Stay Here Please!

Stay Here Please!
That Look?



That Look?


(Tatapan Itu?)


...----------------...


Nathan


Ia memasuki rumah dengan mententeng satu box kue yang dipesan oleh sang bunda.


Kemudian menyerahkan box tersebut pada bi Asih.


"Ada tamu siapa sih bi?" Tanyanya pada Bi Asih yang membukakan pintu untuknya.


"Kurang tau den, sepertinya teman tuan" ia hanya mengangguk, tanpa berniat membelokkan tubuhnya diruang tamu yang terdengar canda tawa. Bahkan ia hanya melirik dan langsung naik keatas.


"Eh itu Nathan ya, sudah besar ya sekarang" ia mendengar sekilas ada yang membicarakannya tapi untuk menoleh pun enggan.


"Iya dong, udah jadi presdir" jawaban bunda disambut tawa yang menggema.


Ia menghela nafasnya, sesampainya dikamar ia langsung melepas sepatu dan jasnya. Mendudukkan diri disofa sebelum akhirnya mandi.


Keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membalut tubuhnya, ia terlihat lebih segar. Ditambah rambut basah seusai keramas. Ia menuju walk in closet, mengambil kaos berwarna hitam dan celana pendek berwarna coklat susu. Terlihat lebih santai.


Ia melirik sekilas pada kalender kecil di atas nakas, menghitung tanggal demi tanggal yang tertera. Sebentar lagi adalah ulang tahun perusahaan, kegiatan rutinitas tiap tahun yang selalu dirayakan dengan meriah. Bahkan seluruh karyawan kantor juga diundang dalam acara ini.


Ia tersenyum, setidaknya ia bisa memenuhi janjinya pada ayah. Janji akan membawa perusahaan lebih maju sebelum ulang tahun ditahun pertamanya memimpin.


Ia mengambil ponsel, merebahkan tubuhnya diranjang tanpa berniat turun untuk menyapa tamu. Karena pasti sudah bisa dipastikan jika ia akan mendapat pertanyaan...


"Kapan nikah?" Ia bahkan mulai jengah dengan pertanyaan itu.


Jangankan menikah, mencari kekasih saja ia malas. Ia nyaman dengan hidupnya saat ini, tanpa campur tangan wanita yang mungkin hanya akan membuat keributan.


Ia bosan, melempar ponselnya begitu saja saat menyadari jika tidak ada yang menarik di ponselnya. Bahkan membuka sosial media, ia pun jengah karena permintaan pesan dari pengikutnya selalu bertambah. Ia juga bertanya-tanya, padahal ia tidak pernah mempublikasikan identitasnya di sosial media tapi pengikutnya seolah selalu bertambah setiap harinya. Dan juga, ia bahkan hanya sekali mengunggah foto dirinya, itupun foto saat ia masih menuntut ilmu diluar negeri.


Sebenarnya ia tidak terlalu suka bermain sosial media, terbukti karena akun itu ia buat karena paksaan teman kuliahnya dulu. Entah dari mana, dan entah karena apa. Tiba-tiba akun yang ia miliki sudah memiliki centang biru dibelakangnya.


"Shit, you are very lucky, only one month to create an account but it's been verified (beruntung banget kamu, baru satu bulan membuat akun tapi sudah terverifikasi saja)". begitu kira-kira umpatan temannya saat mengetahui jika akunnya sudah terverifikasi.


Ia bahkan tak peduli, meskipun banyak yang menginginkan centang biru itu tapi ia sama sekali tidak tertarik.


"Sepertinya aku pernah melihatnya" gumamnya saat mengingat gadis yang melayaninya di toko kue tadi. Tersadar apa yang dipikirkannya, ia langsung menggeleng cepat. Untuk apa ia memikirkan gadis absurd tadi, toh itu bukan urusannya dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya. Bodoh, umpatnya pada diri sendiri.


"Nathan ayo makan malam" ketukan pintu dari luar kamarnya membuat ia bangkit. Menutup laptopnya dan meletakkannya diatas ranjang.


"Iya bunda" jawabnya.


"Tamunya sudah pulang bunda?" Tanyanya karena rumah sudah sepi.


"Belum sayang, itu diruang makan" ia hanya mengangguk, meskipun sebenarnya ia pun malas bertemu para kolega ayahnya yang menurutnya hanya memanfaatkan kekuasaan ayah sebagai batu pijakan. Meskipun tidak semua kolega ayah seperti itu, ia hanya menyimpulkan menurut kebanyakan yang ia temui dengan membawa oara anak gadis mereka untuk dijodohkan dengannya. Shit, Big No. Ia tidak akan mau dijodohkan.


"Eh Nathan, dari tadi kita nungguin loh. Baru turun sekarang ternyata" ia hanya tersenyum simpul tanpa menjawab ucapan seorang wanita yang seusia sang bunda.


