Stay Here Please!

Stay Here Please!
Menghindar



Hari belum terlalu malam. Setelah membersihkan tubuh, Oliv kembali turun. Oliv melihat Ax sudah terlelap dengan Rafael di kamar Rafael, ia tenang. Belum mengantuk, ia memutuskan menemui Dika. Tangan pria itu terluka tadi. Ada bekas darah Evan yang menempel di tangannya.


Dika yang baru saja membersihkan dirinya dan hendak mengambil air minum terkejut saat melihat Oliv berdiri didepan pintu kamar tamu dan menatapnya sedikit mendongak karena Dika lebih tinggi.


"Mau apa?" Dika canggung, ia meninggalkan Oliv begitu saja. Langsung berlalu kearah dapur. Jantungnya berdegup kencang. Rasa itu tidak berubah, bahkan ia semakin mencintai gadis yang sudah menjadi istri pria lain ini. Ia rindu, berlari ke luar negeri tidak membuatnya lupa. Tetapi membuatnya semakin merindukan Oliv.


Dika menegak air minum dengan pelan. Berharap Oliv pergi dari sana. Tapi gadis itu malah mendekat. Duduk di kursi yang ada di depan dapur. Dika menetralkan perasaanya. Perasaan yang salah, Oliv sudah menjadi milik orang lain.


"Terima kasih kakak sudah membelaku" Oliv membuka suara, Dika meletakkan gelas kosongnya lalu terus menatap gelas itu. Belum siap menoleh.


"Terima kasih telah khawatir dengan Oliv" Oliv meneruskan ucapannya. Dika masih tidak menjawab, bahkan tidak menoleh kearah Oliv.


"Mengapa kakak masih membela Oliv saat dulu Oliv menjauh dari kakak?" Ya Oliv tahu jika Dika menyukainya. Tapi ia lebih memilih Evan. Oliv mencintai Evan, dulu Dika hanya ia anggap sebagai kakak. Seperti Nathan..


"Aku hanya marah saat ada pria yang menghianati wanita. Tidak perlu berlebihan" Oliv tersenyum mendengar jawaban singkat Dika. Dika meninggalkan dapur. Sejujurnya Dika tidak ingin menjawab seperti itu, apalagi menggunakan kata aku itu sungguh bukan Dika. Dika dan Oliv selalu menggunakan nama panggilan untuk menyebut dirinya sendiri. Jawaban itu sudah cukup baik untuk menghindari Oliv saat ini. Dika tidak ingin perasaan itu semakin membuncah. Oliv tersenyum kecut. Bukankah ini adil untuknya karena sudah menyia-nyiakan pria baik seperti Dika?


Dika masuk kamar. Meninggalkan Oliv yang masih di dapur. Dika kasian dengan wanita itu, hatinya sakit saat berusaha menghindar sedangkan sebenarnya ia ingin memeluk erat gadis itu. Mengatakan bahwa ia melakukan semua itu karna ia masih menyayangi Oliv.


Didalam kamar Dika melamun, ia tidak bisa tidur. Pikirannya tertuju pada Oliv. Ingin kembali keluar kamar dan mengucapkan pada gadis itu jika ia akan menjaganya, tapi ia masih waras. Oliv masih sah menjadi istri orang. Dika tidak ingin di cap sebagai perusak rumah tangga orang.


Hari sudah tengah malam, Dika yang hendak memejamkan teringat pada satu berkas yang tertinggal di dalam mobil. Berkas itu harus ia berikan untuk Nathan besok pagi sekali sebelum Nathan berangkat. Jika ia lupa mengambilnya didalam mobil, tentunya ia akan mendapatkan petaka dari sahabatnya itu.


Saat sudah mengambil berkasnya, Dika yang hendak masuk kembali kedalam rumah terkejut saat melihat Oliv masih duduk di halaman samping. Wanita dengan satu anak itu melamun ditemani gelapnya malam. Cuaca sedang dingin, Oliv terlihat mengusap lengannya.


Dika meletakkan berkasnya di kamar. Kembali keluar untuk menemui Oliv. Ini sudah berganti hari hampir pagi tapi Oliv masih duduk disana. Apa yang dilakukan gadis itu.


