
Rafael
Hari ini adalah hari terakhirnya mengerjakan soal ujian. Mama dan papa semakin dekat, bahkan ia sempat mendengar perbincangan antara ayah dan mama jika setelah mama dan papa menikah, mereka akan pindah ke negara X. Ia bahagia, mempunyai keluarga utuh adalah suatu impiannya.
"Ayo main" ucap Ax. Bocah itu seolah tidak ingin jauh darinya. Bahkan saat Paman dan bibi kembali ke negara X, Ax dengan tegas ingin tetap tinggal disini. Jadilah papa menyewakan orang untuk mengurus Ax. Meskipun terkadang mama sendiri yang mengurus bocah yang menurutnya hanya pengganggu itu. Tapi tak bisa dipungkiri jika kehadiran Ax membuat ia terhibur.
Ia mendengus, menatap tajam Ax yang masih menggendong beberapa mainan di kedua tangan dengan perutnya. Apa bocah ini selalu bermain? Ah ia menjadi sebal sendiri. Terlebih bocah itu selalu mengunjungi apartemennya setelah papa berangkat bekerja.
"Belajar Ax, keluar dulu" jawabnya dan kembali fokus pada buku didepannya.
"Selamat pagii" ia menoleh, tersenyum dan menganggukkan kepala pada guru yang memang ditugaskan untuk mengurus ujian yang ia lakukan dirumah.
"Main sama Selsy dulu Ax, kakak harus sekolah" ucapnya dan Ax mengangguk dan berlalu keluar dari kamarnya.
"Hari terakhir El, semangatt" ia mengangguk saat bu Geby memberikan semangat untuknya.
Mengerjakan dengan santai, tidak terburu-buru. Tapi soal kali ini lebih mudah pikirnya. Terbukti karena ia bisa menyelesaikan dengan cepat. Mungkin karena papa menyewa guru privat untuknya. Jadi ia lebih mudah memahami pelajaran yang kurang dijelaskan di sekolah.
"Silahkan bu" sekelebat suara bibi Aruna tertangkap di telinganya. Seperti biasa, bibi Aruna meletakkan beberapa camilan dan satu gelas jus didepan bu Geby.
"Wahh, terima kasih banyak bu Aruna, saya jadi merepotkan" jawab bu Geby.
"Sudah selesai?" Tanya bu Geby saat ia berdiri untuk menyerahkan lembar jawaban.
"Soalnya cukup mudah bu" jawabnya.
"Karena kamu belajar sangat baik, jadi soal terlihat lebih mudah" balas bu Geby tersenyum kearahnya.
"Sepertinya saya langsung kembali bu Aruna, terima kasih jamuannya" pamit bu Geby pada bibi Aruna.
"Hati-hati bu" jawab bibi Aruna.
Ia melepas seragam, memasukkannya kedalam keranjang baju kotor. Meskipun ia mengerjakan soal ujian dirumah, tentu ia juga harus profesional. Memakai seragam lengkap seperti di sekolah.
"Kata papa nggak boleh main ponsel terus Ax" saat ia keluar, ia menangkap Ax yang sibuk dengan ponsel. Bahkan bocah itu berbicara seperti melakukan panggilan melalui aplikasi game diponsel.
"Aduh, kalah deh" gerutu Ax saat ia langsung merebut dan mematikan ponsel.
"Dimana Selsy? Bukankah tadi aku memintamu bermain dengan Selsy?" Tanyanya.
"Tidur" jawab Ax singkat, sepertinya bocah itu masih kesal padanya.
"Oh" balasnya dan langsung berlalu.
"Mau kemana?" Teriak Ax membuat ia tersenyum.
"Melukis, mau ikut?" Tawarannya dan Ax pun mengangguk dan menyusul langkahnya.
"Kenapa kakak suka melukis?" Tanya Ax saat mereka sudah berada di kamarnya untuk melukis. Tentu Ax menggunakan peralatan melukisnya sendiri. Bocah itu meminta papa untuk dibelikan alat lukis. Jelas untuk mengikutinya, entah kenapa bocah itu selalu ingin melakukan apa yang ia lakukan.
"Kalo kamu kenapa tiba-tiba minta alat melukis?" Tanyanya kembali tanpa berniat menjawab celoteh Ax sebelumnya.
"El, Ax, sini makan siang dulu" belum sampai Ax menjawab pertanyaannya, bibi Aruna sudah berteriak dari luar. Mengintruksi mereka agar segera keluar untuk makan siang.
"Ax bisa makan sendiri? Apa mau tante bantu?" Tanya bibi Aruna saat kita semua sudah berkumpul diruang makan.
"Bisa tante" jawab Ax dan mulai menyuapkan makanan kedalam mulut.
"Jadi laki-laki harus mandiri, lihat tuh Selsy aja perempuan tapi mandiri, bisa makan sendiri" bisiknya pada Ax, tetapi pandangannya tertuju pada Selsy yang berada di meja khusus bayi dan sedang sibuk dengan mangkuk beserta sendok kecilnya.
"Aku kan sudah makan sendiri kak" gerutu Ax menatap tajam kearahnya.
"Hanya mengingatkan" jawabnya.
