
"Maaf kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini" ucap Nathan saat mobil sudah memasuki kawasan bandara. Mereka menggunakan kacamata hitam, jaket tebal dan topi. Menyeret kopernya sendiri agar tidak mencolok perhatian. Anak buahnya pun tidak secara langsung mengikuti, mereka bersandiwara sebagai petugas bandara agar bisa dengan cepat melakukan tindakan ketika tuannya dalam bahaya.
"Mas, apa kita dalam bahaya sekarang?" Aurelia berbisik saat langkah Nathan semakin lebar, bahkan pria itu menggenggam tangannya erat.
"Tidak, tetapi kita harus waspada" Nathan menjawab sedikit berbisik. Ia memperhatikan beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berkeliling seperti mencari keberadaan seseorang.
Sebenarnya jika mau, Nathan tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini. Ia bisa mengurusnya hanya dengan mengerahkan seluruh anak buahnya. Tetapi ia hanya ingin menikmati liburan dan bulan madu yang tenang. Tanpa memikirkan masalah seperti ini. Terlebih bisa dipastikan tidak hanya di negara ini ia diikuti, tetapi di negara lain pun ia berkemungkinan diikuti juga. Dan ia malas membuang waktu hanya untuk mengurus mereka.
Nathan memilih maskapai yang banyak diminati oleh masyarakat umum.
"Maaf aku mengajakmu naik maskapai biasa" bisik Nathan saat mereka sudah duduk manis didalam pesawat.
"Aku tidak mempermasalahkan perjalanan kita, tapi kalau liburan kali ini membahayakan kenapa kita tidak membatalkan saja?" Tentu Aurelia tidak masalah jika tidak melakukan liburan atau bulan madu. Keselamatan mereka lebih penting.
"Setelah kita keluar dari negara ini, kita akan aman. Mereka tidak akan berbuat nekat di negara orang" Nathan menenangkan. Ia menggenggam erat tangan istrinya.
"Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi bukan?" Aurelia masih menjawab.
"Aku tahu, tapi mereka tidak punya kekuasaan di negara lain, jadi akan sulit bagi mereka melakukan kejahatan karena mereka tidak mempunyai tameng istilahnya, atau apalah aku pun tidak mengerti dengan bisnis gelap mereka" Nathan mengedikkan bahu.
Perjalanan mereka berakhir saat pesawat sudah landing di negara yang terkenal dengan keindahan alamnya. Anak buah Nathan di negara ini pun dengan sigap menyiapkan segala keperluan pasutri baru ini selama berlibur. Termasuk dimana mereka akan menginap, apa yang dimakan mereka setiap harinya, hingga destinasi wisata yang akan mereka kunjungi.
Karena Aurelia tidak memilih destinasi yang ingin dikunjungi, Nathan pun tidak tau menahu tentang destinasi yang paling romantis, maka Nathan memutuskan untuk meminta anak buahnya mengurus semuanya.
Di negara ini mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi, anak buahnya sudah memastikan sementara ini aman. Masker yang mereka gunakan pun sudah dilepas. Pun juga kacamata dan topi.
"Tidurlah jika kau lelah" mereka sudah sampai di hotel yang tidak jauh dari bandara. Tapi meskipun begitu, hotel ini memiliki desain mewah dan pemandangan indah di balkon kamar.
"Aku ingin menghubungi Rafael" Nathan mengangguk dan tersenyum saat melihat Aurelia yang sibuk mencari ponsel di tas untuk menghubungi Rafael.
Beberapa kali menelpon, tidak ada sambungan. Rafael tidak mengangkat telepon darinya. Aurelia panik, ia takut Rafael kenapa-kenapa.
"Tenanglah, Rafael sudah besar. Dirumah pun juga banyak yang menjaga" Nathan menghampiri Aurelia, duduk di samping wanita yang sudah menjadi istrinya itu lalu merapatkan pinggang Aurelia.
"Tapi tidak biasanya Rafael mengabaikan telepon dariku mas, apalagi kita jauh seperti ini" Aurelia masih mencoba menghubungi nomor Rafael tapi masih sama, tidak ada sambungan dari seberang sana.
Nathan mengambil ponselnya, mencari nomor telepon Ayah Gibran dan mulai memencet panggil. Tidak butuh waktu lama, terdengar suara dari seberang.
"Nathan sudah sampe hotel yah" ucap Nathan pertama kali. Ia melirik Aurelia yang terlihat memohon untuk menanyakan keberadaan Rafael.
