
Seperti remaja yang sedang dimabuk cinta. Pengusaha muda yang terkenal di beberapa negara itu terlihat mendengus kesal saat calon istrinya membantah perkataannya mengenai baju yang ia suruh buang.
"Mass, ini baju pertama yang dibelikan oleh bunda"
"Aku bisa meminta bunda membelikan ulang" Nathan tetap kekeh pada pendiriannya. Baginya, baju yang sudah disentuh oleh pria lain tidak boleh tampak lagi di wajahnya.
Aurelia akhirnya mengangguk pasrah. Ia segera bangkit untuk kekamar mandi. Membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Aurelia sudah mencoba bernegosiasi dengan Nathan tapi pria itu tak menerima apapun alasan Aurelia.
Baju itu adalah baju pertama yang dibelikan bunda ketika di rumah sakit kemarin. Meskipun ini hanya jaket dan kaos biasa tapi ia sangat menyukainya. Tak heran jika Aurelia berusaha mempertahankan baju ini. Tetapi melihat sorot mata Nathan, Aurelia tidak berani membantah terlalu jauh. Ia takut jika kemarahan Nathan berlangsung lebih lama. Sehingga Rafael akan menjadi bingung dan berpikiran macam-macam. Aurelia tidak ingin Rafael menjadi korban keegoisan mereka berdua.
Pelayan memanggil mereka untuk makan malam, karena Nathan masih enggan berdiri dari ranjang, jadi hanya Aurelia yang turun untuk makan. Sedangkan Rafael menemani papanya di kamar.
"El ikutlah ke bawah untuk makan malam bersama" entah sudah berapa kali Nathan membujuk Rafael tapi bocah tampan ini menolak.
"El menemani papa disini" Nathan menghela nafas dan mengangguk. Ternyata El juga menurun sifat keras kepalanya. Sekarang ia merasakan apa yang di rasakan oleh Ayah nya dulu saat ia membangkang.
Pintu kamar terbuka, muncul Aurelia yang diikuti salah satu pelayan yang mendorong troli penuh makanan.
"Terima kasih mbak" Aurelia mengambil alih troli itu. Pelayan pamit undur diri.
"Banyak sekali" lirih Rafael menatap makanan itu bingung. Sedangkan Nathan terlihat acuh, ia sibuk dengan iPad ditangannya.
"Mama juga tidak tahu sayang, nenek yang menyiapkan semuanya" Aurelia mulai menyiapkan makanan untuk Nathan dan Rafael di piring.
"Nanti mubazir ma" ucapan Rafael membuat Nathan mengangkat kepalanya. Ia mengangkat sudut bibir melihat respon Rafael yang justru keberatan dengan banyaknya makanan.
"Kita tidak perlu memakan semuanya sayang, ambil yang El mau dan habiskan. Nanti yang tidak terpegang sama kita bisa diberikan untuk pelayan di belakang" jelas Aurelia membuat Nathan akhirnya ikut menimpali. Meletakkan iPad nya di nakas dan memperhatikan interaksi kedua orang didepannya.
"Makan apapun yang mau dimakan, tidak ada yang perlu disisakan. Pelayan sudah mendapat jatah makanan" Nathan
menatap Aurelia dan Rafael bergantian. Meyakinkan dari sorot matanya jika makanan ini memang dikhususkan untuk mereka.
Mereka makan dengan lahap. Rafael mencicipi semua makanan yang terlihat asing di penglihatannya. Aurelia sempat ingin menegur tapi Nathan memegang lengan Aurelia. Biarkan Rafael menikmati makanannya.
Beberapa hari terlewati dengan cepat. Pengobatan Nathan pun sudah selesai. Bekas lukanya mulai memudar. Lusa adalah acara pernikahan Nathan dan Aurelia. Tidak ada acara di gedung megah karena perusahaanya sekarang sedang diincar oleh banyak pesaing. Dengan menggelar acara megah tentunya pesaing dari bisnis mereka akan mendapatkan celah untuk menyakiti keluarganya.
Aurelia tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia menurut saja apa yang dikatakan oleh Nathan demi kebaikan Rafael lah yang paling utama.
Pernikahan hanya di gelar di rumah utama keluarga Gibran dan dihadiri beberapa kerabat dekat saja. Mereka menggelar acara pernikahan dengan hikmat tanpa undangan yang menyebar terlalu banyak.
Tirta menitikkan air mata saat Nathan menjabat tangannya dan mengucap janji suci. Aruna menangis haru, ia yang menjadi saksi perjuangan Tirta menjaga Aurelia dan perjuangan Aurelia yang membesarkan Rafael sendirian.