"Baik"
Aruna
Ia seperti ibu dengan tiga orang anak, ia tersenyum sendiri jika membayangkan. Tangisan Selsy, perdebatan kecil antara Rafael dan Axelle seolah menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia menikmati, sangat menikmati. Setelah ujian yang tuhan berikan pada mereka kini sudah berganti kebahagiaan. Tapi tentu tuhan tidak akan membuat umatnya terlena, seperti siang ini. Tiba-tiba Tirta pulang dengan wajah lesu.
"Mas, ada apa? Tumben pulang jam makan siang seperti ini?" Tanyanya saat membuka pintu dan melihat Tirta yang memasang wajah lesu.
"Dimana Selsy?" Tanya Tirta dan melenggang masuk.
"Tidur, ada apa mas? Ada masalah apa di resto?" Tanyanya diujung rasa penasaran yang tak berkesudahan.
"Aku dipecat. Maafkan aku" ia tersentak kaget saat Tirta tiba-tiba memeluknya. Ia bahkan bisa merasakan suatu keputusan asa-an dari pria kokoh ini.
"Takut anak-anak melihat mas, ayo kedalam kamar" ia menarik Tirta kedalam kamar. Tentu ia tidak boleh gegabah, ada anak kecil di apartement ini, hal berbau dewasa tidak boleh dilihat anak-anak.
"Minum dulu ya mas" ucapnya dan menyodorkan segelas air putih untuk Tirta. Lalu menyusul duduk di tepi ranjang. Beruntung tadi ia menidurkan Selsy di ranjang khusus bayi, jadi perbincangan ini tidak akan mengganggu tidur nyenyak Selsy.
"Ada yang menggelapkan dana resto, pengeluaran belanja dengan barang yang didapat tidak sepadan. Dan pelaku mengatasnamakan aku sebagai pemilik situs yang digunakan untuk memasukkan semua dana yang hilang" jelas Tirta, ia mengelus punggung suaminya itu.
"Apa sudah diselidiki?" Tanyanya heran.
"Sudah, dan semua bukti menjurus ke aku" ia menghela nafas saat Tirta menjawab pertanyaannya dengan lirih. Lalu tersenyum untuk menenangkan hati suaminya.
"Memang sudah takdirnya begini ya nggak ada yang perlu disalahkan mas, semangat. Ayo berjuang lagi" ucapnya penuh semangat, bahkan ia sempat menepuk bahu suaminya untuk menyalurkan kekuatan.
"Apartement ini harus disita karena untuk mengganti uang yang digelapkan. Bagaimana?" Tanya Tirta lirih, sedangkan ia masih menguasai keterkejutan nya.
"Kenapa harus apartement ini?" Tanyanya spontan, karena jelas ia tak rela. Karena disini lah ia memulai hidup baru dengan suaminya.
"Nggak ada harta benda yang menjanjikan untuk ganti rugi selain apartement ini" jawab Tirta lalu memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku" lirih Tirta.
"Mas, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin ini memang ujian untuk keluarga kita. Aku menerimanya dengan lapang dada. Aku akan ikut kemanapun kau pergi" ucapnya tulus.
"Terima kasih" jawab Tirta kembali memeluk tubuhnya.
"Kita diberikan waktu satu minggu untuk mengosongkan apartement ini" ucap Tirta lagi dan ia hanya mampu mengangguk lalu membenamkan wajah didada bidang itu.
Sebenarnya ada yang aneh disini, jika berpikir menggunakan logika. Apartement ini tak terlalu besar, hanya saja Aruna mendekorasi apartement menjadi terlihat luas dan nyaman. Lalu, kerugian dari penggelapan dana tersebut mencapai beberapa milyard dolar. Tapi hanya apartement ini yang diminta. Siapa sebenarnya pelaku dari kejadian semua ini?.
"Saya akan merebut kembali apartement ini" ucap Nathan pada malam harinya saat mereka selesai menceritakan masalah ini kepada Nathan dan Aurelia.
"Tidak perlu, kami sudah memutuskan pindah" ucap Tirta jelas ia tahu jika suaminya itu masih merasa sungkan terhadap calon adik iparnya itu.
"Bagaimana kalau kalian ikut ke negara X? Kita memulai hidup baru disana" usul Aurelia sangat membantu pikirnya. Lagipula, ia belum pernah merasakan hidup di negara itu.
"Pikirkan lagi om, jika om terus disini pasti akan susah mencari pekerjaan" lanjut Aurelia lagi.
"Tunggu, jika kau keberatan dengan usulan Aurelia. Bagaimana jika kau memimpin perusahaan ku yang ada di negara ini? Kebetulan asistenku akan resign untuk fokus pada pengobatan ibunya diluar negeri" jawab Nathan lagi-lagi membuat ia dan Tirta bisu. Tak bersuara, tak tau harus menjawab apa atas tawaran kedua orang didepannya itu.
"Dan untuk tempat tinggal kalian bisa tinggal di apartement ku. Tidak berpenghuni jika aku pergi. Kalian bisa tinggal disana" lagi-lagi Nathan menawarkan sesuatu yang sangat luar biasa.
"Itu terlalu berlebihan. Aku takut tidak mampu memimpin perusahaan sebesar itu" ucap Tirta.
"Asistenku akan menjelaskan sebelum ia resign. Dan ada sekertaris yang bisa membantumu selama bekerja" jawab Nathan.
"Sekertaris? Haduhh, jangan sampai ada tragedi kisah cinta seorang pimpinan dan sekertaris" celetuknya tanpa permisi. Lalu menutup mulut saat semua orang menertawakan nya.