
Aurelia mengelap bibirnya dengan tisu. Ia sudah menghabiskan makanannya, lalu menegak jus yang sudah ia pesan. Sesekali ia memperhatikan segerombolan gadis yang sedari tadi tidak berkedip menatap suaminya. Ia sedikit jengkel, tapi bukankah hal ini sudah biasa jika suaminya di tempat umum?
"Aihh kenyangnya perutku sayang" Aurelia menempel pada tubuh Nathan, mengelus perutnya sendiri dan bergelayut manja dengan suaminya itu.
Nathan yang merasa terkejut dengan tingkah laku Aurelia mematikan ponselnya. Menatap wajah istrinya, bola mata istrinya terlihat melirik segerombolan wanita yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Nathan tersenyum tipis, ia menarik bahu Aurelia agar lebih rapat.
"Tidak perlu cemburu sayang, aku hanya milikmu" bisik Nathan.
"Eh" Aurelia terperanjat, ia tersenyum malu. Nathan mengajaknya bangkit untuk pulang. Menggandeng tangan Aurelia. Aurelia mengikuti langkah besar Nathan. Memasang kembali kacamata hitamnya untuk menutupi mata cantiknya.
"Selamat sore tuan" langkah mereka terhenti, seorang wanita seumuran Aurelia menghadang langkah mereka. Aurelia mendongakkan kepala menatap wajah suaminya. Suaminya acuh, hanya menjawab sapaan wanita itu dengan berdehem.
"Banyak laporan yang harus tuan periksa, kapan tuan akan ke kantor?" Wanita itu memasang wajah manisnya didepan Nathan. Tapi sedikit sinis dengan Aurelia.
"Cih, kau berlagak seperti kau bos suamiku saja. Menyuruh-nyuruh." celetuk Aurelia geram. Kini ia harus lebih tegas untuk menghadapi wanita-wanita yang hendak menggoda suaminya.
Nathan tersenyum, ia mengecup singkat pipi Aurelia.
"Maaf, tapi saya tidak berbicara dengan anda" mendengar jawaban wanita didepannya, senyuman di wajah Nathan hilang. Ia menatap wanita itu tajam.
"Jika kau masih ingin bekerja, hormati istriku" ucap Nathan tegas, matanya menyalang tajam. Gadis itu terlihat menunduk. Sedikit mengumpat kepada Aurelia.
"Dan saya rasa saya tidak pernah meminta mu untuk mengatur kehadiran saya di kantor" setelah mengatakan itu, Nathan menarik tangan Aurelia, mengajaknya pergi.
"Geram sekali dengan wanita seperti itu" celoteh Aurelia sedikit memayunkan bibirnya. Nathan tersenyum. Ia mengacak rambut Aurelia gemas.
Karena letak restoran tidak jauh dari rumah, maka tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai dirumah. Gerbang terbuka, mobil memasuki gerbang untuk menuju di pintu utama.
Rafael terlihat sudah menunggu mereka didepan pintu. Tanpa menunggu Nathan, Aurelia langsung turun dan memeluk anaknya. Meskipun baru terhitung tiga hari ia jauh dari Rafael, tapi ia sudah merindukan putra tampannya itu.
"Apakah mama baik-baik saja?" Tanya Rafael saat Aurelia mendekapnya.
"Baik sayang, tidak terjadi apapun dengan mama" Aurelia melepas pelukan, menciumi wajah Rafael. Nathan yang gemas dengan interaksi dua orang didepannya, langsung menggendong Rafael. Menggandeng tangan Aurelia untuk masuk kedalam rumah.
"Paa, El sudah besar" Rafael memalingkan wajahnya, malu karena ada beberapa pelayan yang hilir mudik menurunkan barang mereka. Nathan tersenyum melihat Rafael yang salah tingkah.
El mengerucutkan bibirnya saat nenek dan kakek mengejeknya. Ia malu. Menatap mata papa sinis dan mendengus. Nathan hanya tersenyum, mengacak rambut Rafael dan menurunkannya.
"Tidak boleh begitu sayang" Tegur Aurelia setelah menyalami Gibran dan Jasmine.
Nathan yang sedari tadi tersenyum memperhatikan keluarga bahagianya, senyum ayah dan bunda, dengusan kecil El, dan Aurelia yang mudah menyesuaikan diri dengan keluarganya, tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada satu lukisan di dinding samping tangga. Lukisan itu berukuran besar. Melukiskan keluarga kecil bahagia. Nathan mendekat, menaiki beberapa anak tangga aga bisa memperhatikan lebih saksama.