Janji suci sudah selesai terucap, perjuangan baru mereka dimulai dari hari ini.
"Maafkan ayah dan bunda yang lama sekali menemukanmu" Gibran memeluk Aurelia saat sesi sungkem. Aurelia mengangguk, ia menangis. Kini ia mendapatkan sosok ayah kembali.
"Jaga dan jangan pernah sakiti mereka berdua nak" kini gantian Nathan yang mendapat wejangan dari ayah dan bunda.
Rumah utama terlihat ramai. Celotehan Ax, tangisan Selly, hingga pelayan yang hilir mudik melayani semua kebutuhan tamu yang datang. Bahkan ada juga bapak-bapak masih membicarakan bisnis. Ah, bisakah dalam waktu seperti ini mereka bernostalgia tanpa melibatkan bisnis?
"Penerus Aderald tampan sekali"
"Selain tampan, dia juga dingin persis seperti papanya"
Beberapa kerabat juga terlihat menggoda Rafael. Rafael hanya tersenyum simpul. Ia tidak mengerti arah pembicaraan orang dewasa didepannya.
"Jangan merasa menang, ini hanya sesaat" saat menyalami beberapa kerabat yang hendak berpamitan, Aurelia mendapat bisikan dari seorang wanita yang menggunakan pakaian sexy.
Aurelia tidak paham dengan maksud wanita itu, terlebih wanita itu terlihat bukan kerabat melainkan rekan kerja Nathan. Terbukti ia mendengar secuplik obrolan wanita itu yang menginformasikan tentang pekerjaan di kantor.
"Kau kenapa?" Nathan yang bingung dengan sikap diamnya Aurelia sejak acara selesai pun memutuskan untuk bertanya. Ia memeluk tubuh Aurelia dari belakang saat mereka sudah istirahat di kamar. Rafael sudah memiliki kamar sendiri. Tepat disamping kamar mereka.
"Selain mengundang kerabat, tadi mengundang siapa lagi mas?" Akhirnya Aurelia memutuskan untuk bertanya. Ia tidak akan menyimpan apa yang ia rasakan karena sekarang Nathan sudah menjadi suaminya jadi ia berhak mengutarakan apa yang ia pikirkan.
"Rekan kerja dikantor, tapi tidak semua. Hanya yang paling sering berurusan denganku saja" jelas Nathan jujur.
Aurelia mengangguk, tidak meneruskan pertanyannya. Baginya itu tidak terlalu penting. Bukankah ia sudah biasa mendengar berita tentang dekatnya Nathan dengan seorang gadis? Tapi nyatanya Nathan sama sekali terlihat tidak menanggapi. Terbukti karena berita yang sering ia baca di media masa itu dengan cepat tenggelam oleh berita baru. Netizen pun seolah tidak percaya dengan pemberitaan tersebut.
Liburan yang seharusnya mereka lakukan ketika setelah lamaran kini berubah menjadi setelah menikah. Hari ini Nathan dan Aurelia akan berangkat berlibur sekaligus bulan madu. Aurelia terlihat keberatan karena mereka akan meninggalkan Rafael.
"Ada kakek dan nenek ma, El tidak akan kesepian disini" El meyakinkan dirinya saat ia memeluk tubuh Rafael ketika berpamitan.
Dengan langkah berat, Aurelia mengikuti langkah Nathan. Ia melambaikan tangan kepada Rafael ketika Rafael mengantarnya sampai didepan pintu. Rafael hanya mengantarkan didepan pintu karena ini permintaan Aurelia sendiri. Jika Rafael mengantarkan mereka sampai bandara, Aurelia tentu akan semakin berat meninggalkan Rafael.
"Kita ini hanya berlibur" Nathan menggenggam tangan Aurelia saat mereka sudah didalam mobil.
Hingga ditengah perjalanan, mereka berganti mobil. Aurelia yang bingung hanya menurut. Mobil yang mereka tumpangi saat ini tidak dikawal oleh anak buah. Hanya ada satu mobil anak buah yang mengikuti mereka dari kejauhan.
"Kami sudah menyiapkan tiket tuan" perjalanan kali ini Nathan tidak memakai jet pribadi keluarga. Ia menaiki penerbangan umum dengan banyak penumpang umum. Jika ada yang berniat menyakiti mereka, tentunya tidak akan menjalankan aksinya karna akan membahayakan banyak nyawa.
"Maaf kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini"