Stay Here Please!

Stay Here Please!
Good day



Nathan


"Hati-hati ya El. Oliv, Evan, titip El ya" itu menjadi kata perpisahan karena Rafael mengiyakan tawaran Oliv untuk pulang bersama. Ia tersenyum, El sudah menerima kehadiran keluarganya meskipun belum sepenuhnya.


Ia menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa. Sembari menunggu pukul 4 dimana ia akan menjemput Aurelia di store.


"Kau sudah menikah bukan?" Tanyanya pada sang asisten yang membantunya memeriksa laporan disofa.


"Betul pak" jawab asistennya, lalu ia mengangguk. Sebenarnya ingin menanyakan sesuatu hal, tapi ia ragu.


"Biasanya kau memberikan kejutan apa untuk istrimu?" Tanyanya pada akhirnya. Jelas ia membutuhkan bantuan dari yang lebih profesional dalam hal wanita.


"Apa anda ingin memberikan kejutan untuk istri anda pak?" Bukannya menjawab, asistennya malah melontarkan pertanyaan yang sangat tepat sasaran. Hingga akhirnya ia mengangguk dan meletakkan bolpoinnya.


"Saya sangat lemah dalam hal itu. Bantu saya" ucapnya.


"Biasanya saya memberikan kejutan berupa makan malam romantis diiringi musik akustik dengan damai. Saya rasa setiap wanita menyukai hal itu" ia terlihat berpikir atas jawaban yang dilontarkan asistennya.


"Di pinggir pantai?" Tambahnya merasa kali ini ia menemukan sesuatu yang baru.


"Betul. Itu akan terlihat romantis diiringi angin pantai" jawab asistennya mantap.


"Bantu saya mempersiapkannya, saya akan memberikan bonus yang besar untukmu jika wanita saya menyukainya" ucapnya.


"Baik, kapan pak?" Tanya asisten membuat ia berpikir sejenak lalu berucap "Pekan depan".


Setelah berdiskusi mengenai tempat dan konsep yang ia inginkan, ia langsung turun kebawah. Menuju parkiran untuk mengambil mobil lalu menjemput Aurelia.


Di store.


"Dikunci" ucapnya saat memutar berusaha membuka pintu store. Mengambil ponselnya lalu mencari nama Aurelia didaftar kontaknya.


"Kok tidak ada jawaban?" Tanyanya heran dan menghubungi nomor Aurelia berulang kali. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Rasa khawatir memenuhi rongga hatinya, tidak ada satu orangpun yang bisa ditanyai. Hingga pandangannya tertuju pada standing banner, dimana tertulis contact person yang bisa dihubungi untuk menerima pesanan atau memberikan komplain.


"Halo" sapanya lega karena tidak lama panggilan sudah terhubung.


"Selamat sore, dengan siapa dimana? Ada yang bisa dibantu?"


Ia menjelaskan tujuannya, dan langsung mematikan telepon saat seorang wanita yang mengangkat panggilannya tersebut mengatakan jika meluncur ke sini. Ia menunggu dengan resah, hingga suara sepatu yang saling beradu dengan tanah dilapisi batu balok itu.


"Cepat buka" ucapnya tidak sabar.


Begitu pintu terbuka ia langsung berlari. Menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Dan sosok yang tengah terbaring di sofa berhasil membuyarkan rasa khawatirnya. Menguwar tanpa sisa.


Sejenak ia terdiam dengan bibir melengkung. Menatap wajah damai dengan dengkuran halus yang terdengar. Belum berniat membangunkan, ia malah mendudukkan diri dibawah sofa. Tepat di depan wajah Aurelia. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Berharap jika suatu saat ia membuka mata dan menatap wajah damai ini.


"Bangun" ucapnya karena hari sudah mulai petang. Ia tersenyum saat Aurelia hanya menggeliat. Hingga akhirnya wanita itu terduduk, terkejut dengan kehadirannya.


Ia menarik tangan lembut itu saat sang pemilik hendak berdiri. Mengajaknya duduk kembali dan saling bersitatap. Jelas ia menyadari kegugupan dari wanita cantik ini.


"Bagaimana dengan tawaran saya?" Tanyanya menatap intens wajah itu.


Dan keberuntungan seolah berpihak padanya, tuhan pun seolah mengabulkan permintaannya. Aurelia mengiyakan ajakannya menikah. Sebuah berita yang sangat melegakan hati.


Tapi tak bisa dipungkiri jika wajah itu masih menyimpan sebuah pertanyaan atau pernyataan. Tentu ia harus menyelesaikan sekarang juga. Mengeluarkan semua keluh kesah yang dipendam Aurelia.


"Saya akan bicara dengan pak Tirta. Akan meminta ijin membawamu dan El ke negara X. Memulai hidup baru disana" ucapnya terakhir saat sudah melalui beberapa perdebatan mengenai pendidikan dan kelanjutan hidup El nantinya. 


Hingga akhirnya Aurelia dengan sukarela ia peluk. Menerima rengkuhan hangatnya tanpa penolakan. Menghirup aroma rambut dalam-dalam.


