga Aurelia. Aurelia merinding, ia tersenyum dibalik masker.
Mobil taksi sudah sampai diparkiran restoran. Anak buahnya sudah mengatur sedemikian rupa. Mulai dari menyewa mobil taksi untuk penyamaran dan mengendarai taksi itu sendiri.
"Apa mereka masih mengintai?" Tanya Nathan pada anak buahnya yang menyupir taksi saat mereka sudah didalam mobil.
"Masih bos, sepertinya mereka memang nekat" anak buahnya menunjuk di satu mobil yang turun dua orang laki-laki bertubuh kekar dan dua wanita berpakaian pelayan. Nathan tersenyum, ia tau maksud kedatangan mobil itu di restoran ini. Tentunya karena mereka sudah mendapat kabar bahwa ia mengunjungi restoran ini. Beruntung lagi-lagi ia tidak salah memilih anak buah. Anak buahnya menyuruh dua orang yang mirip dengan postur tubuh nya dan Aurelia untuk masuk di ruangan privat itu. Tentunya dengan bayaran yang menggiurkan, pasangan yang disewa itu setuju, mereka akan bersandiwara bahwa mereka yang menempati privat room itu sejak tadi dan tidak ada siapapun sebelum atau setelah mereka.
"Setelah aku pulang dari negara ini, kau selidiki dan ambil anak buah mereka yang pemberani itu" mobil taksi mulai berjalan keluar restoran.
"Baik tuan" anak buah mengiyakan. Nathan berpikir jika ia memusnahkan dalang dari segala kekacauan ini, orang suruhan mereka akan kelimpungan. Mereka akan bingung membawa hidup mereka kemana.
Nathan melihat mereka memiliki kemampuan, pemberani dan tangguh. Dengan mengambil mereka sebagai anak buahnya maka akan menambah kekuatannya. Karna ia yakin anak buah yang mereka ambil hanya terpaksa melakukan hal itu karena membutuhkan uang.
"Bagaimana kalau mereka menusuk dari belakang?" Aurelia yang sedari tadi diam ikut menimpali, ia menatap suaminya dengan heran. Bukankah musuh itu berbahaya? Mengapa suaminya ini malah mempunyai niat mengambil anak buah mereka. Bagaimana jika mereka ternyata hanya berpura-pura lalu menyakiti Nathan?.
"Tentunya akan melewati beberapa tahap seleksi sayang, tidak semuanya masuk begitu saja." Nathan menjawab.
Aurelia mengangguk, kembali menikmati perjalanan mereka melalui jendela mobil. Ia yakin Nathan pasti sudah merencanakan semuanya dengan matang. Ia tidak akan meragukan kemampuan suaminya itu.
Mobil taksi yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan bandara. "Berhenti" Nathan menepuk jok kemudi didepannya. Taksi langsung berhenti detik itu juga. Meskipun pintu bandara masih kurang beberapa ratus meter lagi.
"Maaf tuan, saya hampir lalai" Anak buahnya terlihat berpikir apa yang harus mereka lakukan saat melihat beberapa orang berpakaian serba hitam sedang memantau pergerakan orang yang masuk kedalam bandara.
"Kita turun disini, kau antarlah siapapun sampai ke depan pintu agar mereka tidak curiga" Nathan memakai maskernya kembali. Memegang tangan Aurelia erat. Sebelum Nathan turun, anak buahnya sudah memundurkan mobil taksi agar tidak terlalu terlihat oleh mereka.
Nathan menyaut sembarang koper penumpang lain, menyerahkan lembaran uang sebagai ganti rugi.
"Kalau kurang bisa menemui anak buah saya" Nathan melihat kebingungan calon penumpang itu, ia menunjuk anak buahnya yang turun dari taksi berusaha mencari penumpang yang bisa diajak bersandiwara.
"Kita berjalan seperti penumpang lain. Membicarakan hal-hal yang tidak dimengerti oleh mereka. Misalnya tentang serunya hidup di desa atau pengalaman selama berlibur di rumah kakek atau nenek" Nathan memohon kepada Aurelia. Tangan Aurelia berkeringat. Ia takut mereka akan celaka.
"Tidak perlu takut, meskipun mereka berhasil menangkap kita, ada anak buah yang siap siaga. Kita hanya perlu berusaha berhati-hati agar mereka tidak mencurigai kita" Nathan kembali meyakinkan.
Mereka berjalan menuju pintu bandara. Membicarakan tentang kehidupan nenek Aurelia di desa. Mereka sedikit merubah suara mereka agar tidak dikenali. Aurelia terlihat cerita serius, ia mengingat masa kecilnya dengan jelas.
"Berhenti" deg. Dada Aurelia berdegup kencang. Beberapa orang yang mereka hindari kini berdiri didepan mereka. Nathan mencoba menahan emosinya. Ia ingin segera mengurus beberapa pria menyebalkan ini tanpa penyamaran seperti ini. Jika ia tidak memikirkan Rafael yang menunggu kepulangan mereka tanpa lecet sedikitpun, ia akan langsung menyerang suruhan orang sialan ini. Dan tentunya ia juga takut merusak kebahagiaan orang dirumah dengan berita tidak mengenakkan. Masa penganten barunya belum usai tapi ia dihadapkan dengan manusia menyebalkan seperti mereka karena haus kekuasaan.
"Tunjukkan kartu identitas kalian" titah salah satu pria berbadan besar, Nathan dengan santai mengeluarkan dompet bututnya yang ia dapat dari orang yang menggantikannya di restoran tadi. Selain ia meminta orang itu bersandiwara di restoran, Nathan juga meminta kartu identitas mereka. Dan sekarang berguna.
"Periksa koper mereka" mereka merebut paksa koper yang dibawa oleh Nathan. Nathan terlihat waspada, memeluk pinggang istrinya. Ia berharap isi koper itu bisa mendukung penyamarannya.
"Baju siapa ini?" Aurelia terkejut saat pria didepannya menunjukkan baju atasan yang cocok digunakan lansia.
"Oh itu baju nenek saya pak. Karena nenek saya baru saja meninggal, saya berniat membawanya untuk kenang-kenangan" Aurelia menjawab dengan cepat. Nathan tersenyum di balik masker.
"Tolong buka masker kalian" pria yang terlihat seperti ketua gerombolan itu berkata tegas. Menatap tajam Nathan dan Aurelia.