
Rafael
"Paman Evan El, beliau suami bibi Oliv dan ayah dari Ax" jawab papa dan ia mengangguk, ternyata tuhan mendengar doanya.
Sejenak ia terdiam, memperhatikan papa yang sibuk dengan Ax lalu bibi Oliv yang terus mencecarnya banyak pertanyaan, baik dalam sekolah maupun diluar urusan sekolah.
Hingga suara pintu terbuka membuyarkan fokus mereka. Menatap seorang pria tampan yang baru saja datang dengan membawa tentengan plastik makanan.
"Ayahh" bocah itu turun dari pangkuan papa, lalu berlari pada pria itu.
"Evan, sudah selesai rapatnya?" Tanya papa pada pria itu. Ternyata itu adalah paman Evan. Ayah dari Ax.
"Sudah kak, hanya membahas beberapa hal" jawab paman Evan menanggapi pertanyaan papa.
"Wahh bawa apa sayang" bibi Oliv berdiri, menyambut kedatangan Paman Evan dengan antusias.
"Pesanan kalian" jawab paman Evan lalu mengecup singkat kening bibi Oliv. Harmonis, semoga papa dan mama bisa seperti itu dimasa depan.
"Siapa anak tampan ini?" Ia tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Anak kak Nathan, baru bertemu" jawab bibi Oliv dan tersenyum ke arah nya.
"Oh jadi ini yang membuat seorang pebisnis handal menjadi gila pekerjaan karena tidak menemukan keberadaan anaknya" seloroh paman Evan membuat ia mengernyit sedangkan papa hanya menggaruk tengkuk.
"Kau bukankah juara pertama di ajang pelukis internasional beberapa minggu yang lalu?" Tanya paman Evan membuat ia mengangguk.
"Wahh benar-benar kemampuan seorang Nathan Adelard tidak boleh diragukan" tawa renyah terdengar setelah paman Evan menyelesaikan ucapannya.
"Saya yang menang, mengapa papa yang mendapat pujian?" Gerutu nya tanpa sadar hingga membuat tiga orang dewasa tersebut tergelak bersamaan.
"Kau hebat, maafkan paman karena lupa memujimu" ia tersenyum simpul lalu menganggukkan kepalanya saat Paman evan menanggapi ucapannya.
"Harus diapresiasi nih, mau hadiah apa?" Tanya paman Evan membuat ia mengernyit, lalu menatap papa yang menganggukkan kepala.
"Ax mau hadiah" celoteh Ax dengan polos nya, sedangkan ia hanya mendengus. Ia yang ditawari tapi Ax malah terlihat antusias.
"Eh sebentar sayang, kita belum berkenalan loh" ucap bibi Oliv.
"Siapa namamu boys?" Tanya paman Evan.
"Rafael Narendra Adelard." Jawabnya sopan
"Wahh bahkan nama Adelard sudah tersemat dibelakang namamu" ucap paman Evan diiringi tawa renyah.
"Terbukti kalau dia benar anakku, tampan seperti ku bukan?" Seloroh papa dan tawa terdengar lagi.
"Yaa bahkan sepertinya sifat dingin juga menular" sambung bibi Oliv dan terkekeh.
"Sudah, jangan membuat anakku bingung" tegur papa menyadari kebingungannya.
"Kapan pulang ke negara X? Pasti ayah sama bunda bahagia" tanya bibi Oliv.
"Setelah ujian semester." Jawab papa tanpa meminta persetujuannya.
"Kapan ujiannya?" Tanya bibi Oliv dengan wajah sendu. Entah sendu karena apa, ia pun tidak tahu pasti.
"Besok senin hingga jumat" jawabnya.
Aurelia
Ia terduduk lemas disofa setelah kepergian Nathan. Hal yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Hal dimana ketika Rafael tidak sanggup menahan olokan temannya. Hingga membuat Rafael mulai angkat tangan, memukul temannya.
"Maafkan mama, andai saja dimasa lalu mama tidak lari ke negara ini. Dan menikah dengan papa pasti kau tidak akan merasakan semua ini" sesalnya tanpa sadar air mata menetes.
Tapi jika dimasa lalu ia tidak lari, tidak berjuang di negara ini. Mungkin ia akan menjadi bualan di negara itu, mengingat jika keluarga Nathan bukan keluarga sembarangan. Semua berpendidikan, mempunyai perusahaan besar. Hingga akhirnya ia memutuskan melanjutkan pendidikan, membuka usaha kecil dan akhirnya berkembang sampai sekarang.
Tapi ia merasa belum pantas, terlebih Rafael belum bisa menerima kehadiran Nathan sepenuhnya.
