
Nathan membawa Ax dan El pergi ke apartemennya setelah mereka sarapan. Ia sudah membicarakan rencananya dengan Tirta dan Aruna. Aruna yang akan membawa Aurelia ke pantai dengan alasan menghadiri undangan ulang tahun. Dan Tirta yang bertugas mengurus transportasi dua wanita itu.
El dan Ax akan diurus bunda Jasmine, sedangkan Nathan akan ke kantor sebelum besok ia berlibur dengan anak dan calon istrinya. Nathan mengantarkan El dan Ax ke apartemen lantai 40 yang dihuni oleh ayah dan bunda.
"Wahhhhh gantengggg, cucu nenekk. Sayangg, lihat cucu kita tampan sekali" Jasmine terlihat histeris, ia hendak memeluk Rafael tapi bocah tampan itu mundur, berlindung di belakang tubuh sang papa.
"Kakekk nenekk" Ax yang menyambut uluran tangan Jasmine, Rafael masih memperhatikan dengan saksama dua orang dewasa didepannya.
"El, beri salam kepada nenek dan kakek" dengan ragu, Rafael maju. Menjabat tangan nenek dan kakek kemudian mencium punggung tangan mereka. Rafael kembali mundur, memegang tangan sang papa.
"Boleh nenek menciummu sayang?" hendak menolak, Rafael malu karena ia merasa ia sudah bukan anak kecil. Tapi melihat mata nenek yang berair, ia maju dan mengangguk. Nenek mencium seluruh wajahnya, memeluknya erat seperti baru saja kehilangannya.
Hati Rafael hangat, ia menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan nenek. Setelah nenek melepas pelukannya, kakek bergantian memeluknya. Kakek tidak menangis seperti nenek, tapi ia tau jika perasaan kakek sama dengan nenek.
"Hari ini El sama nenek dulu, nanti berangkat ke lokasi sama nenek sama kakek. Papa berangkat kerja dulu" Nathan tidak bisa berlama-lama, ia harus segera kekantor dan menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Ax sudah bermain, tidak memperhatikan suasana haru yang sedang terjadi. "Jagan merepotkan nenek sayang, hubungi papa jika terjadi sesuatu yang buruk" Nathan mengelus rambut Rafael, melambaikan tangan dan berlalu keluar.
"Papa mu itu seperti tidak mempercayai kakek saja, di kira mau kakek apakan anak kesayangannya ini" gerutu kakek seraya menggelengkan kepalanya.
"Sudah jangan menangis sayang, lihatlah cucu kita bingung harus berbuat apa jika kau terus menangis" Kakek melihat kebingungannya, El tersenyum dan menggaruk tengkuknya. El mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Ax, kenapa bocah itu tidak terlihat mengganggu ku sama sekali.
Sepanjang hari kakek terus mangajaknya bermain, nenek sibuk memasak aneka kue untuknya, sedangkan Ax tertidur sejak siang tadi. Meskipun sudah tua, kakek tidak membosankan, El nyaman.
"Kakek akan buatkan galeri khusus untuk lukisanmu"
"Kakek akan menyiapkan ruangan khusus dirumah kakek agar ketika kau main kerumah kakek, kau merasa nyaman ketika melukis"
"Kakek akan membelikan alat melukis yang paling bagus agar lukisanmu semakin hebat"
"Kakek akan menyiapkan semuanya"
Semua ucapan kakek terekam jelas di otaknya. Rafael tidak menyangka jika keluarga papa bisa menerima ia dengan sangat baik. Bahkan Rafael terharu ketika diperlakukan begitu baiknya. Ia memang masih kecil, tapi ia bisa merasakan ketulusan keluarga ini.
"Terima kasih kek"
Tepat jam 19.00, mobil hitam membelah jalanan kota. Rafael sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, tampan dan gagah seperti pengusaha kecil, begitupun dengan Ax.
"Kek, apakah papa sudah berangkat?" Ia khawatir papa nya akan lupa, jelas El tidak mau mengecewakan sang mama.