Ia mendengus saat suara deheman berat terdengar dari arah tangga. Bahkan Aurelia langsung mendorong tubuhnya. Tapi tentu ia tidak akan diam, terlebih lagi yang datang adalah pria bernama Vano itu. Pria yang membuat dua sumber kebahagiaannya gelisah.


"Saya tidak ingin berkelahi" ucapnya dan mendudukkan diri disofa. Menatap Vano yang masih berdiri dan mengepalkan kedua tangan.


"Apa yang kau inginkan? Perusahaan itu?" Ternyata ia tak sia-sia menyelidiki kehidupan Vano. Pria itu bersaing dengan salah satu pebisnis muda untuk mendapatkan Aurelia. Damned. Ia tidak akan membiarkan Aurelia jatuh ke tangan pria gila seperti mereka.


"Saya akan membeli seluruh saham perusahaan itu atas namamu jika kau berkenan untuk tidak mengganggu anak dan istriku" ucapnya lagi saat Vano masih terdiam.


"Cih" Vano berdecih, sepertinya meragukan keseriusannya.


"Saya tidak pernah main-main. Apalagi mengatakan tawaran dua kali." Jawabnya.


"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?" Ia tersenyum simpul saat Vano tertarik dengan tawarannya.


"Saya tidak pernah mengatakan hal yang main-main" tegasnya.


"Baik, tapi jika dalam waktu satu pekan tidak ada bukti nyata. Jangan harap saya menjauhi anak dan wanita mu"


"Besok kau akan mendapatkannya" jawabnya.


Ia tahu jika Vano sebenarnya adalah pria baik. Hanya saja pria ini dihantui oleh orang tua dan kekuasaan. Hingga akhirnya mendapat tawaran menggiurkan dari seorang pengusaha muda dari perusahaan kecil, mendapatkan Aurelia dan pemenangnya berhak tas perusahaan itu.


Pengusaha muda itu adalah seorang pria yang berniat menculik dan membunuh Rafael, jadi ia tidak akan mengampuni meskipun Rafael baik-baik saja sekarang. Ia berniat mengirim pengusaha muda itu ke sebuah pulau terpencil, atau lebih tepatnya membuangnya.


Setelah kepergian Vano, ia langsung menghubungi asistennya. Lalu berjalan menuju kamar yang dimasuki Aurelia sebelumnya. Ia tersenyum, rasa kesalnya seolah menguap saat melihat wajah penuh kekhawatiran dari wanita ini.


"Mas, tidak ada yang terluka kan?" Tanya Aurelia membuat ia terkekeh lalu merengkuh kembali tubuh ramping itu.


"Apa kau berpikir aku akan berkelahi?" Tanyanya yang mendapat anggukan kepala dari Aurelia.


"Coba lihat didepan. Mungkin sudah seperti kapal pecah jika aku berkelahi dengan pria bodoh itu" ia terkekeh.


"Masss" gerutu Aurelia memukul dadanya.


"Aku tidak ingin membuang uang hanya untuk merawat pria itu dirumah sakit" jawabnya lagi membuat Aurelia mencubit perutnya.


"Wahh apa seperti ini rasanya jika mendapat cubitan dari seorang istri?" Bukannya kesakitan, ia malah terkekeh dan mengeratkan pelukan.


Ia langsung mengajak Aurelia pulang. Karena hari sudah mulai petang dan takut jika Rafael mencari mereka.


"Ada yang ingin kau tanyakan?" Tanyanya saat melihat Aurelia seperti ingin melontarkan pertanyaan.


"Hmm, apa boleh?" Ia mengernyit, lalu terkekeh dan mengusap pucuk kepala Aurelia.


"Tentu" jawabnya mantab.


"Apa kau benar-benar belum berkeluarga?. Aku tidak ingin menyandang predikat sebagai perebut suami orang" tanya Aurelia membuat ia menoleh dengan cepat lalu menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti" gerutu Aurelia.


"Apa aku seburuk itu? Hingga kau berpikir aku menikah lagi?" Tanyanya seraya mencondongkan tubuh kearah Aurelia.


"Aku mencari kalian bertahun-tahun hingga tidak pernah terbesit menikah dengan orang lain atau membangun rumah tangga tanpa kalian" jawabnya dan kembali ke posisi semula. Duduk menyenderkan punggungnya di jok mobil dan memejamkan mata.


"Mass" ia membuka mata saat tangan halus itu menyentuh lengannya.


"Aku tahu kau tidak pernah main-main dengan ucapanmu. Hanya saja, aku masih tidak percaya. Bagaimana pun kau pebisnis terkenal, banyak yang berlomba-lomba memenangkan posisi sebagai istrimu. Dan tiba-tiba kau mengajakku menikah dalam pertemuan singkat ini. Jelas suatu keterkejutan bagiku." Jawab Aurelia masih menatapnya.


"Maaf jika aku belum sepenuhnya mempercayaimu" lanjut Aurelia membuat ia langsung menegakkan tubuhnya dan memeluk Aurelia.