
A few years later ( beberapa tahun kemudian )
Nathan
"Kakk, ngelamun terus. Ada apa?" Ia melonjak saat Oliv menepuk bahunya, demi menutupi kegelisahannya ia hanya tersenyum dan mengusap pucuk kepala Oliv.
"Bagaimana kuliahnya, betah?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Ih kebiasaan deh, suka mengalihkan pembicaraan" gerutu Oliv dan hanya ia balas kekehan kecil.
"Bagaimana? Lancar? Punya banyak teman?" Ulangnya.
"Lancar, belum punya banyak teman. Tapi cukup mengenal banyak orang sih." Jawab Oliv.
"Oliv perhatikan kakak melamun terus, ada masalah apa?" Nyatanya Oliv masih penasaran tentangnya.
"Tidak ada, mungkin hanya perasaanmu" elaknya.
"Kakak lebih gendut ya, berisi gitu" ucap Oliv lagi membuat ia menghela nafas. Kembali teringat tentang gadis itu dan tingkah anehnya.
Ia memutuskan keluar apartement setelah Oliv terlelap, berniat mencari gadis itu. Tapi siapa sangka, ia malah bertemu dengan seorang pria yang memeluk gadis itu. Ia mendekat, menepuk pelan bahu pria itu lalu bertanya dengan sopan.
Tapi lagi-lagi keberuntungan tak berpihak padanya, saat ia bertanya, pria itu menunjuk gadis yang ia yakini sebagai gadis yang ia cari. Tapi naas, itu bukan Aurelia, bukan gadis yang ia cari. Melainkan gadis lain tapi dengan model rambut yang sama.
Setelah mengucapkan beberapa kata maaf, ia langsung pergi. Meskipun ia sedikit terkejut karena ternyata pria itu berasal dari negara yang sama dengannya.
"Hentikan pencarian di negara ini" ia langsung menghubungi anak buahnya, tak ingin mendengar hasil mengecewakan dari anak buahnya. Yang jelas-jelas ia salah orang, gadis minimarket itu bukan gadis yang ia cari. Melainkan kekasih orang lain.
Aurelia
Ia memasuki kamar, pikirannya tertuju pada sosok yang paling dihindarinya. Bukan ia egois karena menyembunyikan anak ini, hanya saja ia merasa belum siap. Malu, bahkan menampakkan wajahnya pun ia tak punya nyali.
"Om mau keluar dulu, pria itu pasti akan mencarimu lagi. Om akan mengajak Aruna untuk membantu meyakinkan pria itu jika yang dilihatnya bukan kau. Beruntung karena kalian sangat mirip jika dilihat dari belakang, itu akan mempermudah karena pria itu hanya melihat punggungmu tadi."
"Jangan keluar apartement dulu untuk sementara, bilang sama om jika membutuhkan sesuatu."
Dua kalimat panjang Om Tirta membuat ia menghela nafas. Sampai kapan ia harus sembunyi? Sampai kapan ia akan menghukum diri sendiri seperti ini?.
Ia mengambil ponsel, berniat mendengarkan pidato atau apapun dari pria itu di acara formal yang ditayangkan. Tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Om Tirta dan mbah. Ia akan memutar suara pria itu, yang membuat hatinya merasa tenang dan akan cepat tertidur. Sebenarnya ia juga pernah melawan keinginan aneh itu, tapi matanya seolah tak ingin terpejam. Dan perutnya terasa sedikit sakit jika ia tidak mendengarkan suara pria itu dimalam hari.
Apa mungkin ini adalah ikatan anak dan ayah? Jika iya biarlah dimasa depan ia akan memberi nama ayahnya di nama sang anak. Agar anaknya tidak melupakan ayahnya. Iya, itu keputusan terbaik. Bagaimana pun, Nathan berhak atas anak ini. Meskipun ia tak tahu Nathan mau menerima atau justru tidak mau mengakui anak ini.
Beberapa bulan yang lalu ia juga membeli gitar dengan uang sisa tabungannya. Guna menenangkan hatinya jika sewaktu-waktu sedikit kurang baik.
"Papa kamu nakk" ia juga menyempatkan untuk mendekatkan putaran suara Nathan ke perutnya, mengenalkan sosok ayah pada anak yang dikandungnya.
"Papa orang yang hebat, tegas, berkompeten, jadi kamu kalau sudah besar nanti harus jadi anak hebat kaya papa ya" entah dorongan dari mana ia bisa mengatakan kalimat itu dengan gamblangnya.
"Kamu nggak boleh marah kalau suatu saat kita bertemu papa tapi papa sudah punya keluarga, kamu harus jadi anak yang pintar, pengertian, dan jangan emosional. Papa punya kehidupannya sendiri, jadi kita tidak boleh egois. Mengerti sayang?"
"Mama sayang banget sama kamu"
Ia mengusap air matanya, anak yang awalnya tak ia inginkan kini sudah mulai membuat perutnya bertambah besar. Pertanda jika anaknya sudah tumbuh dengan sempurna, hanya tinggal menunggu waktu untuk melihat dunia.
Jam berputar seolah tak ada hentinya, waktu berjalan seolah tak mengenal lelah, dan roda kehidupan semakin berputar.
"Mari kita sambut pelukis terbaik kita, Rafael Narendra Adelard" suara riuh tepuk tangan menggema diaula besar itu. Tempat dimana lomba lukisan alam diselenggarakan.
Bocah berusia tujuh tahun itu berlari menuju panggung, tak gugup atau bahkan takut dengan hiruk pikuk para penonton atau peserta lain yang jauh lebih tua darinya.
"Thank you for Mama, Rafael sayang sama mama" lagi-lagi suara tepukan meriah menggema, bocah bernama Rafael itu sama sekali tak terlihat gugup meskipun harus memberi sambutan sebagai pelukis terbaik sekaligus juara satu di piala dunia.
"Rafael hebat, mama bangga sama Rafael" ia memeluk Rafael, anak dari perbuatan berdosanya kini sudah berusia tujuh tahun. Meskipun masih kecil, Rafael sudah mengantongi banyak piala, piagam, atau bahkan penghargaan.
"Selamat ya jagoan ayah" ia tersenyum saat om Tirta memeluk Rafael. Begitu juga Aruna, sosok wanita yang andil dalam masa berjuangnya, wanita yang selalu menguatkannya meskipun mereka tidak ada hubungan darah. Tak ayal jika Om Tirta sangat mencintai Aruna, gadis cantik dan berprestasi.
Nathan.
Semenjak kejadian itu, semenjak orang tua nya tau. Ia tak pernah mendekati wanita manapun, bahkan ia menghabiskan waktu untuk bekerja. Menyibukkan diri dengan tumpukan dokumen. Sudah tujuh tahun ia tak pernah menyelidiki gadis itu lagi, gadis yang membuatnya kelimpungan kesana kemari demi rasa tanggung jawabnya. Ia tak berniat menikah dengan wanita lain, ia akan menunggu sampai gadis itu muncul lalu membawa anaknya kehadapan.
Ia menolak semua gadis yang datang, meskipun usianya sudah semakin matang. Ia harus menepati janjinya, ia tak ingin suatu saat jika anaknya muncul akan kecewa karena ia sudah mempunyai keluarga baru. Tidak, ia tidak akan mengecewakan anaknya.
"Pak Nathan ini putri saya, masih gadis lo"
"Anak saya ini lulusan terbaik di universitas luar negeri pak, tapi belum berniat menikah. Mungkin anda tertarik dengan putri saya"
Berbagai tawaran ia dengar saat pesta pernikahan Oliv diselenggarakan tiga tahun yang lalu. Tapi sama sekali tak menarik perhatiannya, meskipun tawaran mereka sangat menguntungkan bagi perusahaan. Tapi ia bukan pria yang gila harta, tentu ia tidak akan mengorbankan masa depannya hanya demi mengikuti perkembangan perusahaan.
Hari ini ia menghabiskan waktu dirumah sebelum akhirnya besok ia harus terbang ke luar negeri untuk mengikuti acara pembukaan suatu lomba melukis ditengah kota. Ia akan memberi sambutan disana, sebagai pengucur dana terbesar dilomba tersebut.
"Thank you for Mama, Rafael sayang sama mama" ia tersenyum sendiri melihat tayangan televisi dimana menayangkan sebuah acara puncak pertandingan melukis dunia. Mungkin anaknya sudah seusia bocah itu, bocah yang pemberani dan mampu berbicara didepan banyak orang tanpa gugup sedikitpun.
"Papa bahkan tidak tahu kau terlahir sebagai raja atau ratu nak, betapa jahatnya papa" ia menghela nafas, mematikan saluran televisi yang semakin membuat rindu akan anaknya membuncah.
...****************...
Thank you for kak Widyaa atas nama yang disarankan "RAFAEL NARENDRA ADELARD"🤗
TERIMA KASIH JUGA BUAT READERS YANG IKUT MENYUMBANGKAN SUARA VOTING UNTUK NAMA ITU💞
MATUR SUWUNN🤗