"Anak mu itu sedang antusias di ruangan yang ayah buat khusus melukis untuknya. Sejak kau berangkat sampai sekarang ia masih betah menorehkan kuas itu di kanvas. Entah apa yang dilukis, papa tidak tahu maknanya" jelas Gibran. Aurelia lega, ia baru ingat jika sebelum berangkat tadi Rafael bercerita padanya kalau kakek membuatkan ruangan khusus untuknya. Pantas saja Rafael mengabaikan ponselnya, ia tidak akan mengalihkan pandangan jika sudah menghadap kanvas.
"Anakmu ini berbakat sekali Nathan, imajinasi nya luas" itu menjadi penutup perbincangan mereka. Nathan menatap Aurelia yang menunduk malu.
"Sudah ku bilang Rafael akan baik-baik saja" Nathan bangkit, mencium rambut Aurelia.
"Istirahatlah, aku ingin mandi" Nathan menuju kamar mandi, membiarkan Aurelia mengistirahatkan tubuhnya.
Perlu diketahui bahwa Nathan belum menyentuh Aurelia sejauh itu. Ia hanya sekedar memeluk dan mencium. Tidak melakukan hal lebih sebelum Aurelia yang dengan suka rela memberikannya.
Nathan tidak ingin bercinta dengan keterpaksaan salah satu pihak. Ia akan menunggu kesiapan Aurelia. Pun jika dalam liburan kali ini Aurelia belum siap, ia akan menerimanya. Tidak akan memaksa.
"Mass" Nathan yang baru selesai mandi dan menggosok rambutnya yang basah, terkejut saat melihat Aurelia memakai baju haram. Wajah Aurelia bersemu merah.
Dengan mengalahkan segala rasa malu, Aurelia membuka selimut di tubuhnya yang menutup baju itu. Aurelia menunduk, mengalihkan pandangan dari Nathan yang masih kebingungan. Ia menggunakan baju haram pemberian bunda kemarin, kata bunda ia harus memakai ketika bersama Nathan di dalam hotel. Terlebih baju ini sangat tipis bahkan menunjukkan seluruh lekuk tubuhnya.
Nathan meletakkan handuk kecilnya di sembarang arah. Ia berjalan menuju Aurelia yang duduk disamping ranjang.
"Dari mana kau dapatkan baju seperti ini?" Nathan meneguk ludahnya. Ia seorang laki-laki normal. Tentu saja ia akan terpancing.
"Bunda yang memberikannya" jawab Aurelia jujur.
"Kau tau apa yang terjadi jika kau memakai baju ini didepanku? Aku seorang laki-laki normal Aurelia. Jangan memaksa jika kau memang belum siap" Nathan duduk di depan Aurelia, menatap mata cantik itu.
"Aku siap mas, aku istrimu" Aurelia menganguk. Nathan sudah cukup menghargainya sejak kemarin ia sah menjadi istrinya, jadi Aurelia akan menyerahkan apa yang sudah seharusnya menjadi hak Nathan.
Hari ini mereka habiskan hanya di kamar. Nathan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kegiatan yang baru saja mereka selesaikan hingga Aurelia kelelahan dan terlelap.
Mereka mulai berlibur di hari berikutnya, dimulai dari sarapan pagi di hotel hingga mengelilingi destinasi yang sudah dijadwalkan oleh anak buahnya sebelumnya.
"Aww" saat hendak memotret Aurelia diam-diam, Nathan dikejutkan dengan sosok wanita yang entah dengan sengaja atau memang benar-benar terjatuh di pelukannya. Nathan dengan reflek menahan tubuh wanita tersebut. Wanita itu menggigit bibir sensasional, berusaha menggoda Nathan. Bahkan dada gadis itu dengan sengaja ditekan di dada Nathan.
Nathan yang tersadar langsung melepas tubuh itu begitu saja. Tidak peduli jika wanita itu terjatuh di bawah. Ia mendengus kesal. Langsung menarik Aurelia yang juga terlihat bingung. Nathan mengajak Aurelia di sebuah villa kecil di tengah destinasi ini.
Tanpa membiarkan Aurelia bertanya, Nathan langsung menyerang Aurelia. Ia tidak terpancing dengan wanita itu, melainkan ia ingin menghilangkan jejak wanita itu ditubuhnya dengan sentuhan Aurelia.