Dilihatnya, didalam lukisan itu ada sepasang suami istri menggandeng satu anak laki-laki dan di gendongan pria itu ada gadis kecil berjenis kelamin perempuan. Nathan bisa menyimpulkan perempuan, karena gadis kecil di dalam gambar itu rambutnya di kepang dua.
"Apa maksud dari lukisan ini ayah?" Tanya Nathan, karena ia tidak mengerti. Jika dilukisan ini yang dimaksud El adalah keluarga kecilnya, lalu siapa gadis kecil di gendongan itu?
"Kau bisa menanyakannya sendiri Nathan, dan kau akan tercengang mendengar jawabannya. Anakmu itu benar-benar memikirkan jauh kedepan. Jenius" setelah mengatakan hal itu, Gibran menepuk pelan bahu Nathan. Lalu Gibran melangkah menaiki tangga. Meninggalkan Nathan yang masih bingung dengan makna lukisan serta penjelasan ayahnya itu.
Nathan mengabaikan lukisan itu terlebih dahulu, meskipun masih banyak pertanyaan di benaknya. Baru saja ia hendak melangkah menaiki tangga, suara Aurelia membuyarkan pikirannya.
"Mass tunggu" ia tersenyum, menunggu Aurelia menaiki tangga menghampirinya.
Kini gantian Aurelia yang terhenti tepat di lukisan itu. Aurelia melihat pojok kanvas lukisan, ada tulisan semacam tanda tangan kecil, itu tanda yang selalu dibuat putranya ketika putranya itu berhasil menyelesaikan lukisan.
Aurelia mengulurkan tangannya, menyentuh kanvas. Nathan menatap wajah Aurelia yang masih mencerna lukisan.
"Ini lukisan El" tanya Nathan. Aurelia mengangguk. Menunjukkan tanda tulisan kecil itu di pojok kanvas.
"Apa kau tau makna lukisan ini?" Tanya Nathan karena Aurelia tak kunjung membuka suara.
Aurelia hanya menggeleng. Ia masih memikirkan banyak hal. Dulu lukisan yang sama pernah dibuat oleh putranya. Dengan latar belakang senja yang indah di pantai. Tapi lukisan terdahulu tidak ada gadis kecil di gendongan pria dewasa.
Lukisan ini berukuran lebih besar dari yang lalu. Tangannya yang menyentuh kanvas pun bisa merasakan jika ini menggunakan cat terbaik yang tidak akan pernah luntur atau muncul bercak meskipun ketika di pajang di dinding dalam waktu yang lama.
Aurelia sebenarnya tau makna lukisan itu, tapi biarlah Rafael yang menjelaskan sendiri kepada mereka nanti. Rafael yang lebih paham makna lukisan itu, bukan dirinya.
"Ayo bersihkan diri dan istirahat. Kita bisa menanyakan kepada Rafael nanti" Nathan merengkuh bahu Aurelia. Meninggalkan lukisan itu dengan beribu pertanyaan yang berkeliaran di otaknya.
Mereka membersihkan diri, tentunya dengan dibumbui penyatuan cinta mereka. Mereka berbaring di ranjang.
"Apakah El sering melukis dengan makna misterius seperti itu?" tanya Nathan penasaran, karena ia pun belum banyak mengetahui hasil karya tangan putra tampannya itu.
"Sering, tapi jarang sekali ia mau memberitahu makna lukisan yang ia buat. Hanya ia yang tau, aku tidak pernah memaksanya untuk berbicara jika dia tidak ingin mengatakan. Aku mengajarkan sejak kecil kepada Rafael bahwa hidup merupakan privasi dan tidak semua orang boleh mengetahui apa perasaan kita" jelas Aurelia. Nathan memeluk tubuh Aurelia lebih erat.
"Dan kau tau mas, Aku hanya membelikan alat melukis Rafael sekali. Lainnya ia dapat dari membeli sendiri menggunakan uang lukisan yang laku terjual dan banyak juga yang mendapat hadiah dari beberapa pelukis terkenal saat Rafael menghadiri pameran" Aurelia mulai bercerita, Nathan mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia memainkan rambut Aurelia.
"Anak kita tidak pernah merepotkan ku mas, El anak yang baik dan mandiri. Jika mas memikirkan aku repot mengurus dan membesarkan El, mas salah. Karena El sama sekali tidak pernah merepotkan ku" lanjut Aurelia
"Terima kasih sudah mendidik anak kita dengan baik" Nathan terharu, ia merasa gagal menjadi seorang ayah yang tidak mengetahui perkembangan anaknya.
"Jika mas ingin menanyakan makna lukisan itu, tanya lah langsung. El mungkin akan lebih terbuka dengan papanya."
"Besok aku akan menanyakannya"