Stay Here Please!

Stay Here Please!
Panik



"Hei apa yang mengganggu pikiranmu?" Nathan melambaikan tangannya tepat didepan wajah Aurelia. Wanita yang ia cintai itu melamun, matanya memperhatikan sekeliling, bola matanya berpindah seolah mencari seseorang, desert yang sebelumnya di pesan pun tak kunjung di sentuh.


"Eh" Aurelia terperanjak.


"Maaf, tanya apa?" Aurelia tersenyum kikuk


Nathan mengernyitkan dahi, memajukan kursinya dan sedikit mencondongkan tubuhnya didepan Aurelia.


"Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? coba katakan" Aurelia semakin kikuk saat Nathan menatapnya dengan serius.


"Ah tidak, em apa yang kau lakukan disini tengah malam?" Aurelia mencoba mengalihkan pertanyaan Nathan.


Nathan menghela nafas, ia kembali menempatkan punggungnya di senderan kursi. "Bukankah seharusnya aku yang pantas melontarkan pertanyaan itu sayang? apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini?" Nathan masih menatap Aurelia serius, bola matanya sama sekali tidak beralih dari wanita cantik didepannya.


"Eh tidak ada, aku hanya lapar" Aurelia semakin gugup, ia menundukkan kepalanya dan menatap desert di meja.


"Baiklah jika kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, cepat makan dan ku antar kau kembali ke atas" Nathan menyeruput kopinya, memperhatikan Aurelia yang mulai melahap desert.


"Sebentar, kau jangan kemana-mana. Aku ke toilet dulu" Nathan bangkit, meninggalkan Aurelia di meja itu sendiri.


Setelah Nathan hilang dari pandangannya, Aurelia ikut bangkit. Ia berniat menuju loby untuk memastikan bahwa yang ia lihat tadi benar. Sepi, tidak ada interaksi. Aurelia menghela nafas, ia tidak menemukan apapun.


"Cari apa si cantikk" Aurelia terkejut saat tiba-tiba tangan melingkar di bahunya. Tidak, ini bukan parfum Nathan. Aurelia berontak saat ternyata yang merangkul bahunya adalah seorang pria tua yang terpengaruh minuman alkohol. Semakin Aurelia berontak, semakin ia rapat dalam dekapan pria tua itu.


"Leppasss" Aurelia masih berusaha melepaskan, tapi pria itu malah semakin bringas. Aurelia berteriak meminta tolong, semoga ada yang mendengar teriakannya.


"Akan ku lepaskan tapi puaskan aku dulu" Aurelia menggeleng cepat, pria tua itu menyenderkan kepalanya di bahu Aurelia. Aurelia menginjak kaki pria tua itu, bukannya melepaskan, pria itu semakin marah. Ia meremas bahu Aurelia dan menyeretnya ke dalam.


"Tolongg" Aurelia berteriak sekuat tenaga.


"Berisik bodoh" pria tua itu membekap mulut Aurelia dengan tangannya. Aurelia tidak bisa berteriak.


"Hei lepaskan" teriak seseorang dengan panik. Seseorang itu adalah Nathan, ia yang baru saja kembali dari toilet bingung karena Aurelia tidak ada di meja sebelumnya. Tapi ia mendengar teriakan dari arah loby. Tanpa pikir panjang, Nathan berlari menuju loby dan betapa terkejutnya ia saat melihat Aurelia dibekap oleh seorang pria tua yang terlihat mabuk. Bahkan jalannya sempoyongan.


Dengan emosi yang sudah memuncak, tqnpa menunggu pria tua itu melihatnya, Nathan langsung memukul pria itu dari belakang. Pria itu terjatuh, Aurelia dengan cepat ia tarik agar tidak ikut terjatuh.


"Kau tidak apa?" Tanya Nathan panik.


"Aku takutt" Aurelia memeluk erat tubuh Nathan. Menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidang Nathan. Sebenarnya ia tidak hanya takut pada pria tua itu, tapi juga takut pada kemarahan Nathan yang belum sempat ia lihat sebelumnya.


"Tenang, ada aku disini" Nathan terlihat mengelus punggung Aurelia, lalu tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya untuk mengurus pria tua yang terkapar dibawahnya.