Biarlah menunggu waktu lebih tepat untuk menyetujui ajakan pria itu untuk menikah. Mungkin setelah Rafael menyelesaikan ujian semester lalu pindah sekolah ke negara X.
"Bangun, sudah hampir petang" ia menggeliat saat mendengar suara merdu di telinganya.
"Mas" ia melonjak saat menyadari jika Nathan tengah menatap nya dengan senyum berkembang. Menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore, jadi ia ketiduran tadi saat melamun. Dan lagi, mengapa pria ini ada disini? Bukankah tadi ia mengunci pintu luar.
"Aku menghubungimu tapi tidak aja jawaban, bahkan saat aku berdiri memanggil namamu dari bawah pun tidak ada sahutan. Dan aku memutuskan untuk menghubungi nomor penerima pesanan di poster yang tertera didepan store" jawab Nathan seolah mengerti kebingungannya.
"Maaf bu, saya yang membuka pintu karena bapak ini menghubungi dengan nada panik" ia menoleh kearah tangga dimana asistennya berdiri dan terlihat menunduk ketakutan.
"Terima kasih, kau boleh pergi" jawabnya.
"Baik"
Ia menatap Nathan yang masih berjongkok didepannya. Ia menunduk dalam-dalam. Tak mampu menatap mata yang menyiratkan sebuah kehangatan.
"El mana?" Tanyanya lirih.
"El sudah pulang bersama adikku" adik? Ah ia baru mengetahui jika Nathan punya adik. Bukankah Nathan adalah anak semata wayang dari Tuan Gibran dan Nyonya Jasmine?.
"Adik sepupu. Anak dari bibi Chayra" jelas Nathan saat menyadari kebingungannya. Ia mengangguk, hendak berdiri tapi tangan Nathan mencegahnya.
"Mass" lirihnya.
"Bagaimana dengan jawaban kamu?" Ia meneguk ludahnya kasar. Tak tau harus menjawab apa.
"Pertanyaan apa?" Mungkin pura-pura tidak mengingat adalah jalan terbaik.
"Aku tau kau mengingatnya. Apa harus aku ulangi?" Ucap Nathan disertai senyuman yang menghiasi bibir tampannya. Bahkan ia semakin gugup, meremas kedua tangannya.
"Ku harap secepatnya, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Terlebih lagi Rafael sudah menerima ku. Tidak ada alasan lain untuk kita bersama. Seperti keluarga kecil yang bahagia" lanjut Nathan saat ia tetap terdiam.
"Kita akan belajar mencintai sama-sama. Aku sudah mencintaimu tapi masih terbagi dengan Rafael, aku takut kau kecewa padaku suatu saat jika mengetahui bahwa aku masih belajar mencintaimu" lanjut Nathan lagi, membuat matanya memanas.
"Kita coba sama-sama" jawabnya dan Nathan langsung mengecup kedua tangannya. Ah tapi jantungnya? Mengapa berlarian seperti ini?.
"Setelah ujian semester El selesai, kita langsung menikah. Saya akan bicara pelan-pelan dengan El. Dan kita langsung pindah ke negara X. Setuju?" Ucap Nathan membuat ia mengangguk malu.
"Aku ingin mengambil tas" ucapnya lalu berdiri.
"Boleh aku memelukmu ?" Belum sampai ia menjawab pertanyaan absurd Nathan, tapi tangan kokoh itu sudah menrengkuhnya. Membawa kehangatan dalam pelukan.
"Ehemm" suara deheman membuat ia berontak. Ingin melepaskan diri dari pelukan Nathan tapi Nathan malah semakin merengkuhnya. Merapatkan tubuhnya, sama sekali tidak terusik dengan suara berat dari arah tangga.
"Mass" lirihnya.
"Lepaskan" suara itu? Ia mengenal. Ia langsung membalas pelukan Nathan erat. Berharap Nathan bisa merasakan ketakutannya.
"Ssstt, ada aku disini" ia mengangguk saat Nathan mencoba menenangkan.
"Chessyy" suara itu semakin mendekat. Ia semakin memeluk Nathan begitu eratnya.
"Berhenti, jangan sentuh istri saya" ucap Nathan dengan rahang mengeras.
"Hahaha, istri? Sejak kapan kalian menikah?" Tanya Vano dengan tawa menggema, Vano gila. Umpatnya.
"Masuk" ia terkejut saat Nathan melepaskan pelukannya dan menyuruhnya masuk kedalam kamar yang ada diruangannya.
"Tapi mass" tentu ia tidak akan meninggalkan Nathan dengan pria gila itu.
"Masuk, saya bilang masuk ya masuk" tegas Nathan membuat ia mengangguk. Lalu tergopoh-gopoh memasuki kamar.