"Olivia" Dika bersuara, jantungnya kembali berdegup kencang. Oliv menoleh, melemparkan senyum manisnya.


Dika mendekat, mata Oliv sembab, pipinya basah. Sepertinya wanita ini menangis.


"Apa yang kau lakukan disini?" Dika duduk di sebelah Oliv. Menatap jauh kedepan. Oliv menatapnya, lalu tersenyum dan mengedikkan kedua bahunya.


"Apakah karena memikirkan kondisi Ax saat ini kau berniat melanjutkan rumah tanggamu?" Dika menjawab, tetapi pandangannya masih lurus kedepan.


Kini Oliv yang terdiam. Pandangannya juga lurus kedepan. Sama sekali tidak terbesit di pikiran Oliv untuk memperjuangkan rumah tangganya. Evan sudah keterlaluan, pria itu jahat.


"Ini rumit kak" Oliv menjawab lirih, mengusap matanya yang kembali berair.


"Bagaimana bisa aku memberikan kesempatan pada orang yang sudah berkhianat di depan mata ku sendiri? Bagaimana bisa aku memaafkan orang yang sudah menodai bocah sekecil Ax? Ax masih kecil, ia tidak pantas melihat adegan seperti itu dengan matanya. Tapi Evan? Pria itu berhubungan badan dengan wanita lain tanpa memikirkan ada Ax disana" ucap Oliv sedikit terisak. Hatinya sakit sekali saat mengetahui hal itu terjadi, terlebih Evan membiarkan Ax melihat hal dewasa seperti itu.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Bukankah mengakhiri hubungan adalah solusi terbaik? Ax bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari Nathan. Bukankah itu yang kau khawatirkan?" Dika menjawab tegas, sedikit melirik Oliv yang masih terus terisak.


"Aku tidak akan mencampuri urusan kalian, keputusan ada di tanganmu. Terserah apa yang kau ingin lakukan untuk rumah tanggamu. Itu tidak ada urusannya denganku" ****. Dika mengumpat dalam hati. Mengapa mulutnya bisa setegas ini.


Oliv mengangguk, ia sudah memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya. Berpisah adalah keputusan akhir yang paling baik. Ia tidak ingin ada pengkhianatan selanjutnya. Ia akan pelan-pelan berbicara dan memberi pengertian pada Ax. Bagaimanapun Ax sangat dekat dengan papanya. Tentu Ax akan mencari sang papa jika tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama.


Mereka terdiam, hembusan angin malam yang semakin kencang menerpa kulit mereka. Dika menoleh kearah Oliv yang tidak bersuara. Gadis itu masih menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.


"Masuk sudah malam" Dika merengkuh bahu Oliv. Wanita itu lemah. Mengikuti langkah Dika masuk kedalam rumah. Tetapi sebelum benar-benar masuk kedalam rumah, Olive menghentikan langkahnya. Dika menoleh, Oliv langsung memeluk dan terisak cukup keras.


"Heii" Dika terpaku, ia masih mematung. Tidak membalas pelukan Oliv. Oliv terisak, memeluk Dika erat sekali. Tangan Oliv menncengkeram kaos yang digunakan Dika.


Dika terdiam, tangannya terulur mengusap punggung Oliv. Hatinya semakin sakit melihat wanita yang ia cintai hancur seperti ini. Tanpa sadar Dika mencium rambut Oliv.


Dika berjanji tidak akan membiarkan Evan hidup tenang. Ia akan membalas perbuatan Evan tanpa sepengetahuan Oliv. Dengan membuat wanita yang ia cintai hancur seperti ini, berarti Evan sudah ingin mati.


"Tidurlah Oliv, sudah malam" Dika tidak ingin berlama-lama dalam posisi seperti ini. Perasaan itu semakin membuncah tak tentu arah. Menaruh harapan pada orang yang salah.


Dika melepas pelukan Oliv dengan sedikit paksaan. Mengusap bahu Oliv dan segera masuk kedalam kamarnya. Meninggalkan Oliv sendirian di depan pintu halaman samping.


"Maafkan aku Oliv"