"Maafff" Nathan tidak ingi kehilangan Aurelia untuk kedua kalinya, wajar jika ia semarah itu.


"Jangan marah seperti itu lagi didepanku, aku takut" Aurelia memeluk Nathan erat saat Nathan sudah berhasil membawa Aurelia ke kamar.


"Maaff, aku tidak suka tubuhmu di sentuh orang lain" Nathan mencium seluruh wajah Aurelia. Mengusap rambut agar Aurelia lebih tenang.


Keesokan harinya Aurelia bangun lebih awal, ia merasa tidurnya nyaman tapi ia merasa tidak tenang. Ya, ia nyaman dalam dekapan Nathan, tapi ia tidak tenang meninggalkan El sendiri semalaman.


Aurelia menyingkirkan tangan Nathan dari bahunya, Nathan melenguh. Sedikit membuka mata dan terkejut saat Aurelia terlihat terburu-buru.


"Kenapa sayang?" dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya, Nathan melihat jam tangannya yang ada didalam nakas. Ini masih jam 4 pagi, kenapa Aurelia sudah bangun jam segini?


"El sendirian, aku harus kembali sekarang" Aurelia menjepit rambutnya. Mondar-mandir mencari kunci kamar Nathan yang belum ia temukan.


"Biar aku antar, sebentar aku cuci muka dulu" Nathan bangkit menuju kamar mandi, mengganti kemeja yang semalam dengan kaos yang lebih santai.


Aurelia berjalan sedikit berlari, meninggalkan Nathan yang berjalan dibelakangnya.


"Ada Tirta sayang, El tidak sendirian" saat didalam lift, Nathan mengusap bahu Aurelia, mencoba menenangkan.


"Bagaimana kalau Ax terbangun tadi malam mas? Om Tirta tidak akan mendengar jika Ax menangis, El tidak akan bisa menenangkan Ax sendirian" Aurelia terlihat gelisah. Nathan tersenyum, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Aurelia.


"Beruntungnya El mempunyai ibu seperti kamu" Nathan mengecup kening Aurelia sebelum lift terbuka dan mereka keluar dari lift.


Beruntungnya Aurelia membawa kunci cadangan jadi tidak perlu membangunkan Tirta. Tanpa menunggu Nathan masuk, Aurelia berlari kearah kamar El. Tersenyum lega saat El maupun Ax terlihat tidak habis terbangun. Kasurnya masih rapi, posisi tidur kedua bocah itu pun tidak jauh berbeda dengan tadi malam.


"Sudah ku bilang mereka akan baik-baik saja, lihatlah mereka berdua tenang dan tampan sekali" Nathan tersenyum, mendekat kearah kasur El dan ikut berbaring disana.


"Biarkan aku tidur sampai mereka terbangun karena kau sudah mengganggu tidurku tadi" mendengar ucapan Nathan, Aurelia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia keluar kamar, membiarkan dua laki-laki berbeda usia tersebut melanjutkan tidur. Aurelia tidak mungkin kembali tidur, ia menuju dapur. Berniat memasak untuk sarapan.


"Eh kakak juga sudah bangun?" istri Om Tirta memasuki dapur, menuang air minum ke gelas lalu menegaknya sampai habis.


"Aihh kau mengagetkanku saja, aku tergopoh-gopoh bangun karna mendengar pintu terbuka. Ku pikir kau tidak kembali sepagi ini" Aruna terlihat mendengus, ia menatap Aurelia dengan kesal. Tidur nyenyaknya terganggu karena ulah orang yang sudah ia anggap adik itu.


"Aku takut jika Ax terbangun" jawabnya dengan senyum terkembang


"Seharusnya kau nikmati saja malammu dengan ayah El, bukankah lebih tenang jika tidur ada yang memeluk sepanjang malam?" Aruna menggoda Aurelia, ia membisikkan kalimat itu tepat di samping wajah ibu El itu.


"Eh" wajah Aurelia bersemu merah, ia tidak mengungkiri jika tidur di dalam dekapan memang nyaman. Bahkan ia tidak berpindah posisi semalaman.