"Iya, tubuhnya masih kurang fit setelah kemarin sakit" jawab bunda mewakili dirinya.


"Sekarang sudah sembuh kan?" Ia memicing saat gadis yang sepertinya anak mereka (tamu) menyahut begitu saja. Bahkan tanpa malu, gadis tersebut tersenyum. Seolah tidak melakukan apapun.


"Sudah sayang, dirawat sama Oliv" jawab bunda lagi-lagi mewakili dirinya karena bunda tahu jika ia jengah berada dimeja yang sama dengan orang seperti mereka (tamu).


"Kau kesini lagi?" Herannya dan menepuk jidatnya.


Sedangkan tamu mereka pun terlihat kebingungan karena tidak mengenal Oliv. Bahkan mereka bertambah bingung karna Oliv langsung mencium pipi ayah dan bunda. Termasuk dirinya juga.


"Mobilku kan masih disini kak, jadi aku pulang kesini lagi. Besok aku baru akan pulang kerumah ku sendiri eh bukan rumahku tapi lebih tepatnya rumah mama sama papa. Tidak apa kan ayah, bunda?" Jelas Oliv sekaligus bertanya pada ayah dan bunda.


"Iya sayang" jawab ayah yang sedari tadi diam.


"Sudah, ayo makan. Maaf ya mas, mbak, cuma seadanya" ucap bunda pada para tamu yang masih terlihat mencerna keadaan.


"Kami pamit dulu ya, terima kasih jamuannya" pamit pria seusia ayahnya itu. Ia tak memperdulikan, ia terus sibuk bersama Oliv, bertengkar, saling memperebutkan sesuatu dan akhirnya tertawa bersama.


"Nak Nathan, kami pamit dulu ya" ia hanya mengangguk dan tersenyum sekilas, tanpa berniat mengucapkan sampai jumpa atau sekedar ucapan hati-hati.


"Sampai jumpa dipertemuan berikutnya untuk membahas perjodohan" seloroh wanita seusia bundanya itu, ia hanya menatap dengan mengangkat kedua alisnya.


"Saya tidak akan menjodohkan Nathan dengan siapapun, biarkan dia sendiri yang menentukan pilihannya" jawab ayah mengerti akan ketidak nyamanannya.


"Hahaha, istri saya hanya bercanda Pak Gibran" ucap pria seusia ayahnya, dan langsung dibalas tawa oleh mereka sendiri. Terkecuali ia, Oliv dan ayah tentunya.


"Sepertinya gadis itu menyukai kakak" bisik Oliv ditelinganya, tapi ia langsung menatap tajam Oliv.


"Bundaaa, kak Nathan menatapku seperti harimau" teriak Oliv pada bunda yang mengantar tamu keluar. Ia dan Oliv tertawa. Mengingat kembali mengenang masa kecil mereka, masa dimana Oliv selalu mengadu pada orang tua mereka jika ia menatap Oliv tajam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aurelia


Hari ini adalah hari dimana ia akan mengirimkan persyaratan lamaran pekerjaan di perusahaan YN Group. Menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya memantapkan niat untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam kawasan kantor besar dengan gedung tinggi yang menjulang.


Dengan memakai kemeja putih dan celana hitam yang biasa ia gunakan bekerja di SweetCake. Ia terlihat formal.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang satpam yang bertugas saat melihatnya kebingungan.


"Oh iya pak, maaf. Dimana saya bisa menyerahkan berkas lamaran kerja?" Tanyanya dengan sopan.


"Silahkan bergabung dengan yang lainnya, nanti akan diarahkan oleh petugas yang berjaga disana" ia menoleh dimana satpam itu menunjuk segerombolan orang yang sepertinya juga ingin melamar pekerjaan, terbukti karena semua dari mereka membawa map berisi persyaratan.


"Terima kasih pak" jawabnya dengan sopan dan langsung berlalu.


"Eh eh mbak, motornya diparkir disana ya" ia menepuk jidatnya, menunjukkan senyum canggung pada satpam yang berteriak padanya.


"Maaf ya pak" ucapnya.


Tin tin


Ia melonjak, baru saja ia akan menyalakan motornya, sebuah mobil hitam mengagetkannya.


"Ayo mbak cepet jalan" tegur satpam saat melihatnya masih diam.


"Eh eh iya pak" iya dengan cepat melajukan motornya, memarkirkannya ditempat yang disediakan khusus bagi para pelamar.


"Pagi pak" ia sempat mendengar satpam menyapa dengan penuh kepatuhan. Seperti bawahan yang menyapa atasannya.


Ia menatap mobil itu sampai masuk kedalam parkiran khusus yang bertuliskan "CEO's Parking" ia melongo, apa tadi yang memencet klakson adalah atasannya? Huh ia jadi merinding jika mengingatnya.


"Lia, kau disini juga?"