"Sudahh sayang, sepulang dari kantor papa langsung menuju ke lokasi" nenek yang menjawab pertanyaannya, kakek mengangguk menimpali.
Mobil yang El tumpangi sudah sampai 20 menit yang lalu, mobil yang dibawa Tirta pun sudah terparkir. Tapi mobil papa tidak ada. Ini sudah lewat 10 menit dari jam yang ditentukan papa, papa tidak mungkin telat.
El gelisah, berkali-kali ia mengecek ponsel, berharap papa menjawab pesannya. Nihil, ponsel papanya tidak aktif 15 menit yang lalu.
"Tidak biasanya Nathan telat seperti ini sayang" Jasmine mulai gusar, melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tenanglah, mungkin ada kendala sedikit. Kita doakan yang baik-baik saja" Kakek terlihat mencoba menenangkan nenek, meskipun tergambar jelas jika kakek tak kalah khawatirnya sama seperti nenek.
El tidak peduli rencana awal, ia berlari mengelilingi seluruh parkiran pantai. Berharap papanya parkir ditempat lain. Kosong, parkiran hanya diisi oleh mobil-mobil crew yang ikut mempersiapkan acara ini.
El masuk kedalam pantai, ia tidak peduli jika papa memarahinya nanti. El memeluk mamanya yang bingung. Mama nya yang tau jika ini acara ulang tahun teman bibi Aruna, terheran-heran karena tidak ada satu undangan lain pun yang datang.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa El disini dan memakai baju seperti ini?" Aurelia terkejut saat El memeluknya.
El tidak mungkin menghancurkan rencana sang papa, ia hanya menggeleng sembari menunggu sang papa datang. Tirta tak kalah paniknya, ia berkali-kali mencoba menelpon seseorang, mungkin mencoba menghubungi Nathan.
"Om, coba katakan apa yang sebenarnya terjadi" desak Aurelia, jelas ia bukan wanita bodoh yang mudah dibohongi. Ia bisa melihat dengan jelas jika wajah El dan Tirta menyiratkan ke khawatiran.
"Aurelia" Aurelia menoleh saat namanya dipanggil, betapa terkejutnya ia saat melihat dua orang yang kemarin ia hindari. Aurelia semakin bingung, ia menatap semua orang disana bergantian.
"Tu-tuan Gibran dan ny-nyonya Jasmine" gugupnya.
"Maaf-" belum sempat Aurelia menyelesaikan ucapannya, ponsel Gibran berbunyi.
"Halo Nathan, kamu dimana? Semuanya menunggumu" belum sempat orang di seberang berbicara, Gibran langsung mencecar.
"Halo, selamat malam. Maaf dengan Tuan Gibran? Kami dari pihak rumah sakit xx ingin menginformasikan bahwa tuan Nathan Adelard mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat dirumah sakit, terima kasih."
Tak hanya Gibran yang terkejut, semuanya terkejut.
"Baik saya kesana sekarang"
Semua berlari kearah mobil, acara yang sudah direncanakan dengan matang oleh Nathan harus gagal. Aurelia meneteskan air mata, memeluk El sepanjang perjalanan. Ia masih belum mengerti mengenai acara di pantai sebelumnya. Terlebih kehadiran El dan Jasmine serta Gibran secara tiba-tiba.
"Papa akan baik-baik saja kan ma?" hatinya semakin hancur saat El memecah keheningan didalam mobil. Tubuh kecil itu ia rengkuh dalam pelukannya. Ia mengangguk mantap.
"Papa kuat sayang, papa akan berkumpul bersama kita lagi disini" Aurelia meyakinkan El, raut takut kehilangan sangat terpancar dari wajah tampan itu. Baru saja El merasakan kasih sayang seorang papa, baru saja El melihat sang mama tersenyum sepanjang hari, kini ia harus menerima kenyataan bahwa sang papa mengalami kecelakaan. Sosok pria yang selalu menjadi idolanya sejak mama menceritakan betapa hebatnya papa itu kini terbaring lemas di rumah sakit dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.